Tuesday, February 14, 2006

Rendezvous III

Sebuah awal yang sebenarnya kurang menyenangkan bagi sebuah upaya untuk menjalin relasi yang lebih baik. Sempat membuat gue memiliki persepsi negative tentang ketiadaan penghargaan yang pantas bagi seseorang yang dalam hitungan bulan pernah bertukar cerita, walau hanya menggunakan gelombang magnetis sebagai media.

Hampir saja semuanya gue buang menjadi serpihan cerita basi yang pasti tidak akan diingat lagi, seandainya saja tidak ada permintaan untuk sedikit memberi ruang dan waktu bagi sebuah proses.

Gue sangat mempercayai proses. Karena manusia berkembang dalam dinamikan alam pikiran, sehingga terkadang manusia membutuhkan waktu untuk sanggup memahami dan menciptakan sesuatu. Dan bagi gue, tidak ada yang salah dengan meredakan sedikit ego bagi sebuah proses yang mungkin saja akan membawa sebuah perubahan yang positip.

Monday, February 13, 2006

Burung Burung


Burung-burung bernyanyi riang
Tinggi di atas sana
Menyambut fajar akan datang
dengan penuh harapan

Burung-burung bernyanyi riang
Sangat riang gembira
Menyambut pagi kan menerang
Menerangi dunia
(Ira Maya Sopha, lupa judul lagu dan albumnya)

Beberapa waktu yang lalu gue menyempatkan diri mengunjungi salah satu sepupu di Jakarta. Sepupu gue yang satu ini keranjingan memelihara burung sebagai bagian dari hobbynya. Burung yang dia pelihara banyak ragamnya dan harganya menurut gue dah kelewat mahal.

Mahal dalam arti banyak hal, mahal dalam hitungan nominal, juga mahal bagi keseimbangan alam. Untuk dapat salah satu burung sepupu gue harus mengeluarkan uang yang lumayan banyak, serta orang lain harus membayar kehilangan satu burung yang sebenarnya bisa beranak pinak dan memberikan sumbangan bagi kelengkapan kehidupan. Dengan adanya satu burung yang dia pelihara maka berarti satu kesempatan burung untuk melanjutkan keturunan terputus. Bagaimana bila banyak burung yang dipelihara oleh banyak orang? Berarti sekian banyak proses wajar kehidupan dunia urung karena sudah diacak-acak.

Dahulu, di kampung halaman gue, kampung kecil pinggiran Klaten, burung dalam banyak ragam menjadi warna tersendiri bagi kehidupan kampung kami. Menurut gue hal itu memberikan nuansa tersendiri bagi suasana kampung kecil itu. Saat pagi tiba, atau saat senja turun, ada saja suara burung yang bikin suasana menjadi sedikit magis

Tapi hal itu terjadi dua puluh tahun yang lalu, saat gue masih menikmati menjadi anak kecil yang lepas tanpa beban hidup yang berat. Seiring bertambahnya waktu, burung-burung itu banyak yang tewas oleh ganasnya senapan angin orang2 kampung gue sendiri, pun ganasnya perdagangan burung. Perlahan tapi pasti suara burung menjadi barang langka saat gue datang ke kampung menjenguk mak gue. Suara burung hilang diganti suara stereo set tetangga gue yang gak mengenal waktu. Parahnya lagi, di saat suara burung sudah semakin sulit didengar, masih banyak anak-anak yang menenteng senapan angin mencari sisa-sisa makluk bersayap itu.

Semakin hari, semakin sulit menemukan burung di kampung gue. Jangan berkhayal akan mendengar kicau burung dalam macam ragam dari kampung gue, apalagi dari kota di sekitar kampung gue, kecuali berasal dari sangkar-sangkar yang tertenteng di depan rumah orang2 yang hobby memelihara burung.

Kultur Jawa menempatkan hobby memelihara burung sebagai salah satu pertanda bahwa hidup orang tersebut sudah mendekati kesempurnaan (kesuksesan). Memelihara burung dianggap sebagai salah satu pertanda bahwa seseorang sudah berhasil menempati kelas tertentu dalam masyarakat, selain memiliki keris (benda keramat/yang antik dan berharga mahal), perempuan (istri cantik), serta kuda (mungkin sekarang berubah jadi mobil).

Sebenarnya seiring perkembangan peradapan dan alam pikiran cara pandang kultural sebagian Orang Jawa terhadap embel2 pembentuk kelas sosial tersebut mulai bergeser. Semisal kuda dan keris dalam terminologi pemilikan benda2 perlambang keramat dan mahal sudah berganti menjadi mobil dan benda mahal seperti stereo set, atau sesuatu yang bernilai tinggi secara nominal. Namun perpspektif terhadap kepemilikan perempuan cantik (barang kali), serta burung sebagai klangenan (sesuatu yang bisa menghibur), tidak/belum mengalami perubahan. Akibatnya bisa dilihat, rumah2 megah orang2 berduit sering kali dihiasi oleh perempuan cantik dan kicau burung dari jenis yang mahal.

Sehingga tidak heran bila burung sampai detik ini masih menjadi komoditi yang mahal dan terus diburu oleh banyak orang. Hampir semua jenis burung, termasuk yang semasa gue masih kecil gak laku di jual, menjadi laku. Bisa ditebak bagaimana nasib hewan yang minim perlindungan hukum, bisa ditangkap bebas, serta berharga jual mahal ini?

Burung memang memiliki kelebihan, mulai dari corak warnanya, bentuk tubuh, serta kemampuannya dalam menyanyikan nada-nada dalam niotasi yang beragam. Mungkin burung adalah salah satu dari keberhasilan makluk hidup dalam berevolusi (selain manusia tentunya). Disamping dikarunia/berhasil mendapatkan kemampuan terbang, mereka juga memiliki bentuk tubuh, corak warna, tingkah polah, dan kemampuan bersuara yang luar biasa indah. Burung ibarat makluk yang secara alamiah mendapatkan keindahan dari semesta.
Tapi, celakalah burung yang menyimpan keindahan tersebut. Justru karena keagungan dan keindahan yang dia milikilah lantas membuat manusia memburunya untuk dijadikan simbol bagi kelas sosial mereka.

Wacana yang berkembang dalam kehidupan manusia menempatkan manusia sebagai mahluk yang seolah memiliki keinginan tanpa batas. Repotnya, keinginan itu memaksa manusia berjuang sekuat tenaga untuk memenuhinya. Tidak peduli sekalipun keinginan itu adalah petaka bagi makluk lain. Dan keinginan untuk menikmati keindahan yang seolah tanpa batas menjadikan manusia memburu setiap jengkal keindahan yang disediakan alam. Akibatnya, burung sebagai salah satu pemilik keindahan alamiah tanpa batas, menjadi salah satu mangsa bagi makluk manusia. Akibatnya penyusutan makluk bersayap tersebut seolah tidak bisa direm. Dan bukan hal yang tidak mungkin dalam hitungan beberapa tahun kedepan, pohon yang tumbuh di wilayah negeri ini akan semakin sedikit dihinggapi burung, bila tidak ada kemauan dan paksaan untuk mengentikan kegiatan mengobyekan burung sebagai komoditi bagi orang-orang kayak sepupu gue, maupun mereka yang masih membutuhkan burung untuk sekedar memenuhi ego akan kesenangan, maupun mereka yang membutuhkan burung untuk menunjukan kelas sosialnya.

Friday, February 10, 2006

Rendezvous II

ah, jadinya selalu sentimentil sehabis melihat yang satu ini. tapi, sebelum hari dimana sebuah ikatan akan memenggal kemungkinan pertemuan tanpa prasangka, perlu ada sedikit tatap muka untuk sekedar melepaskan sekian ucapan yang menenangkan jiwa masing2.
walau mungkin hanya sekedar ungkapan pelipur lara, tapi paling tidak bisa sedikit mengurangi beban yang mengimpit. yah, ibarat melempar sedikit batu berat yang terkadang masih menyembul di dalam rongga dada

Saturday, February 04, 2006

Dream Theater

musik? well, apa yang terjadi seandainya di dunia ini tidak ada hasil kesenian yang dinamakan musik? mungkin manusia akan terjebak dalam kondisi yang statis dan tidak memiliki abstraksi yang sedemikian liar, hingga perkembangan jaman jadi seperti sekarang.

musik adalah salah satu pencapaian manusia yang sanggup merubah warna kehidupan menjadi sedemiakian berwarna. sebuah media yang sanggup mewadahi imagi yang tak bertepi, tapi juga bahasa verbal dalam warena yang lain. musik bisa menjadi kiasan yang akan tersimpan erat dalam ingatan mereka yang mendengarkan, pun bisa menjadi segumpal ungkapan yang paling sederhana dari anak manusia.

musik telah menjadi sesuatu yang penting bagi tingkah laku manusia. dalam perkembangannya lantas musik menjadi media yang paling mudah untuk mengekspresikan suasana hati siapapun. munculnya musik jazz adalah simbol dari suara hati kaum negro atas tindasan sistem yang menyengsarakan hidup mereka. musik rock adalah simbol dari gugatan dan perlawanan anak muda atas tatanan sosial yang ada. musik menjadi sedemikian reflektif atas apa saja yang dialami dan ingin dimunculkan oleh siapapun.

dan saking reflektifnya musik buat gue, yang sebenarnya sedikitkpun gak bisa memainkan alat musik pun mengerti partitur musik. kadang2 gue merasa tidak ada lagu atau satupun jenis karya musik yang sanggup membuat perasaan gue tenteram. suatu waktu, semua koleksi musik mendadak seolah menjadi sedemikian basi. kalau sedang dalam kondisi seperti itu, gue bisa membayangkan bagaimana rasanya kalau musik tidak berkembang dalam berbagai warna dan aliran. pasti hidup jadi sedemikian hambar dan menyebalkan. karena pada prinsipnya kebutuhan manusia terhadap apapun, pun terhadap musik, tidak mengenal batas. sehingga dalam suatu masa tertentu manusia seringkali berada dalam situasi dimana dirin mereka merasa tidak terpuaskan dalam hal apapun. kalau kemudian manusia pada suatu masa berhenti mencari pemenuhan keinginan dan merasa terpuaskan perasaanya akan kebutuhan yang selama ini dicari, hal itu kebanyakan dilakuakn sebagai bagian dari kompromi atas desakan kebutuhan yang belum bisa terpenuhi. tanpa kemampuan kompromi tersebut, niscaya rumah sakit jiwa akan selalu penuh.

dalam hal menyukai musik, mungkin gue tidak segila orang2 yang lain. namun, tetep saja keinginan gue untuk terus menikmati musik dalam berbagai bentuk dan berbagai aliran memaksa gue terus mencoba membiasakan telinga gue dengan sekian banyak aliran musik. dan karena masa remaja gue tumbuh di tahun 80-an dimana musik rock masih merajai pasar, maka selera musik gue terbentuk oleh senmtuhan musik yang cenderung agresive.

nah, musik2 yang cenderung agrsive ini ternyata lama-kelamaan sering membuat gue bosan, karena miskinnya improvisasi dalam karya2 musik agresive. musik2 tahun 80-an, yang pernah sedemikian gue sukai hanya sanggup membuat gejolak rasa gue muncul dan bergelora, tapi seringkali gagal membawa gue ke dalam nuansa yang kontemplatif. padahal, mendengarkan musik seringkali sebagai cara untuk menemukan suasana hati yang sedemikian rupa. dan tanpa alunan musik yang sanggup menerbangkan imagi, niscaya suasanan hati yang diharapkan sulit untuk muncul. beruntunglah tahun 60 akhir dan 70-an, banyak musisi yang mengasilkan karya2 besar yang bernuansa kontemplatif.

namun, banyaknya karya tahun 60-an akhir dan 70-an, suatu ketika tetap saja terasa tidak cukup. disamping, kebanyakan dari mereka sudah berhenti berkarya, karya2 baru mereka juga tidak sekontempaltif karya2 mereka yang dahulu. beruntung, ditengah kemiskinan warna musik agresive yang agak kontemplatif, dunia musik masih memiliki Dream Theater, salah satu icon aliran progressive metal. kelompok yang satu ini sanggup mengisi kekeringan musik yang bernuansa agresive dengan sebentuk karya yang penuh warna. warna improvisasi dalam karya2 mereka membuat gue yang gak ngerti bermain musik merasa mendapatkan ruang untuk melakukan kontemplasi dalam hentakan alunan musik mereka.

sejauh ini karya2 dream theater sanggup menghibur dan memenuhi desakan kebutuhan gue akan musik yang bernuansa angresive tapi memiliki kekayaan warna dalam improvisasi yang dibalut dengan skill bermusik yang bagus. dan beruntungnya lagi, mereka cukup konstan membuat karya musik, ditengah gencarnya serbuan musik bernuansa easy listening serta segmen pasar yang berkembang saat ini yang cenderung didikte oleh pemilik modal tidak sanggup membendung keinginan orang untuk mendengarkan aroma musik yang berkualitas. dan dream theater sanggup memberikan jawaban atas kebutuhan tersebut. sebenarnya, banyak kelompok musik yang berkarya berdasarkan idealisme membangun komposisi musik yang tidak standar dengan balutan skill yang sangat memadai, mungkin karena warna musiknya sulit menembus kungkungan mainstream pasar, maka seolah mereka tenggelam.