Friday, July 28, 2006

Wapres kita

publik enemy number one buat korban gempa jogja dan jateng saat ini adalah jusuf kalla, sang wapres negeri beling ini. warga tidak lagi menganggap ancaman gempa susulan sesuatu yang paling menyebalkan, tapi janji palsu sang wapreslah yang membuat banyak orang jadi berang.
beberapa saat setelah gempa memporak-porandakan jogja-jateng, sang wapres dengan niat ingin memberikan rasa tenang buat mereka yang menjadi korban, mengatakan akan mengganti bangunan yang ambruk, rusak berat dan rusak ringan dengan nilai penggantian berkisar antara Rp. 30 jut, Rp. 20 juta, dan Rp. 10 juta. well, manjur sih statemnt politik itu untuk beberapa saat. tapi berisiko untuk saat selanjutnya. warga memang membutuhkan komunikasi politik dari pemimpin negeri ini untuk mendapatkan rasa aman karena negara peduli atas nasib mereka. tapi, apakah harus selalu dengan janji manis?
inilah persoalan utamanya, seterpuruknmya warga jogja-jateng, mereka masih memiliki apa yang dinamakan modal sosial dan modal lain yang sebenarnya akan dengan cepat bisa dijadikan alas untuk mereka memperbaiki diri dari sergapan gempa kemarin. namun, konon oleh karena janji sang wapres yang menyejukan hati tersebut orang menjadi terlena dan lupa akan potensi dirinya. bahkan tidak sedikit yang kemduian malah memerosokan dirinya, dengan merobohkan rumahnya walau sebenarnya kalau mau sabar dan mau berdiskusi dengan tukang-tukang diwilayahnya masih bisa diperbaiki. minimal biaya yang dikeluarkan tidak akan semahal kalau bikin rumah baru. tapi, semua sudah terlanjur termakan janji sang wapres, sehingga perhitungan-perhitungan agak njlimet dan kreativitas warga jadi tumpul. semua menggantungkan dirinya pada hitungan nominal yang dijanjikan wapres.
setelah dua bulan berlalu janji sang wapres tak kunjung menunjukan titik terang. warga menjadi gelisah, dan pemerintah daerah yang tidak tahu-menahu dengan apa yang pernah disampaikan wapres jadi sasaran kegelisahan warga. buntutnya untuk memberikan sebuah solusi, pemerintah daerah klaten dan jogja sempet memunculkan wacana pemberian insentif untuk biaya rekonstruksi rumah yang rusak saat gempa sebesar masing Rp. 4 juta per rumah. alasanya, jumlah yang sama akan mengeliminir konflik di lapangan, dan Rp 4 juta dirasa cukup untuk membangun pondasi, dan kekurangannya diharapkan ditutup warga sendiri dengan modal sosial yang mereka miliki selama ini. ide ini sebenarnya jauh lebih bijak dibanding statement wapres kita, karena masih menganggap korban sebagai manusia yang lebih utuh dan memiliki daya juang. tapi masalahnya warga sudah terlanjur menggantungkan nasib pada janji sang wapres, hingga banyak yang sudah bikin kalkulasi tersendiri terhadap bangunan mereka yang rusak.
satu lagi potret, negara (pemerintah yang berkuasa) bukan lagi wilayah yang sanggup memberikan jaminan dan wadah yang kondusif bagi kemajuan masyarakatnya.

Dilema Negara miskin

Sebagai Negara miskin, negeri ini kelewat sering dihajar oleh bencana. Selain sering, bencana yang menimpa negeri ini tidak jarang juga masuk kategori bencana kemanusiaan (menimbulkan kerusakan massif dan korban jiwa yang cukup banyak). Sehingga menimbulkan keprihatinan dunia serta membuat banyak lembaga internasional yang bergerak dibidang penanggulangan bencana dipaksa turut serta sibuk menangani persoalan tersebut.

Konvensi internasional memberi kewenangan pada lembaga internasional yang bergerak dibidang penanggulangan bencana untuk ikut memikirkan dan melakukan program penanggulangan dan recovery pasca bencana kemanusiaan di suatu Negara. Bila program yang ada memiliki kesesuaian dengan kondisi obyektif di lapangan tidak akan jadi soal, tapi bila program penanggulangan justru berpotensi menambah persoalan di lapangan ini yang akan menjadi masalah.

Pasca gempa DIY dan jateng mei lalu, banyak sekali lembaga asing bergerak dan melakukan kegiatan yang bersifat memberikan bantuan. Namun bantuan yang dimaksud seringkali berangkat dari persepsi para founding father lembaga tersebut, bukan atas dasar kebutuhan yang muncul dari lapangan. Berdasarkan persepsi mereka yang seringkali terwujud dalam juklak penanggulangan bencana internasional, maka bencana yang terjadi di suatu Negara akan diantisipasi dengan program-program sesuai dengan ketentuan yang mereka miliki. Persoalan nanti dilapangan sesuai dengan kebutuhan atau tidak, tidak terlalu penting, toh karakteristik kerusakan akibat bencana di mana saja bentuknya tidak akan jauh berbeda, demikian persepsi mereka. Tentu saja persepsi ini tidak selamanya tepat. Dan itu terjadi pada kasus penanganan masalah bencana di jogja dan jateng. Lembaga donor dan lembaga internasional yang bergerak di bidang penanggulangan bencana menetapkan tanggap darurat pasca gempa di jogja dan jateng selama 6 (enam) bulan, sehingga dalam waktu tersebut bantuan dikosentrasikan pada pemenuhan logistic makanan dan pemberian shelter (tempat tinggal sementara) yang biasanya berbentuk tenda yang keren dan mahal. Mereka tidak memahami bahwa karakteristik kerusakan akibat bencana jogja-jateng beda dengan tsunami aceh.

Masyarakat jogja-jateng korban gempa masih memiliki bekas-bekas rumah tinggal, masih memiliki sumur, masih memiliki sawah dan masih memiliki pekerjaan. Sehingga dalam waktu 2 (dua) minggu pasca gempa orang sudah bisa menata diri mereka lagi. Apalagi dalam waktu dua minggu tersebut bantuan logistic menumpuk di wilayah mereka. Di kampung gue, orang dulunya makan mie instant mungkin hanya sebulan sekali, sekarang di rumah mereka rata-rata memiliki 5 (lima) dus mie instant. Hingga tidak jarang mereka yang sudah bosan makan mie instant, menjualnya agar uangnya bisa digunakan untuk membeli keperluan yang lain. Fenomena ini terjadi hampir di sepanjang daerah yang hancur diguncang gempa.

Selain itu, begitu korban gempa bisa membersihkan puing2 dari bekas rumahnya, mereka segera berusaha sekuat mungkin membangun rumah, sesederhana apapun rumah itu, yang penting bisa memberi mereka rasa nyaman, aman, dan privacy. Rumah bagi masyarakat jogja dan jateng adalah identitas social, jadi tanpa rumah mereka merasa belum lengap sebagai manusia. Sehingga ketika tenda banyak berdatangan, berapapun kerenya, tidak akan dipake oleh mereka, selama mereka memiliki peluang untuk membuat rumah, sesederhana apapun rumah itu. Makanya kami agak heran ketika IOM mengundang NGO yang punya daerah binaan di klaten dengan menawarkan bantuan untuk tangggap darurat setelah sebulan gempa lewat, bantuannya berupa tenda (konon ada ribuan). Saat semua pihak meminta agar bentuk tenda diganti dengan gedek misalnya, mereka dengan tegas menolak. Bahkan saat mereka sounding dengan sri sultan berkaitan dengan bantuan untuk jogja, permintaan sultan agar tenda diganti gedek juga tidak membuahkan hasil. Alhasil IOM terpaksa menggamit beberapa lembaga yang masih mau menyebarkan tenda-tenda ke wilayah korban gempa. Dan sejujurnya tenda-tenda tersebut pasti akan diterima masyarakat, walaupun nantinya tidak dipake. Satu lagi karakteristik masyarakat jogja-jateng, mereka tidak akan menolak pemberian apapun bentuknya kendati mereka tidak membutuhkannya, karena ajaran orang tua mereka mengharuskan menghoirmati orang yang sudah berniat baik sama mereka.

