Thursday, June 23, 2011

Penilaian

Di dekat tempat tinggalku di Jakarta ada Ibu-ibu penjual nasil pecel dan urapan. Karena aku terlanjur menjadi penggemar berat sayur-sayuran, maka saban pagi aku menjadi salah satu pelanggan yang sering beli urapan dari Si Ibu.

Untuk ukuran Jakarta, harga nasi pecel pun urapan si Ibu tergolong sangat murah, Rp. 3000/bungkus. Dan rasanya juga tidak mengecewakan. Selain menjual nasi pecel dan urapan, si Ibu juga menjual banyak ragam gorengan, dengan harga Rp 500/buah. Jadi wajar bila saban pagi antrian yang mau membeli hasil olahan si Ibu menyemut.

Saban ikut antrian membeli urapan si Ibu, aku suka memperhatikan ragam selera makan banyak orang, baik laki dan perempuan. Beberapa pesanan terasa agak aneh bagi diriku yang membiasakan perut menelan banyak sayur di pagi hari. Banyak orang memesan porsi makan untuk makan pagi dalam jumlah yang besar dan ragam yang banyak. Misalnya, beberapa orang membeli nasi, gorengan sekian macam, dipotong-potong, terus disiram dengan bumbu pecel sangat banyak, ampe layaknya genangan lumpur di sawah. Tapi suara dalam hatiku lantas menonjok kesadaranku, “ Kan, kemampuan perut orang dalam mencerna asupan makan berbeda-beda, serta kebutuhan kalori mereka saban paginya juga beragam, Jadi gak ada yang salah bila banyak orang mengawali aktivitas pagi di dahului dengan ritual sarapan kelewat serius”, iye-iye, jawabku, dalam hati jug, hehehe...

Selain ragam menu yang menarik untuk diperhatikan, perilaku si Mbak penjual nasi pecel juga agak menarik untuk diperhatikan. Dia akan sangat ramah dan murah senyum terhadap mereka yang memesan makanan dalam jumlah banyak. Bahasa tubuhnya akan menunjukan penghormatan dan penghargaan atas ragam pesanan mereka yang akan menghasilkan fulus lumayan banyak. Sebaliknya, dia mendadak akan ketus terhadap mereka yang membeli dengan tarif agak miring. Harga Rp. 3000/bungkus mungkin bagi kebanyakan orang sangat murah. Tapi, tidak semua orang bisa seberuntung mereka yang menganggap Rp. 3000 murah. Beberapa orang, yang mungkin kurang beruntung, memesan sayur dnegan gorengan, atau nasi dengan gorengan, disiram bumbu pecel, dengan nominal Rp. 2000. Bila berhadapan dengan yang melontarkan cara pesan seperti itu, menadadak senyum si Mbak raib, cara menghidangkannya pun tidak ada kesan manis. Apalagi bila ada yang pesan demikian ditambah permintaan sambalnya dipisah, yang artinya si Mbak harus mengeluarkan plastik tambahan untuk membungkus bumbu pecel, alamat si pemesan akan mendapat hadiah kata-kata pahit dari si Mbak. Seperti yang pernah dilakukan seorang anak muda, dia pesan nasi dengan gorengan Rp. 2000, dengan bumbu pecelnya minta dipisah. Mungkin si pemuda ingin menyantap pesanannya agak siang, jadi bila bumbu pecel dipisahkan nasi tidak cepat basi. Dengan muka masam, si Mbak melayani sambil ngomong dengan nada ketus, “ bumbunya dijadikan satu saja ya, orang cuma dua rebu kok minta dipisahkan segala!” Si Pemuda terdiam mengiyakan. Padahal si Pemuda memesan dua bungkus, satu harga normal, satunya dua rebu. Sebenarnya bisa saja si Mbak tetap memberikan mekanisme layanan dengan cara memisah antara bumbu pecel dengan nasi, secara dia juga sudah mengurangi porsi umum sesuai dengan nilai nominal yang akan dibayarkan si Pemuda. Tapi, mungkin si Mbak punya itung-itungan tersebdiri secara ekonomis kalau harus melayani pesanan yang hanya dua rebu dengan menggunakan kertas pembungkus nasi plus plastik pembungkus bumbu pecel, atau si Mbak merasa dua rebu keliwat kecil nilainya, entahlah.

Bukan bermaksud men-generalisir, tapi berdasarkan pengalaman empiris bergaul dengan masyarakat dari berbagai latar belakang sosial, mereka yang bermodal cekak bukan saja akan kesulitan mendapatkan kesempatan pelayanan, tapi juga sering harus rela mendapatkan penilaian yang merendahkan. Bahkan diantara kaum yang sama-sama memiliki keterbatasan modal, situasi tersebut tetap terjadi, seperti perlakuan si Mbak terhadap si pemuda. Jadi tidak heran bila tidak ada yang tidak mau menjadi orang yang memiliki kesempatan untuk mengakses modal besar. Karena modal besar dan limpahan materi tidak hanya akan memudahkan orang mendapatkan akses, tapi juga mendapatkan penilaian yang meninggikan. Kesan pertama akan sangat menggoda bagi mereka yang nampak memiliki limpahan modal, selanjutnya kumaha engke atau gimana nanti.

No comments: