(Akulah Takdirmu)
Ku tunggu kau bersama takdir yang aku paksakan
Lihatlah di sini di sisi pijar mentari
namamu tertulis di telapak tanganku
Aku genggam rasamu atas nama Tuhanku
Tidak ada tempat untuk berpaling
Tidak ada wajah untuk berbanding
Ku tunggu kau di sisi pagi
Akan aku urapi nasibmu dengan keyakinanku
Akan aku tebus langkahmu dengan nasibku
Akan aku isi hidupmu dengan geliat penghidupanku
Ku tunggu kau bersama takdir yang aku paksakan
Lihatlah di sini di sisi pijar mentari
Nafasku menderu dalam rongga parumu
Darahku bergolak dalam denyut nadimu
Rasaku menggeliat mengoyak hatimu
Adakah tempat lain yang bisa kau tuju?
Manakala nasib telah mengantarkanmu pada takdirmu
JakartaMei2004
(Berhentilah Sejenak)
Berhentilah sejenak di sini
Di sisi pagi kala mentari mulai meninggi
Karena aku masih menunggumu
Dengan segenap asa yang membatu
Tidahkah kau ingin bertukar cerita
Tentang pagi yang mulai meninggi
Tentang mimpi-mimpi
Tentang suasana hati
Aku akan selalu ada
Manakala kau ingin merasa
Dan aku akan tiada
Saat kau mulai enggan merasa
Berhentilah sejenak di sini
Memandang mentari
Rasai hadirnya bersamaku
Adakah geliat itu menyentuhmu?
Jakarta Mei 2004
(Pertanda)
Tataplah langit kala malam tiba
Aku bentangkan pengharapan dalam wujud gugusan bintang
Adakah pertanda itu singgah dalam kejapan matamu?
Atau malah sanggup membangkitkan tafsirmu
tentang hidup
tentang cinta
tentang bahagia
tentang duka
tentang luka
tentang sakit
dan tentang kita
Tataplah kaki langit kala senja datang
Aku taburkan asaku pada jingga di ujung cakrawala
Adakah pertanda itu sanggup menggerakan maumu?
Atau malah sanggup memberikanmu pemahaman
tentang masa depan
tentang hari ini
tentang hari esok
tentang hari kemarin
tentang lusa
dan tentang kita
Tataplah apapun pertanda yang singgah dalam geliat hidup
Rasaku aku titipkan pada semua yang tertangkap oleh indera
Adakah pertanda itu sanggup menyentuh perasaanmu?
Atau malah sanggup memberimu kerelaan
untuk mencinta
untuk dicinta
untuk berbagi
untuk bersama
untuk menjadi
dan untuk kita
jakarta Mei 2004
(Dalam Keterbatasan Waktu)
dalam keterbatasan waktu yang kita hadapi
dalam ruang hidup yang kita jalani
mungkinkah kita terus berlari tanpa behenti?
sedang dunia pun beranjak tua
bunga-bunga begitu mudah layu dan berguguran
pepohonan begitu mudah lapuk dan bertumbangan
dalam kejaran waktu menjalani kehidupan
tidakkah terpikir olehmu untuk berhenti sejenak?
merasai hadirnya mimpi
tentang mekarnya rasa dalam titian nada yang pasti
sebelum waktu meniadakan keindahan
dan menjadikan kita rongsokan tiada guna
dalam keterbatasan kesempatan yang masih tersisa
tidakkah terpikirkan untuk mengayun langkah bersama
berbagi tempat dalam berbagai rasa
berbagi cerita dalam berbagai suasana
berbagi derita dalam berbagai rupa
berbagi impian dalam berbagai warna
Jakarta Juni 2004
(Kebisuan Abadi)
Aku telan mimpi-mimpi itu
Bagai butir-butir ektasi
Mengantarku pada dentingan lagu
Yang mengubah nyata menjadi kelabu
Aku kurang mengerti
Apakah terlalu berlebih aku menggambarnya di dinding hati
Atau terlalu banyak campuran warnanya
Yang pasti langkahku kian tak berarti
Dan kau tersenyum lembut
Menatapku hanyut terbawa irama kematian
Lalu kau bicara
Dengan nada-nada tanpa aturan
Menempatkan baris-baris kata
Berlalu tanpa menyentuh pinggir hati
Tapi, itulah nyata yang kau bawa
Yang harus aku terima dengan lapang dada
Mesti harus terbawa ke dalam titian tanpa nuansa
Dan kau tetap tersenyum lembut
Menatapku tenggelam
Dalam lingkaran yang membinasakan
Kini kau menari-nari
Diantara kilauan embun pagi
Mencandai mentari
Dengan segenap tumpahan emosi
Dan segera aku bungkus mimpiku
Dalam lipatan sobekan kain malam
Untuk aku bawa berlari
Dalam kebisuan abadi.
Bandung 1995
Tuesday, December 12, 2006
Yang Pernah Ada
(Wangi Musim)
Bagiku
kau adalah angin
yang membawa wangi musim dari negeri pemilik semua warna musim
Hembusanmu adalah ilusi
bagi pengharapan yang tidak mengenal tepi Aromamu adalah bunga mimpi bagi jiwa-jiwa yang tidak pernah mati
kau adalah angin yang membawa wangi musim dari negeri pemilik semua warna musim aku adalah negeri yang hanya mengenal satu musim
bagiku
wangimu adalah abstraksi sebuah mimpi yang paling berarti walaupun terkadang wangimu pun adalah absurdnya khayalan tanpa arti
kau tetaplah angin yang membawa wangi musim dari negeri pemilik semua warna musim aku pun tetaplah negeri yang hanya mengenal satu musim maka akan kunanti hembusan dan aroma warna musimu mengusik warna musimku setiap detik sepanjang waktu
Jakarta Mei 2004
(Perempuan)
Seandainya kau adalah rembulan
Maka, bersinarlah penuh keagungan kala purnama
Biarkan warna perak menghias semesta
Menidurkan jiwa-jiwa yang sengsara
Menenangkan gejolak hasrat yang meronta
Seandainya kau adalah mentari
Maka, sinarilah birahiku dengan cahayamu
Pancarkan aura cemerlang pada wajahku
Liatkan gerak tubuhku memburu waktu
Bangkitkan impianku menggenggam dunia dalam saku baju
Sayangnya kau adalah perempuan
Jenis yang memang harus selalu disadarkan*
Akan keindahan semesta
Akan keindahan kehidupan yang berjalan
Akan adanya cinta yang menghangatkan
Akan adanya pengharapan yang menantikan
Jakarta Mei 2004
* Danarto dalam cerpennya Kecubung Pengasihan menulis Jenis perempuan memang harus selalu disadarkan.
(Duduklah di sini)
Duduklah di sini
Dikala aku menyambut kedatangan sang mentari
Akan aku mintakan burung-burung bernyanyi untukmu
Mengingatkanmu akan hari-hari penuh pesona
Membiarkanmu menikmati pantulan warna tanpa batas
Pun
Duduklah di sini
Dikala aku melepas kepergian sang mentari
Akan aku mintakan candik ayuÒ menari untukmu
Mengingatkanmu akan hari-hari penuh imaginasi
Membiarkanmu meretas mimpi tentang apapun
Duduklah di sini
Kala purnama bersinar bulat penuh
Akan aku mintakan bintang-bintang jatuh bertaburan
Mengingatkanmu akan kemegahan alam raya
Membiarkanmu menyembah keagungan kuasa pencipta
Ò . Silhuet bentukan awan jingga kala senjan datang
(Patah)
Bahkan ketika tidak satu harapan pun menjadi kenyataan
Tidak ada alasan bagi siapapun untuk mendustakan sesamanya
Pun ketika asaku kandas ditengah jalan
Karena sapuan lembut gerak tubuhmu yang mematikan
Bagiku
kau adalah angin
yang membawa wangi musim
Hembusanmu adalah ilusi
bagi pengharapan yang tidak mengenal tepi
kau adalah angin
bagiku
wangimu adalah abstraksi sebuah mimpi
kau tetaplah angin
Jakarta Mei 2004
(Perempuan)
Seandainya kau adalah rembulan
Maka, bersinarlah penuh keagungan kala purnama
Biarkan warna perak menghias semesta
Menidurkan jiwa-jiwa yang sengsara
Menenangkan gejolak hasrat yang meronta
Seandainya kau adalah mentari
Maka, sinarilah birahiku dengan cahayamu
Pancarkan aura cemerlang pada wajahku
Liatkan gerak tubuhku memburu waktu
Bangkitkan impianku menggenggam dunia dalam saku baju
Sayangnya kau adalah perempuan
Jenis yang memang harus selalu disadarkan*
Akan keindahan semesta
Akan keindahan kehidupan yang berjalan
Akan adanya cinta yang menghangatkan
Akan adanya pengharapan yang menantikan
Jakarta Mei 2004
* Danarto dalam cerpennya Kecubung Pengasihan menulis Jenis perempuan memang harus selalu disadarkan.
(Duduklah di sini)
Duduklah di sini
Akan aku mintakan burung-burung bernyanyi untukmu
Mengingatkanmu akan hari-hari penuh pesona
Membiarkanmu menikmati pantulan warna tanpa batas
Pun
Duduklah di sini
Dikala aku melepas kepergian sang mentari
Akan aku mintakan candik ayuÒ menari untukmu
Mengingatkanmu akan hari-hari penuh imaginasi
Membiarkanmu meretas mimpi tentang apapun
Dan
Duduklah di sini
Kala purnama bersinar bulat penuh
Akan aku mintakan bintang-bintang jatuh bertaburan
Mengingatkanmu akan kemegahan alam raya
Membiarkanmu menyembah keagungan kuasa pencipta
Jakarta Mei 2004
Ò . Silhuet bentukan awan jingga kala senjan datang
(Patah)
Bahkan ketika tidak satu harapan pun menjadi kenyataan
Tidak ada alasan bagi siapapun untuk mendustakan sesamanya
Pun ketika asaku kandas ditengah jalan
Karena sapuan lembut gerak tubuhmu yang mematikan
Tidak ada alasan bagiku untuk menjatuhkanmu dari pijakan
Bahkan ketika tidak sekelumit keindahan pun dapat terengkuh
Tidak ada alasan bagi siapapun untuk mencaci sesamanya
Pun kala malam-malamku tidak lagi menyimpan warna impian
Karena kau biarkan gradasinya buyar di pinggir jalan
Tidak ada alasan bagiku untuk mencerabutmu dari ketenangan
Karena harapan dan keindahan adalah abstraksi dan refleksi personal
Maka biarkan aku duduk sendiri di sini
menelan sepi
mengunyah mimpi
Jakarta Mei 2004
(Gadis (yang) kecil)
Tumbuhlah bersama desir angin
yang membawa wangi musim
dari negeri impian
Sangkutkanlah keinginan pada bentang awan
yang menerbangkan selaksa asa pada sekian kemungkinan yang ada
Lupakan desakan kebutuhan yang meronta merobek rasa
Lupakan laju waktu yang menggerogoti keinginan
Lupakan kewajaran yang bergerak dalam jiwa
Tetaplah berjalan lurus ke depan
Menuju tempat dimana ceria ada dalam satu warna
dan membawa jiwa tidak pernah beranjak tua
Biarkan semua tumbuh dan berkembang
Biarkan semua menjadi tua dan tiada
Biarkan semua bergerak dan berubah
Tetaplah menggenggam mau yang sama
Yang sanggup menggilas perputaran dunia
Sebelum putaranya menggilasmu suatu ketika.......
Jakarta Mei 2004
(Gelisah)
aku adalah sebuah situasi
yang bergerak liar dalam ketidakpastian
membawa prahara hati yang gelisah
kadangkala ingin aku bakar sisi langit
agar tiada tanya yang mengoyak jiwa
kadang ingin aku sirami semesta dengan cinta
agar damai menerpa jiwa sesama
aku adalah keinginan
yang gagal mengikuti irama kehidupan
berjalan dalam pijakan kaki yang tak nyata
sering aku hujat semesta
mencari jawab dari ketidakberdayaan jiwa
sering pula aku puja pencipta
dalam keterputusasaan yang melanda
aku adalah kenyataan
yang terus diburu gelisah
mengais-ngais pertanda yang tidak pernah nyata
tetap berjalan di persimpangan yang membiaskan
jakarta mei 2004
Bahkan ketika tidak sekelumit keindahan pun dapat terengkuh
Tidak ada alasan bagi siapapun untuk mencaci sesamanya
Pun kala malam-malamku tidak lagi menyimpan warna impian
Karena kau biarkan gradasinya buyar di pinggir jalan
Tidak ada alasan bagiku untuk mencerabutmu dari ketenangan
Karena harapan dan keindahan adalah abstraksi dan refleksi personal
Maka biarkan aku duduk sendiri di sini
menelan sepi
mengunyah mimpi
Jakarta Mei 2004
(Gadis (yang) kecil)
Tumbuhlah bersama desir angin
yang membawa wangi musim
dari negeri impian
Sangkutkanlah keinginan pada bentang awan
yang menerbangkan selaksa asa pada sekian kemungkinan yang ada
Lupakan desakan kebutuhan yang meronta merobek rasa
Lupakan laju waktu yang menggerogoti keinginan
Lupakan kewajaran yang bergerak dalam jiwa
Tetaplah berjalan lurus ke depan
Menuju tempat dimana ceria ada dalam satu warna
dan membawa jiwa tidak pernah beranjak tua
Biarkan semua tumbuh dan berkembang
Biarkan semua menjadi tua dan tiada
Biarkan semua bergerak dan berubah
Tetaplah menggenggam mau yang sama
Yang sanggup menggilas perputaran dunia
Sebelum putaranya menggilasmu suatu ketika.......
Jakarta Mei 2004
(Gelisah)
aku adalah sebuah situasi
yang bergerak liar dalam ketidakpastian
membawa prahara hati yang gelisah
kadangkala ingin aku bakar sisi langit
agar tiada tanya yang mengoyak jiwa
kadang ingin aku sirami semesta dengan cinta
agar damai menerpa jiwa sesama
aku adalah keinginan
yang gagal mengikuti irama kehidupan
berjalan dalam pijakan kaki yang tak nyata
sering aku hujat semesta
mencari jawab dari ketidakberdayaan jiwa
sering pula aku puja pencipta
dalam keterputusasaan yang melanda
aku adalah kenyataan
yang terus diburu gelisah
mengais-ngais pertanda yang tidak pernah nyata
tetap berjalan di persimpangan yang membiaskan
jakarta mei 2004
Subscribe to:
Comments (Atom)