Wednesday, December 14, 2005

Laki2 Tua dengan Bayang Masa Lalu

Laki2 tua itu mengela nafas berat, dari balik kaca mobil dia tatap pohon asem yang tumbuh di pojok kampung halamannya. Kampung yang tepat 40 tahun yang lalu ia tinggalkan.



Empat puluh tahun yang lalu, demi menyelamatkan nyawa, dia rela diselundupkan melalui jalur kereta meninggalkan kampung halaman beserta seluruh sanak sodara menuju Surabaya. Semenjak itu hanya cerita dari kerabat yang mengunjunginya yang ia dengar tentang kampung halamannya.


Tiada keberanian ia miliki untuk menjejakan kakinya lagi ke kampung itu. Ada bayang kematian yang seolah mengelayut di cakrawala, katanya, setiap mengingat kampung halamannya. Bahkan saat sang ibunda tercinta meninggal, dia hanya bisa menyuruh anak dan istrinya pulang untuk menyampaikan duka cita yang teramat dalam, sambil menyimpan isak tangis di sudut kota yang hanya berjarak 5 km dari kampung halamannya.


Dan kini, setelah 40 tahun, setelah semua perubahan yang terjadi di negeri ini, dia gue ajak memberanikan diri mengunjungi atau hanya sekedar mendekati kampung itu untuk paling tidak membuka kenangan akan daerah kelahirannnya. Akan tetapi, ternyata kenangan yang kemudian muncul adalah bayang2 kematian yang seolah siap merenggutanya dari pijakan dimana dia berada.


Dia gelengkan kepala saat pedal gas gue injak dan setir gue arahkan ke pintu masuk kampung itu. Saat tidak gue pedulikan gelengannya dengan tetap mengarahkan mobil ke kampung itu, mendadak wajahnya pias pucat pasi. Bahasa tubuhnya tidak karuan.

" Aku yang akan bertanggungjawab kalau terjadi apa2," kataku.
" Tidak," katanya." Aku tidak sanggup mengingat bayang2 kematian yang menimpa sekian orang yang pernah begitu dekat denganku. Aku takut."
" Tidak akan ada yang membuatmu seperti apa yang dialami temen2mu, semua orang yang memberikan ancaman itu sudah pada dikubur oleh waktu," kataku lagi.

Dia menggeleng perlahan, nafasnya menderu tidak beraturan. Wajah itu semakin gelisah.
" Dulu, tahun 1970an, ada yang mencoba pulang, lantas seminggu kemudian dia hilang. Mayatnya ditemukan tersangkut digorong2 kota 3 hari kemudian," rengeknya dengan suara parau.
" Itu dulu, sekarang lain, tidak ada lagi ancaman itu. Semua sudah berubah, yang dulu begitu bengis suah pada mati. Dan aku yang akan menjamin keamanan itu," kataku memohon.


Tapi dia bergeming. Sorot mata ketakutan tetap tidak beranjak pergi. Dan demi orang tua tersebut, terpaksa gue belokan mobil menjauhi kampung kelahirannya. Perlahan bias ketakutan menepi dari wajahnya. Dengan perlahan dia sulut rokok kretek dan dihisapnya dalam2 untuk kemudian dia hembuskan asap seolah melepas sekian juta kenangan buruk dari masa yang sudah sangat lama berlalu.

No comments: