Burung-burung bernyanyi riang
Tinggi di atas sana
Menyambut fajar akan datang
dengan penuh harapan
Burung-burung bernyanyi riang
Sangat riang gembira
Menyambut pagi kan menerang
Menerangi dunia
(Ira Maya Sopha, lupa judul lagu dan albumnya)
Beberapa waktu yang lalu gue menyempatkan diri mengunjungi salah satu sepupu di Jakarta. Sepupu gue yang satu ini keranjingan memelihara burung sebagai bagian dari hobbynya. Burung yang dia pelihara banyak ragamnya dan harganya menurut gue dah kelewat mahal.
Mahal dalam arti banyak hal, mahal dalam hitungan nominal, juga mahal bagi keseimbangan alam. Untuk dapat salah satu burung sepupu gue harus mengeluarkan uang yang lumayan banyak, serta orang lain harus membayar kehilangan satu burung yang sebenarnya bisa beranak pinak dan memberikan sumbangan bagi kelengkapan kehidupan. Dengan adanya satu burung yang dia pelihara maka berarti satu kesempatan burung untuk melanjutkan keturunan terputus. Bagaimana bila banyak burung yang dipelihara oleh banyak orang? Berarti sekian banyak proses wajar kehidupan dunia urung karena sudah diacak-acak.
Dahulu, di kampung halaman gue, kampung kecil pinggiran Klaten, burung dalam banyak ragam menjadi warna tersendiri bagi kehidupan kampung kami. Menurut gue hal itu memberikan nuansa tersendiri bagi suasana kampung kecil itu. Saat pagi tiba, atau saat senja turun, ada saja suara burung yang bikin suasana menjadi sedikit magis
Tapi hal itu terjadi dua puluh tahun yang lalu, saat gue masih menikmati menjadi anak kecil yang lepas tanpa beban hidup yang berat. Seiring bertambahnya waktu, burung-burung itu banyak yang tewas oleh ganasnya senapan angin orang2 kampung gue sendiri, pun ganasnya perdagangan burung. Perlahan tapi pasti suara burung menjadi barang langka saat gue datang ke kampung menjenguk mak gue. Suara burung hilang diganti suara stereo set tetangga gue yang gak mengenal waktu. Parahnya lagi, di saat suara burung sudah semakin sulit didengar, masih banyak anak-anak yang menenteng senapan angin mencari sisa-sisa makluk bersayap itu.
Semakin hari, semakin sulit menemukan burung di kampung gue. Jangan berkhayal akan mendengar kicau burung dalam macam ragam dari kampung gue, apalagi dari kota di sekitar kampung gue, kecuali berasal dari sangkar-sangkar yang tertenteng di depan rumah orang2 yang hobby memelihara burung.
Kultur Jawa menempatkan hobby memelihara burung sebagai salah satu pertanda bahwa hidup orang tersebut sudah mendekati kesempurnaan (kesuksesan). Memelihara burung dianggap sebagai salah satu pertanda bahwa seseorang sudah berhasil menempati kelas tertentu dalam masyarakat, selain memiliki keris (benda keramat/yang antik dan berharga mahal), perempuan (istri cantik), serta kuda (mungkin sekarang berubah jadi mobil).
Sebenarnya seiring perkembangan peradapan dan alam pikiran cara pandang kultural sebagian Orang Jawa terhadap embel2 pembentuk kelas sosial tersebut mulai bergeser. Semisal kuda dan keris dalam terminologi pemilikan benda2 perlambang keramat dan mahal sudah berganti menjadi mobil dan benda mahal seperti stereo set, atau sesuatu yang bernilai tinggi secara nominal. Namun perpspektif terhadap kepemilikan perempuan cantik (barang kali), serta burung sebagai klangenan (sesuatu yang bisa menghibur), tidak/belum mengalami perubahan. Akibatnya bisa dilihat, rumah2 megah orang2 berduit sering kali dihiasi oleh perempuan cantik dan kicau burung dari jenis yang mahal.
Sehingga tidak heran bila burung sampai detik ini masih menjadi komoditi yang mahal dan terus diburu oleh banyak orang. Hampir semua jenis burung, termasuk yang semasa gue masih kecil gak laku di jual, menjadi laku. Bisa ditebak bagaimana nasib hewan yang minim perlindungan hukum, bisa ditangkap bebas, serta berharga jual mahal ini?
Burung memang memiliki kelebihan, mulai dari corak warnanya, bentuk tubuh, serta kemampuannya dalam menyanyikan nada-nada dalam niotasi yang beragam. Mungkin burung adalah salah satu dari keberhasilan makluk hidup dalam berevolusi (selain manusia tentunya). Disamping dikarunia/berhasil mendapatkan kemampuan terbang, mereka juga memiliki bentuk tubuh, corak warna, tingkah polah, dan kemampuan bersuara yang luar biasa indah. Burung ibarat makluk yang secara alamiah mendapatkan keindahan dari semesta.
Tapi, celakalah burung yang menyimpan keindahan tersebut. Justru karena keagungan dan keindahan yang dia milikilah lantas membuat manusia memburunya untuk dijadikan simbol bagi kelas sosial mereka.
Wacana yang berkembang dalam kehidupan manusia menempatkan manusia sebagai mahluk yang seolah memiliki keinginan tanpa batas. Repotnya, keinginan itu memaksa manusia berjuang sekuat tenaga untuk memenuhinya. Tidak peduli sekalipun keinginan itu adalah petaka bagi makluk lain. Dan keinginan untuk menikmati keindahan yang seolah tanpa batas menjadikan manusia memburu setiap jengkal keindahan yang disediakan alam. Akibatnya, burung sebagai salah satu pemilik keindahan alamiah tanpa batas, menjadi salah satu mangsa bagi makluk manusia. Akibatnya penyusutan makluk bersayap tersebut seolah tidak bisa direm. Dan bukan hal yang tidak mungkin dalam hitungan beberapa tahun kedepan, pohon yang tumbuh di wilayah negeri ini akan semakin sedikit dihinggapi burung, bila tidak ada kemauan dan paksaan untuk mengentikan kegiatan mengobyekan burung sebagai komoditi bagi orang-orang kayak sepupu gue, maupun mereka yang masih membutuhkan burung untuk sekedar memenuhi ego akan kesenangan, maupun mereka yang membutuhkan burung untuk menunjukan kelas sosialnya.