Musim panen di kampung kami tahun ini dihiasi oleh kegagalan dan kegagalan. Dari sekian hektar lahan penduduk kami yang ditanami padi, kurang dari 10% yang bisa bertahan hidup sampai musim panen tiba serta menghasilkan padi. Menurut pengakuan beberapa tetangga, sampai pada akhir bulan mei kemarin (ketika musim kemarau nampak mau menepati janjinya) rata-rata sudah menamam padi antara 2 – 3 kali. Hasilnya, mayoritas adalah cerita suram.
Saya sempat bertanya, kenapa masih juga ditanamin padi setelah dua panen sebelumnya hasilnya selalu nihil? Jawaban mereka beragam, dari beragam tersebut yang paling sering aku dengar adalah, dua jawaban. Yang pertama,” mau ditanam apa lagi selain padi, saat lahan persawahan senantiasa penuh dengan air?. Tanaman palawija tidak akan sanggup bertahan diguyur hujan saban waktu”. Sedang jawaban lain yang umum terdengar adalah, “toh yang gagal panen bukan saya sendiri, Mas, banyak temannya, jadi ga terasa juga sedihnya”.
Jawaban yang kedua mengundang senyum satire. Jawaban ini dulu juga pernah aku dengar saat wilayah kami di-porak-porandakan gempa ( Mei 2006). Banyak orang mengatakan, bahwa, sedik dan berduka menyadari rumah, harta benda, sanak sodara terluka bahkan ada yang meninggal, tapi kesedihan tersebut sedikit berkurang begitu menyadari bahwa mereka mengalami derita tersebut tidak sendirian. Perasaan senasib ternyata menjadi penawar duka. Sayangnya perasaan senasib ini terkadang juga menjebak beberapa orang dalam perilaku negatif. Saya jadi inget salah satu tulisan dalam salah satu artikel di Kompas, lupa penulisanya. Disitu digambarkan bahwa beberapa orang jawa memiliki sikap seperti kepiting yang ditaruh di ember. Kepiting yang di taruh diember dalam jumlah yang banyak tidak pernah ada satupun yang bisa keluar dari ember, soalnya setiap kali ada yang berusaha menggapai bibir ember, pasti akan ditarik kepiting lainnya yang juga pingin keluar. Begitu terus menerus, sehingga yang terjadi justru upaya saling menarik dari kemungkinan untuk keluar dari ember. Demikian pula yang sering terjadi sebagian masyarakat di jawa, saat melihat satu atau dua orang mendadak berhasil dan menjadi berbeda dibanding sesama mereka, maka sebagian besar warga lainnya akan merasa tersaingi, iri, dan kemudian berusaha untuk menariknya kembali agar bernasib seperti mereka.
Berdasarkan pengalaman pribadi, beberapa kasus seperti apa yang digambarkan diatas pernah terjadi di sekitar lingkung kami. Dulu, kampung kami adalah wilayah dengan mayoritas penduduknya di cap sebagai anggota PKI. Saat rejim Suharto berkuasa banyak anak keturunan orang tua yang dicap PKI tidak diberi kesempatan untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun, berkat kegigihan dan manipulasi data, beberapa anak berhasil menggapai mimpi untuk menjadi PNS (polisi, tentara, atau guru). Nah, di saat melihat beberapa anak tetangga berhasil menjadi pegawai negeri yang memiliki pangkat dan kedudukan serta gaji bulanan, hal yang langka bagi lingkungan kami yang mayoritas warganya adalah petani dan buruh bangunan, banyak orang yang iri dibuatnya. Sikap iri ini akan semakin keras gaungnya dari keluarga yang merasa kelas menengah ke atas di kampung kami. Akibatnya upaya untuk menggugurkan mereka yang sudah menjadi PNS marak terjadi. Surat kaleng yang memberitahukan para PNS tersebut turunan PKI marak waktu itu. Untungnya dari kejadian tersebut tidak ada satupun yang berhasil dilengesrkan, hanya saja beberapa orang menyadari adanya surat kaleng yang sampai ke kantornya, dan membuat mereka jadi tidak bisa menikmati kenaikan pangkat dnegan leluasa.
Berdasarkan gambaran tersebut, perasaan senasib, yang semestinya adalah solidaritas atas mereka yang sama-sama menderita, bisa bermakna berbeda bagi masyarakat kami. Saat panen gagal, perasaan senasib memang menyatukan dan menguatkan mereka dalam menghadapi kesulitan, namun perasaan senasib juga menjebak mereka dalam kesamaan respon atas nasib yang mereka hadapi. Bahkan ketika sudah tahu apa yang dilakukannya kemungkinan besar akan gagal, hanya karena banyak orang melakukan hal yang sama, maka yang lain juga akan mengikutinya.
Inipun yang terjadi saat merespon kegagalan panen yang mendera wilayah kami setahun terakhir. Gagal panen yang berulang tidak direspon dengan mencari alternatif tanaman selain padi. Alasannya curah hujan terlalu tinggi dan air terlalu banyak di sawah, sehingga tidak mungkin ditanami selain padi. Bila didesak untuk mencari solusi dengan teknis penggarapan lahan yang banyak air tapi bukan untuk ditanami padi, mereka akan ngeles, ga papalah mas, lagian kalopun nanti gagal panen lagi, ora ndeweki (gak sendirian). Menurutku, mereka kurang berani saja mencoba alternatif lain yang berbeda dari kecenderungan umum. Bahkan ketika ada sedikit orang mencoba menanam pare dan kacang panjang, dan berhasil panen dengan baik, beberapa orang tetap ngeles, modalnya harus banyak dan sulit membuat lahan persemain yang tidak tergenang air saat hujan, padahal orang lain sudah jelas-jelas ada yang melakukan hal yang disebut sulit tersebut dan berhasil.
Warga kami bukanlah masuk kategori orang-orang malas. Mereka para pekerja yang lumayan handal. Saat musim tanam, pagi-pagi sekali mereka sudah turun ke sawah, menjelang tengah hari mereka istirahat makan siang dan tidur siang, selepas tengah hari mereka turun lagi ke sawah sampai badha sholat azhar. Kalaupun pun pada saat yang lain mereka nampak santai, karena memang sedang tidak ada yang dikerjakan. Lahan pertanian menjadi sedemikian sempit bagi masing-masing individu, sehingga waktu bekerja untuk lahan pertaniannya juga tidak banyak. Sehingga bila dikatakan mereka malas tidaklah benar. Bahkan mereka adalah orang-orang yang tabah menghadapi masalah. Gagal panen sampai dua kali pun mereka hadapi dengan sabar dan masih tetap sabar juga menanti panen berikutnya. Selama mereka merasa gagal bersama, maka mereka akan bisa menghadapi kegagalan dengan lapang dada.
Yang sebenarnya terjadi adalah, warga kami memang tidak seberani mereka yang terbiasa berspekulasi. Karena warga kami adalah petani yang terbiasa berkompromi dengan musim. Bahkan dengan harga pasar sekalipun mereka tidak terbiasa berkompromi. Musim dan musim-lah yang selalu menjadi panutan dan kawan bernegoisasi. Saat tiba-tiba musim tidak menepati janjinya, warga kami gagap.
Tantangan kedepan bagi warga kami adalah membiasakan diri mengartikan bahwa musim bukan lagi sesuatu yang bisa diprediksi. Musim adalah gejala alam yang bisa saja terjadi tanpa jadwal yang pasti. Beberapa orang yang berani melawan musim dengan meningalkan kebiasaan menanam padi tersu menerus saat hujan akan menjadi contoh kisah sukses. Tidak mudah memang menggerakan orang untuk mengikuti keberhasilan pihak lain dengan resiko yang besar. Tapi, waktu seringkali mengajarkan bahwa keberhasilan lebih manis daripada kebiasaan umum yang terbukti kurang berhasil.
Selain itu kebiasaan layaknya kepiting yang terperangkat di ember harus segera dihilangkan. Tidak mudah memang, akan tetapi dengan terbukanya wacana akibat pendidikan dan terbukanya wawasan solidaritas positif yang justru bisa merubah nasib mereka secara komunal, semoga mengurangi solidaritas dalam perspektif negatif tersebut. Saat ini, beberapa orang yang sudah tercerahkan oleh pendidikan dan dunia luar, sudah mulai berbagi kesempatan dengan pihak lain yang memungkinkan pihak lain mendapatkan akses untuk mengembakan diri. Kenyataan bahwa keberhasilan salah satu dari mereka juga bisa memberi jalan bagi keberhasilan yang lain menjadi pembelajaran yang sedemikian berharga bagi banyak orang.