Sebuah lembaga bernama UN Habitat, memiliki dana sekitar 80 juta US untuk penanganan tanggap darurat pasca gempa jogja-jateng. Tapi grand disain program yang akan mereka jalankan di jogja-jateng sesuai standar prosedur lembaga penanggulangan bencana internasional dalam tanggap darurat, bantuan diarahkan pada penyediaan penampungan (tenda) sebelum orang memiliki rumah (rumah selalu diartikan berdinding batu dan berstrukturkan beton). Mereka tidak mengenal dan tidak menganggap rumah sementara yang berdinding gedek dan berkerangka kayu bekas bangunan yang rusak sebagai rumah. Mereka tidak mau tahu bahwa rumah sementara jauh lebih nyaman untuk melakukan aktifitas apapun (banyak perempuan jawa yang bekerja di dalam rumah, seperti menjahit) dibanding tenda yang kalau siang panasnya minta ampun. Mereka tidak mau tahu, yang mereka tahu, petunjuk pelaksana berdasarkan prosedur standar penanggulangan bencana internasioanl seperti itu, ya harus dijalankan begitu. Saat aliansi NGO se-jogja-jateng menolak bentuk bantuan yang dinilai tidak sesuai kebutuhan warga, mereka malah mengancam akan membatalkan program bantuan yang ada dan akan menarik kembali anggaran duitnya, nah lho. Saat diberi penjelasan bahwa bentuk bantuan yang akan diberikan bila tetap menggunakan terminology mereka tidak akan bermanfaat banyak bagi masyarakat, mereka tahu akan hal itu, tapi ga peduli. Yang penting program jalan dan anggaran terserap habis, soalnya bila anggaran ga terserap habis, berarti mereka dianggap gagal menjalankan pekerjaan dan tahun berikutnya bila ada bencana kemanusiaan yang lain anggaran yang keluar akan dikurangi. Weleh, apa bedanya dengan para pegawai pemerintahan kita yang hobinya saban tahun menghabiskan anggaran, ga peduli kegiatannya berguna kagak, biar tahun depan anggarannya tidak dikurangi.
Sayangnya negeri ini kelewat miskin, sehingga banyak warganya tidak memiliki keberanian untuk berkata tidak saat ada bantuan yang sebenarnya tidak sesuai peruntukannya. masalahnya beberapa program lembaga-lembaga tersebut bener2 cabut, berarti pemerintahlah (negara) yang akan mengambil alih tanggungjawab tersebut. Masalahnya negeri ini sudah kelewat bobrok untuk bisa menyediakan bantuan bagi warganya yang terpuruk oleh karena bencana yang mendera terus-menerus. so, kapan dong kita bisa mengusir lembaga donor yang ga mau tahu kondisi obyektif persoalan warga negeri ini?

Thursday, July 27, 2006

Klaten

yup, kota ini untuk sementara mengikat kaki gue untuk bertahan lagi disini, setelah 16 tahun gue tinggalkan. ga tahu sampai kapan gue akan bertahan di wilayah ini? bisa jadi sangat lama bisa juga sangat pendek. tergantung bagaimana gue dan temen-temen baru gue di jogja sanggup memaknai semuanya dalam wujud aktifitas yang menghasilkan sesuatu. yang pasti banyak pekerjaan dan kegiatan menunggu di depan mata. semuanya bisa menjadi sesuatu hal yang positip buat kota dan beberapa warga klaten, tapi bisa juga ga bermakna apa-apa.
memang tidak mudah meninggalkan kebisingan kota jakarta dengan sekian pernik kenikmatan hidupnya. jogja sekalipun terlalu sempit buat pergerakan pikiran yang pernah sedemikian liar terakomodasi oleh jakarta, apalagi klaten yang hanya kota transit dari jogja ke solo. well, banyak hal yang hilang selama gue berdiam diri di klaten dan jogja. selain dinamika, tentu saja komunitas temen. komunitas perkawanan mungkin akan dengan mudah gue bangun dan dapatkan di jogja, tapi dinamika, waduh berat.
hal yang lumayan sepele tapi kalau ga ada mengganggu adalah gedung bioskop. ketiadaan bioskop yang memutar pilem-pilem baru di jogja dan klaten lumayan membuat gue kelimpungan. satu-satunya twenty one (only one) di jogja, rusak berat dihajar gempa kemarin.
well, let we see......aja sampai kapan gue betah bertahan disini

Arti sebuah nama

apalah arti sebuah nama, begitu kata shakespeare suatu ketika. tapi, ungkapan shakespeare itu takkan berarti apa-apa bila dikaitkan dengan temen-temen silvagama. karena saat ini bagi mereka nama memiliki arti tersendiri dan agak sensitif.
konon silvagama dibentuk oleh temen-temen pecinta alam fakultas kehutanan UGM yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian hutan dan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. silvagama menjadi wadah para alumni kehutanan UGM, terutama yang sebelumnya bergabung di komunitas pecinta alam, untuk berakifitas dan mengembangkan idealismenya. namun dalam perjalanan waktu, tantangan yang dihadapi silvagama sebagai sebuah organisasi semakin beragam, bukan melulu terkait dengan urusan hutan tok, tapi perlu juga bantuan dari mereka yang memiliki disiplin ilmu sosiologi, anthropologi, dan manajemen. dan untuk mengakomodir bergabungnya temen-temen dari disiplin ilmu yang lain dan untuk mengikis bias keterkaitan mereka dengan fakultas kehutanan UGM, maka temen-temen silvagama yang sekarang sepakat merubah nama silvagama menjadi nama yang lain. maka tersebutlah sebuah nama yang teramat panjang, sampai gue sendiri lupa, pokoknya ada kata-kata biodiversity....yang disingkat menjadi Tabitha, nah lho, imut namanya.
dan keimutan nama inilah yang kemudian menjadi masalah tersendiri. pada acara kumpul bersama di Perkumpulan KARSA temen silvagama memberitahukan pergantian nama menjadi Tabitha, kontan beberapa temen, termasuk gue terpingkal mendengar nama itu. gue langsung keingetan desainer kanaya tabitha, sementara temen perempuan dari bogor keingetan nama play group di jakarta, dan temen yang sudah malang melintang di per-NGO-an malah bilang mirip teletubies. lantas temen tersebut bilang," gimana coba kalau suatu saat gue ketemu sama lembaga donor trus cerita, eh temen gue punya organisasi yang bergerak dibidang perlindungan hutan dan masyarakat hutan, pas temen dari lembaga donor nanya apa namanya, masa gue bilang tabitha, alah...ga mecing banget deh sama jenis kegiatanya."
kontan temen dari bogor dan temen yang udah malang melintang di dunia per-NGO-an siap mendanai dibukanya kongres tabitha untuk mencari nama yang baru, biar lebih keren dan terkesan lebih menjual dikit gitu lho...
well, kesian temen silvagama eh tabitha, hihi...yang terpaksa harus menggumbar senyum kecut mendengar semua ledekan tersebut. dan ledekan itu masih tetap terdengar di pertemuan-pertemuan berikutnya, hehe...tabitha adalah organisasi yang bergerak di bidang pelestarian hutan, ilegal logging, perlindungan masyarakat hutan dll, tapi kok namanya....

Chaos....

sekian bulan setelah gempa dan kegemparan isyu tsunami yang sempat membuat warga joja dan klaten kocar-kacir ada tertinggal beberapa cerita yang membuat kami semua tersenyum simpul, walau ceritanya sebenarnya cukup membuat kita mengelus dada.

bila kepanikan sudah melanda dan membuat kesadaran kolektif teracuni, maka akal sehat menjadi tertepikan oleh kepanikan yang menular dan menjalar melebihi kecepatan gerak apapun. demikian pula yang terjadi sesaat setelah gempa di jogja dan jateng. isyu tsunami entah bermula darimana, yang pasti masyarakat bantul mendengar adanya isyu tersebut kemudian guliran isyu itu merambat sampai ke jogja, kalten bahkan sampai mengusik warga solo. kota jogja terletak kurang lebih 30 kilometer dari laut selatan, dan berada di ketinggian 120 meter diatas laut, logika akal sehat pasti akan tertawa ketika ada yang berkata tsunami akan melanda jogja, tapi bila akal sehat sudah tertutup sama kepanikan kolektif maka logika tumpul dan semua larut dalam kepanikan. kota klaten berada sekitar 50 kilometer dari laut selatan, disebelah selatan klaten berjajar pegunungan kidul menjulang tinggi, sekali lagi bila menggunakan akal sehat maka mana mungkin air sanggup menaiki bukit dan membanjiri klaten. tapi, sama dengan warga jogja yang panik, warga kalten pun turut memenuhi jalanan untuk secepatnya keluar dari wilayah mereka yang kabarnya akan terkena tsunami.
cerita lucu yang tertinggal di wilayah klaten kebanyakan terjadi di wilayah selatan yang berbatasan dengan wilayah DIY. orang-orang klaten selatan begitu mendengar tsunami langsung berlarian tidak karuan dengan berbagai kendaraan yang mereka punya. semua bergerak ke arah pegunungan kidul yang sebenarnya malah lebih dekat ke arah laut daripada wilayah mereka. saat sebagain sudah sampai diatas bukit dan melihat ke arah utara akan terlihat hamparan putuih yang luas dan banyak. sebenarnya hamparan putih itu adalah jaring kasa putih yang dipakai Perkebunan Tembakau untuk menutupi tanaman tembakau khusus yang tidak tahan kena angin langsung maupun hujan langsung. tapi, orang-orang yang sudah panik menganggap itu adalah hamparan air yang menggenangi wilayah klaten selatan. asumsi mereka air berasal dari jogja lewat prambanan dan sampai klaten (mang air datangnya lewat jalur jalan raya?). beberapa orang yang mengetahui bahwa hamparan putih itu adalah jaring tembakau mencoba menenangkan mereka yang panik, tapi orang-orang tua yang memang jarang bepergian jauh ngotot bahwa itu adalah air. baru setelah hamparan itu diam ga bertambah luas dalam hitungan jam, orang baru percaya bahwa itu bukan air.
lain lagi cerita warga karangturi, kecamatan gantiwarno, klaten. saking takutnya mendengar isyu tsunami, prosesi pemakaman anggota keluarga yang meninggal terpaksa dibatalkan dan jenasah diikat di sebuah pohon dengan harapa bila air datang jenasah tidak ikut hanyut. sebenarnya banyak yang kabur meninggalkan keluarga mereka yang meninggal akibat gempa kemarin, tapi yang sampai kepikiran mengikat jenasah sodaranya di pohon, sepengetahuan gue hanya warga karangturi tersebut.
lain lagi cerita seorang temen yang gue kenal pada sebuah pelatihan di jogja. saat gempa dia sedang dalam perjalanan ke bantul pake motor. begitu gempa reda langsung dia tancap gas menuju rumahnya yang di jogja untuk memastikan nasib anak dan istrinya. mendadak sodaranya telepon;
" kamu dimana?" tanya sodaranya
" di bantul,"
" keluarga bagaimana?"
" belum tahu."
" cepat kamu pulang selamatkan mereka, tsunami sudah sampai malioboro!!" pekik sodaranya
" bagaimana mungkin? ini aku di bantul, air belum sampai sini, masa sudah sampai jogja?"
" sudahah jangan ngeyel, tidak tahu air darimana, tapi kabarnya sudah sampai malioboro. cepat kamu pulang!!"
tidak lama kemudian isyu tsunami juga menyerang orang-orang sekitar temen tersebut berada. katanya air sudah mau masuk kota bantul. karena terbawa arus kepanikan, teme tersebut ikut tancap gas, walau tujuannya adalah rumah untuk memastyikan keadaan anak dan istrinya.

Monday, July 17, 2006

Setelah Gempa

akhirnya setelah 1,5 bulan berkutat dengan puing-puing bangunan yang luluh lantak dihajar gempa, gue bisa berlama-lama di depan computer dan membuka blogger lagi. terimakasih buat temen-temen Silvagama yang udah memberi tumpangan internet gratis dan temen dari Perkumpulan Karsa yang meberikan laptop buat gue bawa-bawa kesana kemari.

tanggal 27 juli 2006 lalu rumah gue hancur oleh goncangan gempa yang melanda jogja dan jateng, alhamdulillah nyokap gue selamat. tapi, rumah kuno gue yang pernah menjadi saksi gue dan sodara-sodara gue tumbuh dan berkembang hilang menjadi ongokan puing. kampung yang dulu pernah menjadi saksi betapa ga kaeruannya masa remaja gue berubah menjadi tumpukan puing dan berisikan warga yang gamang menatap masa depannya.
masyarakat jawa memandang rumah sebagai sebuah pencapaian tertinggi dalam hidup. orang belum dianggap menjadi manusia utuh sebelum memiliki rumah. dan rumah yang bagus akan mewakili kelas sosial seseorang di lingkungannya. ketika mendadak rumah mereka hancur maka sebagai manusia mereka merasa tidak lengkap. hal yang sedikit menghibur adalah jumlah rumah yang ambruk jauh lebih banyak dibanding rumah yang masih berdiri, sehingga mereka yang rumahnya hancur merasa mendapat temen. merasa tidak sendiri sedikit banyak membantu mereka untuk sedikit menghibur diri atas kehilangan rumah dan harta benda.
keterkejutan warga kami atas hilangnya rumah dan harta benda, serta sebagaian yang kehilanganb anggota keluarga tidka berjalan lama. setelah satu minggu, orang2 lantas tergerak hatinya untuk segera membersihkan puing-puing dari bekas rumah mereka. beruntungnya gue, temen-temen dari jogja dan bandung datang dengan bantuan logistik maupun bantuan relawan untuk meberi bantuan moral dan tenaga bagi pemulihan kondisi psikologis warga. terimakasih buat KPA Bandung, temen-temen pencinta alam Unisba, temen-temen pecinta alam SMA 17 bandung, temen-temen Walhi Jabar, temen-temen Pergerakan bandung, temen-temen Perkumpulan KARSA jogja, temen-temen Silvagama jogja, temen-temen petani dari randu blatung blora, Radio mara bandung dan banyak lagi yang lain.
khusus untuk KARSA dan Silvagama, sampai hari ini mereka masih terus memberikan suport bantuan, baik logistik non food maupun bantuan pelatihan keorganisasian. dan kedepannya gue sama beberapa temen yang memiliki basis garapan wilayah pedesaan (KARSA, KPA) dan perhutanan (Silvagama) mencoba mengembangkan program pembangunan desa. bencana gempa kemarin menjadi titik masuk bagi kami untuk selanjutnya mencoba mengajak warga desa melakukan reorientasi terhadap banyak hal. bukan pekerjaan yang mudah memang, tapi harus dicoba agar masyarakat desa mampu membangun jati diri mereka setelah sekian tahun identitas mereka dikikis oleh isntitusi negara yang senantiasa memaksakan adanya keberagaman dari sabang sampai merauke, menghapus keberagaman yang sebenarnya adalah modal sosial yang sangat besar.
gempa harus kita lihat sebagai sebuah pendulum bagi bangkitnya warga desa guna melakukan perombakan dalam banyak hal. bila tatanan politik tidak sanggup memberi stimulus bagi tumbuhnya semangat untuk menemukan formula perbaikan mental dan semangat juang, maka alam biasanya akan melakukannya. dan mudah-mudahan bencana yang sudah membuat hati ini miris bukan hanya hukuman atas kelengahan dan kelemahan kita, tapi juga sebagai pelecut agar bangsa ini bangkit menggapai hidupnya dalam semangat yang lebih baik. jerman dan jepang pernah hancur oleh karena perang dunia, mereka bisa bangkit dari keterpurukan yang sedemikian rupa untuk kemudian kembali menjadi pioner dalam banyak hal. semoga negeri ini terlecut oleh hantaman alam yang tidak hentinya mendera, semoga.
impian inilah yang coba kita urai menjadi beberapa pekerjaan yang sanggup kita lakukan kedepan. mungkin hanya secuil yang bisa kita ambil dan laksanakan dari sekian lembar impian tersebut. tapi dari yang secuil itu mudah-mudahan bisa memberi warna tersendiri buat masyarakat pedesaan yang selama ini senantiasa terpinggirkan oleh realitas politik.