Friday, October 06, 2006

Not Romantic

Apakah gue salah satu orang yang sedemikian mencintai binatang? Pertanyaan ini sering gue lontarkan pada diri gue sendiri mengingat setiap kali membaca berita tentang pembantaian binatang atau tindakan yang mengancam kelangsungan hidup binatang gue merasakan adanya rasa kurang senang dalam diri gue. Bahkan terkadang gue membawa emosi gue dalam merespon kejadian tersebut.

Setelah sekian lama gue renungkan, jawaban dari pertanyaan diatas ternyata adalah ”bukan”. Gue bukanlah orang yang sedemikian mencintai binatang, pun suka. Kalau gue merespon kejadian yang gue paparkanj diatas pakai emosi segala karena gue berempati pada nasib binatang yang secara teknis tidak akan sanggup melawan manusia. Ya, gue lebih berempati pada nasib mereka yang dikalahkan, entah itu manusia pun binatang.

Setelah umat manusia muncul sebagai bagian dari evolusi primata yang sanggup menemukan eksistensinya, saat itu juga bahaya bagi keseimbangan alam mulai muncul. Dan bahaya tersebut kelak di kemudian hari terbukti bukan hanya sebuah isapan jempol. Manusia lantas berkembang menjadi spesies tersendiri yang dengan kemampuan nalarnya sanggup mengendalikan setiap jenis kehidupan yang tumbuh dan berkembang bersamanya bahkan biosper yang merupakan ibu dari semua kehidupan. Hanya manusia makluk yang sanggup mengendalikan bahkan berpotensi menghancurkan tempat dimana sumber kehidupan berasal dan berada.

Perkembangan nalar memunculkan teknis-teknis pemanfaatan lahan dan segala macam yang hidup disekitarnya sebagai alat bagi manusia untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Manusia lantas menjadi tuhan bagi diri mereka pun tuhan bagi segala bentuk kehidupan di biosper. Apa yang dianggap layak untuk bertahan hidup dan apa yang layak dimusnahkan ditentukan oleh manusia. Proses alami yang terbentuk dalam dinamika kehidupan biosper menjadi kacau balau oleh intervensi kesadaran umat manusia. Akibatnya semua jenis kehidupan di biosper bumi ini bergantung pada kearifan makluk manusia. Bahkan keberlangsungan kehidupan biosper beserta semua isinya tergantung pada kearifan manusia. Sayangnya kearifan ini seringkali dimiliki oleh segelintir orang saja dalam setiap sejarah peradapan. Sehingga penaklukan manusia atas sesamanya pun atas mereka (spesies lain) yang tidak memiliki kemampuan bargaining menjadi cerita basi sejarah kehidupan.

Bila penaklukan manusia atas sesamanya kemudian mengalami penurunan kuantitas akibat tumbuhnya kesadaran atas hak asasi sesama umat manusia, serta adanya bargaining antar sesama umat mansuia. Penaklukan manusia atas binatang pun atas biosper hanya sedikit mengalami penurunan. Penaklukan dan penghancuran demi yang namanya kepentingan personal umat manusia masih terus berjalan. Dan gue yang mencoba berpikir rasional tidak menyukai adanya penaklukan yang berpotensi pada adanya rasa ketidakadilan.

Pada dasarnya gue bukan jenis manusia yang sok romantis mencintai binatang dan berjuang demi kepentingan hidup binatang. Gue lebih suka menyebut diri gue mencoba bersikap rasional untuk menentang adanya penindasan atas sesama makluk hidup dalam biosper, demi kepentingan semua umat dan biosper itu sendiri. Bila manusia tidak berbuat berlebihan dalam memanfaatkan setiap jenis kehidupan dalam biosper, niscaya keberlangsungan hidup biosper beserta seluruh isinya akan berlangsung lebih lama. Kesadaran tersebut, menurut gue, hanya bisa muncul bila kita berpikir secara rasional. Dan menurut gue kelangsungan kehidupan dalam biosper akan terjaga oleh karena rasionalitas pikiran, bukan sebuah romantisme. Karena romantisme hanya akan memunculkan kegenitan dalam memandang persoalan, bukan mencoba melihat dan mensikapi setiap kejadian dengan lebih sistematis dan terarah.

Mencintai

Gue pernah mencintai orang dengan sedemikian rupa, hingga banyak orang menyebut gue memiliki cinta yang sedemikian keras kepala. Sebaliknya gue juga pernah menerima cinta yang sedemikian keras kepala. Sayangnya dari semua yang keras kepala tersebut tidak menghasilkan gaung yang seirama. Justru menghasilkan suara sumbang dari masing-masing pihak. Bodohnya lagi, baik gue maupun pihak lain yang juga pernah memiliki kekeraskepalaan mencoba membuktikan bahwa dengan berjalannya waktu dirinya (pun gue) akan sanggup menyatukan kesumbangan yang ada menjadi sebuah dendang yang seirama dan menghasilkan nada-nada penuh warna. Kami lupa bahwa dendang lagu yang baik dan menghasilkan irama penuh warna bagi semua pihak, harus berasal dari perpaduan rasa yang menyatu, bukan dari kegigihan hati yang sepihak dan tidak lengkap.

Bahkan waktu tidak sanggup membangunkan kesadaran, hanya pengabain dan penisbian eksistensilah yang lantas menyadarkan rasa yang keraskepala menjadi lebih rasional. Sayangnya, gue menjadi pihak yang paling belakang sanggup menghancurkan kekeraskepalaan yang ada, setelah semua pihak mampu memasuki alam rasionalitas dan bisa menikmati langgam lagu yang lebih baik.

Walau sangat terlambat, waktu telah mengajari gue bahwa mencintai ternyata bukan pekerjaan yang mudah. Memerlukan sebuah kecermatan dan proses pemikiran yang matang. Karena bila salah bisa menghadirkan neraka, baik bagi diri sendiri pun orang lain. Waktu juga telah menyadarkan gue, bahwa bercinta bisa dilakukan bersama dengan perempuan cantik manapun, tapi mencintai ternyata tidak bisa dilakukan kepada sembarang perempuan secantik dan semenarik apapun. Karena untuk bisa mencintai dibutuhkan konsistensi rasa yang datang dari proses perenungan panjang ditambah adanya penghargaan dari pihak yang dilimpahi rasa. Tanpa itu, mencintai menjadi sebuah pekerjaan sia-sia yang akan menghabiskan umur. Maka cintailah orang yang tepat, agar tidak terjebak dalam lingkaran waktu yang kosong, dan bodoh.