Namun cerita sukses menenggelamkan cerita duka. Banyak orang yang memiliki atau memaksakan diri menyediakan modal dobel memang kemudian bisa bernafas lega dengan hasil tanam yang lumayan serta harga jual melon yang tinggi.
Friday, December 16, 2005
Balada Temon
Namun cerita sukses menenggelamkan cerita duka. Banyak orang yang memiliki atau memaksakan diri menyediakan modal dobel memang kemudian bisa bernafas lega dengan hasil tanam yang lumayan serta harga jual melon yang tinggi.
Wednesday, December 14, 2005
Laki2 Tua dengan Bayang Masa Lalu
Empat puluh tahun yang lalu, demi menyelamatkan nyawa, dia rela diselundupkan melalui jalur kereta meninggalkan kampung halaman beserta seluruh sanak sodara menuju Surabaya. Semenjak itu hanya cerita dari kerabat yang mengunjunginya yang ia dengar tentang kampung halamannya.
Tiada keberanian ia miliki untuk menjejakan kakinya lagi ke kampung itu. Ada bayang kematian yang seolah mengelayut di cakrawala, katanya, setiap mengingat kampung halamannya. Bahkan saat sang ibunda tercinta meninggal, dia hanya bisa menyuruh anak dan istrinya pulang untuk menyampaikan duka cita yang teramat dalam, sambil menyimpan isak tangis di sudut kota yang hanya berjarak 5 km dari kampung halamannya.
Dan kini, setelah 40 tahun, setelah semua perubahan yang terjadi di negeri ini, dia gue ajak memberanikan diri mengunjungi atau hanya sekedar mendekati kampung itu untuk paling tidak membuka kenangan akan daerah kelahirannnya. Akan tetapi, ternyata kenangan yang kemudian muncul adalah bayang2 kematian yang seolah siap merenggutanya dari pijakan dimana dia berada.
Dia gelengkan kepala saat pedal gas gue injak dan setir gue arahkan ke pintu masuk kampung itu. Saat tidak gue pedulikan gelengannya dengan tetap mengarahkan mobil ke kampung itu, mendadak wajahnya pias pucat pasi. Bahasa tubuhnya tidak karuan.
" Aku yang akan bertanggungjawab kalau terjadi apa2," kataku.
" Tidak," katanya." Aku tidak sanggup mengingat bayang2 kematian yang menimpa sekian orang yang pernah begitu dekat denganku. Aku takut."
" Tidak akan ada yang membuatmu seperti apa yang dialami temen2mu, semua orang yang memberikan ancaman itu sudah pada dikubur oleh waktu," kataku lagi.
Dia menggeleng perlahan, nafasnya menderu tidak beraturan. Wajah itu semakin gelisah.
" Dulu, tahun 1970an, ada yang mencoba pulang, lantas seminggu kemudian dia hilang. Mayatnya ditemukan tersangkut digorong2 kota 3 hari kemudian," rengeknya dengan suara parau.
" Itu dulu, sekarang lain, tidak ada lagi ancaman itu. Semua sudah berubah, yang dulu begitu bengis suah pada mati. Dan aku yang akan menjamin keamanan itu," kataku memohon.
Monday, December 12, 2005
Problemo
Jadi Petani
Sebuah ironi, negeri yang penduduk mayotitasnya adalah petani, hingga orang bilangya kita negara agraris, tapi idup mayoritas penduduknya jauh dibawah garis kemiskinan. Kalau negara lain mah, yang bekerja pada mayoritas pilihan pekerjaan yang ada di negaranya biasanya minimal idupnya berkecukupan. Contoh yang paling baru adalah vietnam, negara yang 30 tahun yang lalu maish porak-poranda oleh perang sudara dan hajaran bom amerika, sekarang sudah sanggup menciptakan kehidupan yang lumayan lebih baik buat penduduknya yang bekerja sebagai petani.
Saat ini petani di kampung gue terpaksa membiarkan tanahnya terbengkalai hanya karena minimnya suplai air. Mereka mau menanam padi gak ada air, mau kembali menamam palawija, takut mendadak ujan, hingga bikin semua tanaman bacek, alias modar. Problem ini kan sebenarnya sederhana. Masalahnya adalah tidak adanya saluran irigasi yang memadai hingga suplai air sering tidak terkendali. Saat kemarau habis, saat hujan banjir. Sebagai negara yang rakyatnya idup dengan mengandalkan tanah untuk penghidupannya, harusnya kebijakan untuk pemanfaatan tanah agar bisa maksimal menjadi prioritas, bukanya sok membangun sentra industri yang akhirnya keuntungannya hanya dimakan oleh segelintir orang.
So, hanya menyediakan kestabilan aliran irigasi yang sanggup menjamin warga bisa bercocok tanam aman saja gak sanggup, apalagi harus dibebani untuk menciptakan mekamisme pasar yang kondusif, bibit yang sanggup bertahan hidup oleh karena hama dan cuaca, serta memberikan jaminan bahwa bertani menjadi pilihan yang bisa menjamin masa depan.
Mayoritas warga di negeri ini jadi petani bukan atas dasarnya pilihan, tapi keterpaksaan. Tidak ada anak indonesia yang bercita2 jadi petani. Pasti mereka bercita2 jadi orang kaya. Karena petani tidak menjamin seseorang menjadi kaya, maka pilihan itu sejak sekian puluh tahun yang lalu sudah di delet. Sehingga jadi petani adalah pelarian dari semua pilihan 6yang telah gagal diambil. Parahnya lagi, kebanyakan warga di kampung gue jadi petani karena sayang kalau tanahnya tidak digarap. Kebetulan mereka mendapat warisan tanah yang tidak begitu luas (karena dah dibagi turun temurun) kalau gak digarap sayang, kalau digarap hasilnya juga gak cukup untuk bekal hidup keluarga. Contoh memelihara padi untuk sawah 1000 M2 kalau hasilnya pas bagus petani bisa menjula gabah ke tengkulan Rp. 1,4 juta. Umur padi dari membajak sampai panen kira 4 bulan. Biaya produksi rata2 untuk sawah 1000M2 habis kira2 Rp. 350 ribu, lain2 Rp. 50 ribu, so keuntungan di dapat kira2 Rp. 1 juta setiap panen buat tanah luas 1000 M2. Rp. 1 juta di bagi empat bulan, berarti setiap sebulan mereka hanya dapat keuntungan Rp 250 ribu. Sementara kalau mereka bekerja jadi kuli bangunan dapat gaji Rp. 20 ribu setiap hari, 25 hari kerja dalam sebulan, berarti sebulan mereka bisa bawa pulang uang Rp. 500 ribu. Jadi mayoritas warga memilih bekerja sebagai kuli bangunan, sedang sebagai petani hanya sambilan saja.
Jadi, memang absurd negeri ini. Penduduk yang jumlahnya mayoritas dibiarkan hidup dalam kesulitan dan kesulitan, bahkan kadang2 udah sulita lahan penghiduoannya direnggut secara paksa pula, oleh banyak alasan.
Dahlah....negeri ini memang negeri beling...
Perjodohan
Pas kebetulan gue ke Jakarta gue kontak temen gue yang bawel ini, alhasil dia mau mengusahakan pertemuan tersebut. Tapi, gue gak tahanh cerewetnya.
” Lu harus dandan biar keliatan seganteng mungkin yah, jangan sampai
mengecewakan” cerocosnya.
” Alah, biarain aja dia ngeliat gue apa adanya, gue paling kagak mau sok2an bergaya tidak sesuai dengan kata hati. Lagian pan gue mang begini oranya.”
” Eh, lu mah musti bisa2nya kasih first impresion yang oke, perempuan mah suka dikibulin dengan penampilan yang meyakinkan.”
”Wah, gue gak suka ama perempuan yang begituan.”
” Ah, lu mah susah, jaman sekarang mau dapat perempuan, modelnya begini, mana bisa?”
” Its me honey, gue maunya orang ngeliat gue dari awal ya beginian, bukan belakangan baru sadar bahwa gue kumel dan segala macam, lantas orang baru
nyesel. Santai aja lagi....”
”Hih...lu mah mang susah......
”Gue datang ama temen gue ye?” kata gue.
”Jangan, ntar dia naksirnya ama temen lu lagi...”.
”Biarin aja, kalau gitu berarti mang dia gak layak buat gue....”.
” Aduh, ini anak susah amat....”.
Naluri Bisnis
Padahal bulan ini sudah memasuki bulan ke -12, tapi hujan yang lebat semenjak sekali terjadi saat lebaran belum datang juga. Hingga sawah2 disekitar kampung gue dibiarkan bero (tidak ditanamin/diolah). Solanya mereka bingung, mau nanam padi, air belum cukup, mau ditanam palawija takut mendadak hujan, mati semua nanti tanaman.
Dalam kondisi tanah sedang dibiarkan terlantar sehabis ditanamin palawija (kacang tanah, jagung dan kedelai) dan belum digenangi air begini biasanya banyak jangkrik hidup disana. Jangkrik dengan suara kerikan yang khas dan berisik menajad pembawa nuansa tersendiri di sekitar rumah gue. Waktu gue masih kecil bila musim begini tiba, gue selalu mencari dan mengumpulkan jangkrik dalam jumlah yang banyak, hingga rumah gue setiap malam berisiknya luar biasa.
Sekarang anak2 yang masih demen mencari dan memelihara jangkrik juga masih banyak, salah satunya bernama Alek, tapi gue biasa manggilnya Plonco. Anaknya dah berumur 12 tahun, tapi masih kelas 4 SD. Dia punya masalah dengan pendidikan formal, tapi dia sangat terampil membantu bapaknya kerja di swah dan memelihara sapi. ” Aku ini memang guoblok kalau disuruh sekolah mbah,” begitu dia bilang setiap gue ledekin akibat seringnya dia tidak naik kelas. Dia manggil gue mbah, hanya karena bapaknya manggil gue oom. Sebenarnya tidak ada hubungan darah diantara kami. Hirarki yang menempatkan masing2 orang harus memanggil dengan embel2 om, mas atau pakde, di kampung gue selain karena hubungan darah juga terjadi karena warisan kultur feodal. Untuk menghormati orang yang secara hirarki dituakan atau disegani maka warga harus memberikan embel2 di depan nama saat memanggil yang lain.
Well, kita lupakan kefeodalan jawa tersebut, pas gue sampai di Klaten, gue melihat Plonco punya jangkrik yang lumayan banyak. Maka demi ingatan akan masa lalu serta untuk keperluan menakuti tikus, maka gue beli jangkrik Plonco. (konon kabarnya tikus kabur setiap denger suara jangkrik yang berisik).
” Satunya seribu Mbah,” katanya lantang
” Oke, 5 lima ribu ya,” kata gue langsung membayarnya lunas
Alhasil malam itu rumahnya gue riuh rendah oleh suara jangkrik. Mungkin karena suara tikus ketilep suara jangkrik atau memang bener2 tikus takut jangkrik, mendadak berisiknya tikus di atap rumah gue mendadak menghilang.
Besoknya pagi2 bener, Plonco dah nongkrong di depan rumah gue dengan wajah tidak biasanya.
”Ngapain Co, mau jual jangkrik lagi?”
“ Wah, aku rugi besar kemarin, Mbah”
” Lho, emangnya kenapa?”
” Jangkrik itu kalau sampai Jakarta kan bisa dijual sepuluh ribu satunya, harusnya aku jualnya ke sampean lima ribu satunya kemarin”
Oalah, itu rupanya. Bodoh sekolah, tapi kalau urusan duit ada saja otaknya. Lagian hari gini, siapa yang mau dagangan jangkrik, ampe jakarta pula. Plonco...Plonco....