Wednesday, April 13, 2005

DPR Kita

Sungguh hebat anggota DPR kita, rela bertukar pukul dengan anggota lainnya, demi memperjuangkan pilihan sikapnya. Banyak orang mencerca sikap dari perilaku para anggota dewan sebagai kekanak2an, atau apalah, yang pasti negatif aja.

Kalau gue, melihatnya dari sudut pandang yang agak lain. Mungkin gue akan berkata hebat anggota DPR kita, berani melakukan banyak hal demi mempertahankan pilihan sikap dan pilihan pendapat. Karena berdebat dan bertengkar dalam rangka memperjuangkan pilihan sikap atas kebijakan yang diambil oleh eksekutif bila perlu memang harus dengan segala daya. Parlemen Korea Selatan dan Taiwan sering melakukan hal itu, dan itu tidak serta merta menjatuhkan image dan kerdibilitas anggota parlemen tersebut. Menurut gue masih wajar kok bertengkar sehebat apapun dalam ruang sidang, asal bertengkarnya berdasarkan alasan yang memaang layak, dan asal pertengkaranya sebatas di forum.

Hanya saja yang menjadi pertanyaan, sampai sejauh mana esensi yang diperjuangkan oleh anggota dewan hingga sampai menimbulkan perkelahian. Apa esensi yang sedang mereka perjuangkan? Apakah mereka memang benar2 memperjuangkan sesuatu yang diyakini bakal membawa dampak yang signifikan bagi kehidupan banyak orang, atau hanya sekedar memperjuangkan kepentingan sektoral yang sempit? Atau lebih parah lagi, mereka hanya memperjuangkan eksistensi masing2 kelompok yang terwakili oleh keberadaan mereka di parlemen?

Boleh dong kita berandai2. Gue sih berandai2, anggota parlemen yang rela berantem memang sedang berjuang untuk mencari jalan terbaik atas keputusan pemerintah menaikan harga BBM. Bagaimanapun juga, kenaikan BBM telah menimbulkan dampak yang jelas2 menyengsarakan masyarakat kelas menengah ke bawah. Walaupun banyak pakar mengatakan, penghapusan subsidi BBM telah menyelamatkan uang negara sekian trilyun. Tapi, juga harus diingat, putusan itu menghancurkan hidup ratusan juta warga negara indonesia. Gimana gak hancur, daya beli masyarakat yang lemah harus berhadapan dengan laju inflasi yang tinggi akibat kenaikan BBM. Mustinya diperhatikan dulu bagaimana kualitas hidup warga kita,s ebelum dengan gagah berani mencabut subsidi BBM. Negara maju macam amrik aja tetap mempertahan subisidi pada masyarakatnya, terutama subsidi pertaniannnya. Kita tanpa penguatan basis perekonomian berani2nya cabut subsidi dengan mengorbankan kepentingan masyarakat banyak.

Jadi, seandainya esensi yang diperjuangkan DPR adalah demi mencari solusi atas keruwetan dalam persoalan BBM berhadapan dengan pihak yang tetap keukeuh mendukung kenaikan BBM sampai kemudian terjadi baku hantam, alangkah hebatnya DPR kita. Gue tidak menghiraukan berantemnya, gue melihat bahwa proses pendewasaan politik memang harus melalui jalan terjal dan berliku. Berantem dan gontok2an mungkin memang bagain dari proses yang Insya Allah, berujung pada sebuah dinamika positip dalam perumusan masalah dari sekian ratus anggota dewan. Bagaimanapun juga yang diperjuangkan anggota dewan, bila benar berjuang demi kepentingan masyarakat, banyak sekali. Jadi harus dengan segala daya upaya biar keyakinan mereka untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat mendapatkan tempat.

Namun, bila ternyata berantemnya anggota dewan semata2 demi kepentingan sektoral masing2 dari kelompok mereka untuk menghancurkan eksistensi kelompok lain, atau yang didukungnya. Ya, dengan terpaksa gue kecewa. Karerna proses yang sedemikian heroik ternyata hanya memperjuangkan sesuatu yang tidak esensial.

Damiano Tommasi


saat as roma merebut gelar juara seri a musim kompetisi tahun 2000/2001, yang menjadi pemain terbaik liga italia waktu itu bukan francesco totti, gabriel batistuta, atau vinceno montella, tapi malah pemain tengah yang sederhana, tidak begitu terkenal, serta jauh dari pemberitaan sebelumnya. dia adalah damiano tommasi. yes, tommasi adalah salah satu pemain favorit gue dari jaman dulu. dia adalah sedikit dari pemain italia yang bermain lugas, pekerja keras dan yang pasti tidak suka nge-trick. seperti inzaghi, del piero, atau bahkan totti.


saat terpilih sebagai pemain terbaik seri a musim kompetisi tahun 2000/2001, dia hanya berkomentar pendek, "ini kemenangan pemain dengan kemampuan biasa saja". karena pada dasarnya tommasi memang tidak dikarunia bakat bermain sehebat; raul gonzales, zidane, totti atau del piaro, tapi dia menutupi kelemahannya dengan etos kerja yang luar biasa dan sportivitas yang tinggi. dia juga salah satu pemain yang tidak pernah protes pun uring2an saat dicadangkan, atau diganti. tapi sayang, setelah musim kompetisi 2002/2003 tommasi akrab dengan cedera, sehingga namanya secara perlahan mulai dilupakan orang. janganka main untuk tim azzuri, di as roma saja namanya mulai jarang muncul. bahkan musim kompetisi 2004-2005, saat as roma lagi morat-marit, tommasi tidak sekalipun ikut main. cedera telah membuat nama tommasi perlahan2 terkubur. tapi orang, terutama gue, akan selalu merindukan gaya permainan tommasi yang lugas serta sportivitasnya yang tinggi. seolah dia bukan pemain yang terlahir di italia, negeri dengan kultur bola yang cenderung licik. saat as roma merebut gelar juara seri a musim kompetisi tahun 2000/2001, yang menjadi pemain terbaik liga italia waktu itu bukan francesco totti, gabriel batistuta, atau vinceno montella, tapi malah pemain tengah yang sederhana, tidak begitu terkenal, serta jauh dari pemberitaan sebelumnya. dia adalah damiano tommasi.

yes, tommasi adalah salah satu pemain favorit gue dari jaman dulu. dia adalah sedikit dari pemain italia yang bermain lugas, pekerja keras dan yang pasti tidak suka nge-trick. seperti inzaghi, del piero, atau bahkan totti.

saat terpilih sebagai pemain terbaik seri a musim kompetisi tahun 2000/2001, dia hanya berkomentar pendek, "ini kemenangan pemain dengan kemampuan biasa saja". karena pada dasarnya tommasi memang tidak dikarunia bakat bermain sehebat; raul gonzales, zidane, totti atau del piaro, tapi dia menutupi kelemahannya dengan etos kerja yang luar biasa dan sportivitas yang tinggi. dia juga salah satu pemain yang tidak pernah protes pun uring2an saat dicadangkan, atau diganti. tapi sayang, setelah musim kompetisi 2002/2003 tommasi akrab dengan cedera, sehingga namanya secara perlahan mulai dilupakan orang. janganka main untuk tim azzuri, di as roma saja namanya mulai jarang muncul. bahkan musim kompetisi 2004-2005, saat as roma lagi morat-marit, tommasi tidak sekalipun ikut main. cedera telah membuat nama tommasi perlahan2 terkubur.

tapi orang, terutama gue, akan selalu merindukan gaya permainan tommasi yang lugas serta sportivitasnya yang tinggi. seolah dia bukan pemain yang terlahir di italia, negeri dengan kultur bola yang cenderung licik.