Pada pagi yang basah gue bergerak keluar dari hotel tempat gue menginap di Tulung Agung. Saat gue menyeberang salah satu ruas jalan ada tukang becak nawari tumpangan.
"Ke Cuiri bepara, Pak?"
"Ya monggo terserah, Mas."
"Sepuluh ribu ya?"
"Tambahin dua ribu lah."
"Yowis ayo." Lantas gue meloncat ke dalam becak dan si abang dengan sigap menggenjot pedal. "Tadi, Mas, pagi2 saya sudah dihutangi sama tentara," tiba2 si abang curhat.
"Dihutangi gimana, Pak?"
"Pagi2, saya baru keluar rumah, belum sarapan lagi, eh, saya dapat penumpah seorang berseragam tentara. Dia minta saya anter dari luar kota kemari. Pas sudah sampai dia bilang bayarnya nanti kalau sudah gajian, padahal orang tersebut seminggu yang lalu juga masih ngutang trayek yang sama."
"Pagi2, saya baru keluar rumah, belum sarapan lagi, eh, saya dapat penumpah seorang berseragam tentara. Dia minta saya anter dari luar kota kemari. Pas sudah sampai dia bilang bayarnya nanti kalau sudah gajian, padahal orang tersebut seminggu yang lalu juga masih ngutang trayek yang sama."
"Lah, mengapa Bapak mau ngantar, kalau tahu dia masih ngutang trayek yang sama minggu kemarin?"
"Saya pikir dai mau bayar dobel tadi. Soalnya setelah dia ngutang minggu kemarin, baru tadi dia ketemu saya. Saya pikir dengan minta diantar lagi dai akan seklaian melunasi hutangya, e...tenyata malah ngutang lagi. Lagian mana saya berani menolak diminta ngantar, Mas."
Gue terdiam bingung mau ngomong apa.
"Padahal sudah balok kuning tiga lho, Mas. Kan seharusnya sudah lumayan pangkatnya, ya?" "Wah saya kurang paham soal kepangkatan dalam tentara, Pak."
"Katanya dia mau bayar pas tanggal muda. Sekarang tanggal berapa sih, Mas?"
"Tanggal 28, bentar lagi, Pak. Yah, hitung2 nabung."
"Ya, kalau dia ingat, Mas."
Lantas kami terdiam. Dalam diam gue jadi teringat mars untuk tentara yang sering dinyanyikan anak2 mahasiswa, pun saat gue masih jadi mahasiswa dulu.
....naik bis kota tak pernah bayar apalagi makan di warung tegal.......... Bukan bermaksud men-generalisir, tapi apa yang terjadi diatas memang tipikal hampir di semua tempat di Indonesia.
Gue terdiam bingung mau ngomong apa.
"Padahal sudah balok kuning tiga lho, Mas. Kan seharusnya sudah lumayan pangkatnya, ya?" "Wah saya kurang paham soal kepangkatan dalam tentara, Pak."
"Katanya dia mau bayar pas tanggal muda. Sekarang tanggal berapa sih, Mas?"
"Tanggal 28, bentar lagi, Pak. Yah, hitung2 nabung."
"Ya, kalau dia ingat, Mas."
Lantas kami terdiam. Dalam diam gue jadi teringat mars untuk tentara yang sering dinyanyikan anak2 mahasiswa, pun saat gue masih jadi mahasiswa dulu.
....naik bis kota tak pernah bayar apalagi makan di warung tegal.......... Bukan bermaksud men-generalisir, tapi apa yang terjadi diatas memang tipikal hampir di semua tempat di Indonesia.
No comments:
Post a Comment