Friday, June 24, 2011

WAJAH KAMI

Musim panen di kampung kami tahun ini dihiasi oleh kegagalan dan kegagalan. Dari sekian hektar lahan penduduk kami yang ditanami padi, kurang dari 10% yang bisa bertahan hidup sampai musim panen tiba serta menghasilkan padi. Menurut pengakuan beberapa tetangga, sampai pada akhir bulan mei kemarin (ketika musim kemarau nampak mau menepati janjinya) rata-rata sudah menamam padi antara 2 – 3 kali. Hasilnya, mayoritas adalah cerita suram.

Saya sempat bertanya, kenapa masih juga ditanamin padi setelah dua panen sebelumnya hasilnya selalu nihil? Jawaban mereka beragam, dari beragam tersebut yang paling sering aku dengar adalah, dua jawaban. Yang pertama,” mau ditanam apa lagi selain padi, saat lahan persawahan senantiasa penuh dengan air?. Tanaman palawija tidak akan sanggup bertahan diguyur hujan saban waktu”. Sedang jawaban lain yang umum terdengar adalah, “toh yang gagal panen bukan saya sendiri, Mas, banyak temannya, jadi ga terasa juga sedihnya”.

Jawaban yang kedua mengundang senyum satire. Jawaban ini dulu juga pernah aku dengar saat wilayah kami di-porak-porandakan gempa ( Mei 2006). Banyak orang mengatakan, bahwa, sedik dan berduka menyadari rumah, harta benda, sanak sodara terluka bahkan ada yang meninggal, tapi kesedihan tersebut sedikit berkurang begitu menyadari bahwa mereka mengalami derita tersebut tidak sendirian. Perasaan senasib ternyata menjadi penawar duka. Sayangnya perasaan senasib ini terkadang juga menjebak beberapa orang dalam perilaku negatif. Saya jadi inget salah satu tulisan dalam salah satu artikel di Kompas, lupa penulisanya. Disitu digambarkan bahwa beberapa orang jawa memiliki sikap seperti kepiting yang ditaruh di ember. Kepiting yang di taruh diember dalam jumlah yang banyak tidak pernah ada satupun yang bisa keluar dari ember, soalnya setiap kali ada yang berusaha menggapai bibir ember, pasti akan ditarik kepiting lainnya yang juga pingin keluar. Begitu terus menerus, sehingga yang terjadi justru upaya saling menarik dari kemungkinan untuk keluar dari ember. Demikian pula yang sering terjadi sebagian masyarakat di jawa, saat melihat satu atau dua orang mendadak berhasil dan menjadi berbeda dibanding sesama mereka, maka sebagian besar warga lainnya akan merasa tersaingi, iri, dan kemudian berusaha untuk menariknya kembali agar bernasib seperti mereka.

Berdasarkan pengalaman pribadi, beberapa kasus seperti apa yang digambarkan diatas pernah terjadi di sekitar lingkung kami. Dulu, kampung kami adalah wilayah dengan mayoritas penduduknya di cap sebagai anggota PKI. Saat rejim Suharto berkuasa banyak anak keturunan orang tua yang dicap PKI tidak diberi kesempatan untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun, berkat kegigihan dan manipulasi data, beberapa anak berhasil menggapai mimpi untuk menjadi PNS (polisi, tentara, atau guru). Nah, di saat melihat beberapa anak tetangga berhasil menjadi pegawai negeri yang memiliki pangkat dan kedudukan serta gaji bulanan, hal yang langka bagi lingkungan kami yang mayoritas warganya adalah petani dan buruh bangunan, banyak orang yang iri dibuatnya. Sikap iri ini akan semakin keras gaungnya dari keluarga yang merasa kelas menengah ke atas di kampung kami. Akibatnya upaya untuk menggugurkan mereka yang sudah menjadi PNS marak terjadi. Surat kaleng yang memberitahukan para PNS tersebut turunan PKI marak waktu itu. Untungnya dari kejadian tersebut tidak ada satupun yang berhasil dilengesrkan, hanya saja beberapa orang menyadari adanya surat kaleng yang sampai ke kantornya, dan membuat mereka jadi tidak bisa menikmati kenaikan pangkat dnegan leluasa.

Berdasarkan gambaran tersebut, perasaan senasib, yang semestinya adalah solidaritas atas mereka yang sama-sama menderita, bisa bermakna berbeda bagi masyarakat kami. Saat panen gagal, perasaan senasib memang menyatukan dan menguatkan mereka dalam menghadapi kesulitan, namun perasaan senasib juga menjebak mereka dalam kesamaan respon atas nasib yang mereka hadapi. Bahkan ketika sudah tahu apa yang dilakukannya kemungkinan besar akan gagal, hanya karena banyak orang melakukan hal yang sama, maka yang lain juga akan mengikutinya.

Inipun yang terjadi saat merespon kegagalan panen yang mendera wilayah kami setahun terakhir. Gagal panen yang berulang tidak direspon dengan mencari alternatif tanaman selain padi. Alasannya curah hujan terlalu tinggi dan air terlalu banyak di sawah, sehingga tidak mungkin ditanami selain padi. Bila didesak untuk mencari solusi dengan teknis penggarapan lahan yang banyak air tapi bukan untuk ditanami padi, mereka akan ngeles, ga papalah mas, lagian kalopun nanti gagal panen lagi, ora ndeweki (gak sendirian). Menurutku, mereka kurang berani saja mencoba alternatif lain yang berbeda dari kecenderungan umum. Bahkan ketika ada sedikit orang mencoba menanam pare dan kacang panjang, dan berhasil panen dengan baik, beberapa orang tetap ngeles, modalnya harus banyak dan sulit membuat lahan persemain yang tidak tergenang air saat hujan, padahal orang lain sudah jelas-jelas ada yang melakukan hal yang disebut sulit tersebut dan berhasil.

Warga kami bukanlah masuk kategori orang-orang malas. Mereka para pekerja yang lumayan handal. Saat musim tanam, pagi-pagi sekali mereka sudah turun ke sawah, menjelang tengah hari mereka istirahat makan siang dan tidur siang, selepas tengah hari mereka turun lagi ke sawah sampai badha sholat azhar. Kalaupun pun pada saat yang lain mereka nampak santai, karena memang sedang tidak ada yang dikerjakan. Lahan pertanian menjadi sedemikian sempit bagi masing-masing individu, sehingga waktu bekerja untuk lahan pertaniannya juga tidak banyak. Sehingga bila dikatakan mereka malas tidaklah benar. Bahkan mereka adalah orang-orang yang tabah menghadapi masalah. Gagal panen sampai dua kali pun mereka hadapi dengan sabar dan masih tetap sabar juga menanti panen berikutnya. Selama mereka merasa gagal bersama, maka mereka akan bisa menghadapi kegagalan dengan lapang dada.

Yang sebenarnya terjadi adalah, warga kami memang tidak seberani mereka yang terbiasa berspekulasi. Karena warga kami adalah petani yang terbiasa berkompromi dengan musim. Bahkan dengan harga pasar sekalipun mereka tidak terbiasa berkompromi. Musim dan musim-lah yang selalu menjadi panutan dan kawan bernegoisasi. Saat tiba-tiba musim tidak menepati janjinya, warga kami gagap.

Tantangan kedepan bagi warga kami adalah membiasakan diri mengartikan bahwa musim bukan lagi sesuatu yang bisa diprediksi. Musim adalah gejala alam yang bisa saja terjadi tanpa jadwal yang pasti. Beberapa orang yang berani melawan musim dengan meningalkan kebiasaan menanam padi tersu menerus saat hujan akan menjadi contoh kisah sukses. Tidak mudah memang menggerakan orang untuk mengikuti keberhasilan pihak lain dengan resiko yang besar. Tapi, waktu seringkali mengajarkan bahwa keberhasilan lebih manis daripada kebiasaan umum yang terbukti kurang berhasil.

Selain itu kebiasaan layaknya kepiting yang terperangkat di ember harus segera dihilangkan. Tidak mudah memang, akan tetapi dengan terbukanya wacana akibat pendidikan dan terbukanya wawasan solidaritas positif yang justru bisa merubah nasib mereka secara komunal, semoga mengurangi solidaritas dalam perspektif negatif tersebut. Saat ini, beberapa orang yang sudah tercerahkan oleh pendidikan dan dunia luar, sudah mulai berbagi kesempatan dengan pihak lain yang memungkinkan pihak lain mendapatkan akses untuk mengembakan diri. Kenyataan bahwa keberhasilan salah satu dari mereka juga bisa memberi jalan bagi keberhasilan yang lain menjadi pembelajaran yang sedemikian berharga bagi banyak orang.

Thursday, June 23, 2011

Penilaian

Di dekat tempat tinggalku di Jakarta ada Ibu-ibu penjual nasil pecel dan urapan. Karena aku terlanjur menjadi penggemar berat sayur-sayuran, maka saban pagi aku menjadi salah satu pelanggan yang sering beli urapan dari Si Ibu.

Untuk ukuran Jakarta, harga nasi pecel pun urapan si Ibu tergolong sangat murah, Rp. 3000/bungkus. Dan rasanya juga tidak mengecewakan. Selain menjual nasi pecel dan urapan, si Ibu juga menjual banyak ragam gorengan, dengan harga Rp 500/buah. Jadi wajar bila saban pagi antrian yang mau membeli hasil olahan si Ibu menyemut.

Saban ikut antrian membeli urapan si Ibu, aku suka memperhatikan ragam selera makan banyak orang, baik laki dan perempuan. Beberapa pesanan terasa agak aneh bagi diriku yang membiasakan perut menelan banyak sayur di pagi hari. Banyak orang memesan porsi makan untuk makan pagi dalam jumlah yang besar dan ragam yang banyak. Misalnya, beberapa orang membeli nasi, gorengan sekian macam, dipotong-potong, terus disiram dengan bumbu pecel sangat banyak, ampe layaknya genangan lumpur di sawah. Tapi suara dalam hatiku lantas menonjok kesadaranku, “ Kan, kemampuan perut orang dalam mencerna asupan makan berbeda-beda, serta kebutuhan kalori mereka saban paginya juga beragam, Jadi gak ada yang salah bila banyak orang mengawali aktivitas pagi di dahului dengan ritual sarapan kelewat serius”, iye-iye, jawabku, dalam hati jug, hehehe...

Selain ragam menu yang menarik untuk diperhatikan, perilaku si Mbak penjual nasi pecel juga agak menarik untuk diperhatikan. Dia akan sangat ramah dan murah senyum terhadap mereka yang memesan makanan dalam jumlah banyak. Bahasa tubuhnya akan menunjukan penghormatan dan penghargaan atas ragam pesanan mereka yang akan menghasilkan fulus lumayan banyak. Sebaliknya, dia mendadak akan ketus terhadap mereka yang membeli dengan tarif agak miring. Harga Rp. 3000/bungkus mungkin bagi kebanyakan orang sangat murah. Tapi, tidak semua orang bisa seberuntung mereka yang menganggap Rp. 3000 murah. Beberapa orang, yang mungkin kurang beruntung, memesan sayur dnegan gorengan, atau nasi dengan gorengan, disiram bumbu pecel, dengan nominal Rp. 2000. Bila berhadapan dengan yang melontarkan cara pesan seperti itu, menadadak senyum si Mbak raib, cara menghidangkannya pun tidak ada kesan manis. Apalagi bila ada yang pesan demikian ditambah permintaan sambalnya dipisah, yang artinya si Mbak harus mengeluarkan plastik tambahan untuk membungkus bumbu pecel, alamat si pemesan akan mendapat hadiah kata-kata pahit dari si Mbak. Seperti yang pernah dilakukan seorang anak muda, dia pesan nasi dengan gorengan Rp. 2000, dengan bumbu pecelnya minta dipisah. Mungkin si pemuda ingin menyantap pesanannya agak siang, jadi bila bumbu pecel dipisahkan nasi tidak cepat basi. Dengan muka masam, si Mbak melayani sambil ngomong dengan nada ketus, “ bumbunya dijadikan satu saja ya, orang cuma dua rebu kok minta dipisahkan segala!” Si Pemuda terdiam mengiyakan. Padahal si Pemuda memesan dua bungkus, satu harga normal, satunya dua rebu. Sebenarnya bisa saja si Mbak tetap memberikan mekanisme layanan dengan cara memisah antara bumbu pecel dengan nasi, secara dia juga sudah mengurangi porsi umum sesuai dengan nilai nominal yang akan dibayarkan si Pemuda. Tapi, mungkin si Mbak punya itung-itungan tersebdiri secara ekonomis kalau harus melayani pesanan yang hanya dua rebu dengan menggunakan kertas pembungkus nasi plus plastik pembungkus bumbu pecel, atau si Mbak merasa dua rebu keliwat kecil nilainya, entahlah.

Bukan bermaksud men-generalisir, tapi berdasarkan pengalaman empiris bergaul dengan masyarakat dari berbagai latar belakang sosial, mereka yang bermodal cekak bukan saja akan kesulitan mendapatkan kesempatan pelayanan, tapi juga sering harus rela mendapatkan penilaian yang merendahkan. Bahkan diantara kaum yang sama-sama memiliki keterbatasan modal, situasi tersebut tetap terjadi, seperti perlakuan si Mbak terhadap si pemuda. Jadi tidak heran bila tidak ada yang tidak mau menjadi orang yang memiliki kesempatan untuk mengakses modal besar. Karena modal besar dan limpahan materi tidak hanya akan memudahkan orang mendapatkan akses, tapi juga mendapatkan penilaian yang meninggikan. Kesan pertama akan sangat menggoda bagi mereka yang nampak memiliki limpahan modal, selanjutnya kumaha engke atau gimana nanti.

Tuesday, June 21, 2011

Ojek

Kemarin malam, saat diminta temen bergerak dari Tebet ke arah Gondangdia, yang terlintas dalam pikiranku adalah segera mencari tukang ojek. Karena hanya ojeklah yang akan sanggup melintasi jalananan nan padat menjelang malam dengan waktu tempuh lumayan cepat.

Pangkalan ojek yang aku hampiri, menyediakan pilihan tukang ojek lusuh dengan motor tua, keluaran tahun 1990-an awal. Sitem giliran membuatku tidak bisa memilih ojek yang lain selain pengendara motor tua nan butut ini.

Si Tukang Ojek segera menyetujui harga yang aku tawarkan. Dengan semangat membara dan keyakinan yang kuat, dia larikan motor bututnya membawaku ke tempat tujuan. Sesungguhnya aku kurang yakin dengan kemampuan motor tua ini. Benar saja, belum juga melaju lebih dari satu kilo, firast buruku terjawab, pijakan gigi persneling motor si Tukang Ojek lepas jatuh ke jalan.

Tanpa ba bi bu, Si Tukang Ojek bertindak sigap memperbaiki pijakan presnelingnya. Dengan agak kurang sabar aku menunggui si bapak ngoprek motornya. Mataku bergerak liar ke kanan kiri plus memperhatikan Tukang Ojek bekerja. Dari bahasa tubuhnya aku lihat Tukang Ojek ini memancarkan aura kesungguhan dalam upayanya membetulkan presneling. Dia hanya fokus pada apa yang diuliknya, tidak dihiraukannya aku. Sempeat terlintas keinginanku membatalkan orderan ojek ini dan berganti dengan ojek lain atau malah taxi. Tapi, kesungguhan Tukang Ojek tersebut memperbaiki motornya, mendadak meluruhkan niat burukku.

Lantas pikiran liarku merangkai cerita manis sendiri. Mungkin dengan mengantarkan aku sampai Gondangdia, Si Tukang Ojek berkesempatan mendapatkan setoran harian yang lumayan banyak untuk menutup kebutuhan hidup keluarganya. Karena medan operasional ojeknya biasanya hanya sebatas di Tebet, mendapatkan order jarak jauh baginya ibarat mendapatkan jackpot. Dengan orderan jarak jauh, sekali tarik sama artinya dengan mendapatkan empat kali tarikan pada jarak umum. Ah, mansinya cerita itu bila sungguh bisa dinikmati si Tukang Ojek. Dan agar kisah itu berjalan tetap manis, maka aku harus kompromi dengan egoku yang ingin cepat sampai tujuan.

Setelah sekian lama bergelut dengan masalah pijakan gigi persneling dan tetap gagal, akhirnya tukang ojek menyerah. Tapi, dia tidak menyerah untuk tetap membawaku ke Gondangdia. Alhasil, dengan posisi persneling pada gigi dua (sama seperti saat pijakannya patah), kami memulai pertualangan menyusuri kemacetan jalanan Jakarta di sore hari, dari Tebet menuju Gondangdia. Setiap kali memulai tarikan pertama, motor tua itu ngos-ngosan, seolah menjerit kelelahan, lambat dan terseok-seok, baru kemudian sedikit cepat, hingga gas bisa ditarik secara normal. Setelah bergerak lumayan cepat, kapasitas gas pada gigi dua tidak sanggup lagi ditambah, dan dengan terpaksa kami harus melaju dengan kecepatan dibawah normal, rela dibalap banyak kendaraan lain.

Bila terjebak dalam kemacetan, dengan kendaraan kelewat lelet seperti ini, biasanya aku mudah naik darah. Tapi, dengan dibonceng Tukang Ojek yang bersungguh-sungguh dalam bekerja plus harapan manisnya, emosi yang ada menguap pergi. Aku berubah menjadi penumpang yang manis, tidak banyak protes, dan penuh kesabaran duduk dalam kelambatan gerak motor tua yang rusak.

Biarlah lambat asal tetap bisa selamat sampai tujuan, biarlah lelet asal orang lain mendapat kegembiraan yang manis. Meski melaju dengan ngos-ngosan dan tertatih-tatih, toh aku tetap bisa sampai pada tempat yang aku tuju. Tidak terlalu banyak juga waktu yang terbuang di jalan. Ah, indahnyab hidup ini bila bisa sering ketemu situasi yang membuat diri ini senantiasa sabar dan nyaman, kendati dalam keterbatasan....

Monday, June 20, 2011

Berbagi dan Bersama


Berbagi, kata itu dulu sering banget aku ucapkan, selain kata kebersamaan. Berbagi dalam kebersamaan, demikiaj uangkapan favorit waktu itu, menjadi bagian penting yang ingin selalu aku tuju. Walau, bukan tujuan utamanya. Karena berbagi dan bersama sebenarnya hanyalah gerbang menuju jalan lain yang jauh lebih panjang.

Kenapa aku perlu berbagi dalam kebersamaan? Karena, pada hakikatnya aku adalah makluk yang tidak siap untuk menjalani hidup ini sendirian. Selain makluk berpikir, aku juga makluk imitatif. Dengan kemampuan berpikir yang aku miliki aku bisa merasakan maknanya berada. Berada pada sebuah semesta dan kehidupan. Makna eksistensi inilah yang membedakan manusia dengan makluk lain yang tidak memahami konsep ruang dan waktu. Dan karena aku berpikir dan faham makna eksistensi, maka alam pikiranku akan senantasa berkembang seiring pertambahan memori yang tersimpan dalam ingatan. Tumpukan memori tidak mungkin berkembang dalam kesendirian, untuk bisa menjadi lebih baik dia membutuhkan media lain untuk berkembang bersama. Kesadaran akan ruang dan waktu menjadikan manusia sadar akan keberadaan dirinya dan orang lain. Manusia juga menjadi sadar akan masa depan hidup mereka pun hidup keturunannya. Kesadaran tersebut lantas menjadi dasar bagi terbangunya konsep kemasyarakatan. Manusia sadar, tidak mungkin berdiri sendiri dalam memenuhi kodratnya sebagai makluk berpikir. Karena konsep hidup yang berkembang dalam diri manusia sebenarnya adalah mengadopsi nilai-nilai berasal dari luar dirinya sebagai bentuk adaptasi, maka mereka kemudian cenderung menjadi imitatif.

Karena secara lahiriah, aku sebagai manusia, adalah makluk imititatif, yang senantiasa butuh orang lain, walau hanya sekedar untuk dijadikan referensi, maka aku membutuhkan figur lain untuk bisa diajak berbagi dalam kebersamaan. Untuk berbagi dalam kebersamaan, kita membutuhkan orang yang secara emosi bisa kita terima untuk masuk dalam kehidupan kita. Sulit menjelaskan kriteria macam bagaimana pribadi yang bisa kita terima secara emosional. Dulu, mungkin ada karakter khusus yang sering aku pilih dan tentukan untuk bisa dibawa masuk ke dalam ranah kehidupan sedemikia privat. Tapi, seiring berjalannya waktu, kriteria tersebut bergerak menyesuaikan diri dengan kesediaan pihak lain yang mau dan bisa diajak berbagi.

Yang pasti, banyak kawan yang bisa dengan mudah masuk dalam kehidupanku, dan bisa berbagi dalam banyak hal. Tapi, intensitas berbagi memiliki kadar yang beragam. Untuk beberapa orang yang secara tradisional dekat, ruang untuk berbagi senantiasa terjaga dalam dinamika yang sama. Tapi, untuk mendapatkan yang bisa berbagi dalam kebersamaan, ternyata dibutuhkan waktu yang sedemikian lama bagiku untuk bisa menemukannya.

Bukanlah pribadi yang luar biasa, bukan perempuan super. Perempuan biasa saja, dari lingkungan biasa saja, yang kemudian bisa dan mau berbagi bersama dalam kehidupanku. Justru karena kesederhanaan dan berangkat dari yang biasa saja, maka dia bisa menjadikan diriku sosok yang begitu berguna untuknya, sebaliknya limpahan rasaku yang sering berlebih bisa dia carikan wadah.

Tidak dibutuhkan keluarbiasaan agar hidup bisa berjalan dalam keindahan. Hanya diperlukan keberanian untuk berkelahi dengan diri sendiri dan memaksanya untuk mengartikan banyak hal sesuai perspektif personal kita. Ada batas dimana kita harus membangun kompromi. Kebahagiaan adalah kompromi diri ini dengan faktor eksternal. Boleh mendaki jalan hidup layaknya orang lain, tapi tetap diri sendiri yang bisa mewarnainya sesuai dengan apa yang ada pada dimilikinya.

Aku telah menemukannya, dan aku akan berusaha untuk senantiasa bercerita dalam bahasa yang masing-masing kita yakini bersama, berjalan dalan pijakan yang kita yakini bersama, dan mencintai dengan cara kita yang kita yakini sama.





Wednesday, June 15, 2011

Kejujuran

Entah, apakah ini merupakan kultur warisan para leluhur, atau jebakan paradigma yang kemudian berkembang belakangan. Yang pasti, saat ini, sadar atau tidak, kita semua sudah terjebak dalam budaya yang penuh dengan kemunafikan. Kita memuja apa yang roang sebut kamulflase. Sesuatu yang nampaknya saja indah, padahal wujud aslinya tidak sesuai dengan penampilannya. Nah, belakangan orang lebih senang menilai orang lain dari apa yang napak dipermukaannya. Ketika SBY maju dalam pencalonan presiden, timnya tahu betul bahwa mayoritas warga negeri ini akan mudah dipikat oleh sosok dengan tampilan yang seolah-olah sempurna. Selain tentunya dengan iming-iming uang.

Iming-iming uang dan kamulflase sebenarnya sisi dua mata uang yang sama. Semuanya hanya mensyarakatkan ketertarikan atas apa yang nampak, tidak pernah mau peduli dengan rekam jejak seseorang pun amalannya selama ini. Orang akan dengan mudah menyebut orang yang baru datang, baik, hanya karena orang tersebut berpenampilan intelek, santun, plus royal. Tidak peduli bahwa orang tersebut adalah koruptor.

Kebanyakan orang tua akan menganggap anaknya suskes bila sanggup membeli rumah bagus dan mobil mewah, tidak penting darimana asalnya uang. Setiap kali menyebut sesorang berhasil, parameternya adalah harta benada yang nampak. Sementara bila orang tersebut berusaha menjalankan amalan yang benar, akan dicap kakehan polah (banyak tingkah), tapi ga punya uang, yo percuma. Jadi tidak ada ruang bagi kejujuran dan idealisme, bila itu tidak menghasilkan materi layaknya orang kaya yang lain.

Kejujuran sudah mati, seiring runtuhnya nilai-nilai kesederhanaan dan penghargaan terhadap integritas diri. Kejujuran tidak ada nilainya, karena dia tidak bisa diperjualbelikan. Kemunafikan menjadi pilihan sikap yang jamak dan sangat laku di masyarakat. Tidak peduli harus bersikap gimana, asal pekerjaan aman dan uang mengalir deras. Kondisi ini sudah mewabah layaknya penyakit menular. Sayangnya, wabah ini tidak dianggap sebagai penyakit. Wabah ini malah menggejala dan menjadi nilai-nilai yang diyakini dan dijalani.

Makanya tidak heran bila kemudian muncul istilah mencontek massal saat Ujian Akhir Nasional (UAN). Sebelum ibu Siami melaporkan praktek percontekan massal di sekolah anaknya, sesungguhnya di banyak sekolah sudah terjadi praktek yang demikian. Para guru senantiasa ingin dianggap berhasil dalam mendidik anaknya, tidak peduli bahwa keberhasilan hanya bisa ditopang dnegan kerja keras. Para orang tua pun demikian, mereka hanya ingin anaknya mendapat nilai bagus dan bisa diterima disekolah bagus, demi gengsi mereka dimata umum. Mereka lupa, bahwa sekolah bukan semata-mata mengejar nilai bagus dan kelulusan. Mereka lupa bahwa etos, etika, dan kejujuran, adalah variabel yang kelewat penting untuk diabaikan bagi anak yang masih dalam proses belajar. Para orang tua, sadar atau tidak, telah terjebak dalam skema budaya yang abai atas etika dan kejujuran.

Makanya jangan heran bila negeri ini masih terjebak dalam kesemrawutan politik. Karena perilaku politisinya bmiskin etika dan kejujuran apalagi kerja keras. Dari awal, masa dimana mereka menginjakan kakinya di jenjang pendidikan dasar, mereka sudah diajarkan bagaimana caranya mengabaikan etika, kejujuran, dan kerja keras, demi yang namanya nilai. Saat mereka tua, mereka juga akan berperilaku dilura batas etika, kejujuran, dan kerja keras, demi "keberhasilan".

Kejujuran sudah menjadi barang bekas yang kurang diminati banyak orang....



Tuesday, June 14, 2011

Gadisku

Dia menggeleng saat aku katakan, Ayah besok kerja lagi ya, Dik. Lantas dia ngomel dangan suara yang sulit aku pahami saat aku pura-pura melangkah keluar kamar sambil menggerakan tangan isyarat perpisahan. Ah, Nismara mulai faham, bahwa perpisahan, untuk alasan apapun, tidak mengenakan bagi dirinya pun diriku dan ibunya.

Dia telah tumbuh menjadi gadis kecil. Dia mulia belajar memahami banyak hal, mulai dari perbendaharaan kata, gerak tubuh, ekspresi, sampai ke rasa. Kemarin, tiba-tiba dia memegang kakinya dan berkata, "Ibu aten", maksudnya, ibu kakiku gatel. Ah, serasa tidak percaya, dua bulan yang lalu dia baru bisa mengucapkan kata, ayah, mbah, dan maem. Sekarang hampir semua kata yang keluar dari mulutku, dia bisa menirukannya, walau lafalnya belum jelas. Bahkan beberapa rasa yang menyentuh tubuhnya sudah bisa dia ungkapkan. Tentu saja kemajuan yang luar biasa bagi anak perempuan yang baru akan genap berusia 20 bulan tgl 22 Juni 2011 nanti. Hmm, Dia telah tumbuh menjadi gadis kecil, dengan bahasa tubuh yang senantiasa mewartakan keceriaan.



Thursday, June 09, 2011

Ngompol

Saban kali ketemu kawan lama yang pernah sama-sama besar di jalan, obrolan yang berkembang senantiasa mengarah apa masalah politik. Dan, secara spesifik kita, sadar, pun tidak sadar membuat penilaian terhadap sikap kawan-kawan kita yang banyak bergabung dengan partai politik.

Ada beberapa kawan dekat kami yang dulu bareng membangun mimpi tentang Indonesia yang lebih baik, sekarang telah dengan mantap masuk ke dunia politik. Pilihan logis menurutnya dan menurut beberapa orang. Karena, konon katanya, bila ingin terlibat langsung dalam mewarnai tatanan negeri ini harus turut serta dalam pengambilan kebijakan politis. Satu-satunya cara terlibat dalam pengambilan kebijakan politis adalah bergabung dengan salah satu partai politik kontestan pemilu dan punya peluang menang. Saat itu, semua bicara tentang banyak hal yang ideal.

Tapi, yang ideal seringkali memang sangat indah ketika masih dalam tataran ide. Saat kemudian semua bergerak dalam ranah yang lebih nyata, rupanya memberi kaki bagi ide tidak semudah yang dibayangkan. Banyak kemudian kawan-kawan yang justru terjebak dalam dinamika parpol yang jauh dari kesan peduli terhadap nasib bangsanya. Bahkan kemudian parpol, termasuk mereka yang di dalamnya tentunya, menjadi semacam mesin pencari keuntungan semata.

Sebenarnya, sedari awal, secara pribadi aku tidak pernah sepakat dengan ide buru-buru masuk parpol. Karena, kami semua dulunya adalah gerombolan anak-anak dengan semangat yang sama turun ke jalan pun turun ke masyarakat dengan tujuan untuk meneriakan perbaikan keadaan. Saat Suharto terguling, kami melihat bahwa secara politis kekuasaan orang-orang sekitar suharto masih kuat. Dan, kami semua ternyata barus tersadar, tidak memiliki pijakan apapun secara politik. Semestinya, sebagai aktivis mahasiwa yang ingij terlibat secara langsung dalam hingar bingar politik, kami terlebih dahulu harus berkumpul bersama membangun platform perjuangan bersama dengan ideolgi besarnya seperti apa. Yang terjadi waktu itu, diantara kami syahwat politiknya terlalu kuat. Sehingga lupa bahwa kita harusnya membuat platform bersama sebelum ramai-ramai bertebaran masuk ke beberapa partai politik. Bisa dibayangkan kan bagiamana anak-anak muda dengan semangatnya yang masih menggelora, dan masih miskin ideologi, tiba-tiba pada memiliki kesempatan duduk di pucuk pimpinan dan memegang harta yang berlimbah. Ahay....lupalah semuanya cita-cita bernegara yang benar tersebut.

Tidak banyak pihak yang lantas mau memilih untuk bekerja di bidang pengorganisasian. Padahal kerja-kerja pengorganisasian sebenarnya jauh lebih penting dibanding membangun basis di pucuk kekuasaan. Memberi pemahaman dan pendidikan kepada masyarakat akan berdampak lebih sistemik terhadap kehidupan berpolitik. Kerja-kerja pengorganisasianlah yang akan bisa melahirkan para pemilih yang cerdas ditingkat masyarakat. Tanpa kerja pengorganisasian, seperti saat ini, masyarakat yang merupakan pemilik mandat terjebak dalam skema permainan kata-kata dan publisitas, sehingga mandatnya jatuh bukan kepada mereka yang memiliki visi yang jelas, melainkan kepada yang pintar memoles diri dan pegang uang banyak. Parahnya, banyak politisi muda kawan kita malah terbawa dalam dinamika politik yang korup dan miskin visi.

Dan, dari yang sedikit yg mau bekerja di bidang pengorganisasian harus berjuang sendirian dengan segala keterbatasan. Mereka yang sudah berani mengambil resiko pilihan untuk menjadi bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa tidak juga mendapat apresiasi dari kawan-kawan yang sudah bergelimang banyak kesempatan. Kendatipun, seandainya dikasih uluran tangan yang beruba anggaran pasti para pekerja dibidang pengorganisasian tersebut bakal menolak. Tapi, kepedulian secara politis yang berujung pada dukungan program pengorganisasian jauh lebih berguna dan secara langsung maupun tidak langsung pasti akan diterima.

Tapi, karena tidak terbangunya platform bersama, maka tidak ada upaya sistemik untuk menbangun kesadaran politik agar berkembang lebih baik. Yang berada di pucuk kekuasaan terjebak dalam dinamika perebutan pengaruh dan kekuasaan semata, yang bekerja dibawah terjebak dalam kesulitannnya sendiri. Akhirnya, kata perubahan sudah menjebak dirinya dalam kesemrawutan. Kesemrawutan yang melahirkan apatisme.




Wednesday, June 08, 2011

Rocket Queen

If you need a shoulder
Or if you need a friend
I'll be here standing
Until the bitter end

(Guns N Roses - Rocket Queen from Album, Apetite for Destruction (1987))

Ada banyak hal yang mungkin terjadi dalam perjalanan hidup anak manusia. Semua orang tentu saja berharap bahwa kehidupan berjalan secara linear, teratur, dan normal. Tapi, hidup seringkali mengguratkan ceritanya sendiri pada jejak langkah seseorang, dan goerasan cerita tersebut tidak selamanya sesuai dengan keinginan si pemilik langkah, pun keinginan orang-orang yang menyayangi dan mencintainya. Hidup terkadang menyimpan terlalu banyak misteri, bahkan buat diri kita sendiri.

Tapi, setiap misteri yang tersimpan dalam kehidupan selalu saja ada penawarnya. Karena semua orang percaya bahwa, saat Tuhan menutup pintu, maka di lain pihak Dia akan membukakan jendela. Makna yang tersirat dari keyakinan tersebut adalah, manusia dikarunia akal dan nalar yang tidak terbatas, setidak terbatas keleluasaan semesta. Dan akal tersebut dalamnya tidak terukur, segelap misteri cerita hidup manusia kedepannya. Artinya, segelap apapun misteri yang terseimpan dalam rahasia kehidupan manusia, selalu ada jawaban atas realitas yang kemudian terjadi. Selalu ada logika pembenaran dan selalu ada jawab atas setiap tanya.

Dan aku, diriku, pun semua yang ada padaku, telah menjadi pribadi dengan kemauan untuk senantiasa mendengar, pun terkadang mau turut merasai kesulitan orang-orang di sekitarku. Ini juga sekaligus antitesis dari misteri kehidupan manusia, selalu ada manusia yang lain yang bisa diajak mengurai jawab atas misteri tersebut. Dan selalu ada manusia yang lain yang bisa membantu sesamanya untuk mengatasi peliknya misteri, walau terkadang hanya sekedar ada untuk mendengarnya.

Pada akhirnya, masa depan hidup sesorang berada pada tanganya sendiri. Misteri yang kemudian terungkap akan meminta konsekwensi minim dari orang lain. Pada dirinyalah konsekwensi itu harus dihadapi dan dijalani. Semua bisa jadi berat pun indah, tergantung pada sisi mana kita melihat dan melibatkan diri kita. Karena keluasan nalar dan logika manusia pada dasarnya tidak bertepi, dan memang tidak ada tepian yang bisa memaksanya untuk mengikuti hukum-hukum ciptaan manusia. Karena sekali lagi, hidup ini penuh dengan misteri. Maka tidak pernah ada yang pasti. Semua tetaplah sekedar paradigma, bahkan konsep yang pernah diyakini sebagai hukum yang mengatur semua umat manusia sekalipun. Semua bisa berubah seiring perjalanan waktu dan perjalanan daya nalar manusia. Sekali lagi, daya nalar itu luas tanpa batas, tidak akan ada yang bisa membatasinya.
Maka tetaplah berbahagia, dengan nalar dan imaginasimu yang bebas. Aku akan tetap ada dan akan senantiasa ada, manakala kau butuh pendengar dan pencela. Tidak ada yang harus disingkirkan dari jalan hidup kita masing-masing. Karena kita sudah bahagia dengan jalan hidup kita masing-masing.

Nismara


Cinta yang benar-benar tanpa syarat adalah cinta yang lahir dari dalam relung hati paling dalam. Dan cinta yang demikian ternyata tidak semudah yang gue bayangkan bakal hadir. Dulu, ketika jatuh cinta sama perempuan yang telah mencuri sepenggal rasa dalam jiwa, kita seolah-olah sudah benar-benar merasakan cinta sejati. Seolah sudah mendapatkan karunia dengan lahirnya perasaan yang muncul dari relung hati terdalam. Bahkan dengan mempelajari pemikiran Eric Fromm dalam bukunya Seni Mencinta serta Memiliki dan Menjadi, tidak juga membuat gue tersadar, bahwa cinta yang demikian belumlah masuk kategori cinta tanpa syarat. Karena, gue tetap membutuhkan pengakuan dari pihak lain agar cinta tersebut bisa tumbuh dan berkembang. Cinta yang demikian bukanlah variable independen. Bahkan, cinta antara suami istri, belum lah masuk dalam kategori cinta yang independen, karena masih ada prasyarat.

Nah, seiring berjalannya waktu, gue mendapat karunia untuk merasai cinta yang tanpa syarat tersebut. Cinta yang hadir sedemikian kuat dan tahan segala cuaca. Cinta yang hadir tanpa mensyaratkan apapun, bahkan tanpa prasyarat pengakuan. Cinta yang hadir dan mengalir benar-benar tanpa tepian. Cinta yang tanpa seolah-olah. Seorang anak, yang kemudian gue kasih nama, NISMARA, telah memberi pelajaran dan pengalaman bagaimana cara mencinta dan merasai bagaimana rasanya memiliki dan menjadi. Mungkin inilah mukjijat yang lahir secara naluriah dari makluk sosial bernama manusia. Untuk mendapatkan cinta yang benar-benar sejati, memang nalurilah yang harus menuntunnya, bukan keinginan yang terbangun secara sadar. Nismara telah mampu membangkitkan naluri gue untuk mencintai seseorang dengan keluasan tanpa batas. Ah, anak memang telah merubah banyak hal. Aku bisa melakukan apapun demi untuk kebahagiaanya, bisa melupakan apapun saat berada di dekatnya, dan bisa merasai segala warna bahagia saat melihatnya tertawa pun saat memeluk dan menciumnya. I love u my little princes!!!!



Cara Pandang

"MEDEA melawan orang yg menyebabkan keruntuhannya. Ia membunuh dua anak laki-laki yg ia lahirkan sendiri, sebagai balas dendam tertinggi, yg mengakibatkan kekalahan total Jason(laki/kekuatan patriarkal yg mengkhianatinya). I love "Woman's Evolution"by Evelyn Reed..Really appreciate Kalyanamitra's effort for translating".
Kalimat diatas gue copas dari status seorang teman, aktivis perempuan. Ada hal yang sedikit mengganjal dari dalam hati gue manakala membaca status tersebut. Dalam status tersebut seolah si pembuat status menyetujui perilaku perempuan yang membunuh anaknya (laki-laki) sebagai bentuk balas dendam-nya atas perilaku yang tidak benar dari pasangannya (laki-laki). Tindakan membunuh laki-laki tersebut digambarkan sebagai bentuk perlawanan terhadap kultur patriakal (kultur yang banyak berkembang di hampir seluruh belahan duni) yang telah menjebak banyak perempuan dalam skema budaya tidak adil.

Hal yang mengganggu gue adalah, selama ini kaum aktivis perempuan selalu menganggap kelelakian adalah dosa sejarah yang semestinya mereka hancurkan. Sehingga apapun bentuk tindakannya, selama itu adalah untuk menghancurkan struktur budaya yang di dominasi wujud yang maskulin dianggap sah dan benar. Perspektif ini menurut gue tidak sepenuhnya benar. Budaya yang berkembang di banyak belahan duni memang cenderung patriakal, dengan menempatkan unsur laki-laki (bukan secara seksual) sebagai patron nilai. Sehingga membuat perempuan terjebak dalam sistem yang kurang adil. Masalahnya budaya tersebut berkembang bukan semata-mata terjadi karena penaklukan makluk perempuan oleh laki-laki, tapi akibat interaksi panjang diantara mereka. Ada persetujuan, sadar pun tidak sadar, dari perempuan, hingga nilai-nilai yang patriakal tersebut kemudian diterima. Memang tidak sedikit, persetujuan tersebut diterima atas dasar keterpaksaan dan ancaman. Tapi, bukankah sejarah umat manusia senantiasa diwarnai dengan penaklukan antara sesama, bukan penaklukan antar laki-laki terhadap perempuan semata? Artinya, keinginan untuk menguasai sesama memang menjadi naluri dasar manusia. Naluri tersebut bukan bersifat laki-laki, dan bahkan memang tidak berjenis kelamin. Naluri tersebut milik semua makluk yang bernama manusia. Hanya karena pengetahuan dan terbukanya wacana umum, banyak manusia dipaksa harus menghormati hak orang lain. Sehingga penaklukan atas sesamanya sekarang bisa dieliminasi.

Atas dasar realitas tersebut saya kurang setuju bahwa untuk merubah skema budaya yang cenderung patriakal adalah dengan menempatkan perempuan berhadapan dengan laki-laki sebagai lawan. Bila hal tersebut terjadi maka kita akan kembali ke abad kegelapan, dimana perspektif saling mengalahkan masih menjadi keinginan dominan umat manusia. Yang semestinya dilakukan adalah melakukan perlawanan secara kultural (bukan fisik) terhadap skema buaday yang berkembang yang diyakini oleh banyak pihak (laki dan perempuan). Laki-laki harus dibiasakan dengan keterlibatan perempuan dalam semua hal, tak erkecuali mendapatkan kesempatan yang sama dalam akses terhadap pengambilan kebijakan. Perempuan juga harus dibiasakan bahwa mereka memiliki kapasitas yang sama dengan laki-laki dalam semua hal. Sehingga ketika terjadi kesepahaman antara laki-laki dan perempuan, hal itu tercipta atas dasar kesepahaman antara hak dan kewajiban, bukan semata dalam wilayah domestik, tapi dalam mewarnai hidup dan kehidupan mereka pada lingkungan yang jauh lebih luas.

Karena dunia tidak mungkin berjalan bila hanya diisi oleh manusia berjenis kelamin sama. Laki-laki tidak mungkin bisa berjalan tegak dalam meneruskan langkahnya dalam samudera kehidupan, pun perempuan tidak mungkin bisa menjadi pribadi yang lengkap tanpa laki-laki. Ketakutan gue, atau lebih tepatnya keprihatinan sih, melihat banyak sekali aktivis perempuan dengan cara pandang yang menganggap laki-laki adalah musuh yang secara kultural harus ditaklukan, bukan kultur yang diyakini dan dijalani oleh laki-laki dan perempuan yang semestinya dilawan. Akibatnya secara harfiah tindakan tersebut memandang semua laki-laki adalah pendukung dan pencipta budaya patriakal, dan perempuan sebagai korban dari budaya tersebut. Dampak negatifnya seringkali mengakibatkan banyak perempuan yang cenderung antipati terhadap laki-laki, bahkan kemudian dalam kehidupan pribadi dan seksual. Memang tidak salah sih sikap tersebut diambil, cuma bagi gue personal, sikap tersebut tetap menyimpang dari kodrat. Yang akan berdampak pada ketidakseimbangan kehidupan. Karena kehdupan sendiri dalam pemahaman gue berjenis kelamin laki-laki dan perempuan yang tersusun dalam bingkai yang sangat berimbang. Jadi bila banyak orang kemudian menafikan makna seksual (bukan seksualitas), duh, ga tau deh, mau jadi apa kelak kehidupan ini???

Monday, June 06, 2011

Dilema

Awalnya adalah kejenuhan, manakala mengikuti perkembangan yang terjadi di negeri ini. Bagi diriku, perkembangan yang paling menarik tentunya adalah perkembangan dunia perpolitikan. Tapi, seiring berjalannya waktu, paparan tanpa kejelasan dan dinamika semu dari perilaku artifisial pemimpin negeri ini (seluruh pemimpin yang minta dirinya disebut pemimpin) menjebak otakku dalam kejenuhan. Semua berita tetang mereka yang menyebut dirinya pemimpin hanya berkutat pada masalah yang ga pernah menyentuh akar persoalan. Semua sekedar lip service dengan tujuan menggugah minat orang untuk bersimpati padanya. Tidak pemimpin negeri, tidak pemimpin partai, pun tidak pemimpin golongan tertentu. Semua terjebak dalam skema kemasan model pengiklanan di media. Semuanya menjadi sampah, sampah, dan sampah.

Dinamika bernegara mensyarakatkan keterlibatan partai secara mutlak dalam proes perubahan konstelasi kekuasaan dalam negara. Tidak ada ruang kosong yang bisa dimasuki oleh individu tanpa partai. Sementara, partai yang ada saat ini telah berubah wajah, sekedar menjadi alat bagi individu bermental petualang untuk mengais keuntungan. Tidak ada lagi partai yang membawa ideologi untuk memperjuangkan kepentingan negara dalam rentang waktu lama. Tidak ada partai yang sanggup menawarkan program implementatif bagi kepentingan bangsa secara gradual. Yang ada hanya make up penuh cemong yang terpampang hanya saat pemilu. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada satupun partai yang layak diberi mandat untuk memegang kendali sebuah pemerintahan. Lantas mau dibawa kemana negeri ini, bila semua partai tidak layak mendapat mandat dari masyarakat? Entahlah....