Thursday, October 06, 2005

Friend from the past

Begitu mendapat penugasan ke Tulung Agung, gue langsung teringat nama temen dari masa lalu yang berasal dari kota tersebut. Temen yg dulu tinggal satu rumah waktu masih kuliah di Bandung. Temen gue ini anak ITB angkatan 1989, dia luiar biasa cerdas, sehingga dengan terpaksa kami mengangkatnya menjadi mentor untuk pelajaran yg pernah menjadi momok waktu gue SMP dan SMA, Matematika dan Fisika. Namun sayangnya temen gue ini nasib yg kurang baik, pun fighthing spirit yg kurang. Dia berangkat dari keluarga yg kurang mampu, dalam membiayai pendidikannya dia mengandalkan beasiswa. Sayang anaknya kurang tertib. Untuk sekedar memberikan laporan hasil setudinya setiap semester kpd pihak yg memberikan beasiswa dia malas. Alhasil tahun 1993, semua jenis beasiswa yg pernah dia terima terhenti, dan 6 bulan setelah bapaknya meninggal dia menghilang dari Bandung.
Konon ada persoalan yg ruwet, hingga dia memutuskan meninggalkan bangku kuliah. Terakhir gue denger dia menjadi guru salah satu SMA di tulung agung. Berkat bantuan kakak sepupunya, gue mendapatkan lokasi rumahnya di kabupaten Tulung Agung. Begitu sampai di kota Tulung Agung hal pertama yg gue lakukan adalah mencari lokasi rumahnya. Gue membayangkan temen gue yg bertubuh kecil sebagai pak guru. Namun begitu ketemu orangnya, bayangan tentang pak guru buyar diganti dengan wajah laki-laki kurus dan agak lusuh. Lama dia menatap gue sambil berusaha mengingat2. Lantas di tersenyum ingat saat gue sebutkan namanya.
"Dari wajahnya aku ingat, tapi gak yakin. Sekarang kok badanya gede dan agak bersih." selorohnya.
Lantas gue dibawa masuk ke rumah sangat sederhana dengan sekat2 dari bambu, dia kenalkan kedua anaknya yg berumur 8 tahun dan 3 tahun, semuanya perempuan. Gue tertegun menatap sekeliling dengan perasaan tidak menentu. Gue semakin shock waktu dia menyebutkan bahwa untuk menghidupi anak dan istrinya dia bekerja sebagai tukang bangunan, sedang istrinya menjahit jahitan kodian. Gue kehilangan kata2, gue hanya bisa menatapnya dengan ekspresi yang enath seperti apa. Malamnya saat gue ke kota mencari hotel, gue terus terbayang2 temen gue ini. Apa yg bisa gue lakukan agar paling tidak dia mau menghargai kemanpuan otak yang pernah dia milikinya.
dari obrolan tadi gue mendapat lesan dia sudah jenuh jika diminta kembali memanfaatkan kecerdasannya untuk mencari makan. Dia pernah mencoba menjadi guru honorer di salah satu STM, hasilnya, dia digaji seribu perak per SKS. seminggu ngajar 4 SKS, gaji sebulan cuma Rp. 16.000,-. Ngasih les privat, hasilnya sama saja. KLerja di bangunan katanya malah bisa dapat Rp.30.000,-/hari. Apakah perputaran nasib yg tidak memihat, atau karena fighting spirit yg jelek yg membuat temen gue jadi seperti ini? Hati kecil gue berkata, nasib akan bergerak seiring dengan usaha maksimal anak manusia. Jadi, karena dia kurang gigih dalam melawan kemiskinanlah yg mmebuat dia seperti itu. Kemampuan dia ada, kesempatan dulu juga pernah ada. Tapi, gue tidak berhak menghakimi dia. Apapun yang dia alami tidak sepantasnya untuk dikomentari dg nada menghakimi. Gue malah salut, dia cukup nertanggungjawab dnegan hidupnya, pun jug pilihannya. Menjadi tukang bangunan bukanlah pekerjaan yg hina, walau memang diperlukan kekuatan dan ketahan fisik yang berlelbih untuk menjalaninya. Mudah2an pertuan gue sama dia bisa memberikan sesuatu yang berguna buat kami berdua.
Malamnya saat gue jalan2 menyususri kota Tulung Agung, gue tetep tidak bisa mengabus bayangan buram nasib temen gue.Pemandangan kota Tululung Agung yang sebenarnya cukup bagus dengan jalan2 yang bersih teratur tanpa pedagang kaki lima yg samnpai menjorok ke jalan, diapit pertokoan dan trotoar disepanjang sisi kanan kiri jalan serta pepohonan yang memanjakan pejalan kaki menjadi buram juga.

No comments: