
Sore itu, dalam siraman mentari yang bersahabat aku menggendong gadis kecilku, Nismara. Kami mencoba menikmati sebuah kemewahan, mandi sinar matahari sore, saat musim sedang tidak menentu.
Kami berdiri di bawah pohon Gayam, menyoba meresapi hembusan angin persawahan yang mengabarkan aroma kesuburan. Rumah kami bisa dikategorikan, mewah, alias mepet sawah, atau dalam bahasa melayunya dekat sekali dengan sawah. Karena halaman rumah kami memang menghadap langsung ke areal persawahan yang luas. Dari halaman rumah kami, hamparan sawah membentang mengarah dimana matahari sore saat berada di sisi selatan katulistiwa akan bersembunyi di balik bukit. Hamparan sawah di wilayah kami masih cukup luas, seolah membentuk semacam lautan hijau, dimana dusun kami pun dusun lainnya adalah pulau-pulau kecil ditengah lautan persawahan. Dari halaman rumah kami, hamparan sawah terbentang dengan background dusun tetangga dan jauh di belakang pandangan lega kami akan terputus oleh dinding kaki perbukitan dari Pegunungan Kidul yang sekarang telah menjadi lebih hijau.
Memandang hamparan sawah dan kaki bukit senantiasa mengingatkanku akan masa kecil. Masa tumbuh dan mengenal sekian hal. Kaki bukit yang menjadi batas pandang, dalam benak masa kecilku, adalah batas peradapan. Batas dimana kemajuan peradapan dan kemunduran ada disana. Kami, orang kampung, selalu introvert bila berhadapan dengan mereka yang tinggal di kota. Tapi, kami selalu merasa superior dibanding mereka yang tinggal di atas bukit. Bagi kami, medan perbukitan yang sulit ditempuh alat transportasi menjadi pertanda sulitnya peradapan menuju ke sana. Dalam benak kami, orang dusun, orang gunung adalah orang paling udik. Pandangan yang ternyata seratus persen salah! Justru kamilah ternyata yang udik.
Sementara yang terlintas dalam ingatan masa kecilku, hidup ini semuanya seolah berawal dari sawah. Hidup kami, pun warga desa kami, bisa berjalan dan tetap bertahan sampai hari ini berkat limpahan hasil panen dari sawah. Tanpa sawah, niscaya kami sekeluarga, pun hampir semua warga dusun kami, tidak akan mampu mengenal aroma pendidikan dan perubahan kehidupan seperti saat ini. Tanpa sawah, perekonomian kampung kami tidak akan bisa berputar sampai detik ini. Tanpa sawah, pemerintahan desa kami, tidak akan bisa berjalan.
Namun, perubahan peradapan telah merubah banyak hal. Dampak kebijakan pemerintah terhadap perekonomian negara secara makro memaksa kami warga dusun harus menerima kenyataan bahwa harga produk pertanian tidak sanggup bersaing dengan harga produk-produk hasil industri. Sebagai perbandingan, dahulu, harga 1 Kg beras bisa digunakan untuk membeli 1 buah ember. Sekarang 1 buah ember harganya lebih dari nilai jual 5 Kg beras. Imbasnya, penduduk kampung kami yang mengandalkan hidupnya dari sawah tertahan dalam garis kehidupan yang begitu-begitu saja, bahkan cenderung menurun bila dibandingkan itung-itungan angka PDP yang senantiasa diupdate pemerintah. Padahal konon katanya PDP tersebut adalah indikator pertumbuhan perekonomian negara ini (walau alam). Ironi dari sebuah negeri dengan jumlah penduduk mayoritas adalah petani. Ironi itu akan semakin membuat miris manakala generasi terbaik kampung kami setiap tahun tersedot oleh perkembangan kota. Sawah dan alam pedesaan tidak sanggup lagi memenuhi ekspektasi warga dusun yang sudah mengenyam pendidikan sekolah, termasuk diriku! Kampung harus menerima kenyataan menjadi tempat tinggal mereka yang tersisa dari seleksi kejamnya dunia pendidikan.
Dan kini, kesaktian sawah tinggal menjadi kenangan. Sekarang yang bisa kami lakukan hanya merangkai cerita indah tentang sawah di hari kemarin. Bahwa dahulu dengan sawah, bukan hanya kebutuhan sandang dan pangan kami yang terjaga setiap tahunnya, pun jenjang pendidikan kami sekeluarga mendapatkan pijakan. Sekian petak sawah adalah simbol kemakmuran dan kekayaan. Tidak heran, dulu, orang kampung kami, memandang sawah adalah harta yang paling berharga
Sejujurnya, sampai detik ini pun, setiap kali menatap hamparan tumbuhan padi yang mengijau di sawah, suasana hati ini seketika damai dan tenteram. Setenteram belaian lembut angin sore yang malas mengelus wajah kami. Bentangan sawah, kaki bukit, kaki langit dan senja temaram adalah perpaduan harmony yang selalu menjadi penuntun langkah kakiku saat mengurai sekian pertanyaan akan persoalan kehidupan. Pada kaki langit yang memerah saat senja, dahulu, kami anak-anak kampung, sering membuat pengandaian tentang apapun. Bentangan senja di ujung cakrawala dengan gugusan awan yang bermandikan cahaya tembaga akan membentuk sekian gambaran yang memiliki arti beragam, tergantung bagaimana kita mengartikannya. Para sesepuh kampung kami menamai berbagai gambaran awan di kaki langit senja dengan sebutan “Candik Ayu”. Entah apa maksudnya, hanya saja yang aku tahu, Ayu selalu berkonotasi dengan keindahan. Ayu, adalah cantik. Sehingga Candik Ayu adalah gembaran keindahan sore menuju senja.
Si Ayu, yang bernama Candik, adalah manifestasi keriangan masa kanak-kanak anak kampung. Anak kampung yang memiliki kaki langit yang berwarna keemasan. Anak kampung yang memiliki keliaran imaginasi tentang langit dan segala bentuk yang disimpannya. Namun Candik Ayu hanya mau berbagi keindahan dengan kami dalam kejab waktu yang tidak lama. Karena saudara kembarnya, yang bernama Candik Ala, segera memaksa untuk turut menjadi bagian dari wajah senja. Berharap mendapatkan apresiasi yang sama, maka Candik Ala segera menyergap, saat itulah senja mulai berada pada dipenghujung waktu untuk kemudian malam menjelang. Panorama keemasan dalam diri Candik Ayu seketika terserap oleh aura Candik Ala yang buram dan muram. Seketika itu pula keindahan yang ada seolah turut tergerus seirama desah angin rembang petang yang kurang enak disara oleh raga. Ah, keindahan senantiasa beriring waktu dengan indera kita dalam hitungan sekian kejab saja. Bahkan hamparan sawah yang awalnya adalah gambaran keindahan dan keteduhan seketika beralih wajah dalam aura muram, semuram Candik Ala yang bergelantung di ujung cakrawala. Hanya celoteh dari suara perempuan kecil yang tidak beraturan dalam pelukanku pemberi nuansa berbeda dari buramnya rembang petang. Sepintas aku toleh wajah dengan tawa lucu itu, dan seketika itu juga segala kemuraman dari aura malam terkikis. Deretan gigi, pipi chubby, dan tawa cemprengya menyadarkanku akan keindahan yang sesungguhnya. Ya, keindahan yang hadir dan sanggup menyentuh indera paling dalam. Keindahan yang bukan saja berwujud dalam imagi akan sebuah bentuk, tapi, keindahan yang hidup dalam diri dan mewarnai setiap gerak laku. Keindahan yang sebanding dengan perpaduan dari wajah senja, kaki langit, bentangan hijaunya persawahan. Sebuah karunia dalam wujud sebuah keluarga dan dan gadis kecil kami Nismara Ghassani. Alhamdullilah....