Thursday, May 11, 2006

Loneliness in the long distance runner

Pada saat berada disekumpulan banyak orang pun pada saat menjalani kesendirian, dalam diri manusia tersimpan sesuatu yang otonom, sangat luas dan tak tersentuh, yang dinamakan wilayah batin. Keriangan dan segala macam interaksi seringkali tidak sanggup memberikan sentuhan afeksi pada wilayah yang otonom tersebut.

Sebagai individu, gue juga memiliki wilayah ini dan sangat terpelihara otonominya. Sehingga dalam banyak kesempatan gue merasa lebih enak dan indah bergerak sendirian didalamnya daripada bergulat dengan banyak pihak pun persoalan yang tidak saggup memberikan abstraksi yang menggugah hati dan jiwa. Mungkin memang pada dasarnya setiap individu adalah sebuah bangunan utuh yang secara permanent memelihara kesendirian demi hidup itu sendiri.

Dalam kesendirian itulah manusia justru akan mendapatkan gambaran yang nyata tentang apa, siapa, dan untuk apa, dia berada di dalam geliat dan hiruk-pikuk kehidupan yang terpampang. Dalam kesendirian manusia bisa melakukan refleksi dan kontemplasi yang lebih jujur terhadap banyak hal. Dan dalam kesendirian itulah gue menemukan kesadaran bahwa manusia adalah makluk paling paradoksal. Satu sisi, karena kesadara akan ruang dan waktu serta kebutuhan hidup, manusia menjelma menjadi makluk social yang paling bisa membangun interaksi dan saling bergantung antar sesama. Sementara sebagai individu yang juga oleh karena kesadaran akan ruang dan waktu, manusia menjadi makluk yang terkadang merasa paling kesepian dan paling individual ditengah interaksi social yang terbangun.

Jawaban dari hal tersebut adalah, saat memerlukan sesuatu demi kelangsungan hidup pun kebutuhan yang lain, apapun itu, manusia akan menjadi makluk yang paling social. Tapi, saat merasa tidak memerlukan apapun, dia berubah menjadi sosok yang paling mandiri, independent, dan mungkin egois.

Makanya saat-saat tertentu gue merasa loneliness in the long distance runner, karena pada dasarnya orang lain tidak bisa dipercaya akan tetap menjadi bagian dari diri kita bila dia melepaskan apa yang dinamakan kebutuhan, entah kebutuhan akan apapun. Bila ada yang bisa tetap menjaga entitasnya sebagai makluk social saat tidak membutuhkan apapun, hmmmm…yang seperti ini sedikiitt jumlahnya….

Tuesday, May 02, 2006

Internalisasi

I'm gonna take you
To a place far from here
No one will see us
Watch the pain as it disappears

No time for anger
No time for despair
Won't you come with me
There's room for us there

I'm so alone
My head's my home
I'll return to serenity

(
Return to Serenity - Testament, album The Ritual)



Ketika jalanan berubah menjadi sekedar lorong panjang tanpa denyut nadi. Ketika wajah-wajah yang hadir diselintas pandang berwujud bingkai kosong tanpa eksprersi. Ketika suara-suara yang terdengar miskin intonasi. Ketika gerak waktu berjalan dalam irama pengulangan yang seragam. Ketika, ketika dan ketika yang ada hanyalah percikan gambaran buram yang berulang-ulang, Sebelum chaos internal terjadi, maka pertarungan internal harus segera dimulai pun diakhiri.


Keterlambatan memulai pun menghakiri pertarungan akan berdampak pada ketimpangan persenyawaan dalam struktur yang membentuk abstraksi. Ketimpangan akan berdampak pada ketidakserasian skema yang membangun tubuh. Kadang diperlukan adanya pendulum untuk memulai pun menghakiri. Tidak selamanya abstraksi mampu membangun dunianya sendiri. Seringkali media dari negeri diluar diri sanggup memberikan dorongan pun tarikan yang cukup signifikan untuk memulai dan mengakiri pertarungan. Tidak selamanya kemerdekaan pribadi sanggup diartikan dan dijalankan sesuai dengan tuntutan independensi. Karena manusia toh adalah binatang paling imitatif dalam hidupnya...

Refleksi Hari Buruh

Dalam peradapan industrialisasi seperti sekarang ini, sebagian umat manusia di dunia berprofesi sebagai buruh. Perkembangan peradapan dan ilmu pengetahuan membuat perubahan yang mendasar pada cara manusia memenuhi kebutuhan hidupnya.

Revolusi peradapan yang berangkat dari revolusi industri membuat kualitas hidup manusia menjadi lebih baik. Walaupun juga tidak bisa dipungkiri, revolusi tersebut juga melahirkan apa yang dinamakan eksploitasi manusia atas alam pun atas sesama manusia. Revolusi tersebut juga menjadi pendulum bagi terbentuknya kelas buruh dalam stratifikasi masyarakat.

Buruh menjadi kelas yang sedemikian fenomenal dalam perkembangannya. Kelas ini memberikan sumbangan yang beragam bagi kehidupan umat manusia.
Kajian-kajian sosial yang mencoba memberikan solusi atas persoalan yang mereka hadapi memunculkan banyak sekali mazhab sosial yang sampai saat ini masih dijadikan referensi banyak pihak. Bahkan ideologi tertentu dan sistem pemerintahan sebuah negara seringkali terbentuk didilhami oleh karena adanya ketidakadilan dalam hubungan buruh dan pengusaha.

Di negara-negara yang tingakt responsibilitas atas hak-hak individu sudah mulai tinggi, nasib buruh mengalami perbaikan kondisi yang cukup signifikan. Pemahaman mengenai hak buruh yang bukan lagi dianggap sebagai bagian dari alat produksi semata, membawa dampak yang cukup fundamental terhadap perbaikan kualitas kehidupan buruh. Buruh yang menjadi kelas dominan, walau bukan pemegang terhadap akses kepemilikan modal, haknya untuk turut menimmati nlai lebih dari suatru proses produksi dijamin.


Namun, kondisi tersebut belum menyentuh nasib kaum buruh di negeri ini. Bahkan istilah buruh mengalami pergeseran makna. Buruh bermakna hanya sebagai kelas pekerja kasar di pabrik-pabrik saja. Sementara buruh yang bekerja di kantor-kantor bagus dan berpendingin ruangan menganggap diri mereka lebih tinggi kelasnya dan mengklaim dirinya kelas pekerja bukan buruh. Padahal secara esensial nasib mereka dalam stratifikasi sosial sama saja, yang membedakan hanya persoalan gengsi saja. Dikotomi istilah buruh dan pekerja yang sebenarnya berarti sama, menjadikan upaya perjuangan kaum buruh (pekerja) menuntut haknya semakin sulit. Buruh pabrik yang didominasi SDM secara intelektual kurang harus berjuang sendirian, ditinggalkan kelas buruh berekonomi menengah yang merasa dirinya hidup enak. Sehingga nasib buruh di negeri ini jauh panggang dari api, bahkan ibarat pesakitan. Mereka harus menghadapi pemerintahan yang tidak memiliki sense of humanity terhadap nasib mereka, juga menghadapi sesama buruh yang keblinger oleh berpenghasilan lebih baik dan pemahaman strata sosial yang salah. beda misalnya dengan di Perancis, saat ada perubahan UU ketenagakerjaan yang dianggap tidak adil, yg berdemo menolak adalah kaum mahasiswa dan kelas menengah, karena merekalah calon buruh dan buruh yang akan terimbas secara langsung oleh UU yang dianggap tidak adil tersebut.

Jadi jangan heran, bila di negeri ini hari buruh masih diwarnai dengan demo yang bernuansa desakan untuk memperhatikan nasib mereka. Sementara di negara2 yang lebih maju penghargaan terhadap hak-hak individu, hari buruh dirayakan dengan libur kerja secara nasional. Yang lebih menyedihkan lagi, pengusaha seolah-olah sudah terugikan sekian trilyun, oleh karena pada peringatan hari buruh para buruh tidak masuk kerja dan memilih pawai di jalanan. Mereka lupa bahwa setiap tahunya sudah memeras tanaga buruh dengan imbalan yang jauh dari standar kualitas hidup yang mestinya buruh dapatkan.

Bersatulah kaum buruh, bila ingin mendapatkan hak sebagai perkerja sebagaimana mestinya.

Toleransi

Toleransi, kata ini mudah sekali diucapkan tetapi teramat sulit untuk diwujudkan di negeri ini. Setiap saat kita mendengar kata yang menyejukan ini, tidak lama kemudian dihadapan kita terpampang peristiwa memprihatinkan yang berasal dari pengabaian kata tersebut. Belakangan hari istilah ini kembali mencuat seiring polarisasi dukungan terhadap RUU Anti Pornobraphi dan Pornoaksi.

Orang-orang yang mengklaim dirinya berkepentingan dengan diberlakukanya RUU tersebut dengan semangat juang yang teramat tinggi mencoba melakukan tindakan-tindakan yang agak-agak mengabaikan istilah toleransi dengan mengintimidasi mereka yng menolak RUU tersebut. Akibatnya bisa dilihat betapa kita disuguhi tontonan yang tidak menarik dari orang-orang berwajah angker dengan argumentasi-argumentasi yang memperihatinkan menunjukan diri seolah diri mereka yang paling mengerti dan paling benar menjelaskan persoalan esensi pornographi dan pornoaksi.

Ketika masyarakat mengidentifikasikan dirinya dengan standar-standar moral tertentu berdasarkan asumsi persoalan dengan embel-embel referensi akidah keagamaan dan menutup mata pada nilai-nilai yang diyakini pihak lain, maka akan terjadi penyumbatan aspirasi secara paksa. Pemaksaan semakin mendapat tempat ketika secara cultural masyarakat yang ada terpolakan dalam persepsi nilai yang berorientasi pada sektarianisme berbasis keyakinan. Keyakinan yang mengalami perubahan bentuk menjadi identitas sosial akan membawa konsekwensi yang tidak sehat bagi pola relasi dalam masyarakat yang majemuk.

Kondisi masyarakat seperti itu mustinya terjadi sekian decade yang sudah lewat. Ketika arus globalisasi dan informsi sudah membuat manusia tersadarkan akan kemajemukan nilai-nilai dalam kehidupan social, semestinya sektarianisme berbasis keyakinan tidak lagi memunculkan pemaksaan terhadap kaidah keyakinan yang dipegang komunitas yang lain. Ketika lmu pengetahuan sudah berkembang sedmikian pesat, mustinya kesepahaman antar sesama perihal pernghormatan hak individu sudah melewati fase yang lebih baik.

Fatamorgana

……………………
telah habis airmata
telah beku cinta dihati

(Datanglah Padaku – Grass Rock)

Ternyata kami hanyalah ranting kering yang secara tidak sengaja menjadi tempatnya berhenti sejenak manakala kepakan sayapnya sedang lelah. Seiring dengan kembalinya kekuatan pada kepakan sayap, saat itu juga keberartian kami lenyap, tertindih detak gerak sang waktu.

Pada masa tertentu, pada diri individu tertentu pula, sering terjadi adanya sesuatu yang disebut sebagai responsibilitas yang terlalu bersemangat. Keberadaan atau kejadian tertentu yang menimpanya memunculkan tingkat responsibilitas yang berlebih hingga menimbulkan luapan emosi yang berlebih pula. Seorang calon aktor saat pertama kali mendapatkan peran dalam sebuah film, walau hanya keciiil, akan menganggapnya sebagai sebuah anugerah luar biasa besar. Hingga membuatnya seolah-olah berada pada sebuah pertunjukan besar yang bisa memberinya peluang meraih oscar.

Pada masa tertentu, pada diri individu tertentu pula, sering terjadi apa yang dinamakan penghargaan berlebih terhadap diri sendiri. Menganggap dirinya sangat berarti bagi orang lain hanya karena orang lain membutuhkannya untuk hal yang sebenarnya sangat remeh temeh, yang sama sekali tidak akan membuat siapapun kepikiran untuk mengingatnya. Seorang aktivis yang baru pertama ikut demo besoknya mendadak merasa diikuti oleh intel, padahal kebetulan saja ada laki-laki cepak sebel sama gayanya berjalan dan menatapnya dalam hitungan waktu yg cukup lama. Berhari-hari dia akan merasa sebagai sosok yang sangat berati bagi sebuah pergerakan, merasa negara telah memerintahkan alatnya untuk selalu memantau segala aktifitasnya. Penghargaan terlalu berlebih pada diri sendiri sering memunculkan yang namanya ge-er politik, pun ge-er yang lain.

Itulah mengapa sebatang ranting kering yang secara tidak sengaja menjadi tempat berpijak seekor elang yang sedang klelahan, merasa dirinya telah dipilih secara khusus oleh sang elang. Bahkan tega menuduh sang elang akan senantiasa menggunakannya sebagai pijakan kaki pun berandai-andai sang elang akan membangun sarang disitu. Kesadaran akan adanya banyak hal yang tidak memenuhi syarat terhapus oleh keriangan sejenak yang membutakan rasionalitas. Responsibilitas yang berlebih mengabaikan prakondisi yang tidak memenuhi prasyarat.

Sang Maestro Telah Berpulang

Orang mengenalnya sebagai salah satu penulis terbesar di negeri ini. Orang juga pernah mengenalnya sebagai sastrawan yang pernah ikut terbawa arus perputaran konstelasi politik yang membuatnya pernah turut menindas sesama penulis yang tidak sepaham. Lantas orang mengenalnya sebagai salah satu korban kebiadaban Orde Baru dalam membangun stigma lawan politik yang harus diberangus. Orang mengingatnya sebagai salah satu orang yang terbunuh karakter dan kehidupan sosialnya oleh karena kepentingan politik menganggapnya mewakili stigma aliran politik yang dianggap sesat.

Gue mengenalnya sebagai penulis yang membuat Bonar Tigor Naipospos (Coky) dan Bambang Isti Nugroho masuk bui, karena menjual buku-buku tertraloginya di Jogja pada zaman Suharto masih berkuasa. Lantas gue mengenalnya juga sebagai penulis yang bukunya dianggap berbahaya bagi stabilitas pemerintah Orde Baru. Gue juga mengenalnya sebagai penulis yang sanggup membuka alam pikiran kita tentang abstraksi kehidupan yang sedemikian luas. Gue menganggapnya sebagai penulis yang sanggup membebaskan alam pikiran dari jerat kultural yang meninabobokan wilayah batin. Gue mengakui sebagai penulis yang memberi gambaran yang lain bagi mata hati gue dalam berdialog dengan sejarah negeri ini. Gue menempatkan buku-bukunya sebagai mahakarya yang layak dibaca, ditelaah dan dimengerti secara lebih jauh. Gue menempatkan buku-bukunya pada rak buku gue pada bagian buku-buku favorit.

Gue kehilangan dia Minggu 30 April 2006 kemarin. Waktu telah merenggutnya dari hadapan kita semua. Waktu telah memintanya untuk berhenti berkarya dan beristirahat, karena raga sudah tidak sanggup lagi mengakomodir kebutuhan batiniahnya. Selamat jalan Bapak Pramodya Ananta Toer, semoga dibumi ini akan lahir kembali manusia yang memliki daya nalar, abstraksi dan kemampuan merangkai kata-kata dalam tulisan panjang sepertimu. Kami semua kehilangan atas kepergianmu….

Cuma Terdengar

Gue punya seorang temen perempuan berasal dari Delanggu, salah satu kecamatan di Kabupaten Klaten. Temen gue yang satu ini walau sudah sekian tahun menetap dan punya rumah di Jakarta, tetep saja logat Jawanya sangat kental. Pokoknya setiap ada kata-kata keluar dari mulutnya, sesedikit apapun, akan membuat orang dengan serta merta menuduhnya berasal dari Jawa.

Suatu hari kami mengadakan pertemuan dengan beberapa temen. Salah satu temen gue (temen satu kampus di Unpar dulu) punya hobby melucu pun menjahili orang lain. Begitu dia mendengar temen gue yang dari Delanggu ini ngomong, langsung temen gue yang dari Unpar nanya,

“ Mbak, dari jawa ya?

Temen gue yang dari Delanggu langsung terdiam dan tersipu. Sambil agak malu-malu dia bertanya,

“ Emang keliatan ya?”

“ Enggak sih, cuma terdengar!!,” jawab temen gue sambil nyengir…..

Alah, kontan ketersipuan temen gue yang dari Delanggu semakin bertambah, wajahnya mendadak jadi hijau botol….