Gue pernah mencintai orang dengan sedemikian rupa, hingga banyak orang menyebut gue memiliki cinta yang sedemikian keras kepala. Sebaliknya gue juga pernah menerima cinta yang sedemikian keras kepala. Sayangnya dari semua yang keras kepala tersebut tidak menghasilkan gaung yang seirama. Justru menghasilkan suara sumbang dari masing-masing pihak. Bodohnya lagi, baik gue maupun pihak lain yang juga pernah memiliki kekeraskepalaan mencoba membuktikan bahwa dengan berjalannya waktu dirinya (pun gue) akan sanggup menyatukan kesumbangan yang ada menjadi sebuah dendang yang seirama dan menghasilkan nada-nada penuh warna. Kami lupa bahwa dendang lagu yang baik dan menghasilkan irama penuh warna bagi semua pihak, harus berasal dari perpaduan rasa yang menyatu, bukan dari kegigihan hati yang sepihak dan tidak lengkap.
Bahkan waktu tidak sanggup membangunkan kesadaran, hanya pengabain dan penisbian eksistensilah yang lantas menyadarkan rasa yang keraskepala menjadi lebih rasional. Sayangnya, gue menjadi pihak yang paling belakang sanggup menghancurkan kekeraskepalaan yang ada, setelah semua pihak mampu memasuki alam rasionalitas dan bisa menikmati langgam lagu yang lebih baik.
Walau sangat terlambat, waktu telah mengajari gue bahwa mencintai ternyata bukan pekerjaan yang mudah. Memerlukan sebuah kecermatan dan proses pemikiran yang matang. Karena bila salah bisa menghadirkan neraka, baik bagi diri sendiri pun orang lain. Waktu juga telah menyadarkan gue, bahwa bercinta bisa dilakukan bersama dengan perempuan cantik manapun, tapi mencintai ternyata tidak bisa dilakukan kepada sembarang perempuan secantik dan semenarik apapun. Karena untuk bisa mencintai dibutuhkan konsistensi rasa yang datang dari proses perenungan panjang ditambah adanya penghargaan dari pihak yang dilimpahi rasa. Tanpa itu, mencintai menjadi sebuah pekerjaan sia-sia yang akan menghabiskan umur. Maka cintailah orang yang tepat, agar tidak terjebak dalam lingkaran waktu yang kosong, dan bodoh.
No comments:
Post a Comment