Friday, December 16, 2005

Balada Temon

Beberapa tahun yang lalu, dengan alasan menanam padi terus-menerus tidak bisa bikin kaya, dia berpindah jalur dengan menanami melon di areal sawahnya. Sawah seluas 2000m2 itu adalah warisan dari bapaknya. Sudah hampir 1o tahun dia kelola sawah itu sebagaimana orang2 sekitar mengelolanya, dengan menanami padi saat ada hujan, dan menanam kacang tanah atau kedelai saat kemarau.

Kebiasaan bercocok tanam yang sudah berlangung puluhan tahun itu disadarinya tidak akan sanggup memberikan efek kejut pada pertumbuhan perekonomian keluarganya, maka dengan berbekal pengetahuan ala kadarnya tentang seluk beluk menaman melon, dia coba melakukan terobosan dengan bertani melon. Mobil butut warisan mertua dia jual untuk modal awal, katanya untuk memulai usaha atau pilihan alternatif yang lain harus sedia modal serep (dobel).


Maka semenjak itu dia dikenal oleh orang2 sekitar sebagai petani melon. Jatuh bangun pada awal mula dia merinstis karier sebagai petani melon. Mulai dari cara tanam yang masih ribet dan persoalan hama membuat usahanya awalnya sedikit babak belur. Beruntung dia punya modal serep, sehingga tidak memaksanya berhenti ditengah jalan.

" Untuk bisa berhasil kita harus berani mengambil pilihan yang orang lain tidak duga. Kalau hanya mengandalkan kebiasaan lama, tidak akan mungkin ada kemajuan. Kita harus pupuskan mitos bahwa jadi petani tidak mungkin kaya." Begitu katanya suatu ketika saat jumpa dengan gue.


Setelah melewati masa2 yang rumit, akhirnya hari keberuntungan itu tiba. Pada musim tanam ketiga dia mulai berhasil menyelesaikan persoalan hama dan pola tannam, sehingga semenjak itu dia mulai mendapatkan keuntungan. Beberapa tengkulak mulai mendatangi sawahnya dan dengan harga lumayan mereka membeli melon yang masih di sawah. Alhasil, mobil butut kembali dia dapatkan bahkan kemudian motor baru pun berhasil dia beli, berkat melon yang harganya stabil.


Namun, budaya latah yang berkembang pada masyarakat sekitar membuat apa yang dia rintis kemudian diikuti oleh banyak pihak. Tidak lama kemudian di daerahnya muncul petani2 melon baru yang semuanya merasa diri jago dalam hal bercocok tanam melon. Lantas daerah itu dikenal sebagai penghasil melon. Hal yang sedikit aneh, 5 tahun yang lalu orang2 kampung itu sebagian besar mungkin belum pernah merasakan atau mencicipi buah melon, hingga saat dia pertama kali panen tidak ada yang mau mencoba mencicipi melon. Tapi, setelah dia sukses merintis penanaman melon, semua orang menyukai melon.


Sekian lama melon menjadi primadona, walau dalam perjalanan waktu sebenarnya banyak pihak, yang karena modal cetek, gagal pada musim tanam pertama dan tidak sanggup lagi melanjutkan menanam melon. Mereka ini terpaksa harus merelakan modalnya ilang. Tidak sedikit; sapi, atau motor menguap. Awalnya mereka berharap dapat motor baru atau sapi baru yang lebih gemuk, tapi yang didapat hanya beberapa puluh kilo melon, serta bambu dan plastik bekas tempat merambat dan menanam melon.

Namun cerita sukses menenggelamkan cerita duka. Banyak orang yang memiliki atau memaksakan diri menyediakan modal dobel memang kemudian bisa bernafas lega dengan hasil tanam yang lumayan serta harga jual melon yang tinggi.


Semua orang belajar bagaimana bertanam melon. Bagaimana membunuh hama, bagaimana bikin melon cepet berbunga, bagaimana bikin melon menghasilkan buah yang banyak, bagaimana bikin buah cepet besar, bagaimana bikin buah berasa manis, serta bagaimana bikin kulit buah cepet berwarna kuning. Semua bisa diakalin dengan obat2an, atau lebih spesifiknya dengan pestisida. Tanaman di sawah berubah menjadi melon. Banyak pihak yang memilih menyewakan lahan untuk para petani melon. Karena tanpa harus menggarap apa2 mereka akan dapat harga sewa yang lumayan bagus.


Namun kebanyakan orang hanya belajar bagaimana mengelola dan bertanam melon, tidak ada yang mau belajar tentang bagaimana para distributor membuang melon dari daerahnya ketempat lain. Tidak ada yang berpikir mengenai perkembangan ekonomi makro, terutama berkaitan dengan pangsa pasar melon. Karena ketiadaan pihak yang mempelajari hal itu, satu atau dua tahun yang lalu suplai melon dari daerah itu melebihi permintaan. Alhasil harga melon anjlok. Bahkan kemudian tengkulak pun enggan datang, karena melon2 itu katanya menumpuk di gudang mereka, tidak ada pihak yang mau membelinya lagi. Kalaupun toh ada, harganya miring sekali.


Kiamat buat para petani melon datang. Semua hasil panen dibeli dengan harga yang sangat rendah, jangankan balik modal, berusaha untuk merugi sedikit saja tidak bisa. Banyak motor, pun beberapa mobil butut yang pernah terbeli oleh karena keuntungan melon lantas kembali harus dilego. Dia, petani melon pertama, menjadi pihak yang paling merasakan kerugian itu. Ambisinya untuk menjadi petani melon terbesar harus dibayar dengan kerugian yang juga paling besar.



Beberapa waktu yang lalu, sempet gue dapati dia ngomel saat mendengar orang bicara tentang melon. Dia mengalami sedikit melon fobia. Namun tidak lama kemudian, saat musim kemarau kemarin, gue lihat dia memerintahkan beberapa orang untuk membuat banyak lubang di sawahnya, jarak antar lubang kira 1,5 meter. Ternyata dia sekarang mau menanami sawahnya dengan pohon pisang.

Wednesday, December 14, 2005

Laki2 Tua dengan Bayang Masa Lalu

Laki2 tua itu mengela nafas berat, dari balik kaca mobil dia tatap pohon asem yang tumbuh di pojok kampung halamannya. Kampung yang tepat 40 tahun yang lalu ia tinggalkan.



Empat puluh tahun yang lalu, demi menyelamatkan nyawa, dia rela diselundupkan melalui jalur kereta meninggalkan kampung halaman beserta seluruh sanak sodara menuju Surabaya. Semenjak itu hanya cerita dari kerabat yang mengunjunginya yang ia dengar tentang kampung halamannya.


Tiada keberanian ia miliki untuk menjejakan kakinya lagi ke kampung itu. Ada bayang kematian yang seolah mengelayut di cakrawala, katanya, setiap mengingat kampung halamannya. Bahkan saat sang ibunda tercinta meninggal, dia hanya bisa menyuruh anak dan istrinya pulang untuk menyampaikan duka cita yang teramat dalam, sambil menyimpan isak tangis di sudut kota yang hanya berjarak 5 km dari kampung halamannya.


Dan kini, setelah 40 tahun, setelah semua perubahan yang terjadi di negeri ini, dia gue ajak memberanikan diri mengunjungi atau hanya sekedar mendekati kampung itu untuk paling tidak membuka kenangan akan daerah kelahirannnya. Akan tetapi, ternyata kenangan yang kemudian muncul adalah bayang2 kematian yang seolah siap merenggutanya dari pijakan dimana dia berada.


Dia gelengkan kepala saat pedal gas gue injak dan setir gue arahkan ke pintu masuk kampung itu. Saat tidak gue pedulikan gelengannya dengan tetap mengarahkan mobil ke kampung itu, mendadak wajahnya pias pucat pasi. Bahasa tubuhnya tidak karuan.

" Aku yang akan bertanggungjawab kalau terjadi apa2," kataku.
" Tidak," katanya." Aku tidak sanggup mengingat bayang2 kematian yang menimpa sekian orang yang pernah begitu dekat denganku. Aku takut."
" Tidak akan ada yang membuatmu seperti apa yang dialami temen2mu, semua orang yang memberikan ancaman itu sudah pada dikubur oleh waktu," kataku lagi.

Dia menggeleng perlahan, nafasnya menderu tidak beraturan. Wajah itu semakin gelisah.
" Dulu, tahun 1970an, ada yang mencoba pulang, lantas seminggu kemudian dia hilang. Mayatnya ditemukan tersangkut digorong2 kota 3 hari kemudian," rengeknya dengan suara parau.
" Itu dulu, sekarang lain, tidak ada lagi ancaman itu. Semua sudah berubah, yang dulu begitu bengis suah pada mati. Dan aku yang akan menjamin keamanan itu," kataku memohon.


Tapi dia bergeming. Sorot mata ketakutan tetap tidak beranjak pergi. Dan demi orang tua tersebut, terpaksa gue belokan mobil menjauhi kampung kelahirannya. Perlahan bias ketakutan menepi dari wajahnya. Dengan perlahan dia sulut rokok kretek dan dihisapnya dalam2 untuk kemudian dia hembuskan asap seolah melepas sekian juta kenangan buruk dari masa yang sudah sangat lama berlalu.

Monday, December 12, 2005

Problemo

Mungkin inilah hidup dan kehidupan. Baru saja menegerjakan proyek yang mungkin bakal memberi keuntungan finansial buat kami, eh mendadak kami kena denda yang lumayan banyak.
Awalnya adalah kasus di Mojokerto, gara2 pekerja konstruksi yang gak mengenal waktu selama bulan puasa, akhirnya warga menuntut pembangunan tower XL di Bangsal Mojokerto yang perijinan kami kerjakan untuk dihentikan. Warga baru akan mengijinkan tower dikerjakan lagi bila kami membayar masing2 Rp. 1o juta per KK, yang jumlahnya 50 KK, plus sumbangan pembangunan masjid Rp. 25 juta dan biaya pembangunan jalan Rp. 10 juta.
Awalnya persoalan ini kami lemparkan ke XL, sebagai provider yang kasih kerjaan ke kita. Dan kebetulan vendor sipil (CME) yang mengerjakan kontruksi beda perusahaan sama kami. Tapi, sayangnya waktu rapat besar antara kami, CME Sipil, dan pihak XL, sebelum lebaran, warga lebih banyak ngomong soal perijinan, bukan pada mekanisme kerja yang sudah banyak mengganggu mereka. Hingga kamilah yang kemudian dianggap sudah mmebuat kesalahan dengan warga.
Setelah berembug panjang lebar, akhirnya warga mengurangi tuntutan menjadi Rp. 1 juta per KK, plus untuk masjid, dan perbaikan jalan. Satu hal yang sangat guesayangkan, sampai akhir pertemuan warga tetep ngomong persoalan perijinan, bukan cara kerja team konstruksi yang tidak mengenal waktu. Padahal sebelumnya mereka ngomong banyak soal cara kerja team kontruksi yang tidak karuan. Karena kami dan team dari XL, tidak bisa memberikan jawaban, maka pertemuan ditunda sehabis lebaran.
Sialnya, pada pertemuan setelah lebaran, hanya gue dan seorang temen gue yang datang, pihak XL, dan CME melarikan diri. Jadi aja kami dihajar dan dibulan2in warga dengan berbagai perkataan dan pertanyaan. Besoknya kami diundang pertemuan di XL Surabaya. dengan ebkal rasa dongkol gue ngamuk di XL Surabaya. Tapi, sekali lagi mereka mengembalikan ke persoalan perijnan yang menjadi tanggungjawab kami.
Melihat apa yang berkembang di lapangan, tentu saja kita yang bertanggungjawab pada perijinan, yang lantas menjadi terdakwa tunggal dihadapan XL. Alhasil kamilah yang harus bertanggungjawab atas tuntutan itu, atau membiarkan pengerjaan pembangunan dihentikan dan kami mengganti semua biaya yang sudah dikeluarkan yang kira-kira sebesar Rp. 300 juta.
Mampus deh gue, dengan terpaksa setiap hari gue harus nongol ke Bangsal Mojokerto, untuk mengusahakan agar warga mengurangi tuntutannya. Dan setelah warga mendapat informasi bahwa kamilah yang semestinya bertanggungjawab atas semua tuntutannya, bukan XL sebagai pemilik modal, tuntutan warga mulai agak lunak. Tapi, tuntutan yang sebesar Rp. 1 juta per KK tetep mereka ajukan, , walau sudah minus tuntutan pembangunan masjid.
Setelah lebih dari 10 kali gue melobby ketua RT, Ustad dan Lurah akhirnya keluarlah angka Rp. 35 juta sebagai kompensasi kepada warga keseluruhan. Fuih, luar biasa susahnya meyakinakan warga yang banyak. Dan Alhamdulilah, melihat kerja kami dalam melloby yang gila2an, akhirnya XL membantu kami setengahnya. Dan pemilik lokasi yang juga menjadi biang masalah selain vendor CME bersedia membantu Rp. 7 juta, hanya saja Vendor CME-nya tetep lepas tangan. Eh, udah gitu gue denger kabar dari lurah, warga sebenarnya dah nerima tawaran yang 30 juta, cuma sama Ustad dan perwakilan warga diinformasikan ke gue bahwa warga nuntut 35 plus pembangunan jalan. Dengan terpaksa gue melloby lagi agar tuntutannya berkurang, sampai akhirnya berhenti pada harga 35 juta tersebut. Kata lurah, kalau gue menemui dia dulu pasti akan didapat angka hanya 30 juta. Ternyata Ustad yang diseganin sekalipun, sulit untuk dipercaya. Dan yang bikin gue semakin kecewa, setelah gue bayar, baru ke perwakilan XL si Ustad bilang bahwa pekerjaan ini dulunya di hentikan salah satunya karena cara kerja yang bikin warga kesel.
Seminggu kemudian gue dapat kabar bahwa site lain, di Sawahan Surabaya kita lagi-lagi kena denda, kali ini 14 juta. Gara2nya lokasi yang kita ajukan ke XL, dan sudah tanda tangan perjanjian kontrak dengan pemilik lokasi, tiba2 sama pemda harus digeser. Pergeseran ini kami sampaikan ke orang sipilnya XL Ini justru jadi eksalahan kami, seharusnya kata orang XL, kami melaporkanya pada pagian SITAC, atau perijinan. Padahal sama Sipilnya XL, laporan kami sudah diproses dan propose perpindahan lokasi juga disetujui. Persoalanya konon, mereka sudah memproduksi base frame tower untuk lokasi awal, dan kalau harus pindah kami yang diwajibakan mengganti biaya pembuatan base frame tersebut. Alasan mereka, kenapa kami tidak melapor ke bagian perijinan, sehingga tidak bisa digunakan untuk menjustifikasi bahwa kami sudah melakukan proposan pengajuan pemimdahan lokasi sesuai mekanisme kerja.
Tadi siang, pertemuan gue dengan manajer bagian perijinan berakhir bahwa kami harus menanggung biaya base frame, 14 juta. Shit, kayaknya gue kerja bakti banget ama XL ini. Dan segala upaya lobby gue dimentahkan, ama sang manager.
Sang manajer cuma bilang, makanya lain kali ati-ati mas. Memang kerjaan sampean ini paling riskan, salah sedikit ya begini ini. Dasar Perusahaan besar, rutuk gue, selalu mencari justifikasi agar perusahaan kecil yang menanggung kerugian. Mereka selalu mengembalikan persoalan ke kesepakatan kontrak, sementara waktu kita disodorin kontrak, gue revisi satu pasal saja ditolak mentah2 ama mereka. Dan susahnya lagi, perusahaan kecil dengan terpaksa harus nurut ama kehendak perusahaan besar agar tetep dapat kontrak kerja.
Fuih, setan kapitalis....

Jadi Petani

Setiap kali habis atau sedang berkunjung ke Klaten, gue senantiasa dihadapkan pada penglihatan kehidupan tetangga gue yang mayoritas bekerja sebagai buruh dan petani.

Sebuah ironi, negeri yang penduduk mayotitasnya adalah petani, hingga orang bilangya kita negara agraris, tapi idup mayoritas penduduknya jauh dibawah garis kemiskinan. Kalau negara lain mah, yang bekerja pada mayoritas pilihan pekerjaan yang ada di negaranya biasanya minimal idupnya berkecukupan. Contoh yang paling baru adalah vietnam, negara yang 30 tahun yang lalu maish porak-poranda oleh perang sudara dan hajaran bom amerika, sekarang sudah sanggup menciptakan kehidupan yang lumayan lebih baik buat penduduknya yang bekerja sebagai petani.

Saat ini petani di kampung gue terpaksa membiarkan tanahnya terbengkalai hanya karena minimnya suplai air. Mereka mau menanam padi gak ada air, mau kembali menamam palawija, takut mendadak ujan, hingga bikin semua tanaman bacek, alias modar. Problem ini kan sebenarnya sederhana. Masalahnya adalah tidak adanya saluran irigasi yang memadai hingga suplai air sering tidak terkendali. Saat kemarau habis, saat hujan banjir. Sebagai negara yang rakyatnya idup dengan mengandalkan tanah untuk penghidupannya, harusnya kebijakan untuk pemanfaatan tanah agar bisa maksimal menjadi prioritas, bukanya sok membangun sentra industri yang akhirnya keuntungannya hanya dimakan oleh segelintir orang.
Hampir di sebagaian wilayah di jawa persoalan air menjadi momok utama bagi kehidupan petani. Padahal tanaman padi adalah tanaman yang sangat manja. Kurang air hasilnya gak bagus, kelebihan air sama saja.

So, hanya menyediakan kestabilan aliran irigasi yang sanggup menjamin warga bisa bercocok tanam aman saja gak sanggup, apalagi harus dibebani untuk menciptakan mekamisme pasar yang kondusif, bibit yang sanggup bertahan hidup oleh karena hama dan cuaca, serta memberikan jaminan bahwa bertani menjadi pilihan yang bisa menjamin masa depan.

Mayoritas warga di negeri ini jadi petani bukan atas dasarnya pilihan, tapi keterpaksaan. Tidak ada anak indonesia yang bercita2 jadi petani. Pasti mereka bercita2 jadi orang kaya. Karena petani tidak menjamin seseorang menjadi kaya, maka pilihan itu sejak sekian puluh tahun yang lalu sudah di delet. Sehingga jadi petani adalah pelarian dari semua pilihan 6yang telah gagal diambil. Parahnya lagi, kebanyakan warga di kampung gue jadi petani karena sayang kalau tanahnya tidak digarap. Kebetulan mereka mendapat warisan tanah yang tidak begitu luas (karena dah dibagi turun temurun) kalau gak digarap sayang, kalau digarap hasilnya juga gak cukup untuk bekal hidup keluarga. Contoh memelihara padi untuk sawah 1000 M2 kalau hasilnya pas bagus petani bisa menjula gabah ke tengkulan Rp. 1,4 juta. Umur padi dari membajak sampai panen kira 4 bulan. Biaya produksi rata2 untuk sawah 1000M2 habis kira2 Rp. 350 ribu, lain2 Rp. 50 ribu, so keuntungan di dapat kira2 Rp. 1 juta setiap panen buat tanah luas 1000 M2. Rp. 1 juta di bagi empat bulan, berarti setiap sebulan mereka hanya dapat keuntungan Rp 250 ribu. Sementara kalau mereka bekerja jadi kuli bangunan dapat gaji Rp. 20 ribu setiap hari, 25 hari kerja dalam sebulan, berarti sebulan mereka bisa bawa pulang uang Rp. 500 ribu. Jadi mayoritas warga memilih bekerja sebagai kuli bangunan, sedang sebagai petani hanya sambilan saja.

Jadi, memang absurd negeri ini. Penduduk yang jumlahnya mayoritas dibiarkan hidup dalam kesulitan dan kesulitan, bahkan kadang2 udah sulita lahan penghiduoannya direnggut secara paksa pula, oleh banyak alasan.

Dahlah....negeri ini memang negeri beling...

Perjodohan

Mungkin melihat gue yang dah uzur begini belum juga mengawini anak orang, salah seorang temen perempuan gue berinisiatif untuk mencarikan gue kenalan perempuan yang menurutnya oke. Waktu itu mendadak dia telepon gue dengan tergopoh2 mengabarkan ada temen yang siap dikenalin ke gue, konon kabarnya oke. Tapi dengan disclaimer yang bikin gue agak tersenyum ” Padahal agak nyesel juga gue mau ngenalin dia ke lu, takut dianya mau. Kan lu cadangan gue, kalau gue dah mentog, nanti lu yang musti ngawinin gue,” begitu pesan kurangajarnya.

Pas kebetulan gue ke Jakarta gue kontak temen gue yang bawel ini, alhasil dia mau mengusahakan pertemuan tersebut. Tapi, gue gak tahanh cerewetnya.

” Lu harus dandan biar keliatan seganteng mungkin yah, jangan sampai
mengecewakan” cerocosnya.
” Alah, biarain aja dia ngeliat gue apa adanya, gue paling kagak mau sok2an bergaya tidak sesuai dengan kata hati. Lagian pan gue mang begini oranya.”
” Eh, lu mah musti bisa2nya kasih first impresion yang oke, perempuan mah suka dikibulin dengan penampilan yang meyakinkan.”
”Wah, gue gak suka ama perempuan yang begituan.”
” Ah, lu mah susah, jaman sekarang mau dapat perempuan, modelnya begini, mana bisa?”
” Its me honey, gue maunya orang ngeliat gue dari awal ya beginian, bukan belakangan baru sadar bahwa gue kumel dan segala macam, lantas orang baru
nyesel. Santai aja lagi....”
”Hih...lu mah mang susah......
”Gue datang ama temen gue ye?” kata gue.
”Jangan, ntar dia naksirnya ama temen lu lagi...”.
”Biarin aja, kalau gitu berarti mang dia gak layak buat gue....”.
” Aduh, ini anak susah amat....”.
Hehe....ruwet deh kalau urusannya begini. Gue paling muales dengan tetek bengek yang serba diatur beginian. Gue senantiasa idup dalam spontanitas, semuanya mengalir seperti apa adanya....so.....ntahlah....

Naluri Bisnis

Karena pekerjaan mulai agak longgar, minggu kemarin gue sempetkan diri mengunjungi mak gue di Klaten. Itung2 istirahat di kampung kecil jauh dari keramaian sekalian nemenin nyokap yang mang sendirian di rumah dari tahun 1990.

Padahal bulan ini sudah memasuki bulan ke -12, tapi hujan yang lebat semenjak sekali terjadi saat lebaran belum datang juga. Hingga sawah2 disekitar kampung gue dibiarkan bero (tidak ditanamin/diolah). Solanya mereka bingung, mau nanam padi, air belum cukup, mau ditanam palawija takut mendadak hujan, mati semua nanti tanaman.

Dalam kondisi tanah sedang dibiarkan terlantar sehabis ditanamin palawija (kacang tanah, jagung dan kedelai) dan belum digenangi air begini biasanya banyak jangkrik hidup disana. Jangkrik dengan suara kerikan yang khas dan berisik menajad pembawa nuansa tersendiri di sekitar rumah gue. Waktu gue masih kecil bila musim begini tiba, gue selalu mencari dan mengumpulkan jangkrik dalam jumlah yang banyak, hingga rumah gue setiap malam berisiknya luar biasa.

Sekarang anak2 yang masih demen mencari dan memelihara jangkrik juga masih banyak, salah satunya bernama Alek, tapi gue biasa manggilnya Plonco. Anaknya dah berumur 12 tahun, tapi masih kelas 4 SD. Dia punya masalah dengan pendidikan formal, tapi dia sangat terampil membantu bapaknya kerja di swah dan memelihara sapi. ” Aku ini memang guoblok kalau disuruh sekolah mbah,” begitu dia bilang setiap gue ledekin akibat seringnya dia tidak naik kelas. Dia manggil gue mbah, hanya karena bapaknya manggil gue oom. Sebenarnya tidak ada hubungan darah diantara kami. Hirarki yang menempatkan masing2 orang harus memanggil dengan embel2 om, mas atau pakde, di kampung gue selain karena hubungan darah juga terjadi karena warisan kultur feodal. Untuk menghormati orang yang secara hirarki dituakan atau disegani maka warga harus memberikan embel2 di depan nama saat memanggil yang lain.

Well, kita lupakan kefeodalan jawa tersebut, pas gue sampai di Klaten, gue melihat Plonco punya jangkrik yang lumayan banyak. Maka demi ingatan akan masa lalu serta untuk keperluan menakuti tikus, maka gue beli jangkrik Plonco. (konon kabarnya tikus kabur setiap denger suara jangkrik yang berisik).

” Satunya seribu Mbah,” katanya lantang
” Oke, 5 lima ribu ya,” kata gue langsung membayarnya lunas

Alhasil malam itu rumahnya gue riuh rendah oleh suara jangkrik. Mungkin karena suara tikus ketilep suara jangkrik atau memang bener2 tikus takut jangkrik, mendadak berisiknya tikus di atap rumah gue mendadak menghilang.

Besoknya pagi2 bener, Plonco dah nongkrong di depan rumah gue dengan wajah tidak biasanya.

”Ngapain Co, mau jual jangkrik lagi?”
“ Wah, aku rugi besar kemarin, Mbah”
” Lho, emangnya kenapa?”
” Jangkrik itu kalau sampai Jakarta kan bisa dijual sepuluh ribu satunya, harusnya aku jualnya ke sampean lima ribu satunya kemarin”

Oalah, itu rupanya. Bodoh sekolah, tapi kalau urusan duit ada saja otaknya. Lagian hari gini, siapa yang mau dagangan jangkrik, ampe jakarta pula. Plonco...Plonco....

Thursday, December 08, 2005

Kembali Ke Jakarta

Oleh sebab kehilangan dompet beserta seluruh isinya, hingga harus mengurus pembuatan dokumen pribadi dan peralatan transaksi, akhirnya hari ini gue melihat Jakarta, setelah lebih dari 4 bulan gue tinggalin. Well, gak ada yang berubah, semuanya sama; macet, panas, tergesa-gesa dan sedikit tidak terkontrol.

Tapi, walau dengan sejuta wajah yang belepotan, Jakarta tetap saja kota yang memaksa orang untuk datang oleh karena alasan apapun. Alasan yang paling utama adalah Jakarta memiliki terlalu banyak hal yang daerah lain tidak miliki. Contohnya ya segala fasilitas yang sanggup menunjang idup orang menjadi lebih baik dan lebih mudah. Salah satu orang yang merasakan hal itu ya gue ini. Demi kemudahan untuk mendapatkan materi dan sebagainya dengan terpaksa gue masih harus mencatatkan diri secara administrasi pada kota ini.
Hmmm....wellcome back son, walau mungkin bukan untuk berlama-lama...karena kesenangan dan tantangan yang lain di tempat lain masih sayang untuk ditinggalkan dalam waktu dekat ini