Apakah gue salah satu orang yang sedemikian mencintai binatang? Pertanyaan ini sering gue lontarkan pada diri gue sendiri mengingat setiap kali membaca berita tentang pembantaian binatang atau tindakan yang mengancam kelangsungan hidup binatang gue merasakan adanya rasa kurang senang dalam diri gue. Bahkan terkadang gue membawa emosi gue dalam merespon kejadian tersebut.
Setelah sekian lama gue renungkan, jawaban dari pertanyaan diatas ternyata adalah ”bukan”. Gue bukanlah orang yang sedemikian mencintai binatang, pun suka. Kalau gue merespon kejadian yang gue paparkanj diatas pakai emosi segala karena gue berempati pada nasib binatang yang secara teknis tidak akan sanggup melawan manusia. Ya, gue lebih berempati pada nasib mereka yang dikalahkan, entah itu manusia pun binatang.
Setelah umat manusia muncul sebagai bagian dari evolusi primata yang sanggup menemukan eksistensinya, saat itu juga bahaya bagi keseimbangan alam mulai muncul. Dan bahaya tersebut kelak di kemudian hari terbukti bukan hanya sebuah isapan jempol. Manusia lantas berkembang menjadi spesies tersendiri yang dengan kemampuan nalarnya sanggup mengendalikan setiap jenis kehidupan yang tumbuh dan berkembang bersamanya bahkan biosper yang merupakan ibu dari semua kehidupan. Hanya manusia makluk yang sanggup mengendalikan bahkan berpotensi menghancurkan tempat dimana sumber kehidupan berasal dan berada.
Perkembangan nalar memunculkan teknis-teknis pemanfaatan lahan dan segala macam yang hidup disekitarnya sebagai alat bagi manusia untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Manusia lantas menjadi tuhan bagi diri mereka pun tuhan bagi segala bentuk kehidupan di biosper. Apa yang dianggap layak untuk bertahan hidup dan apa yang layak dimusnahkan ditentukan oleh manusia. Proses alami yang terbentuk dalam dinamika kehidupan biosper menjadi kacau balau oleh intervensi kesadaran umat manusia. Akibatnya semua jenis kehidupan di biosper bumi ini bergantung pada kearifan makluk manusia. Bahkan keberlangsungan kehidupan biosper beserta semua isinya tergantung pada kearifan manusia. Sayangnya kearifan ini seringkali dimiliki oleh segelintir orang saja dalam setiap sejarah peradapan. Sehingga penaklukan manusia atas sesamanya pun atas mereka (spesies lain) yang tidak memiliki kemampuan bargaining menjadi cerita basi sejarah kehidupan.
Bila penaklukan manusia atas sesamanya kemudian mengalami penurunan kuantitas akibat tumbuhnya kesadaran atas hak asasi sesama umat manusia, serta adanya bargaining antar sesama umat mansuia. Penaklukan manusia atas binatang pun atas biosper hanya sedikit mengalami penurunan. Penaklukan dan penghancuran demi yang namanya kepentingan personal umat manusia masih terus berjalan. Dan gue yang mencoba berpikir rasional tidak menyukai adanya penaklukan yang berpotensi pada adanya rasa ketidakadilan.
Pada dasarnya gue bukan jenis manusia yang sok romantis mencintai binatang dan berjuang demi kepentingan hidup binatang. Gue lebih suka menyebut diri gue mencoba bersikap rasional untuk menentang adanya penindasan atas sesama makluk hidup dalam biosper, demi kepentingan semua umat dan biosper itu sendiri. Bila manusia tidak berbuat berlebihan dalam memanfaatkan setiap jenis kehidupan dalam biosper, niscaya keberlangsungan hidup biosper beserta seluruh isinya akan berlangsung lebih lama. Kesadaran tersebut, menurut gue, hanya bisa muncul bila kita berpikir secara rasional. Dan menurut gue kelangsungan kehidupan dalam biosper akan terjaga oleh karena rasionalitas pikiran, bukan sebuah romantisme. Karena romantisme hanya akan memunculkan kegenitan dalam memandang persoalan, bukan mencoba melihat dan mensikapi setiap kejadian dengan lebih sistematis dan terarah.