Thursday, October 27, 2005

Sebelum Lebaran

Gue berkhayal bisa pergi ke kampong halaman sebelum akhir minggu menjelang lebaran. Makanya gue minta temen-temen gue untuk segera membereskan beberapa berkas dokumen legal, agar gue bisa segera menutup buku laporan minggu ini dan pergi mengunjungi Nyokap gue di Klaten.

Semuanya berjalan seperti yang gue harapkan. Berkas dengan cepat terkumpul. Namun, mendadak tanggal 26 Oktober dalam telepon perusahaan yang kasih kerjaan mengabarkan bahwa salah satu site yang menjadi tanggungjawab gue ada masalah di lapangan. Lantas gue kirim orang yang kebetulan berada tidak jauh dari lokasi yang bermasalah.

Awalnya gue kira masahnya sepele, kendati pagi gue sempat tarik urat dengan salah satu supervisi dari perusahaan pemberi kerjaan, yang menganggap perusahaan gue telah melakukan beberapa kesalahan tehnis. Ternyata masalahnya lumayan parah.

Lokasi pekerjaan yang bermasalah terletak di Mojokerto. Mojokerto memiliki kultur keagamaan yang lebih baik daripada daerah Jawa Tengah bagian selatan agak timur, pun daerah Jawa Timur selatan agar ke barat. Bulan ini adalah bulan Ramadhan, bulan suci bagi umat muslim. Nah lokasi pekerjaan yang pengawasannya berada pada wilayah pekerjaan gue berada dekat masjid. Kira-kira hanya berjarak 15 meter. Tim kontruksi yang menangani lokasi itu berasal dari perusahaan lain, mereka memiliki tanggungjawab harus menyelesaikan pekerjaan dalam hitungan waktu yang cepat. Makanya mereka harus lembur terus. Karena desakan jadwal, mereka suka tidak menghiraukan waktu, pun waktu yang berhubungan dengan ritual keagamaan warga sekitar lokasi. Saat magrib, mereka tetap bekerja dengan menimbulkan kegaduhan standar proyek, saat orang sholat Tarawih pun suasana tetap riuh rendah dari lokasi proyek yang sangat dekat dengan masjid.

Alhasil warga marah dan melakukan upaya penghentian dengan paksa pengerjaan kontruksi tersebut. Apalagi orang-orang yang bekerja di lokasi proyek sama sekali tidak melibatkan warga setempat.

Kami, yang bertanggungjawab bila ada persoalan sosial di lapangan, terpaksa harus ikut terlibat dan bertanggungjawab mengantisipasi persoalan itu. Warga yang emosi dengan garang melakukan serangan, walau baru pada sebatas retorika, tapi sudah bikin kami senewen. Mereka menuntut uang kompensasi per kepala 10 juta untuk radius 0 – 25 meter dari lokasi proyek, dan 5 juta untuk yang radius 25 – 50 meter. Sedang untuk masjid orang-orang meminta dana kompensasi 25 juta. Ini yang membuat gue jengkel, kesalahan yang dilakukan oleh anggota perusahaan lain untuk penyelesaian dan tanggungjawabnya harus kami selesaikan. Makanya gue ngamuk berat saat kami dituduh melakukan kesalahan tehknis atas dosa yang diperbuat orang lain.

Melihat latar belakang ngamuknya warga, masih untung orang kami yang gue kirim tidak disunat. Karena mayoritas tim kontruksi yang ada dilapngan pada tidak puasa (mungkin berat juga sih bila harus puasa ditengah tanggungjawab perkerjaan yang cukup berat). Tapi, biar kata tidak puasa, bisa saja orang melakukan ritual pemenuhan kebutuhan makan dan minum tidak harus diperlihatkan ke orang-orang yang menjalankan puasa dan mungkin belum setoleran yang lain. Sialnya warga tidak pernah bisa membedakan apakah kami dari tim kontruksi atau tim lain yang hanya bertanggunjawab pada dinamika sosialnya. Mereka beranggapan kami wakil dari perusahaan yang memberi kami kontrak kerjaan.

Parahnya lagi, tim kontruksi menghilang saat kami melakukan dengar perndapat dengan warga. Beruntung orang yang kami kirim masih bisa mendinginkan persoalan, sehingga warga jadi lebih jernih dalam berpikir, dan mau memahami posisi kami yang hanya bertanggungjawab pada persoalan diluar konstruksi.

Tapi, dampak dari persoalan itu, kami masih harus melakukan ritual pertemuan lagi dengan warga. Dan gue sebagai orang yang dianggap tua di tim, Sabtu tgl 29 Oktober, minggu terakhir sebelum lebaran, pas wiken, wajib datang pada pertemuan warga yang rencananya melibatkan para pengambil keputusan, dari tim kontruksi, perusahaan, serta tim gue. Alamat harus pasang urat tegang sampai akhir minggu, akhir banget dari minggu ini.…

Proses Belajar

Pada sebuah kampung kecil di bagian selatan Jawa Timur bagian barat, yang mayoritas penduduknya Islam abangan, baru saja dibangun sebuah masjid. Diperlukan kekerasan hati dan pengorbanan yang tidak sedikit dari orang-orang untuk bisa membangun masjid pada lingkungan masyarakat yang apatis.


Seperti kebanyakan masjid yang dibangun di pemukiman abangan, yang cenderung apatis terhadap agama apapun, awal-awal selalu kekurangan pengunjung. Orang lebih menyukai menjalani rutinitas hidup yang lain, daripada bergerak ke arah masjid yang seringkali memberikan gambaran seram tentang hidup hari ini, dan kelak bila sudah mati. Mereka seringkali terlalu takut terhadap bayangan yang dimunculkan oleh celoteh penghuni masjid yang melulu tentang hari penebusan. Biasanya mereka yang sudah memasuki usia senja yang lantas datang ke masjid, sebagai wujud dari kepasrahan orang-orang yang merasa hidupnya tidak akan lama lagi. Atau anak-anak, yang semangat keingintahuannya masih tinggi, serta belum tergerus oleh nilai-nila pemikiran yang cenderung hedon.


Sore itu, seorang kakek lanjut usia, berjalan gontai menuju masjid. Dia ingin memulai rutinitas keagamaan dengan belajar memahami ritual yang ada. Karena mungkin sudah terlalu tua, kakek itu kurang begitu bisa mengenali penanda arah. Alhasil dia sholat bukan menghadap kiblat, melainkan menghadap arah utara. Kurangajarnya, anak-anak kecil yang duduk di halaman masjid bukannya mengingatkan si kakek. Mereka malah cekikikan seolah mendapatkan hiburan gratis.


Begitu si kakek selesai sholat dan beregrak keluar masjid,anak-anak itu berteriak,” Mbah…Mbah…tadi sholatnya salah ngadep. Mustinya menghadap ke sana, bukan ke arah sana.” Kata salah seorang anak, sambil menunjuk ke arah kiblat sertaarah kakek tadi menghadap waktu sholat.


Tapi, kakek itu cuek saja, dia terus melanjutkan langkahnya keluar masjid sambil berujar,” Yo ben le, jenenge we lagi ajaran (Biarin lah, namanya juga orang baru belajar)”

Tentang Kebutaan

Perempuan itu datang bersama bayang senja. Laki-laki itu hadir dari balik awan. Secara mendalam, tidak ada yang menarik dari perempuan itu, selain tampilan fisik yang enak untuk dijadikan sebagai obyek indera penglihatan.

Namun, jika perempuan cantik adalah manekin yang berjalan dalam langkah-langkah artifisial, laki-laki adalah seongok daging yang seringkali tidak sanggup memahami esensi. Perpaduan yang sempurna, lambaian tubuh dalam gerak hampa makna dengan kekosongan pemahaman akan isi. Kekosongan dan kehampaan adalah analogi yang terbentuk oleh sekian prasyarat yang sama.

Meski demikian, mereka memiliki kisah cinta yang luar biasa. Bagai sepasang pengayun yang terus bergerak sepanjang musim. Setan pun bertempik menyambut kisah mereka. Seolah lukisan hidup hanya menghadirkan impian yang mereka punya.

Mungkin, cinta memang harus buta. Karena cinta yang melihat hanya akan terjebak pada terlalu banyak tuntutan dan prasyarat, hingga semuanya terhenti pada tingkat paradigma semata. Padahal paradigma seringkali hanyalah utopia para pemimpi. Sementara hidup adalah realitas yang terus berjalan dengan atau tanpa logika dari pergulatan paradigma yang berkembang.

Monday, October 24, 2005

Nigtmare

Nightmare....
comming home a time
Nightmare....
forever calling me
Nighmare....
will give piece of mind
(Piece of Mind, Iron Maiden, Piece of Mind, EMI Record LTD, 1982)

Bila hidup adalah impian yang berjalan dalam tataran realitas keseharian, maka dia akan terlalu sering menjadi impian yang teramat buruk. Karena problematika kehidupan seringkali hadir dalam bentukan yang paling tidak beresahabat, paling tidak kenal belas kasihan dan paling tidak peduli dengan rencana dan agenda yang kita rencanakan. Dia sering datang mendadak, tanpa peringatan.


Walaupun seandainya boleh memilih impian, impian yang menyenangkan sajalah yang semestinya hadir dalam keseharian. Namun realitas terkadang menjadi sesuatu yang mandiri bahkan dari intervensi sekuat tenaga kita. Realitas hadir oleh karena banyak faktor, mulai dari diri kita, orang lain, faktor x dan nasib. Konfigurasi dari sedemikian banyak faktor, kendati juga menyertakan kita, akan ettap menempatkan kita seolah pihak luar yang tidak bisa melakuakn intervensi. Bisanya hanya menghadapi, menikmati dan ngomel.


Tapi, di sisi yang lain, realitas, apapun bentuknya, adalah bagian yang integral bagi manusia dalam menjalani hidup, mencari bentukan pilihan pribadi dan pilihan jalan cita-cita. Realitas akan menjadi stimulus dalam berbagai makna bagi siapapun yang sanggup memaknai, menyetubuhi, maupun mengalahkannya. Karena pada dasarnya impian yang paling buruk sekalipun tetap bisa menjadi media pembelajaran bagi setiap orang yang sanggup membangun ruang untuk belajar, tidak peduli seperti apa medianya. Pembelajaran adalah proses. Dan kecerdasan adalah bagaimana memandang realitas sebagai sesuatu yang bebas nilai, dan mampu mengolah segala yang bebas nilai menjadi sesuatu yang bernilai dan berguna bagi hidup berdasarkan sekian referensi yang juga berasal dari semua hal yang bebas nilai. Sehingga apapun, selagi kita sanggup mengartikan dalam artikulasi kita, bisa memberikan makna, baik berupa kenyamanan, kemanan dan kedamaian.


So,

Nightmare….
Will give piece of mind….

Sunday, October 23, 2005

Same Old News

Ini cerita sebenarnya sudah agak lama lewat. Tapi, Gara2 sms-an ama seorang temen gue jadi keingetan lagi.

Pada sebuah malam di salah satu kafe beberapa bulan yang lalu gue ketemu dengan temen perempuan yang sudah lama gak ketemu. Seinget gue dia dah merit beberapa tahun yang lalu. Namun dalam pertemuan tersebut disertai, menyertakan, atau menandakan ada laki-laki yang menjadi suaminya. Biasa, basa-basi orang melayu kalau lama gak ketemu ama temen, pesti nanya, kerja dimana, anak berapa. Gue pun begitu.

"Hallo, gimana dah punya momongan belom?" mendadak wajah temen gue berubah jadi garing dan menjawab pertanyaan gue, "Basi banget lu ah, gue devorce lagi."

Ups, entah sudah berapa berita yang sama gue dengar dari temen perempuan yang lain setahun terakhir, and again....

Bermuka Tempat Sampahkah?

Seorang perempuan yang gue kenal kira2 dua bulan yang lalu, tiba-tiba beberapa hari yang lalu telepon gue. Seinget gue, dia kerja di salah satu NGO asing yang mayan ngetop. Gue ketemu dia pada pameran buku di Bentara Budaya, dia datang bareng salah satu temen deket gue. Setelah dari Benatar Budaya kami lantas nongkrong di jalan Jaksa, ngumpul sama komunitas NGO yang ternyata banyak yg gue kenal juga. Seinget gue, setelah itu kami tidak pernah saling ketemu, karena gue terus kembali berkutat sama kerjaan di beberapa kota di Jawa Timur.

Yang membuat gue agak terkejut, dia mempercayai gue untuk mendengarkan semua persoalannya yang masuk kategori agak privat, layaknya orang yang dah lama kenal saja. Cukup lama juga dia telepon gue. Cukup banyak dia korbankan pulsa untuk menghubungi nomor beda operator, dan gue sedang berada jauh dari Jakarta.

Setelah temen tersebut nelepon, gue lantas kepikiran, apakah wajah gue kayak tempat sampah ya? Hingga orang yang baru kenal saja sudah dengan santainya menumpahi gue dengan segala persoalan hidupnya, bahkan yang sangat privat. Atau kebetulan saja dia butuh teman ngobrol, dan melihat gue temen deket temen ngobrolnya yang sedang tidak bisa dia hubungi. Mudah2an jawabannya yang kedua ini, soalnya kalau jawabannya yang pertama, wah sedih banget punya wajah kayak tempat sampah.

Jalanan

"Ayo, nyanyi lagi dong;" pinta gue pada anak kecil yang memegang gitar, yang sedari tadi menemani gue menunggu kereta di salah satu stasiun di Jawa Timur.
"Nyanyi lagu apa kak?"
"Lagu yang kita nyanyikan tadi, tentang burung kecil yang terbang pulang ke sarangnya."
"Oo…lagu tentang matahari yang tenggelam di telan malam ya?"
gue mengangguk, lantas dengan lincah dia memetik gitarnya, mencari nada yang pas dan dengan percaya diri mengeluarkan alunan suaranya yang luamyan enak di dengar.

Disaat senja mendatangi
Kulihat burung kecil terbang pulang ke sarangnya
Kulihat anak kecil bernyanyi
Lagukan tentang matahri yang tenggelam di telan malam


(Halusinasi, Mel Shandi, Mini Album, Loggiss Record, 1990)

lagu itu terhenti ditengah jalan, mendadak dari arah Surabaya datang kereta dengan suara beratnya memasuki stasiun. Dengan langkah ringan anak itu meninggalkan gue, untuk berebut dengan puluhan irang yang mau naik atauoun turun dari salah satu gerbong. Dia harus cepat mencapai salah satu gerbong, sebelum ada pihak lain yang mengkapling gerbong itu. Terlambat berarti rejeki akan jatuh ke tangan pihak yang lain. Siapa yang datang telat, harus mengalah menunggu kereta yang lain datang untuk kemudian kembali berebut cepat masuk gerbong.

Perlahan gue naik juga ke gerbong kereta sambil mengawasi lokomotif yang mendengus dan mengeluarkan asap. Sengaja gue pilih gerbong tempat anak kecil tadi naik. Gue menyukai gaya anak itu menyanyi dan memainkan gitar, jadi gue pingin melihat lagi bagaimana aksinya di atas gerbong. Namun sat gue sampai diatas, anak kecil itu tidak gue temukan. Sebagai gantinya tampak berdiri lunglai pemuda dengan rambut lusuh, raut wajah lelah, dan sinar mata sayu sedang membacakan sebuah puisi yang kurang jelas, selanjutnya menyorongkan topi pada semua penumpang meminta sedekah.

Gue celingukan menebarkan pandang ke ujung gerbong yang lain yang berdekatan dengan gerbong yang gue naiki, berharap menemukan kelebat bayang anak kecil tadi. Tapi tidak tampak juga, mungkin dia menyanyi di gerbong paling ujung, hibur gue pada diri sendiri. Namun gue tetap saja terus cekingukan mencoba mencari bayang anak tadi. Bahkan sampai saat kereta kembali bergerak meninggalkan stasiun gue tetap gagal menemukan sosok anak kecil tadi. Pada kerumunan orang di stasiun yang gue lihat dari balik kaca jendel kereta, tidak juga tampak batang hidungnya.

Setelah kereta melaju dengan cepat dan dentuman suaranya membuat telinga gue pekak, gue paksakan untuk duduk. Lamat-lamat dalam ingatan gue, gue berhalunisasi merdengar lagu lama seolah dinyanyikan anak itu.

Berdiri……
tegar menatap langit yang tenggelam
setiap hari kaki melangkah entah kemana
Jalanan…….
adalah rumahnya yang tak berdinding
bagai srigala saling menerkam berebut nasib

(Dia, El Pamas, Tatto, Loggis Record, 1992)

Seorang Perempuan Pemilik Warung di Pinggir Jalan Raya

Dia harus memasang senyum untuk semua orang. Karena senyum itu maka orang-orang yang sering melintasi jalan raya depan warungnya berhenti untuk mengaguminya.

Awalnya orang-orang itu hanya sebatas ingin melihat senyum itu, tapi karena senyum itu akan nampak semakin mengembangkan warna ceria bila makanan yang dijualnya laku, maka orang-orang lantas memutuskan untuk juga membeli makanan yang dijual pemilik senyum.

Awalnya lidah orang-orang itu protes, karena makanan yang dihidangkan ternyata tidak semenarik senyum yang mengembang. Namun oleh karena senyum itu dirasa semakin hari semakin menciptakan nuansa yang penuh daya magis maka rasa dilidah menjadi tidak terlalu dipersoalkan. Toh makanan hanya memiliki dua rasa, enak dan enak banget, demikian kata mereka akhirnya.

Selalu ada senyum untuk siapapun, tidak pernah libur selama 12 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu. Karena bila suatu ketika senyum itu terpaksa diparkir, orang-orang mendadak juga parkir mobilnya di tempat lain. Tidak boleh ada ekspresi lain diwajahnya selama warung terbuka pintunya. Demi hidup yang lebih baik dan demi anak agar mampu menapaki jenjang pendidikan yang lebih layak, senyum sudah menjadi kewajiban untuk dipasangkan di wajah setiap harinya.

Tidak peduli bahwa bumbu masak bagi para pelanggan seringkali adalah sebentuk perilaku yang terkadang menyentuh sisi yang agak dalam perasaannya. Tapi, komprominya dengan waktu dan keadaan menempatkan semua perilaku pelanggan dalam arti yang sama "tidak berarti". Semua bergantung bagaimana perasaan menanggapi semua bentuk perilaku yang diterima, katanya. Karena semua bentuk pilihan dalam hidup selalu meminta sebentuk konsekwensi.

Bukan Manusia Pulang

...............
But I feel I'm growing older
And the songs that I have sung
Echo in the distance
Like the sound
Of a windmill goin' 'round
I guess I'll always be
A soldier of fortune
(Soldier of Fortune, Deep Purple, Stormbringer [1974])

Gue ada disini saat ini, di suatu tempat yang sebelumnya tidak pernah gue kenal sama sekali. Dan dalam hitungan waktu yang biasanya lama, gue harus berusaha menyukai tempat itu, karena disitulah penghidupan gue saat ini berlangsung. Hal tersebut berulang kali terus menerus dalam perjalanan hidup gue.

Gue sering , bahkan boleh dikatakan hampir setaip saat, berhadapan dengan orang-orang baru dan hal-hal baru berulang-ulang. Ada rasa ketercerabutan diri dari realitas ruang dan waktu. Seakan gue hidup dalam ruang hampa yang terus bergerak liar dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa interaksi yang mendalam dengan lingkungan sekitar. Gue merasa menjadi makluk yang tidak memiliki ikatan spesifik dengan satu wialayah/tempat. Hidup gue seolah mengalir seiring tuntutan hidup yang harus gue jalani dan tanggungjawabi, dimanapun gue harus berada. Sementara interaksi diluar itu nihil.

Marx pernah bertutur tentang alienasi, atau keteransingan orang atas perkerjaannya akibat adanya spesifikasi kerja yang tidak berdasar atas kecintaan dan interaksi orang atas jenis pekerjaan yang dia jalani. Orang lantas menjadi mesin hidup yang hanya ada oleh karena kebutuhan spek pekerjaan di suatu tempat. Eksistensi orang hilang. Mereka berubah hanya menjadi daftar hadir, struk gaji dan bagian dari komponen produksi.

Dalam diri gue ada ambiguitas dalam menghadapi hal itu. Perputaran waktu yang menuntun gue pada perjalanan mengarungi wilayah-wialayh baru membawa diri gue pada jenis petualangan asing yang menyenangkan. Tapi, bentuk pekerjaan yang senantiasa berulang, kendati kliennya terus berganti, terkadang membuat gue seolah bukan berinteraksi dengan klien yang berbentuk pribadi yang hidup. Gue terkadang merasa sibuk dengan diri sendiri, pun mekanisme yang terus berulang. Klien tidak lebih hanya berupa deretan nama-nama yang harus gue kalkulasi dalam hitungan nominal rupiah. Entah, apakah gue juga sudah teralienasi?

Well, yang pasti saat ini gue sudah merasa tercerabut dari komunitas (di Jakarta) yang terakhir kali gue bangun dan masuki sebagai bagian dari dalam dirinya dan belum kembali merasa mendapatkan komunitas baru yang sanggup membuat hati dan jiwa gue comfort. Semua masih berupa situasi yang menawarkan nuansa dalam bentukan yang seragam, biasa-biasa saja. Gue menjadi orang yang bukan berasal dari mana-mana. Seolah belum/tidak ada tempat yang sanggup menawarkan rasa ingin atau minimal menjadi temapt gue untuk sekedar merasa bisa pulang.

Mungkin karena gue selalu merasa sebagai manusia pergi, yang setiap kali mau melangkah ke suatu tempat secara psikologis selalu merasa akan pergi pada sesuatu, bukan sebaliknya. Hingga belum/tidak ada tempat yang sanggup mengikat rasa gue untuk kembali padanya. Hanya ada satu alasan seandainya gue sering mengunjungi satu tempat berulang-ulang dari dulu. Alasan tersebut bukan karena faktor tempat itu, melainkan penghuninya. Ada manusia yang sanggup memaksa gue untuk secara rutin mengunjungi tempat itu, yaitu Nyokap gue. Ya, setiap beberapa kali dalam setahun gue selalu mengunjungi satu kota kecil di Jawa Tengah (Klaten), karena alasan adanya orang tua di sana. Tanpa alasan itu kayaknya gue tidak terlalu tertarik dengan kota dan wilayah Klaten (kendati gue lahir dan besar disana).

Mungkin memang tidak akan ada tempat, sebagai sesuatu yang mandiri, yang akan sanggup memaksa gue membiarkan diri gue berkubang dan terikat di dalamnya. Kecuali tempat itu memiliki manusia-manusia yang bisa memberikan kenyamanan, keamanan, abstarksi dan sensasi. Tanpa itu, gue akan tetap menjadi manusia dengan ribuan tempat tinggal (nomad).

Sepuluh tahun yang lalu gue merasa Bandung adalah tempat yang akan menjadikan gue tumbuh dan berkembang menjadi tua. Namun seiring perginya orang-orang yang gue kenal dan pernah memberi warna dalam hidup gue, Bandung berubah menjadi terlalu sempit untuk ditinggali. Lantas gue melihat Padang, Jogja, Semarang serta terakhir Jakarta seolah menjadi tempat yang akan sanggup memberikan wadah buat gue diam dan menisbikan kemungkinan tinggal di tempat lain. Bahkan Jakarta lantas menjadi begitu gemerlab di mata gue, dibanding tempat-tempat lain. Hingga gue pernah merasa harus berkubang dengannya. Namun, seiring bertambahnya umur dan alam pikiran yang berdampak pada cara gue memandang realitas, Jakarta, dalam pandangan gue berubah menjadi sekedar wadah yang dihuni oleh orang-orang yang gue kenal serta tempat sumber penghidupan gue. Begitu gue menyadari orang-orang mulai terspesifikasikan oleh pekerjaan, persoalan hidup dan segala tetek bengek yang tidak perlu, Jakarta sudah tidak sanggup lagi mengikat perasaan gue. Apalagi tempat saat ini sudah bukan lagi penghalang bagi siapapun dan dimanapun dia berada berhubungan dengan siapa dan apa.

Jadilah gue layaknya pengembara yang merasa semua tempat adalah rumahnya. Gue merasa semua tempat menjadi sedemikian bersahabat pun terkadang sangat biasa. Sehingga belum ada yang secara permanen sanggup membutakan mata gue agar berhenti dan menetap.

Tampaknya gue memang masih harus berjalan menyelusuri sekian tempat sampai tubuh gagal mengakomodasikan keinginan jiwa untuk terus melangkah, alias mulai renta. Karena pada dasarnya gue adalah manusia pergi, bukan manusia pulang…

I guess I'll always be A soldier of fortune

Dialog Imaginer dengan Orang Vegetarian

"Kamu tahu, mengapa kita manusia lebih baik makan segala sesuatu yang berasal dari tumbuhan?” tanyanya suatu ketika

“Karena segala yang berasal dari tumbuhan mengandung banyak hal yang menyehatkan,” Jawab gue asal.

“Itu alasan orang egois,” sergahnya,” kamu tahu mengapa rambutan ini kulitnya jadi merah merona saat buahnya masak? Tanyanya sambil berdiri memetik buah rambutan yang kebetulan dah masak, gue diam aja.

“Tumbuhan ini sengaja menciptakan campuran warna yang menarik pada kulit buahnya saat dia masak, hal itu dilakukan agar makluk hidup lain, termasuk manusia tertarik, "lanjutnya sambil membuka kulit rambutan," tumbuhan itu juga sengaja menciptakan zat perasa yang manis pada daging buahnya agar makluk lain mau mengkonsumsinya, tumbuhan itu berharap dengan ada pihak yang mengkonsumsi daging buahnya aakan tercipta persebaran biji buahnya yang merupakan awal kehidupan bagi keturunan selanjutnya.”

“Artinya, dengan mengkonsumsi buah kita telah membantu makluk lain melakukan proses regenerasi, dan kita tidak melakukan pemaksaan atau pembunuhan karena mereka dengan sukarela menyerahkan, bahkan meminta, apa yang memang harus dikonsumsi makluk lain dengan menciptakan warna dan rasa yang sangat menarik pada buahnya.”

“Lantas apa salahnya kita makan daging atau ikan?” tanya gue asal.

“Dengan makan daging atau ikan kalian telah melakukan pemerkosaan dan pembunuhan terhadap keseimbangan alam.”

“Perkosaan dan oembunuhan bagaimana?” sergah gue,” Lantas bagaimana dengan macan atau singa yang juga mengkonsumsi daging, apa mereka juga dikatakan sudah melakukan perkosaan dan pembunuhan?”

“Lain sobat, binatang makan karena desakan rasa lapar semata, selain itu secara naluri hanya memakan jenis makanan yang terbatas. Kita tidak akan melihat Singa makan nasi nasi atau rumput kering, dia melulu makan daging. Kita juga tidak akan melihat Singa membunuh banyak rusa untuk kemudian dagingnya disimpan di kulkas untuk dijadikan cemilan selagi bengong. Bandingkan dengan kalian manusia, berapa kali dalam sebulan kalian makan hanya sekedar untuk memenuhi rasa lapar, lantas berapa kali dalam seminggu kalian makan untuk memenuhi indera pengecap semata? Pasti rasa lapar hanya menjadi pendulum semu, sementara keinginan untuk memuaskan indera pengecap jauh lebih besar saban harinya. Atau berapa orang yang rela tidak mengekploitasi apa saja yang ada dimuka bumi demi kekenyangan perutnya? Sedikit kawan.”

“Tapi, bukankah makluk hidup lain memang tercipta untuk kita kuasai dan nikmati?”
“Kata siapa?”
“Agama”
“Agama yang mana?”
“Memang ada berapa ratus agama yang diyakini mayoritas manusia?”
“Siapa yang menyebarkan agama?”
“Ya, nabi dan pemuka agama.”
“Manusia juga kan mereka?”
“Benar manusia, tapi mereka menyampaikan ajaran tidak dengan sembarangan, mereka bekerja dan berdahwah berdasarkan wahyu Tuhan.”

“Maaf sobat, mereka masih manusia, aku curiga mereka menggunakan logikanya sebagai manusia sehingga dengan dalih dogma agama mereka mencar pembenaran dalam setiap tindakannya guna melegalkan pembunuhan dan poengekploitasian secara berlenbihan terhadap sesama makluk hidup. Dengan dalih sebagai makluk yang paling sempurna manusia seolah mendapat justifikasi untuk melahap semua spesies lain tanpa pandang bulu. Logika yang sama dulu juga digunakan oleh bangsa kulit putih untuk memperbudak dan menjual belikan orang kulit hitam, membantai Indian, menjajah sertta memeras harta milik penduduk dunia ketiga. Menurut mereka, agama tidak secara tegas melarang tindakat itu, bahkan bukankah agama-agama yang kalian anut dulunya melegalkan perbudakan? Jadi berhati-hatilah menggunakan logika agama dalam kehidupan sosial.

Selain itu, pernah tidak Tuhan secara langsung menurunkan wahyu-Nya kepada khalayak ramai, termasuk para binatang, bahwa manusia berhak membunuh dan memakan binatang sesuka hati mereka? Kalau pernah aku yakin, alam atau bumi akan menuntun binatang melakukan evolusi dan beradaptasi agar tampilannya menarik dan enak dinikmati langsung oleh manusia tanpa harus susah-suah memasaknya, dan evolusi binatang bisa membuat mereka tidak harus kehilangan nyawa dan kesempatan untuk meneruskan generasinya sehabis dikonsumsi manusia.

Hal yang harus kalian ketahui, bumi tempat tinggal kita ini bukanlah benda mati. Dia hidup, yang mencirikan sesuatu itu hidup adalah adanya gerak. Bumi senantiasa bergerak. Dia bergerak dengan berputar dalam porosnya. Sedetik saja bumi berhenti bergerak, dia akan meletus akibat tekanan dari dalam dirinya, dan bumi akan menjadi pecahan benda langit yang bertebaran bagai asteroid. Jadi bergeraknya bumi didasari atas kebutuhan untuk menetralisir tekanan maha dahsyat dari dalam tubuhnya. Karena bumi bergerak, maka terciptalah atmosfir yang kemuidan menciptakan kehidupan di atasnya. Atmosfir ada karena kebutuhan bumi untuk mencapai keseimbangan dari luar dirinya. Karena tekanan yang maha dahsyat dari dalam harus dimbangi dengan kontrol yang efisien dari luar. Jadi kehidupan ini ada karena kehendak bumi, atau alam, buah dari upayanya dalam mempertahankan kehidupan. Untuk itu bumi juga menciptakan mekanisme, atau tananan dalam dirinya yang harus dituruti oleh mereka yang hidup di atasnya. Itulah kemudian lahir aturan yang diberi nama hukum alam. Hukum alam tidak hadir dengan sendirinya, melainkan buah dari upaya bumi untuk terus menciptakan keseimbanagn dalam dirinya dengan harapan dia akan tetap hidup. Makluk hidup di bumi dituntun untuk menjalani hidupnya berdasarkan isnting naluriah. Insting itulah yang menjadi bagian utama dalam penjagaan keseimbangan alam. Karena dengan hanya mengikuti isting naluriah yang paling alamiah, maka keseimbangan alam yang ditata bumi tidak mengalami gangguan. Akan tetapi dalam perkembangannya, bumi mendapatkan penghuni baru yang bernama spesies manusia. Datangnya manusia yang kemudian menyadari eksistensinya sebagai makluk dengan menemukan logika berpikir serta kesadaran akan ruang dan waktu lantas menimbulkan potensi pada gangguan keseimbangan. Bumi hanya menuntun penghuninya bersadar isnting paling dasar dalam menjalani hidupnya masing-masing. Sementara makluk manusia dengan logika berpikir dan kesadaran akan ruang dan waktu sanggup mendobrak kungkungan insting yang paling naluriah. Kebutuhan bagi manusia kemudian menyeruak menyeberangi semua batasan alam. Bila di kemudian hari batasan alam yang diterjang sampai menyentuh sisi hidup yang paling mendasar dari bumi, aku khawatir bumi ini tidak akan bisa bertahan hidup ditengah desakan alami dari dalam maupun luar dirinya yang teramat dahsyat. Jika manusia gagal mempertahankan keseimbangan alam, dengan terus mengabaikan hukum alam, entah apa yang terjadi pada masa depan makluk yang kita diami yang bernama bumi ini?”
Wah, perdebatannya jadi membuat gue pusing, daripada migren kambuh, gue akhiri saja dialog hari ini.

Saturday, October 22, 2005

fiuh!..

setelah berjuang klik sana-sini, akhirnya sebuah blogger dengan nama janggal lahir. mungkin nama ini bakal memunculkan pertanyaan; "kok gitu sih?"
sejarahnya, entah kenapa sekarang-sekarang ini jadi sulit hanya membuat sebuah blogger. Dan blogger ini kebetulan adalah usaha g yang kedua kalinya setelah yang pertama ternyata sama susah dan menyebalkannya. setiap kali memasukkan nama username, password, sampai judul blogger, blogger.com tetap saja menolak. dari kalimat dan tutur kata yang sopan sampai kata maki2an.
blogger ini pun lahir dengan cara yang sama. g hanya lega justru katrobanget yang disetujui blogger.com dan bukan kalimat sebelumnya yang ternyata lebih sadis maki-makiannya. Meski bernama katrobanget, isi blogger ini jauh dari kekatroan.
so, enjoy ur new blog..

Wednesday, October 19, 2005

impian semusim

(Catatan untuk perempuan penyamak tembakau)

Mereka datang dari sisi sebelah pinggir kota dengan membawa keterbarasan. Jenjang pendidikan tidak pernah secara utuh mereka dapatkan. Mereka terpaksa menerima kenyataan sebagai kelas masyarakat yang hanya mengandalkan kemampuan ala kadarnya.

Mereka datang saat pagi mulai merekah. Saat mentari pertama kali menyentuh ujung aspal, mereka berbondong-bondong menghambur memenuhi jalanan memayungi wilayah Klaten selatan dengan warna biru muda. Perusahaan PNP menjadi tujuan mereka di kala pagi meninggi. Perusahaan memberikan imbalan yang lumayan bagi tangan-tangan terampil, rapi dan jeli dalam menyamak tembakau. Dalam setahun ada 3 kali musim petik yang berlangsung 3 bulan sekali. Setiap kali musim petik mereka mengangtungi nominal dari perusahaan PNP yang bisa menambah penghasilan suami.

Tapi tidak setiap musim petik mereka bisa dengan mudah menjalani kerjasma dengan perusahaan. Ada banyak raja kecil dan kepala suku bergentayangan di dalam pabrik. Raja-raja kecil yang seolah memegang nasib mereka dalam menentukan bisa atau tidaknya mereka kembali ke perusahaan pada musim petik berikutnya. Harus ada persembahan yang bisa mengamanklan jalannya nasib pada musim berikutnya. Diperlukan 2 kg gula putih, 1 pak teh dan sekaleng makanan ringan yang sama dengan harga satu minggu gaji, bila musim berikutnya masih ingin kembali ke perusahaan. Bila itu tidak disediakan, akan ada banyak perempuan lain yang sanggup menggantikan posisinya.

Demi penyeimbang pendapatan suami yang terbatas, persembahan harus senantiasa dia berikan setiap tiga bulan sekali. Sebuah kewajaran, kata mereka. Kewajaran di tengah masyarakat yang katanya memiliki nilai-nilai luhur persaudaraan dan gotong royong....

Tuesday, October 18, 2005

Most Favorite Song

Aku tengah membangun
sebuah rumah kau dan aku
dengan beranda terbuka
dan sungai kecil jernih

Mengalir sepanjang musim
sepanjang petakan kebun

Hari-hari rebah
matahari pagi petang
menuangkan cahayanya

Aku tengah membangun
sebuah rumah kau dan aku
jauh dari keluasan kota
seperti rindumu....

Judul : Untuk D
Lagu : Mukti
Lyric : Budi Godot
Pentas musik solidaritas untuk Masyarakat Ciubeureum
Unpar 1996

Monday, October 17, 2005

Screamer and Anger

..........Seven years of power
The corporation claw
The rich control the government, the media the law
To make some kind of difference
Then everyone must know
Eradicate the fascists,
revolution will grow
The system we learn says we're equal under law
But the streets are reality,
the weak and poor will fall
Let's tip the power balance and tear down their crown
Educate the masses,
We'll burn the White House down........

(Speak, Queensryche, Operation Mindcrime, EMI Manhattan Record, 1988)

Pada sebuah kunjungan ke kepala desa di salah satu wilayah di Kabupaten Tulung Agung, gue menemukan beberapa orang tua yang komplain karena tidak kebagian jatah kompensasi BBM. Menurut mereka, kondisi perekonomian mereka lebih buruk daripada pihak2 yang justru mendapatkannya. Si Kepala Desa tentu saja kebingungan dan gak bisa berbuat banyak, karena yang menentukan berhak atau tidaknya seseorang mendapatkan kompensasi BBM bukan dia. Ada mekanisme pendataan yang tidak bisa diganggu gugat si Kepala Desa, walau pendataan tersebut seringkali tidak tepat sasaran.

Inilah potret negeri ini. Potret negeri yang compang camping oleh karena kegagalan pengelolanya memperbaharui mekanisme hingga mampu bersaing dengan mekanisme pasar yang bergerak dalam dinamika pasar global. Kenaikan BBM jelas akan memukul fundamental perekonomian masyarakat. Semua aspek kehidupan terkait dengan suplai BBM. Bahkan perusahaan yang paling besar sekalipun akan terpukul oleh kenaikan BBM, apalgi yang ecek2. Yang pasti harga jual produk dalam negeri akan semakin tertinggal oleh produk luar yang terus-terang terkadang kualitasnya juga jauh lebih baik. Dimanapun juga logika yang paling bodoh sekalipun akan tahu, bahwa daya beli yang rendah dihantam dengan harga kebutuhan yang tinggi adalah hasilnya collaps. Uang Rp. 300.000,- per tiga bulan untuk satu keluarga cukup besar bagi masyarakat, dan juga sangat besar bila dikalskulasikan dengan sekian jumlah penduduk miskin. Akan tetapi jumlah tersebut akan hilang begitu saja bila dihadapkan pada kenyataan bahwa masyarakat mengalami kemerosotan daya beli terhadap semua kebutuhan pokok. Uang 300 rb hanya akan menjadi tai dalam hitungan waktu satu bulan, sementara setelah itu apakah kemudian masyarakat sanggup menggikuti melambungnya harga? Nothing. Yang dibutuhkan masyarakat adalah pendulum yang sanggup menggerakan roda perekonomian, sehingga kalau toh memaang harga BBM harus dinaikan mereka sudah punya antisipasi dengan membangun fundamentalk perekonomian yang konon dinamakan saya beli yang tinggi. Tapi mungkinkah daya beli masyarakat mengalami lonjakan vertikal di Indonesia? Kayaknya tidak. Jadi solusinya hanya pada bagaimana negara mengambil peran untuk menyelamatkan dana subsidi agar sangguip menanggulangi robohnya perekonomian negara.

Tapi, yang terjadi adalah kebingungan pengelola negara menghadapi menghadapi minimnya anggaran negara. Lantas semua dikembalikan pada masyarakat yang harsu menanggung ebban kekosongan dana tersebut. Padahal mengelola negara tidak jauh berbeda dengan mengelola perusahaan. Dibutuhkan kemampuan manajerial yang bagus agar perusahaan sanggup bersaing dan sanggup memperbaharui keuangannya agar tidak tertimpa kebangkrutan, bila perusahaan hanya mengandalkan modal dasar yang ada untuk semua hal, maka tidak akan lama perusahaan itu akan collapse.

Pemimpin negara dipilih berdasarkan asumsi mereka akan sanggup menyelesaikan persoalan krusial negara. Bukan malah menunjukan ketidakberdayaannya menghadapi masalah dengan retorika2 murahan yang tidak menyentuh pada esensi persoalan.
Bila pemimpin dalam mencari solusi atas persoalan negara kembali mengembalikan tanggungjawab pada rakyat yang memang paling tidak bisa menolak, apakah masih perlu mereka diberi mandat?

So, To make some kind of difference
Then everyone must know
Eradicate the fascists,
revolution will grow

Tuesday, October 11, 2005

Lakum Dinukum

Kalau lagi puasa begini, gue selalu keingetan salah seorang temen kuliah gue di Unpar dulu. Temen gue ini, atau lebih terpatnya senior gue ini,yang merupakan salah satu dari sekian banyak temen aneh bin ajaib gue, setiap bulan puasa tiba hampir tidak pernah puasa, walau gue tahu dia ini kalau ditanya agamanya apa jawaban yang paling dekat adalah Islam. Atau agama yang paling dekat dari sejarah perjalanan hidupnya adalah Islam. Dan gue tahu, ayahnya adalah salah satu pengelola pondok pesantren di daerah asalnya. Tapi, jangan tanya apa yang dia lakukan setiap bangun tidur di siang hari (jarang bangun pagi), meskipun saat bulan puasa, selalu minum kopi dan menghisap sebatang rokok. Hal itu dia lakukan dari dulu jaman masih kost di Bandung, sampai hari ini saat umur dah mulai beranjak kolot.

Setahun yang lalu temen gue ini menempati rumah di salah satu ruas jalan Kebun Kacang. Walau aneh bin ajaib, temen gue ini orangnya friendly dan mudah bergaul sama siapa saja, apalagi dengan yang berjenis kelamin perempuan. Seperti waktu-waktu yang sudah lewat, di tempat tinggal barunya saban agak siang, sehabis bangun tidur, dia nongkrong di depan rumah sambil menghadap secangkir kopi dan sebatang rokok, meskipun saat itu bulan Ramadhan. Karena melihat temen gue saban agak siang nongkrong dengan rokok dan kopi, salah seorang perempuan tetangga sebelah mengajukan pertanyaan.

"Kok tidak puasa sih, Mas, kenapa?"
"Biar bisa ciuman siang2." Jawab temen gue enteng dengan mimik jahil.
Dilain waktu karena melihat perilaku dan obrolan temen gue yang seringkali mengesankan tidak peduli atau lebih tepatnya terkesan atheis, salah satu tetangga sempet nanya.
"Mas, sebenarnya sampean punya agama gak sih?"

Sekali lagi dengan enteng dan mimik wajah menyebalkan temen gue menjawab "Dulunya sih punya, cuma sudah habis dibagi-bagikan sama yang lain."

Keruan saja yang nanya langsung kehilangan kata-kata, pun gue yang mendengar ocehan temen gue ini. He..he...hidup mungkin memang lebih menarik dengan beragamnya karakter orang....

Sunday, October 09, 2005

What kind of beautiful?

Semalam, sehabis buka, anak2 tiba2 pada ngeggosip soal perempuan. Kalau lagi ngomongin perempuan, gak jauh2 deh pasti soal jenis makluk yang cantik mulu.

Perdebatannya sih menurut gue basi banget, masih seputar yang kayak gimana sih yang cantik? Sambil menyelesaikan laporan, sekali2 gue nyeletuk nimbrung omongan anak2 yang agak kurang bermutu dan cenderung kayak debat kusir. Berhubung obrolan gak berhenti2, gue lantas seperti dingatkan oleh pendapat anak2 dari sebuah kepulauan nun jauh di Mentawai sana tentang apa dan bagaimana sih perempuan itu dikatakan cantik.

Dulu, tahun 1996, gue pernah tinggal sekitar 4 bulan di Pulau Siberut, salah satu Pulau di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Gue tinggal di salah satu rumah milik KAntor Taman Nasional. Di komplek Taman Nasional Siberut ggue dan temen gue berteman baik dengan anak2 kecil asli mentawai yang rumahnya tidak jauh dari tempat tinggal kami. Mereka antara lain bernama, Meldi kelas 6 SD, Musri kelas 6 SD dan Erpin kelas 3 SD. Anak2 ini sering banget main ke rumah gue untuk sekedar nonton televisi, yang kebetulan masih menajdi barang mewah disana. Waktu itu kalau tidak salah kami sedang nonton salah satu sinetron yang bintangnya adalah Paramitha Rusady. Pas anak2 itu serius nonton, tiba2 gue bertanya pada mereka.

"Ale (panggilan untuk sesama), maeru tak (cantik tidak)?"
Tiba2 Meldi dan Musri dengan cekatan dan dengan bibi mecibir berkata "Tak (tidak)!"
"Tak Maeruk?" tanya gue setengah tidak percaya
"Iya," potong Meldi mewakili teman2nya,"Mereka itu tidak bisa mencari ikan, tidak bisa membuat sagu di hutan, dan tidak bisa pelihara ayam di hutan, bisanya hanya dandan dan habiskan uang. Itu tidak maeruk, Ale."

Ups, ternyata. Lantas gue teringat di dekat rumah tinggal kami ada seorang guru yang berasal dari Jogya, trapi sudah lama menetap di Siberut, namanya Daspon. Konon kabarnya anak Daspon ini cantik.
"Kalau anak Daspon, cantik tidak?" tanya gue lagi
"Tak?" jawab anak2 itu tegas,"Dia sama saja tidak bisa cari ikan atau lokan di kali. Hanya bisa dandan saja."
"Lantas yang maeruk siapa dong?" tanya gue lagi
"Ada ale, namanya Tuteng,"kata Mel;di dengan mimik serius,"dia putih, bisa cari ikan, bisa ternak ayam, juga bisa menyagu di hutan. Tapi, dia sudah besar, sebesar kamu, Ale." terang Meldi dengan mimik lucu.

Kalau ingat itu, gue hanya bisa mengulum senyum. Tapi paling tidak anak2 kepualuan itu cara memandangnya jauh lebih beradap daripada anak2 temen kerja gue ini. Anak2 Mentawai itu memandang sosok perempuan jauh lebih menyentuh sisi esensi. Melihat perempuan pada apa yang bisa diperankannya untuk kemduain dinilai cantik tidaknya. JAdi cantik menurut mereka adalah dilihat dari fungsi, bukan yang tampak doang.
Diam2 gue tersenyum, jangan2 gue juga melihat perempuan bukan pada fungsi dan peran, melainkan sama primitipnya dengan teman2 yang sekarang tinggal satu rumah kontrakan dengan gue di Tulung Agung ini?........

Thursday, October 06, 2005

Friend from the past

Begitu mendapat penugasan ke Tulung Agung, gue langsung teringat nama temen dari masa lalu yang berasal dari kota tersebut. Temen yg dulu tinggal satu rumah waktu masih kuliah di Bandung. Temen gue ini anak ITB angkatan 1989, dia luiar biasa cerdas, sehingga dengan terpaksa kami mengangkatnya menjadi mentor untuk pelajaran yg pernah menjadi momok waktu gue SMP dan SMA, Matematika dan Fisika. Namun sayangnya temen gue ini nasib yg kurang baik, pun fighthing spirit yg kurang. Dia berangkat dari keluarga yg kurang mampu, dalam membiayai pendidikannya dia mengandalkan beasiswa. Sayang anaknya kurang tertib. Untuk sekedar memberikan laporan hasil setudinya setiap semester kpd pihak yg memberikan beasiswa dia malas. Alhasil tahun 1993, semua jenis beasiswa yg pernah dia terima terhenti, dan 6 bulan setelah bapaknya meninggal dia menghilang dari Bandung.
Konon ada persoalan yg ruwet, hingga dia memutuskan meninggalkan bangku kuliah. Terakhir gue denger dia menjadi guru salah satu SMA di tulung agung. Berkat bantuan kakak sepupunya, gue mendapatkan lokasi rumahnya di kabupaten Tulung Agung. Begitu sampai di kota Tulung Agung hal pertama yg gue lakukan adalah mencari lokasi rumahnya. Gue membayangkan temen gue yg bertubuh kecil sebagai pak guru. Namun begitu ketemu orangnya, bayangan tentang pak guru buyar diganti dengan wajah laki-laki kurus dan agak lusuh. Lama dia menatap gue sambil berusaha mengingat2. Lantas di tersenyum ingat saat gue sebutkan namanya.
"Dari wajahnya aku ingat, tapi gak yakin. Sekarang kok badanya gede dan agak bersih." selorohnya.
Lantas gue dibawa masuk ke rumah sangat sederhana dengan sekat2 dari bambu, dia kenalkan kedua anaknya yg berumur 8 tahun dan 3 tahun, semuanya perempuan. Gue tertegun menatap sekeliling dengan perasaan tidak menentu. Gue semakin shock waktu dia menyebutkan bahwa untuk menghidupi anak dan istrinya dia bekerja sebagai tukang bangunan, sedang istrinya menjahit jahitan kodian. Gue kehilangan kata2, gue hanya bisa menatapnya dengan ekspresi yang enath seperti apa. Malamnya saat gue ke kota mencari hotel, gue terus terbayang2 temen gue ini. Apa yg bisa gue lakukan agar paling tidak dia mau menghargai kemanpuan otak yang pernah dia milikinya.
dari obrolan tadi gue mendapat lesan dia sudah jenuh jika diminta kembali memanfaatkan kecerdasannya untuk mencari makan. Dia pernah mencoba menjadi guru honorer di salah satu STM, hasilnya, dia digaji seribu perak per SKS. seminggu ngajar 4 SKS, gaji sebulan cuma Rp. 16.000,-. Ngasih les privat, hasilnya sama saja. KLerja di bangunan katanya malah bisa dapat Rp.30.000,-/hari. Apakah perputaran nasib yg tidak memihat, atau karena fighting spirit yg jelek yg membuat temen gue jadi seperti ini? Hati kecil gue berkata, nasib akan bergerak seiring dengan usaha maksimal anak manusia. Jadi, karena dia kurang gigih dalam melawan kemiskinanlah yg mmebuat dia seperti itu. Kemampuan dia ada, kesempatan dulu juga pernah ada. Tapi, gue tidak berhak menghakimi dia. Apapun yang dia alami tidak sepantasnya untuk dikomentari dg nada menghakimi. Gue malah salut, dia cukup nertanggungjawab dnegan hidupnya, pun jug pilihannya. Menjadi tukang bangunan bukanlah pekerjaan yg hina, walau memang diperlukan kekuatan dan ketahan fisik yang berlelbih untuk menjalaninya. Mudah2an pertuan gue sama dia bisa memberikan sesuatu yang berguna buat kami berdua.
Malamnya saat gue jalan2 menyususri kota Tulung Agung, gue tetep tidak bisa mengabus bayangan buram nasib temen gue.Pemandangan kota Tululung Agung yang sebenarnya cukup bagus dengan jalan2 yang bersih teratur tanpa pedagang kaki lima yg samnpai menjorok ke jalan, diapit pertokoan dan trotoar disepanjang sisi kanan kiri jalan serta pepohonan yang memanjakan pejalan kaki menjadi buram juga.

SMS

"Lagi dimana? Gue lagi di bandung nih, mertua meninggal."
"Lagi Di Malang bu, Turut berduka cita."
"Thanks. Kapan ke Jakarta? Mampir ke rumah."
"Mungkin tahun depan br ke Jakarta. Ada tambahan kerjaan di Tulung Agung."
"Wah enak dong jalan2 mulu. Gue bosen nih, mau cari kerjaan yg bisa bikin gue sering jalan. susah mau emansipasi, lakinya bln siap"
"Hehehe...selalu ada harga yg hrs bibyr dr smua pilihan. Jln2 mulu kyk gue jg ga enak, tercerabut dr komunitas."
"Iya sih. Mungkin kalo anak gue dah gede, gue mau kerja yg bisa byk jalan2nya. Gue ga bisa nih berperan jadi istri dan menantu di bdg, kalo jadi ibu di jkt msh bisa."
"Hahaha...menghadapi orang tua dg perspektif berpikirnya sendiri hrs sabar dan besar toleransinya, walau kadang makan ati."
"Yap, betul, gue pikir semakin tua gue akan bisa gaul sama para ortu, ternyata tetep saja gak bisa."

Tuan R

Laki2 itu kira2 berumur 50 tahun. Dengan wajah ramah dia menerima gue di rumahnya. Rumah itu bagus, tapi sepi dan perabotnya gak ada.
"Sendirian, Pak?" Tanya gue basa-basi
"Iya, Mas."
"Anak dan istri kemana?"
Dia diam sejenak, lantas dengan snyum dipaksakan dia menjelaskan bahwa istrinya pulang ke rumah orang tua, anak2nya 3 orang dibawa serta.
"Saya lagi kena musibah, Mas." Maksud kedatangan gue ke bapak itu adalah mau mengontrak rumahnya yang katanya kosong. Ternyata kosongnya rumahnya karena istri dan anaknya pergi.
Awalnya perginya anak dan istri gue kira karena lagi berantem saja. Ternyata belakangan baru gue ketahui terrnyata mereka bercerai. Beberapa anak muda yg sering nongkrong di rumahnya lantas bercerita. Dulu, waktu Tuan R masih banyak proyek, dia sering pergi ke luar daerah untuk membereskan pekerjaan. Kadang2 3 bulan sekali dia baru pulang untuk nengok anak dan istrinya. tapi kalau kerjaan gak terlalu padat, sebulan sekali dia masih bisa pulang. Tapi, satu hal yang pasti, dia tidak pernah telat mengirimkan jumlah uang ang cukup buat anak2 dan istrinya. Tapi, entah mengapa kiriman Tuan R yang menurut hitungan warga sekitar cukup besar seolah setiap bulan lenyap begitu saja tanpa bekas.
Belakangan saat proyek lagi sepi dan Tuan R banyak di rumah, istrinya sering uring2an. Lantas terboingkarlah skandal perselingkuhan antara istrinya dengan kemenakan Tuan R yang berumur sama dengan sitrinya dan kebetulan dibiarkan tinggal satu rumah dengan mereka. Badai itu coba ditanggapi dengan sabar olah Tuan R, dia hanya meminta istrinya untuk melupakan aib dan minta maaf untuk kemudian kembali memulai hidup baru. Tapi anehnya justru istrinya dengan lantang mengajukan gugatan cerai. Dengan terpaksa Tuan R membiarkan istrinya pergi dari hidupnya dengan membawa serta anak2nya yang emmang lebih terbiasa tinggal dengan sang ibu.
Jadilah Tuan R, lonelly hanya ditemani anak2 muda tetangganya. "Kalau saya gak sabar dan tawakhal sudah stroke saya, Mas." Katanya ke gue suatu ketika. "Ini mungkin cobaan hidup yang harus saya hadapi dan selesaikan. Walaupun saya sebenarnya masih ingin menjalani kebersamaan dengan istri dan anak2 saya, tapi saya serahkan semuanya pada istri saya, terserah apa maunya. Biarlah dia yang menentukan apa maunya. Kalau tiba2 dia memutuskan kembali ke saya demi anak2 ya alhamdullilah. Kalau dia dibutakan oleh banyak hal yang menurutnya lebih menyenangkan hidup berpisah, yah apa boleh buat. Kita hanya bisa menjalaninya kan, Mas?"
"Benar, Pak," Jawab gue belagak tau," Pasrah mungkin memang lebih baik dalam menjalani segala hal Pak. Masih beruntung kikta yang di pilih untuk menghadapi masalah Pak. artinya kita dipercaya untuk menyelesaikan hal2 yang belum tentu sanggup diselesaikan oleh orang lain," tambah gue sok tau banget....

Tipikal

Pada pagi yang basah gue bergerak keluar dari hotel tempat gue menginap di Tulung Agung. Saat gue menyeberang salah satu ruas jalan ada tukang becak nawari tumpangan.

"Ke Cuiri bepara, Pak?"
"Ya monggo terserah, Mas."
"Sepuluh ribu ya?"
"Tambahin dua ribu lah."
"Yowis ayo." Lantas gue meloncat ke dalam becak dan si abang dengan sigap menggenjot pedal. "Tadi, Mas, pagi2 saya sudah dihutangi sama tentara," tiba2 si abang curhat.
"Dihutangi gimana, Pak?"

"Pagi2, saya baru keluar rumah, belum sarapan lagi, eh, saya dapat penumpah seorang berseragam tentara. Dia minta saya anter dari luar kota kemari. Pas sudah sampai dia bilang bayarnya nanti kalau sudah gajian, padahal orang tersebut seminggu yang lalu juga masih ngutang trayek yang sama."

"Lah, mengapa Bapak mau ngantar, kalau tahu dia masih ngutang trayek yang sama minggu kemarin?"
"Saya pikir dai mau bayar dobel tadi. Soalnya setelah dia ngutang minggu kemarin, baru tadi dia ketemu saya. Saya pikir dengan minta diantar lagi dai akan seklaian melunasi hutangya, e...tenyata malah ngutang lagi. Lagian mana saya berani menolak diminta ngantar, Mas."
Gue terdiam bingung mau ngomong apa.
"Padahal sudah balok kuning tiga lho, Mas. Kan seharusnya sudah lumayan pangkatnya, ya?" "Wah saya kurang paham soal kepangkatan dalam tentara, Pak."
"Katanya dia mau bayar pas tanggal muda. Sekarang tanggal berapa sih, Mas?"
"Tanggal 28, bentar lagi, Pak. Yah, hitung2 nabung."
"Ya, kalau dia ingat, Mas."

Lantas kami terdiam. Dalam diam gue jadi teringat mars untuk tentara yang sering dinyanyikan anak2 mahasiswa, pun saat gue masih jadi mahasiswa dulu.

....naik bis kota tak pernah bayar apalagi makan di warung tegal.......... Bukan bermaksud men-generalisir, tapi apa yang terjadi diatas memang tipikal hampir di semua tempat di Indonesia.