Kemarin malam, saat diminta temen bergerak dari Tebet ke arah Gondangdia, yang terlintas dalam pikiranku adalah segera mencari tukang ojek. Karena hanya ojeklah yang akan sanggup melintasi jalananan nan padat menjelang malam dengan waktu tempuh lumayan cepat.
Pangkalan ojek yang aku hampiri, menyediakan pilihan tukang ojek lusuh dengan motor tua, keluaran tahun 1990-an awal. Sitem giliran membuatku tidak bisa memilih ojek yang lain selain pengendara motor tua nan butut ini.
Si Tukang Ojek segera menyetujui harga yang aku tawarkan. Dengan semangat membara dan keyakinan yang kuat, dia larikan motor bututnya membawaku ke tempat tujuan. Sesungguhnya aku kurang yakin dengan kemampuan motor tua ini. Benar saja, belum juga melaju lebih dari satu kilo, firast buruku terjawab, pijakan gigi persneling motor si Tukang Ojek lepas jatuh ke jalan.
Tanpa ba bi bu, Si Tukang Ojek bertindak sigap memperbaiki pijakan presnelingnya. Dengan agak kurang sabar aku menunggui si bapak ngoprek motornya. Mataku bergerak liar ke kanan kiri plus memperhatikan Tukang Ojek bekerja. Dari bahasa tubuhnya aku lihat Tukang Ojek ini memancarkan aura kesungguhan dalam upayanya membetulkan presneling. Dia hanya fokus pada apa yang diuliknya, tidak dihiraukannya aku. Sempeat terlintas keinginanku membatalkan orderan ojek ini dan berganti dengan ojek lain atau malah taxi. Tapi, kesungguhan Tukang Ojek tersebut memperbaiki motornya, mendadak meluruhkan niat burukku.
Lantas pikiran liarku merangkai cerita manis sendiri. Mungkin dengan mengantarkan aku sampai Gondangdia, Si Tukang Ojek berkesempatan mendapatkan setoran harian yang lumayan banyak untuk menutup kebutuhan hidup keluarganya. Karena medan operasional ojeknya biasanya hanya sebatas di Tebet, mendapatkan order jarak jauh baginya ibarat mendapatkan jackpot. Dengan orderan jarak jauh, sekali tarik sama artinya dengan mendapatkan empat kali tarikan pada jarak umum. Ah, mansinya cerita itu bila sungguh bisa dinikmati si Tukang Ojek. Dan agar kisah itu berjalan tetap manis, maka aku harus kompromi dengan egoku yang ingin cepat sampai tujuan.
Setelah sekian lama bergelut dengan masalah pijakan gigi persneling dan tetap gagal, akhirnya tukang ojek menyerah. Tapi, dia tidak menyerah untuk tetap membawaku ke Gondangdia. Alhasil, dengan posisi persneling pada gigi dua (sama seperti saat pijakannya patah), kami memulai pertualangan menyusuri kemacetan jalanan Jakarta di sore hari, dari Tebet menuju Gondangdia. Setiap kali memulai tarikan pertama, motor tua itu ngos-ngosan, seolah menjerit kelelahan, lambat dan terseok-seok, baru kemudian sedikit cepat, hingga gas bisa ditarik secara normal. Setelah bergerak lumayan cepat, kapasitas gas pada gigi dua tidak sanggup lagi ditambah, dan dengan terpaksa kami harus melaju dengan kecepatan dibawah normal, rela dibalap banyak kendaraan lain.
Bila terjebak dalam kemacetan, dengan kendaraan kelewat lelet seperti ini, biasanya aku mudah naik darah. Tapi, dengan dibonceng Tukang Ojek yang bersungguh-sungguh dalam bekerja plus harapan manisnya, emosi yang ada menguap pergi. Aku berubah menjadi penumpang yang manis, tidak banyak protes, dan penuh kesabaran duduk dalam kelambatan gerak motor tua yang rusak.
Biarlah lambat asal tetap bisa selamat sampai tujuan, biarlah lelet asal orang lain mendapat kegembiraan yang manis. Meski melaju dengan ngos-ngosan dan tertatih-tatih, toh aku tetap bisa sampai pada tempat yang aku tuju. Tidak terlalu banyak juga waktu yang terbuang di jalan. Ah, indahnyab hidup ini bila bisa sering ketemu situasi yang membuat diri ini senantiasa sabar dan nyaman, kendati dalam keterbatasan....
No comments:
Post a Comment