Friday, December 16, 2005

Balada Temon

Beberapa tahun yang lalu, dengan alasan menanam padi terus-menerus tidak bisa bikin kaya, dia berpindah jalur dengan menanami melon di areal sawahnya. Sawah seluas 2000m2 itu adalah warisan dari bapaknya. Sudah hampir 1o tahun dia kelola sawah itu sebagaimana orang2 sekitar mengelolanya, dengan menanami padi saat ada hujan, dan menanam kacang tanah atau kedelai saat kemarau.

Kebiasaan bercocok tanam yang sudah berlangung puluhan tahun itu disadarinya tidak akan sanggup memberikan efek kejut pada pertumbuhan perekonomian keluarganya, maka dengan berbekal pengetahuan ala kadarnya tentang seluk beluk menaman melon, dia coba melakukan terobosan dengan bertani melon. Mobil butut warisan mertua dia jual untuk modal awal, katanya untuk memulai usaha atau pilihan alternatif yang lain harus sedia modal serep (dobel).


Maka semenjak itu dia dikenal oleh orang2 sekitar sebagai petani melon. Jatuh bangun pada awal mula dia merinstis karier sebagai petani melon. Mulai dari cara tanam yang masih ribet dan persoalan hama membuat usahanya awalnya sedikit babak belur. Beruntung dia punya modal serep, sehingga tidak memaksanya berhenti ditengah jalan.

" Untuk bisa berhasil kita harus berani mengambil pilihan yang orang lain tidak duga. Kalau hanya mengandalkan kebiasaan lama, tidak akan mungkin ada kemajuan. Kita harus pupuskan mitos bahwa jadi petani tidak mungkin kaya." Begitu katanya suatu ketika saat jumpa dengan gue.


Setelah melewati masa2 yang rumit, akhirnya hari keberuntungan itu tiba. Pada musim tanam ketiga dia mulai berhasil menyelesaikan persoalan hama dan pola tannam, sehingga semenjak itu dia mulai mendapatkan keuntungan. Beberapa tengkulak mulai mendatangi sawahnya dan dengan harga lumayan mereka membeli melon yang masih di sawah. Alhasil, mobil butut kembali dia dapatkan bahkan kemudian motor baru pun berhasil dia beli, berkat melon yang harganya stabil.


Namun, budaya latah yang berkembang pada masyarakat sekitar membuat apa yang dia rintis kemudian diikuti oleh banyak pihak. Tidak lama kemudian di daerahnya muncul petani2 melon baru yang semuanya merasa diri jago dalam hal bercocok tanam melon. Lantas daerah itu dikenal sebagai penghasil melon. Hal yang sedikit aneh, 5 tahun yang lalu orang2 kampung itu sebagian besar mungkin belum pernah merasakan atau mencicipi buah melon, hingga saat dia pertama kali panen tidak ada yang mau mencoba mencicipi melon. Tapi, setelah dia sukses merintis penanaman melon, semua orang menyukai melon.


Sekian lama melon menjadi primadona, walau dalam perjalanan waktu sebenarnya banyak pihak, yang karena modal cetek, gagal pada musim tanam pertama dan tidak sanggup lagi melanjutkan menanam melon. Mereka ini terpaksa harus merelakan modalnya ilang. Tidak sedikit; sapi, atau motor menguap. Awalnya mereka berharap dapat motor baru atau sapi baru yang lebih gemuk, tapi yang didapat hanya beberapa puluh kilo melon, serta bambu dan plastik bekas tempat merambat dan menanam melon.

Namun cerita sukses menenggelamkan cerita duka. Banyak orang yang memiliki atau memaksakan diri menyediakan modal dobel memang kemudian bisa bernafas lega dengan hasil tanam yang lumayan serta harga jual melon yang tinggi.


Semua orang belajar bagaimana bertanam melon. Bagaimana membunuh hama, bagaimana bikin melon cepet berbunga, bagaimana bikin melon menghasilkan buah yang banyak, bagaimana bikin buah cepet besar, bagaimana bikin buah berasa manis, serta bagaimana bikin kulit buah cepet berwarna kuning. Semua bisa diakalin dengan obat2an, atau lebih spesifiknya dengan pestisida. Tanaman di sawah berubah menjadi melon. Banyak pihak yang memilih menyewakan lahan untuk para petani melon. Karena tanpa harus menggarap apa2 mereka akan dapat harga sewa yang lumayan bagus.


Namun kebanyakan orang hanya belajar bagaimana mengelola dan bertanam melon, tidak ada yang mau belajar tentang bagaimana para distributor membuang melon dari daerahnya ketempat lain. Tidak ada yang berpikir mengenai perkembangan ekonomi makro, terutama berkaitan dengan pangsa pasar melon. Karena ketiadaan pihak yang mempelajari hal itu, satu atau dua tahun yang lalu suplai melon dari daerah itu melebihi permintaan. Alhasil harga melon anjlok. Bahkan kemudian tengkulak pun enggan datang, karena melon2 itu katanya menumpuk di gudang mereka, tidak ada pihak yang mau membelinya lagi. Kalaupun toh ada, harganya miring sekali.


Kiamat buat para petani melon datang. Semua hasil panen dibeli dengan harga yang sangat rendah, jangankan balik modal, berusaha untuk merugi sedikit saja tidak bisa. Banyak motor, pun beberapa mobil butut yang pernah terbeli oleh karena keuntungan melon lantas kembali harus dilego. Dia, petani melon pertama, menjadi pihak yang paling merasakan kerugian itu. Ambisinya untuk menjadi petani melon terbesar harus dibayar dengan kerugian yang juga paling besar.



Beberapa waktu yang lalu, sempet gue dapati dia ngomel saat mendengar orang bicara tentang melon. Dia mengalami sedikit melon fobia. Namun tidak lama kemudian, saat musim kemarau kemarin, gue lihat dia memerintahkan beberapa orang untuk membuat banyak lubang di sawahnya, jarak antar lubang kira 1,5 meter. Ternyata dia sekarang mau menanami sawahnya dengan pohon pisang.

No comments: