Sunday, October 23, 2005

Seorang Perempuan Pemilik Warung di Pinggir Jalan Raya

Dia harus memasang senyum untuk semua orang. Karena senyum itu maka orang-orang yang sering melintasi jalan raya depan warungnya berhenti untuk mengaguminya.

Awalnya orang-orang itu hanya sebatas ingin melihat senyum itu, tapi karena senyum itu akan nampak semakin mengembangkan warna ceria bila makanan yang dijualnya laku, maka orang-orang lantas memutuskan untuk juga membeli makanan yang dijual pemilik senyum.

Awalnya lidah orang-orang itu protes, karena makanan yang dihidangkan ternyata tidak semenarik senyum yang mengembang. Namun oleh karena senyum itu dirasa semakin hari semakin menciptakan nuansa yang penuh daya magis maka rasa dilidah menjadi tidak terlalu dipersoalkan. Toh makanan hanya memiliki dua rasa, enak dan enak banget, demikian kata mereka akhirnya.

Selalu ada senyum untuk siapapun, tidak pernah libur selama 12 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu. Karena bila suatu ketika senyum itu terpaksa diparkir, orang-orang mendadak juga parkir mobilnya di tempat lain. Tidak boleh ada ekspresi lain diwajahnya selama warung terbuka pintunya. Demi hidup yang lebih baik dan demi anak agar mampu menapaki jenjang pendidikan yang lebih layak, senyum sudah menjadi kewajiban untuk dipasangkan di wajah setiap harinya.

Tidak peduli bahwa bumbu masak bagi para pelanggan seringkali adalah sebentuk perilaku yang terkadang menyentuh sisi yang agak dalam perasaannya. Tapi, komprominya dengan waktu dan keadaan menempatkan semua perilaku pelanggan dalam arti yang sama "tidak berarti". Semua bergantung bagaimana perasaan menanggapi semua bentuk perilaku yang diterima, katanya. Karena semua bentuk pilihan dalam hidup selalu meminta sebentuk konsekwensi.

No comments: