Monday, November 28, 2005

Cethe

Orang Tulung Agung punya kebiasaan minum kopi saban hari. Saking merakyatnya kebiasaan ini, hingga hampir disetiap pertigaan dan tempat yag agak rame dikit selalu ada warung kopi. Dan yang namanya warung kopi, selalu buka sampai larut malam dan selalu dipenuhi dengan pengunjung setia. Dari kebiasaan ngopi yang sudah mendarah daging inilah kemudian muncul beberapa kebiasaan yang berhubungan dengan tetek bengek perkopian. Salah satunya adalah menorehkan cethe pada rokok yang mau dihisap.

Cethe adalah endapan kopi yang disedu. Biasanya endapan ini terkumpul di dasar gelas saat kita minum kopi, tentunya selain nescape yg pelit kasih endapan. Mungkin demi alasan untuk mendapatkan kenikmatan lebih, orang2 lantas mengoleskan endapan kopi, alias cethe. Kebiasaan ini rupanya juga sudah mendarah daging. Setiap saat gue jalan ke warung kopi, selalu gue orang menghisap rokok yang berwarna hitam/coklat oleh karena olesan cethe. Bahkan beberapa warung kopi dengan jelas memasang pengumuman menyediakan cethe yang enak. Konon, tidak sembarang kopi menghasilkan cethe yang memiliki aroma dan rasa yang nikmat untuk dioleskan pada sebatang rokok.

Dan minggu kemarin, bersaan dengan hari jadi kota Tulung Agung yang ke 800, diadakan lomba me-nyethe. Gak tanggung2 Gudang Garam menyeponsori acara ini. Gudang Garam mewajibkan hanya rokok Gudang Garam Merah yang boleh dijadikan media yang akan di cethe. Menurut keterangan banyak orang, rokok Gudang Garam Merah memiliki bahan pembungkus batang rokok yang tipis, hingga sulit di cethe. Tanpa keahlian khusus, biasanya hasil dari upaya menyethe rokok tersebut akan berakhir dengan putusnya sang rokok. Namun, hal itu konon bukan halangan buat pereka yang sudah ahli dalam hal per-cethean.
Lomba yang di adakan di pusat kota Tulung Agung diikuti perserta dari seluruh kecamatan. Masing2 kecamatan mengirimkan dua perwakilan. Menurut salah seorang panitia, dalam lomba ini hal2 yang akan dinilai adalah; aroma, rasa, dan nilai artistik dari hasil percethean. Aroma, katanya kebanyakan peserta akan memberi aroma vanila untuk menimbulkan efek bau yang enak, hanya saja biasanya yang beraroma vanila kurang enak saat rokoknya dihisap, katanya bikin sesek napas. Sedang rasa, sudah pasti rasa rokok yang sudah di cethe harusnya tambah nikmat, jika tidak berarti gagal percetheannya. Sementara berkaitan dengan penilaian artistik adalah terletak pada keindahan gambar atau menurut istilah mereka "batikan" pada rokok yang di cethe. Karena rokok Gudang Garam Merah sulit di cethe, maka keberhasilan membuat gambar dengan tanpa harus membuat rokok putus akan dapat nilai tersendiri.
Well, boleh percaya boleh tidak, di daerah lain di Indonesia, walaupun cethe atau mengoleskan endapan kopi pada rokok juga dikenal, tapi tidak ada yang semaniak orang Tulung Agung, sampai ada perlombaan nyethe segala. Hebatnya perlombaan ini konon sudah menjadi acara rutin setiap tahun yang diadakan oleh pemerintah Kabupaten Tulung Agung dan selalu di dukung sponsor dari perusahaan rokok besar. Mungkin, kebiasaan nyethe orang Tulung Agung ini yang kemudian mengilhami munculnya rokok beraroma capucino. Walaualam...

Friday, November 25, 2005

There Was A Life, Huh....


I. Tentang Ketetapan

air yang mengalir sepanjang waktu
hujan yang turun sepanjang musim
percikan embun pada jejak langkah setiap pagi

II. Tentang Absurditas

lagi kau datang
bentangan samudra di matamu
harapan menggantung di bibirmu

dan
kau kembali menepi
bara api di matamu
pahit kata di bibirmu

kembali
goresan hitam menggelantung di cakarawala
sebuah impian buram mengikat kaki
meracuni

III. There Was A Life

langit biru
kau bercerita tentang :
takdir,
nasib,
dan sebuah harapan personal

maaf bila telingaku menjadi kurang peka
mimpi telah menyeruak keluar
menari-nari liar di kaki langit

bintang beranjak tua
senja merambat perlahan
waktu bergulir tanpa rasa
dingin, bahkan kejam

pernah ada kesempatan sebelum senja menyergap
semestinya lukisan hidup telah tergambar

mungkin memang tiada kebijakan kita punya

Friday, November 11, 2005

Kesalahan

Kesalahan tampaknya sangat akrab dengan idup gue, baik yang gue sadari (sengaja) maupun yang tidak gue sengaja, baik kesalahan yang mengakibatkan kerugian pada orang lain, pun pada diri gue sendiri.

Refleksi dan kontemplasi yang gue lakukan akhir2 inimemunculkan satu resume yang menyebutkan bahwa dari semua kejadian yang menimbulkan masalah pada idup gue kebanyakan adalah hasil dari kesalahan gue sendiri. Dan beberapa hari terakhir gue semakin tersadar bahwa kesalahan2 yang gue lakukan sudah benar2 membuat idup gue berada dalam masalah yang tidak sederhana. Segala hal yang bermasalah baik yang berhubungan dengan pekerjaan maupun orang lain kebanyakan akibat kesalahan gue sendiri. Parahnya, kayaknya kemarin2 gue dengan nyaman dan enak menikmati satu kesalahan ke kesalahan yang lain seolah menjadi sesuatu yang menyenangkan dan nyaman untuk dijalani.

Kesalahan yang paling sering gue lakukan adalah terlalu mudah mempercayai orang lain. Orang mungkin beranggapan gue orangnya baik jadi mudah mempercayai orang lain. Padahal sejatinya gue cepet percaya sama orang lain lebih banyak disebabkan karena gue tidak mau susah saja. Gue gak pernah mau direpotkan oleh hal2 atau tetek bengek untuk mengetahui apakah oranbg yang gue percaya memang mau atau sanggup. Akibatnya, banyak orang yang dengan paksa atau dengan sadar gue percaya kemudian memberikan masalah yang cukup berat bagi idup gue. Well, bisa saja gue berkelit bahwa banyak kesalahan yang terjadi akibat dari kelalaian oranbg lain yang gue percaya. Tapi, lantas muncul pertanyaan lanjutan, siapa yang menyuruh percaya sama orang orang lain tanpa cross check apakah orang itu sanggup, mampu dan mau? Nah kalau sudah begitu, gue harus mengakui gue sendirilah biang kerok segala masalah.

Sebenarnya kesadaran gue ini sudah muncul beberapa tahun yang lalu, tapi tetep saja gue akan mudah jatuh suka untuk memberikan sekian kepercayaan dan tanggungjawab sama orang lain dengan alasan lebih simple manakala ada orang mengatakan bahwa dirinya siap untuk gue percaya, tanpa peduli apakah memang orang tsb layak dipercaya. Bahkan untuk hal sulit, maupun hal yang privat sekalipun gue mudah merelakan untuk diberikan pertanggungjawaban ke orang lain, yang mungkin baru gue kenal. Atau oleh karena kesan baik, gue sering lupa untuk berpikir panjang sebelum melimpahkan semua tanggungjawab ke orang lain.

Akhirnya gue cuma bisa bilang, wellcome to the real world. Tampaknya lebaran kali ini permintaan maap terbesar gue harus gue ajukan ke diri sendiri. Karena ternyata gue sendirilah yang sering melakukan hal2 yang merepotkan diri sendiri.