Saturday, February 04, 2006

Dream Theater

musik? well, apa yang terjadi seandainya di dunia ini tidak ada hasil kesenian yang dinamakan musik? mungkin manusia akan terjebak dalam kondisi yang statis dan tidak memiliki abstraksi yang sedemikian liar, hingga perkembangan jaman jadi seperti sekarang.

musik adalah salah satu pencapaian manusia yang sanggup merubah warna kehidupan menjadi sedemiakian berwarna. sebuah media yang sanggup mewadahi imagi yang tak bertepi, tapi juga bahasa verbal dalam warena yang lain. musik bisa menjadi kiasan yang akan tersimpan erat dalam ingatan mereka yang mendengarkan, pun bisa menjadi segumpal ungkapan yang paling sederhana dari anak manusia.

musik telah menjadi sesuatu yang penting bagi tingkah laku manusia. dalam perkembangannya lantas musik menjadi media yang paling mudah untuk mengekspresikan suasana hati siapapun. munculnya musik jazz adalah simbol dari suara hati kaum negro atas tindasan sistem yang menyengsarakan hidup mereka. musik rock adalah simbol dari gugatan dan perlawanan anak muda atas tatanan sosial yang ada. musik menjadi sedemikian reflektif atas apa saja yang dialami dan ingin dimunculkan oleh siapapun.

dan saking reflektifnya musik buat gue, yang sebenarnya sedikitkpun gak bisa memainkan alat musik pun mengerti partitur musik. kadang2 gue merasa tidak ada lagu atau satupun jenis karya musik yang sanggup membuat perasaan gue tenteram. suatu waktu, semua koleksi musik mendadak seolah menjadi sedemikian basi. kalau sedang dalam kondisi seperti itu, gue bisa membayangkan bagaimana rasanya kalau musik tidak berkembang dalam berbagai warna dan aliran. pasti hidup jadi sedemikian hambar dan menyebalkan. karena pada prinsipnya kebutuhan manusia terhadap apapun, pun terhadap musik, tidak mengenal batas. sehingga dalam suatu masa tertentu manusia seringkali berada dalam situasi dimana dirin mereka merasa tidak terpuaskan dalam hal apapun. kalau kemudian manusia pada suatu masa berhenti mencari pemenuhan keinginan dan merasa terpuaskan perasaanya akan kebutuhan yang selama ini dicari, hal itu kebanyakan dilakuakn sebagai bagian dari kompromi atas desakan kebutuhan yang belum bisa terpenuhi. tanpa kemampuan kompromi tersebut, niscaya rumah sakit jiwa akan selalu penuh.

dalam hal menyukai musik, mungkin gue tidak segila orang2 yang lain. namun, tetep saja keinginan gue untuk terus menikmati musik dalam berbagai bentuk dan berbagai aliran memaksa gue terus mencoba membiasakan telinga gue dengan sekian banyak aliran musik. dan karena masa remaja gue tumbuh di tahun 80-an dimana musik rock masih merajai pasar, maka selera musik gue terbentuk oleh senmtuhan musik yang cenderung agresive.

nah, musik2 yang cenderung agrsive ini ternyata lama-kelamaan sering membuat gue bosan, karena miskinnya improvisasi dalam karya2 musik agresive. musik2 tahun 80-an, yang pernah sedemikian gue sukai hanya sanggup membuat gejolak rasa gue muncul dan bergelora, tapi seringkali gagal membawa gue ke dalam nuansa yang kontemplatif. padahal, mendengarkan musik seringkali sebagai cara untuk menemukan suasana hati yang sedemikian rupa. dan tanpa alunan musik yang sanggup menerbangkan imagi, niscaya suasanan hati yang diharapkan sulit untuk muncul. beruntunglah tahun 60 akhir dan 70-an, banyak musisi yang mengasilkan karya2 besar yang bernuansa kontemplatif.

namun, banyaknya karya tahun 60-an akhir dan 70-an, suatu ketika tetap saja terasa tidak cukup. disamping, kebanyakan dari mereka sudah berhenti berkarya, karya2 baru mereka juga tidak sekontempaltif karya2 mereka yang dahulu. beruntung, ditengah kemiskinan warna musik agresive yang agak kontemplatif, dunia musik masih memiliki Dream Theater, salah satu icon aliran progressive metal. kelompok yang satu ini sanggup mengisi kekeringan musik yang bernuansa agresive dengan sebentuk karya yang penuh warna. warna improvisasi dalam karya2 mereka membuat gue yang gak ngerti bermain musik merasa mendapatkan ruang untuk melakukan kontemplasi dalam hentakan alunan musik mereka.

sejauh ini karya2 dream theater sanggup menghibur dan memenuhi desakan kebutuhan gue akan musik yang bernuansa angresive tapi memiliki kekayaan warna dalam improvisasi yang dibalut dengan skill bermusik yang bagus. dan beruntungnya lagi, mereka cukup konstan membuat karya musik, ditengah gencarnya serbuan musik bernuansa easy listening serta segmen pasar yang berkembang saat ini yang cenderung didikte oleh pemilik modal tidak sanggup membendung keinginan orang untuk mendengarkan aroma musik yang berkualitas. dan dream theater sanggup memberikan jawaban atas kebutuhan tersebut. sebenarnya, banyak kelompok musik yang berkarya berdasarkan idealisme membangun komposisi musik yang tidak standar dengan balutan skill yang sangat memadai, mungkin karena warna musiknya sulit menembus kungkungan mainstream pasar, maka seolah mereka tenggelam.

No comments: