Wednesday, June 08, 2011

Cara Pandang

"MEDEA melawan orang yg menyebabkan keruntuhannya. Ia membunuh dua anak laki-laki yg ia lahirkan sendiri, sebagai balas dendam tertinggi, yg mengakibatkan kekalahan total Jason(laki/kekuatan patriarkal yg mengkhianatinya). I love "Woman's Evolution"by Evelyn Reed..Really appreciate Kalyanamitra's effort for translating".
Kalimat diatas gue copas dari status seorang teman, aktivis perempuan. Ada hal yang sedikit mengganjal dari dalam hati gue manakala membaca status tersebut. Dalam status tersebut seolah si pembuat status menyetujui perilaku perempuan yang membunuh anaknya (laki-laki) sebagai bentuk balas dendam-nya atas perilaku yang tidak benar dari pasangannya (laki-laki). Tindakan membunuh laki-laki tersebut digambarkan sebagai bentuk perlawanan terhadap kultur patriakal (kultur yang banyak berkembang di hampir seluruh belahan duni) yang telah menjebak banyak perempuan dalam skema budaya tidak adil.

Hal yang mengganggu gue adalah, selama ini kaum aktivis perempuan selalu menganggap kelelakian adalah dosa sejarah yang semestinya mereka hancurkan. Sehingga apapun bentuk tindakannya, selama itu adalah untuk menghancurkan struktur budaya yang di dominasi wujud yang maskulin dianggap sah dan benar. Perspektif ini menurut gue tidak sepenuhnya benar. Budaya yang berkembang di banyak belahan duni memang cenderung patriakal, dengan menempatkan unsur laki-laki (bukan secara seksual) sebagai patron nilai. Sehingga membuat perempuan terjebak dalam sistem yang kurang adil. Masalahnya budaya tersebut berkembang bukan semata-mata terjadi karena penaklukan makluk perempuan oleh laki-laki, tapi akibat interaksi panjang diantara mereka. Ada persetujuan, sadar pun tidak sadar, dari perempuan, hingga nilai-nilai yang patriakal tersebut kemudian diterima. Memang tidak sedikit, persetujuan tersebut diterima atas dasar keterpaksaan dan ancaman. Tapi, bukankah sejarah umat manusia senantiasa diwarnai dengan penaklukan antara sesama, bukan penaklukan antar laki-laki terhadap perempuan semata? Artinya, keinginan untuk menguasai sesama memang menjadi naluri dasar manusia. Naluri tersebut bukan bersifat laki-laki, dan bahkan memang tidak berjenis kelamin. Naluri tersebut milik semua makluk yang bernama manusia. Hanya karena pengetahuan dan terbukanya wacana umum, banyak manusia dipaksa harus menghormati hak orang lain. Sehingga penaklukan atas sesamanya sekarang bisa dieliminasi.

Atas dasar realitas tersebut saya kurang setuju bahwa untuk merubah skema budaya yang cenderung patriakal adalah dengan menempatkan perempuan berhadapan dengan laki-laki sebagai lawan. Bila hal tersebut terjadi maka kita akan kembali ke abad kegelapan, dimana perspektif saling mengalahkan masih menjadi keinginan dominan umat manusia. Yang semestinya dilakukan adalah melakukan perlawanan secara kultural (bukan fisik) terhadap skema buaday yang berkembang yang diyakini oleh banyak pihak (laki dan perempuan). Laki-laki harus dibiasakan dengan keterlibatan perempuan dalam semua hal, tak erkecuali mendapatkan kesempatan yang sama dalam akses terhadap pengambilan kebijakan. Perempuan juga harus dibiasakan bahwa mereka memiliki kapasitas yang sama dengan laki-laki dalam semua hal. Sehingga ketika terjadi kesepahaman antara laki-laki dan perempuan, hal itu tercipta atas dasar kesepahaman antara hak dan kewajiban, bukan semata dalam wilayah domestik, tapi dalam mewarnai hidup dan kehidupan mereka pada lingkungan yang jauh lebih luas.

Karena dunia tidak mungkin berjalan bila hanya diisi oleh manusia berjenis kelamin sama. Laki-laki tidak mungkin bisa berjalan tegak dalam meneruskan langkahnya dalam samudera kehidupan, pun perempuan tidak mungkin bisa menjadi pribadi yang lengkap tanpa laki-laki. Ketakutan gue, atau lebih tepatnya keprihatinan sih, melihat banyak sekali aktivis perempuan dengan cara pandang yang menganggap laki-laki adalah musuh yang secara kultural harus ditaklukan, bukan kultur yang diyakini dan dijalani oleh laki-laki dan perempuan yang semestinya dilawan. Akibatnya secara harfiah tindakan tersebut memandang semua laki-laki adalah pendukung dan pencipta budaya patriakal, dan perempuan sebagai korban dari budaya tersebut. Dampak negatifnya seringkali mengakibatkan banyak perempuan yang cenderung antipati terhadap laki-laki, bahkan kemudian dalam kehidupan pribadi dan seksual. Memang tidak salah sih sikap tersebut diambil, cuma bagi gue personal, sikap tersebut tetap menyimpang dari kodrat. Yang akan berdampak pada ketidakseimbangan kehidupan. Karena kehdupan sendiri dalam pemahaman gue berjenis kelamin laki-laki dan perempuan yang tersusun dalam bingkai yang sangat berimbang. Jadi bila banyak orang kemudian menafikan makna seksual (bukan seksualitas), duh, ga tau deh, mau jadi apa kelak kehidupan ini???

No comments: