Thursday, August 11, 2011

Mudik

Macet, cape, penat, dan menyebalkan, itulah bayangan yang akan banyak orang alami saat terjebak dan larut dalam keriuhan mudik menjelang lebaran. Melihat antrian panjang di depan loket penjulaan tiket kereta api atau antrian panjang kendaraan yang macet di jalan raya pada hari biasa, pasti akan membuat siapapun berdoa agar tidak terjebak di dalamnya. Tapi, manakala musim mudik tiba, banyak orang yang dengan sukarela menjebloskan dirinya dalam situasi tersebut, termasuk diriku.

Mungkin bagi banyak orang yang tidak sempat terjebak dalam budaya mudik akan geleng-geleng kepala melihat animo masyarakat yang sedemikian luar biasa terhadap ritual mudik menjelang lebaran. Dimana banyak orang rela terjebak dalam kerepotan, kesulitan dan bahkan masalah, demi mudik. Tidak terhitung berapa uang yang harus dihamburkan, pun korban-korban yang lain.

Tapi, bagi kami, orang jawa yg telah sekian tahun menikmati mudik dengan segala warnanya, mudik tetaplah tradisi yang sanggup membangkitkan energi luar biasa besar. Bagi kami, yang terpaksa harus tercerai berai dengan orang tua dan sanak saudara demi mengikuti guliran nasib mencari penghidupan, mudik menjadi salah satu (buat beberapa orang bahkan satu-satunya) pengobat rindu kepada kampung halaman dan keluarga. Ketidakmerataan sumber-sumber ekonomi di banyak wilayah di negeri ini memaksa banyak orang, pun saya,i harus memilih wilayah yang berbeda dengan tempat keluarga menetap demi mencari kehidupan yang lebih baik. Penumpukan sumber ekonomi hanya di pusat kekuasaan menjadikan pergerakan manusia menuju pusat kekuasaan tidak bisa dihindarkan. Imbasnya, banyak kampung yang harus merelakan ditinggal pergi putra-putri terbaik mereka.

Bisa dibayangkan, apa jadinya wajah-wajah kampung, bila putra-putri terbaik tersebut kebanyakan menyerbu ibukota demi yang namanya kehidupan lebih baik ? Wilayah yang sepi dengan keterbatasan sumberdaya yang ada. Wilayah tersebut baru akan mendapatkan kemeriahan dan limpahan materi saat musim libur dan musim mudik tiba. Geliat ekonomi wilayah-wilayah yang banyak ditinggalkan anak kandungnya akan nampak hidup ketika musim mudik tiba. Banyak uang yang sebelumnya terjebak di Jakarta bisa dengan mudah dipaksa ikut berputar ke banyak daerah. Bila tradisi mudik tidak terjaga, maka banyak kampung akan tenggelam dalam keterasingan, bahkan oleh anak kandungnya sendiri.

Selain itu, banyak keluarga yang terpaksa rela melepas; anak, ayah, suami pun anggota keluarga lainnya bekerja di Jakarta, bukan berarti merelakan mereka pergi tanpa ikatan silahturahmi. Yang namanya keluarga adalah ikatan emosional yang terjalin dengan melibatkan banyak variabel. Dan ikatan itu tidak bisa diputus begitu saja oleh karena jarak dan tempat yang berbeda. Ikatan emosinal tersebut setiap waktu membutuhkan wadah untuk difasilitasi. Kebutuhan akan silahturahmi bukan sekedar bertatap muka, saling bercerita, pun pamer akan kesuksesan masing-masing. Silahturahmi adalah kebutuhan batiniah layaknya orang membutuhkan relaksasi setelah sekian lama terjebak penatnya rutinitas harian. Bertemu keluarga adalah obat mujarab terhadap segala problematika bagi mereka yang setiap harinya terjebak dalam dinamika kerasnya kehidupan kota besar. Banyak orang hanya memiliki kesempatan berelaksasi saat lebaran tiba. Banyak orang hanya bisa mengunjungi ayah, ibu dan kerabatnya, setahun sekali. Bahkan banyak orang membutuhkan tekad dan energi yang sedemikian besar untuk bisa mengumpulkan materi guna memenuhi hasrat mudik setahun sekali tersebut.

Jadi, sepenat dan sesulit apapun tantangan yang akan dihadapi saat mudik, banyak orang, akan rela terjebak di dalamnya. Demi yang namanya silahturahmi dan rekreasi pemuas dahaga batiniah. Mungkin terkesan hiperbolis, tapi, itulah realitas yang dialami banyak orang.

No comments: