Monday, June 20, 2011

Berbagi dan Bersama


Berbagi, kata itu dulu sering banget aku ucapkan, selain kata kebersamaan. Berbagi dalam kebersamaan, demikiaj uangkapan favorit waktu itu, menjadi bagian penting yang ingin selalu aku tuju. Walau, bukan tujuan utamanya. Karena berbagi dan bersama sebenarnya hanyalah gerbang menuju jalan lain yang jauh lebih panjang.

Kenapa aku perlu berbagi dalam kebersamaan? Karena, pada hakikatnya aku adalah makluk yang tidak siap untuk menjalani hidup ini sendirian. Selain makluk berpikir, aku juga makluk imitatif. Dengan kemampuan berpikir yang aku miliki aku bisa merasakan maknanya berada. Berada pada sebuah semesta dan kehidupan. Makna eksistensi inilah yang membedakan manusia dengan makluk lain yang tidak memahami konsep ruang dan waktu. Dan karena aku berpikir dan faham makna eksistensi, maka alam pikiranku akan senantasa berkembang seiring pertambahan memori yang tersimpan dalam ingatan. Tumpukan memori tidak mungkin berkembang dalam kesendirian, untuk bisa menjadi lebih baik dia membutuhkan media lain untuk berkembang bersama. Kesadaran akan ruang dan waktu menjadikan manusia sadar akan keberadaan dirinya dan orang lain. Manusia juga menjadi sadar akan masa depan hidup mereka pun hidup keturunannya. Kesadaran tersebut lantas menjadi dasar bagi terbangunya konsep kemasyarakatan. Manusia sadar, tidak mungkin berdiri sendiri dalam memenuhi kodratnya sebagai makluk berpikir. Karena konsep hidup yang berkembang dalam diri manusia sebenarnya adalah mengadopsi nilai-nilai berasal dari luar dirinya sebagai bentuk adaptasi, maka mereka kemudian cenderung menjadi imitatif.

Karena secara lahiriah, aku sebagai manusia, adalah makluk imititatif, yang senantiasa butuh orang lain, walau hanya sekedar untuk dijadikan referensi, maka aku membutuhkan figur lain untuk bisa diajak berbagi dalam kebersamaan. Untuk berbagi dalam kebersamaan, kita membutuhkan orang yang secara emosi bisa kita terima untuk masuk dalam kehidupan kita. Sulit menjelaskan kriteria macam bagaimana pribadi yang bisa kita terima secara emosional. Dulu, mungkin ada karakter khusus yang sering aku pilih dan tentukan untuk bisa dibawa masuk ke dalam ranah kehidupan sedemikia privat. Tapi, seiring berjalannya waktu, kriteria tersebut bergerak menyesuaikan diri dengan kesediaan pihak lain yang mau dan bisa diajak berbagi.

Yang pasti, banyak kawan yang bisa dengan mudah masuk dalam kehidupanku, dan bisa berbagi dalam banyak hal. Tapi, intensitas berbagi memiliki kadar yang beragam. Untuk beberapa orang yang secara tradisional dekat, ruang untuk berbagi senantiasa terjaga dalam dinamika yang sama. Tapi, untuk mendapatkan yang bisa berbagi dalam kebersamaan, ternyata dibutuhkan waktu yang sedemikian lama bagiku untuk bisa menemukannya.

Bukanlah pribadi yang luar biasa, bukan perempuan super. Perempuan biasa saja, dari lingkungan biasa saja, yang kemudian bisa dan mau berbagi bersama dalam kehidupanku. Justru karena kesederhanaan dan berangkat dari yang biasa saja, maka dia bisa menjadikan diriku sosok yang begitu berguna untuknya, sebaliknya limpahan rasaku yang sering berlebih bisa dia carikan wadah.

Tidak dibutuhkan keluarbiasaan agar hidup bisa berjalan dalam keindahan. Hanya diperlukan keberanian untuk berkelahi dengan diri sendiri dan memaksanya untuk mengartikan banyak hal sesuai perspektif personal kita. Ada batas dimana kita harus membangun kompromi. Kebahagiaan adalah kompromi diri ini dengan faktor eksternal. Boleh mendaki jalan hidup layaknya orang lain, tapi tetap diri sendiri yang bisa mewarnainya sesuai dengan apa yang ada pada dimilikinya.

Aku telah menemukannya, dan aku akan berusaha untuk senantiasa bercerita dalam bahasa yang masing-masing kita yakini bersama, berjalan dalan pijakan yang kita yakini bersama, dan mencintai dengan cara kita yang kita yakini sama.





No comments: