Namun cerita sukses menenggelamkan cerita duka. Banyak orang yang memiliki atau memaksakan diri menyediakan modal dobel memang kemudian bisa bernafas lega dengan hasil tanam yang lumayan serta harga jual melon yang tinggi.
Friday, December 16, 2005
Balada Temon
Namun cerita sukses menenggelamkan cerita duka. Banyak orang yang memiliki atau memaksakan diri menyediakan modal dobel memang kemudian bisa bernafas lega dengan hasil tanam yang lumayan serta harga jual melon yang tinggi.
Wednesday, December 14, 2005
Laki2 Tua dengan Bayang Masa Lalu
Empat puluh tahun yang lalu, demi menyelamatkan nyawa, dia rela diselundupkan melalui jalur kereta meninggalkan kampung halaman beserta seluruh sanak sodara menuju Surabaya. Semenjak itu hanya cerita dari kerabat yang mengunjunginya yang ia dengar tentang kampung halamannya.
Tiada keberanian ia miliki untuk menjejakan kakinya lagi ke kampung itu. Ada bayang kematian yang seolah mengelayut di cakrawala, katanya, setiap mengingat kampung halamannya. Bahkan saat sang ibunda tercinta meninggal, dia hanya bisa menyuruh anak dan istrinya pulang untuk menyampaikan duka cita yang teramat dalam, sambil menyimpan isak tangis di sudut kota yang hanya berjarak 5 km dari kampung halamannya.
Dan kini, setelah 40 tahun, setelah semua perubahan yang terjadi di negeri ini, dia gue ajak memberanikan diri mengunjungi atau hanya sekedar mendekati kampung itu untuk paling tidak membuka kenangan akan daerah kelahirannnya. Akan tetapi, ternyata kenangan yang kemudian muncul adalah bayang2 kematian yang seolah siap merenggutanya dari pijakan dimana dia berada.
Dia gelengkan kepala saat pedal gas gue injak dan setir gue arahkan ke pintu masuk kampung itu. Saat tidak gue pedulikan gelengannya dengan tetap mengarahkan mobil ke kampung itu, mendadak wajahnya pias pucat pasi. Bahasa tubuhnya tidak karuan.
" Aku yang akan bertanggungjawab kalau terjadi apa2," kataku.
" Tidak," katanya." Aku tidak sanggup mengingat bayang2 kematian yang menimpa sekian orang yang pernah begitu dekat denganku. Aku takut."
" Tidak akan ada yang membuatmu seperti apa yang dialami temen2mu, semua orang yang memberikan ancaman itu sudah pada dikubur oleh waktu," kataku lagi.
Dia menggeleng perlahan, nafasnya menderu tidak beraturan. Wajah itu semakin gelisah.
" Dulu, tahun 1970an, ada yang mencoba pulang, lantas seminggu kemudian dia hilang. Mayatnya ditemukan tersangkut digorong2 kota 3 hari kemudian," rengeknya dengan suara parau.
" Itu dulu, sekarang lain, tidak ada lagi ancaman itu. Semua sudah berubah, yang dulu begitu bengis suah pada mati. Dan aku yang akan menjamin keamanan itu," kataku memohon.
Monday, December 12, 2005
Problemo
Jadi Petani
Sebuah ironi, negeri yang penduduk mayotitasnya adalah petani, hingga orang bilangya kita negara agraris, tapi idup mayoritas penduduknya jauh dibawah garis kemiskinan. Kalau negara lain mah, yang bekerja pada mayoritas pilihan pekerjaan yang ada di negaranya biasanya minimal idupnya berkecukupan. Contoh yang paling baru adalah vietnam, negara yang 30 tahun yang lalu maish porak-poranda oleh perang sudara dan hajaran bom amerika, sekarang sudah sanggup menciptakan kehidupan yang lumayan lebih baik buat penduduknya yang bekerja sebagai petani.
Saat ini petani di kampung gue terpaksa membiarkan tanahnya terbengkalai hanya karena minimnya suplai air. Mereka mau menanam padi gak ada air, mau kembali menamam palawija, takut mendadak ujan, hingga bikin semua tanaman bacek, alias modar. Problem ini kan sebenarnya sederhana. Masalahnya adalah tidak adanya saluran irigasi yang memadai hingga suplai air sering tidak terkendali. Saat kemarau habis, saat hujan banjir. Sebagai negara yang rakyatnya idup dengan mengandalkan tanah untuk penghidupannya, harusnya kebijakan untuk pemanfaatan tanah agar bisa maksimal menjadi prioritas, bukanya sok membangun sentra industri yang akhirnya keuntungannya hanya dimakan oleh segelintir orang.
So, hanya menyediakan kestabilan aliran irigasi yang sanggup menjamin warga bisa bercocok tanam aman saja gak sanggup, apalagi harus dibebani untuk menciptakan mekamisme pasar yang kondusif, bibit yang sanggup bertahan hidup oleh karena hama dan cuaca, serta memberikan jaminan bahwa bertani menjadi pilihan yang bisa menjamin masa depan.
Mayoritas warga di negeri ini jadi petani bukan atas dasarnya pilihan, tapi keterpaksaan. Tidak ada anak indonesia yang bercita2 jadi petani. Pasti mereka bercita2 jadi orang kaya. Karena petani tidak menjamin seseorang menjadi kaya, maka pilihan itu sejak sekian puluh tahun yang lalu sudah di delet. Sehingga jadi petani adalah pelarian dari semua pilihan 6yang telah gagal diambil. Parahnya lagi, kebanyakan warga di kampung gue jadi petani karena sayang kalau tanahnya tidak digarap. Kebetulan mereka mendapat warisan tanah yang tidak begitu luas (karena dah dibagi turun temurun) kalau gak digarap sayang, kalau digarap hasilnya juga gak cukup untuk bekal hidup keluarga. Contoh memelihara padi untuk sawah 1000 M2 kalau hasilnya pas bagus petani bisa menjula gabah ke tengkulan Rp. 1,4 juta. Umur padi dari membajak sampai panen kira 4 bulan. Biaya produksi rata2 untuk sawah 1000M2 habis kira2 Rp. 350 ribu, lain2 Rp. 50 ribu, so keuntungan di dapat kira2 Rp. 1 juta setiap panen buat tanah luas 1000 M2. Rp. 1 juta di bagi empat bulan, berarti setiap sebulan mereka hanya dapat keuntungan Rp 250 ribu. Sementara kalau mereka bekerja jadi kuli bangunan dapat gaji Rp. 20 ribu setiap hari, 25 hari kerja dalam sebulan, berarti sebulan mereka bisa bawa pulang uang Rp. 500 ribu. Jadi mayoritas warga memilih bekerja sebagai kuli bangunan, sedang sebagai petani hanya sambilan saja.
Jadi, memang absurd negeri ini. Penduduk yang jumlahnya mayoritas dibiarkan hidup dalam kesulitan dan kesulitan, bahkan kadang2 udah sulita lahan penghiduoannya direnggut secara paksa pula, oleh banyak alasan.
Dahlah....negeri ini memang negeri beling...
Perjodohan
Pas kebetulan gue ke Jakarta gue kontak temen gue yang bawel ini, alhasil dia mau mengusahakan pertemuan tersebut. Tapi, gue gak tahanh cerewetnya.
” Lu harus dandan biar keliatan seganteng mungkin yah, jangan sampai
mengecewakan” cerocosnya.
” Alah, biarain aja dia ngeliat gue apa adanya, gue paling kagak mau sok2an bergaya tidak sesuai dengan kata hati. Lagian pan gue mang begini oranya.”
” Eh, lu mah musti bisa2nya kasih first impresion yang oke, perempuan mah suka dikibulin dengan penampilan yang meyakinkan.”
”Wah, gue gak suka ama perempuan yang begituan.”
” Ah, lu mah susah, jaman sekarang mau dapat perempuan, modelnya begini, mana bisa?”
” Its me honey, gue maunya orang ngeliat gue dari awal ya beginian, bukan belakangan baru sadar bahwa gue kumel dan segala macam, lantas orang baru
nyesel. Santai aja lagi....”
”Hih...lu mah mang susah......
”Gue datang ama temen gue ye?” kata gue.
”Jangan, ntar dia naksirnya ama temen lu lagi...”.
”Biarin aja, kalau gitu berarti mang dia gak layak buat gue....”.
” Aduh, ini anak susah amat....”.
Naluri Bisnis
Padahal bulan ini sudah memasuki bulan ke -12, tapi hujan yang lebat semenjak sekali terjadi saat lebaran belum datang juga. Hingga sawah2 disekitar kampung gue dibiarkan bero (tidak ditanamin/diolah). Solanya mereka bingung, mau nanam padi, air belum cukup, mau ditanam palawija takut mendadak hujan, mati semua nanti tanaman.
Dalam kondisi tanah sedang dibiarkan terlantar sehabis ditanamin palawija (kacang tanah, jagung dan kedelai) dan belum digenangi air begini biasanya banyak jangkrik hidup disana. Jangkrik dengan suara kerikan yang khas dan berisik menajad pembawa nuansa tersendiri di sekitar rumah gue. Waktu gue masih kecil bila musim begini tiba, gue selalu mencari dan mengumpulkan jangkrik dalam jumlah yang banyak, hingga rumah gue setiap malam berisiknya luar biasa.
Sekarang anak2 yang masih demen mencari dan memelihara jangkrik juga masih banyak, salah satunya bernama Alek, tapi gue biasa manggilnya Plonco. Anaknya dah berumur 12 tahun, tapi masih kelas 4 SD. Dia punya masalah dengan pendidikan formal, tapi dia sangat terampil membantu bapaknya kerja di swah dan memelihara sapi. ” Aku ini memang guoblok kalau disuruh sekolah mbah,” begitu dia bilang setiap gue ledekin akibat seringnya dia tidak naik kelas. Dia manggil gue mbah, hanya karena bapaknya manggil gue oom. Sebenarnya tidak ada hubungan darah diantara kami. Hirarki yang menempatkan masing2 orang harus memanggil dengan embel2 om, mas atau pakde, di kampung gue selain karena hubungan darah juga terjadi karena warisan kultur feodal. Untuk menghormati orang yang secara hirarki dituakan atau disegani maka warga harus memberikan embel2 di depan nama saat memanggil yang lain.
Well, kita lupakan kefeodalan jawa tersebut, pas gue sampai di Klaten, gue melihat Plonco punya jangkrik yang lumayan banyak. Maka demi ingatan akan masa lalu serta untuk keperluan menakuti tikus, maka gue beli jangkrik Plonco. (konon kabarnya tikus kabur setiap denger suara jangkrik yang berisik).
” Satunya seribu Mbah,” katanya lantang
” Oke, 5 lima ribu ya,” kata gue langsung membayarnya lunas
Alhasil malam itu rumahnya gue riuh rendah oleh suara jangkrik. Mungkin karena suara tikus ketilep suara jangkrik atau memang bener2 tikus takut jangkrik, mendadak berisiknya tikus di atap rumah gue mendadak menghilang.
Besoknya pagi2 bener, Plonco dah nongkrong di depan rumah gue dengan wajah tidak biasanya.
”Ngapain Co, mau jual jangkrik lagi?”
“ Wah, aku rugi besar kemarin, Mbah”
” Lho, emangnya kenapa?”
” Jangkrik itu kalau sampai Jakarta kan bisa dijual sepuluh ribu satunya, harusnya aku jualnya ke sampean lima ribu satunya kemarin”
Oalah, itu rupanya. Bodoh sekolah, tapi kalau urusan duit ada saja otaknya. Lagian hari gini, siapa yang mau dagangan jangkrik, ampe jakarta pula. Plonco...Plonco....
Thursday, December 08, 2005
Kembali Ke Jakarta
Monday, November 28, 2005
Cethe
Cethe adalah endapan kopi yang disedu. Biasanya endapan ini terkumpul di dasar gelas saat kita minum kopi, tentunya selain nescape yg pelit kasih endapan. Mungkin demi alasan untuk mendapatkan kenikmatan lebih, orang2 lantas mengoleskan endapan kopi, alias cethe. Kebiasaan ini rupanya juga sudah mendarah daging. Setiap saat gue jalan ke warung kopi, selalu gue orang menghisap rokok yang berwarna hitam/coklat oleh karena olesan cethe. Bahkan beberapa warung kopi dengan jelas memasang pengumuman menyediakan cethe yang enak. Konon, tidak sembarang kopi menghasilkan cethe yang memiliki aroma dan rasa yang nikmat untuk dioleskan pada sebatang rokok.
Friday, November 25, 2005
There Was A Life, Huh....
langit biru |
Friday, November 11, 2005
Kesalahan
Refleksi dan kontemplasi yang gue lakukan akhir2 inimemunculkan satu resume yang menyebutkan bahwa dari semua kejadian yang menimbulkan masalah pada idup gue kebanyakan adalah hasil dari kesalahan gue sendiri. Dan beberapa hari terakhir gue semakin tersadar bahwa kesalahan2 yang gue lakukan sudah benar2 membuat idup gue berada dalam masalah yang tidak sederhana. Segala hal yang bermasalah baik yang berhubungan dengan pekerjaan maupun orang lain kebanyakan akibat kesalahan gue sendiri. Parahnya, kayaknya kemarin2 gue dengan nyaman dan enak menikmati satu kesalahan ke kesalahan yang lain seolah menjadi sesuatu yang menyenangkan dan nyaman untuk dijalani.
Kesalahan yang paling sering gue lakukan adalah terlalu mudah mempercayai orang lain. Orang mungkin beranggapan gue orangnya baik jadi mudah mempercayai orang lain. Padahal sejatinya gue cepet percaya sama orang lain lebih banyak disebabkan karena gue tidak mau susah saja. Gue gak pernah mau direpotkan oleh hal2 atau tetek bengek untuk mengetahui apakah oranbg yang gue percaya memang mau atau sanggup. Akibatnya, banyak orang yang dengan paksa atau dengan sadar gue percaya kemudian memberikan masalah yang cukup berat bagi idup gue. Well, bisa saja gue berkelit bahwa banyak kesalahan yang terjadi akibat dari kelalaian oranbg lain yang gue percaya. Tapi, lantas muncul pertanyaan lanjutan, siapa yang menyuruh percaya sama orang orang lain tanpa cross check apakah orang itu sanggup, mampu dan mau? Nah kalau sudah begitu, gue harus mengakui gue sendirilah biang kerok segala masalah.
Sebenarnya kesadaran gue ini sudah muncul beberapa tahun yang lalu, tapi tetep saja gue akan mudah jatuh suka untuk memberikan sekian kepercayaan dan tanggungjawab sama orang lain dengan alasan lebih simple manakala ada orang mengatakan bahwa dirinya siap untuk gue percaya, tanpa peduli apakah memang orang tsb layak dipercaya. Bahkan untuk hal sulit, maupun hal yang privat sekalipun gue mudah merelakan untuk diberikan pertanggungjawaban ke orang lain, yang mungkin baru gue kenal. Atau oleh karena kesan baik, gue sering lupa untuk berpikir panjang sebelum melimpahkan semua tanggungjawab ke orang lain.
Akhirnya gue cuma bisa bilang, wellcome to the real world. Tampaknya lebaran kali ini permintaan maap terbesar gue harus gue ajukan ke diri sendiri. Karena ternyata gue sendirilah yang sering melakukan hal2 yang merepotkan diri sendiri.
Thursday, October 27, 2005
Sebelum Lebaran
Gue berkhayal bisa pergi ke kampong halaman sebelum akhir minggu menjelang lebaran. Makanya gue minta temen-temen gue untuk segera membereskan beberapa berkas dokumen legal, agar gue bisa segera menutup buku laporan minggu ini dan pergi mengunjungi Nyokap gue di Klaten.
Semuanya berjalan seperti yang gue harapkan. Berkas dengan cepat terkumpul. Namun, mendadak tanggal 26 Oktober dalam telepon perusahaan yang kasih kerjaan mengabarkan bahwa salah satu site yang menjadi tanggungjawab gue ada masalah di lapangan. Lantas gue kirim orang yang kebetulan berada tidak jauh dari lokasi yang bermasalah.
Awalnya gue kira masahnya sepele, kendati pagi gue sempat tarik urat dengan salah satu supervisi dari perusahaan pemberi kerjaan, yang menganggap perusahaan gue telah melakukan beberapa kesalahan tehnis. Ternyata masalahnya lumayan parah.
Lokasi pekerjaan yang bermasalah terletak di Mojokerto. Mojokerto memiliki kultur keagamaan yang lebih baik daripada daerah Jawa Tengah bagian selatan agak timur, pun daerah Jawa Timur selatan agar ke barat. Bulan ini adalah bulan Ramadhan, bulan suci bagi umat muslim. Nah lokasi pekerjaan yang pengawasannya berada pada wilayah pekerjaan gue berada dekat masjid. Kira-kira hanya berjarak 15 meter. Tim kontruksi yang menangani lokasi itu berasal dari perusahaan lain, mereka memiliki tanggungjawab harus menyelesaikan pekerjaan dalam hitungan waktu yang cepat. Makanya mereka harus lembur terus. Karena desakan jadwal, mereka suka tidak menghiraukan waktu, pun waktu yang berhubungan dengan ritual keagamaan warga sekitar lokasi. Saat magrib, mereka tetap bekerja dengan menimbulkan kegaduhan standar proyek, saat orang sholat Tarawih pun suasana tetap riuh rendah dari lokasi proyek yang sangat dekat dengan masjid.
Alhasil warga marah dan melakukan upaya penghentian dengan paksa pengerjaan kontruksi tersebut. Apalagi orang-orang yang bekerja di lokasi proyek sama sekali tidak melibatkan warga setempat.
Melihat latar belakang ngamuknya warga, masih untung orang kami yang gue kirim tidak disunat. Karena mayoritas tim kontruksi yang ada dilapngan pada tidak puasa (mungkin berat juga sih bila harus puasa ditengah tanggungjawab perkerjaan yang cukup berat). Tapi, biar kata tidak puasa, bisa saja orang melakukan ritual pemenuhan kebutuhan makan dan minum tidak harus diperlihatkan ke orang-orang yang menjalankan puasa dan mungkin belum setoleran yang lain. Sialnya warga tidak pernah bisa membedakan apakah kami dari tim kontruksi atau tim lain yang hanya bertanggunjawab pada dinamika sosialnya. Mereka beranggapan kami wakil dari perusahaan yang memberi kami kontrak kerjaan.
Parahnya lagi, tim kontruksi menghilang saat kami melakukan dengar perndapat dengan warga. Beruntung orang yang kami kirim masih bisa mendinginkan persoalan, sehingga warga jadi lebih jernih dalam berpikir, dan mau memahami posisi kami yang hanya bertanggungjawab pada persoalan diluar konstruksi.
Tapi, dampak dari persoalan itu, kami masih harus melakukan ritual pertemuan lagi dengan warga. Dan gue sebagai orang yang dianggap tua di tim, Sabtu tgl 29 Oktober, minggu terakhir sebelum lebaran, pas wiken, wajib datang pada pertemuan warga yang rencananya melibatkan para pengambil keputusan, dari tim kontruksi, perusahaan, serta tim gue. Alamat harus pasang urat tegang sampai akhir minggu, akhir banget dari minggu ini.…
Proses Belajar
Pada sebuah kampung kecil di bagian selatan Jawa Timur bagian barat, yang mayoritas penduduknya Islam abangan, baru saja dibangun sebuah masjid. Diperlukan kekerasan hati dan pengorbanan yang tidak sedikit dari orang-orang untuk bisa membangun masjid pada lingkungan masyarakat yang apatis.
Seperti kebanyakan masjid yang dibangun di pemukiman abangan, yang cenderung apatis terhadap agama apapun, awal-awal selalu kekurangan pengunjung. Orang lebih menyukai menjalani rutinitas hidup yang lain, daripada bergerak ke arah masjid yang seringkali memberikan gambaran seram tentang hidup hari ini, dan kelak bila sudah mati. Mereka seringkali terlalu takut terhadap bayangan yang dimunculkan oleh celoteh penghuni masjid yang melulu tentang hari penebusan. Biasanya mereka yang sudah memasuki usia senja yang lantas datang ke masjid, sebagai wujud dari kepasrahan orang-orang yang merasa hidupnya tidak akan lama lagi. Atau anak-anak, yang semangat keingintahuannya masih tinggi, serta belum tergerus oleh nilai-nila pemikiran yang cenderung hedon.
Sore itu, seorang kakek lanjut usia, berjalan gontai menuju masjid. Dia ingin memulai rutinitas keagamaan dengan belajar memahami ritual yang ada. Karena mungkin sudah terlalu tua, kakek itu kurang begitu bisa mengenali penanda arah. Alhasil dia sholat bukan menghadap kiblat, melainkan menghadap arah utara. Kurangajarnya, anak-anak kecil yang duduk di halaman masjid bukannya mengingatkan si kakek. Mereka malah cekikikan seolah mendapatkan hiburan gratis.
Begitu si kakek selesai sholat dan beregrak keluar masjid,anak-anak itu berteriak,” Mbah…Mbah…tadi sholatnya salah ngadep. Mustinya menghadap ke sana, bukan ke arah sana.” Kata salah seorang anak, sambil menunjuk ke arah kiblat sertaarah kakek tadi menghadap waktu sholat.
Tapi, kakek itu cuek saja, dia terus melanjutkan langkahnya keluar masjid sambil berujar,” Yo ben le, jenenge we lagi ajaran (Biarin lah, namanya juga orang baru belajar)”
Tentang Kebutaan
Perempuan itu datang bersama bayang senja. Laki-laki itu hadir dari balik awan. Secara mendalam, tidak ada yang menarik dari perempuan itu, selain tampilan fisik yang enak untuk dijadikan sebagai obyek indera penglihatan.
Namun, jika perempuan cantik adalah manekin yang berjalan dalam langkah-langkah artifisial, laki-laki adalah seongok daging yang seringkali tidak sanggup memahami esensi. Perpaduan yang sempurna, lambaian tubuh dalam gerak hampa makna dengan kekosongan pemahaman akan isi. Kekosongan dan kehampaan adalah analogi yang terbentuk oleh sekian prasyarat yang sama.
Meski demikian, mereka memiliki kisah cinta yang luar biasa. Bagai sepasang pengayun yang terus bergerak sepanjang musim. Setan pun bertempik menyambut kisah mereka. Seolah lukisan hidup hanya menghadirkan impian yang mereka punya.
Mungkin, cinta memang harus buta. Karena cinta yang melihat hanya akan terjebak pada terlalu banyak tuntutan dan prasyarat, hingga semuanya terhenti pada tingkat paradigma semata. Padahal paradigma seringkali hanyalah utopia para pemimpi. Sementara hidup adalah realitas yang terus berjalan dengan atau tanpa logika dari pergulatan paradigma yang berkembang.
Monday, October 24, 2005
Nigtmare
comming home a time
Nightmare....
forever calling me
Nighmare....
will give piece of mind
(Piece of Mind, Iron Maiden, Piece of Mind, EMI Record LTD, 1982)
Bila hidup adalah impian yang berjalan dalam tataran realitas keseharian, maka dia akan terlalu sering menjadi impian yang teramat buruk. Karena problematika kehidupan seringkali hadir dalam bentukan yang paling tidak beresahabat, paling tidak kenal belas kasihan dan paling tidak peduli dengan rencana dan agenda yang kita rencanakan. Dia sering datang mendadak, tanpa peringatan.
Walaupun seandainya boleh memilih impian, impian yang menyenangkan sajalah yang semestinya hadir dalam keseharian. Namun realitas terkadang menjadi sesuatu yang mandiri bahkan dari intervensi sekuat tenaga kita. Realitas hadir oleh karena banyak faktor, mulai dari diri kita, orang lain, faktor x dan nasib. Konfigurasi dari sedemikian banyak faktor, kendati juga menyertakan kita, akan ettap menempatkan kita seolah pihak luar yang tidak bisa melakuakn intervensi. Bisanya hanya menghadapi, menikmati dan ngomel.
Tapi, di sisi yang lain, realitas, apapun bentuknya, adalah bagian yang integral bagi manusia dalam menjalani hidup, mencari bentukan pilihan pribadi dan pilihan jalan cita-cita. Realitas akan menjadi stimulus dalam berbagai makna bagi siapapun yang sanggup memaknai, menyetubuhi, maupun mengalahkannya. Karena pada dasarnya impian yang paling buruk sekalipun tetap bisa menjadi media pembelajaran bagi setiap orang yang sanggup membangun ruang untuk belajar, tidak peduli seperti apa medianya. Pembelajaran adalah proses. Dan kecerdasan adalah bagaimana memandang realitas sebagai sesuatu yang bebas nilai, dan mampu mengolah segala yang bebas nilai menjadi sesuatu yang bernilai dan berguna bagi hidup berdasarkan sekian referensi yang juga berasal dari semua hal yang bebas nilai. Sehingga apapun, selagi kita sanggup mengartikan dalam artikulasi kita, bisa memberikan makna, baik berupa kenyamanan, kemanan dan kedamaian.
So,
Nightmare….
Will give piece of mind….
Sunday, October 23, 2005
Same Old News
Pada sebuah malam di salah satu kafe beberapa bulan yang lalu gue ketemu dengan temen perempuan yang sudah lama gak ketemu. Seinget gue dia dah merit beberapa tahun yang lalu. Namun dalam pertemuan tersebut disertai, menyertakan, atau menandakan ada laki-laki yang menjadi suaminya. Biasa, basa-basi orang melayu kalau lama gak ketemu ama temen, pesti nanya, kerja dimana, anak berapa. Gue pun begitu.
"Hallo, gimana dah punya momongan belom?" mendadak wajah temen gue berubah jadi garing dan menjawab pertanyaan gue, "Basi banget lu ah, gue devorce lagi."
Ups, entah sudah berapa berita yang sama gue dengar dari temen perempuan yang lain setahun terakhir, and again....
Bermuka Tempat Sampahkah?
Yang membuat gue agak terkejut, dia mempercayai gue untuk mendengarkan semua persoalannya yang masuk kategori agak privat, layaknya orang yang dah lama kenal saja. Cukup lama juga dia telepon gue. Cukup banyak dia korbankan pulsa untuk menghubungi nomor beda operator, dan gue sedang berada jauh dari Jakarta.
Setelah temen tersebut nelepon, gue lantas kepikiran, apakah wajah gue kayak tempat sampah ya? Hingga orang yang baru kenal saja sudah dengan santainya menumpahi gue dengan segala persoalan hidupnya, bahkan yang sangat privat. Atau kebetulan saja dia butuh teman ngobrol, dan melihat gue temen deket temen ngobrolnya yang sedang tidak bisa dia hubungi. Mudah2an jawabannya yang kedua ini, soalnya kalau jawabannya yang pertama, wah sedih banget punya wajah kayak tempat sampah.
Jalanan
"Nyanyi lagu apa kak?"
"Lagu yang kita nyanyikan tadi, tentang burung kecil yang terbang pulang ke sarangnya."
"Oo…lagu tentang matahari yang tenggelam di telan malam ya?"
gue mengangguk, lantas dengan lincah dia memetik gitarnya, mencari nada yang pas dan dengan percaya diri mengeluarkan alunan suaranya yang luamyan enak di dengar.
Disaat senja mendatangi
Kulihat burung kecil terbang pulang ke sarangnya
Kulihat anak kecil bernyanyi
Lagukan tentang matahri yang tenggelam di telan malam
(Halusinasi, Mel Shandi, Mini Album, Loggiss Record, 1990)
lagu itu terhenti ditengah jalan, mendadak dari arah Surabaya datang kereta dengan suara beratnya memasuki stasiun. Dengan langkah ringan anak itu meninggalkan gue, untuk berebut dengan puluhan irang yang mau naik atauoun turun dari salah satu gerbong. Dia harus cepat mencapai salah satu gerbong, sebelum ada pihak lain yang mengkapling gerbong itu. Terlambat berarti rejeki akan jatuh ke tangan pihak yang lain. Siapa yang datang telat, harus mengalah menunggu kereta yang lain datang untuk kemudian kembali berebut cepat masuk gerbong.
Perlahan gue naik juga ke gerbong kereta sambil mengawasi lokomotif yang mendengus dan mengeluarkan asap. Sengaja gue pilih gerbong tempat anak kecil tadi naik. Gue menyukai gaya anak itu menyanyi dan memainkan gitar, jadi gue pingin melihat lagi bagaimana aksinya di atas gerbong. Namun sat gue sampai diatas, anak kecil itu tidak gue temukan. Sebagai gantinya tampak berdiri lunglai pemuda dengan rambut lusuh, raut wajah lelah, dan sinar mata sayu sedang membacakan sebuah puisi yang kurang jelas, selanjutnya menyorongkan topi pada semua penumpang meminta sedekah.
Gue celingukan menebarkan pandang ke ujung gerbong yang lain yang berdekatan dengan gerbong yang gue naiki, berharap menemukan kelebat bayang anak kecil tadi. Tapi tidak tampak juga, mungkin dia menyanyi di gerbong paling ujung, hibur gue pada diri sendiri. Namun gue tetap saja terus cekingukan mencoba mencari bayang anak tadi. Bahkan sampai saat kereta kembali bergerak meninggalkan stasiun gue tetap gagal menemukan sosok anak kecil tadi. Pada kerumunan orang di stasiun yang gue lihat dari balik kaca jendel kereta, tidak juga tampak batang hidungnya.
Setelah kereta melaju dengan cepat dan dentuman suaranya membuat telinga gue pekak, gue paksakan untuk duduk. Lamat-lamat dalam ingatan gue, gue berhalunisasi merdengar lagu lama seolah dinyanyikan anak itu.
Berdiri……
tegar menatap langit yang tenggelam
setiap hari kaki melangkah entah kemana
Jalanan…….
adalah rumahnya yang tak berdinding
bagai srigala saling menerkam berebut nasib
(Dia, El Pamas, Tatto, Loggis Record, 1992)
Seorang Perempuan Pemilik Warung di Pinggir Jalan Raya
Awalnya orang-orang itu hanya sebatas ingin melihat senyum itu, tapi karena senyum itu akan nampak semakin mengembangkan warna ceria bila makanan yang dijualnya laku, maka orang-orang lantas memutuskan untuk juga membeli makanan yang dijual pemilik senyum.
Awalnya lidah orang-orang itu protes, karena makanan yang dihidangkan ternyata tidak semenarik senyum yang mengembang. Namun oleh karena senyum itu dirasa semakin hari semakin menciptakan nuansa yang penuh daya magis maka rasa dilidah menjadi tidak terlalu dipersoalkan. Toh makanan hanya memiliki dua rasa, enak dan enak banget, demikian kata mereka akhirnya.
Selalu ada senyum untuk siapapun, tidak pernah libur selama 12 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu. Karena bila suatu ketika senyum itu terpaksa diparkir, orang-orang mendadak juga parkir mobilnya di tempat lain. Tidak boleh ada ekspresi lain diwajahnya selama warung terbuka pintunya. Demi hidup yang lebih baik dan demi anak agar mampu menapaki jenjang pendidikan yang lebih layak, senyum sudah menjadi kewajiban untuk dipasangkan di wajah setiap harinya.
Tidak peduli bahwa bumbu masak bagi para pelanggan seringkali adalah sebentuk perilaku yang terkadang menyentuh sisi yang agak dalam perasaannya. Tapi, komprominya dengan waktu dan keadaan menempatkan semua perilaku pelanggan dalam arti yang sama "tidak berarti". Semua bergantung bagaimana perasaan menanggapi semua bentuk perilaku yang diterima, katanya. Karena semua bentuk pilihan dalam hidup selalu meminta sebentuk konsekwensi.
Bukan Manusia Pulang
But I feel I'm growing older
And the songs that I have sung
Echo in the distance
Like the sound
Of a windmill goin' 'round
I guess I'll always be
A soldier of fortune
(Soldier of Fortune, Deep Purple, Stormbringer [1974])
Gue ada disini saat ini, di suatu tempat yang sebelumnya tidak pernah gue kenal sama sekali. Dan dalam hitungan waktu yang biasanya lama, gue harus berusaha menyukai tempat itu, karena disitulah penghidupan gue saat ini berlangsung. Hal tersebut berulang kali terus menerus dalam perjalanan hidup gue.
Gue sering , bahkan boleh dikatakan hampir setaip saat, berhadapan dengan orang-orang baru dan hal-hal baru berulang-ulang. Ada rasa ketercerabutan diri dari realitas ruang dan waktu. Seakan gue hidup dalam ruang hampa yang terus bergerak liar dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa interaksi yang mendalam dengan lingkungan sekitar. Gue merasa menjadi makluk yang tidak memiliki ikatan spesifik dengan satu wialayah/tempat. Hidup gue seolah mengalir seiring tuntutan hidup yang harus gue jalani dan tanggungjawabi, dimanapun gue harus berada. Sementara interaksi diluar itu nihil.
Marx pernah bertutur tentang alienasi, atau keteransingan orang atas perkerjaannya akibat adanya spesifikasi kerja yang tidak berdasar atas kecintaan dan interaksi orang atas jenis pekerjaan yang dia jalani. Orang lantas menjadi mesin hidup yang hanya ada oleh karena kebutuhan spek pekerjaan di suatu tempat. Eksistensi orang hilang. Mereka berubah hanya menjadi daftar hadir, struk gaji dan bagian dari komponen produksi.
Dalam diri gue ada ambiguitas dalam menghadapi hal itu. Perputaran waktu yang menuntun gue pada perjalanan mengarungi wilayah-wialayh baru membawa diri gue pada jenis petualangan asing yang menyenangkan. Tapi, bentuk pekerjaan yang senantiasa berulang, kendati kliennya terus berganti, terkadang membuat gue seolah bukan berinteraksi dengan klien yang berbentuk pribadi yang hidup. Gue terkadang merasa sibuk dengan diri sendiri, pun mekanisme yang terus berulang. Klien tidak lebih hanya berupa deretan nama-nama yang harus gue kalkulasi dalam hitungan nominal rupiah. Entah, apakah gue juga sudah teralienasi?
Well, yang pasti saat ini gue sudah merasa tercerabut dari komunitas (di Jakarta) yang terakhir kali gue bangun dan masuki sebagai bagian dari dalam dirinya dan belum kembali merasa mendapatkan komunitas baru yang sanggup membuat hati dan jiwa gue comfort. Semua masih berupa situasi yang menawarkan nuansa dalam bentukan yang seragam, biasa-biasa saja. Gue menjadi orang yang bukan berasal dari mana-mana. Seolah belum/tidak ada tempat yang sanggup menawarkan rasa ingin atau minimal menjadi temapt gue untuk sekedar merasa bisa pulang.
Mungkin karena gue selalu merasa sebagai manusia pergi, yang setiap kali mau melangkah ke suatu tempat secara psikologis selalu merasa akan pergi pada sesuatu, bukan sebaliknya. Hingga belum/tidak ada tempat yang sanggup mengikat rasa gue untuk kembali padanya. Hanya ada satu alasan seandainya gue sering mengunjungi satu tempat berulang-ulang dari dulu. Alasan tersebut bukan karena faktor tempat itu, melainkan penghuninya. Ada manusia yang sanggup memaksa gue untuk secara rutin mengunjungi tempat itu, yaitu Nyokap gue. Ya, setiap beberapa kali dalam setahun gue selalu mengunjungi satu kota kecil di Jawa Tengah (Klaten), karena alasan adanya orang tua di sana. Tanpa alasan itu kayaknya gue tidak terlalu tertarik dengan kota dan wilayah Klaten (kendati gue lahir dan besar disana).
Mungkin memang tidak akan ada tempat, sebagai sesuatu yang mandiri, yang akan sanggup memaksa gue membiarkan diri gue berkubang dan terikat di dalamnya. Kecuali tempat itu memiliki manusia-manusia yang bisa memberikan kenyamanan, keamanan, abstarksi dan sensasi. Tanpa itu, gue akan tetap menjadi manusia dengan ribuan tempat tinggal (nomad).
Sepuluh tahun yang lalu gue merasa Bandung adalah tempat yang akan menjadikan gue tumbuh dan berkembang menjadi tua. Namun seiring perginya orang-orang yang gue kenal dan pernah memberi warna dalam hidup gue, Bandung berubah menjadi terlalu sempit untuk ditinggali. Lantas gue melihat Padang, Jogja, Semarang serta terakhir Jakarta seolah menjadi tempat yang akan sanggup memberikan wadah buat gue diam dan menisbikan kemungkinan tinggal di tempat lain. Bahkan Jakarta lantas menjadi begitu gemerlab di mata gue, dibanding tempat-tempat lain. Hingga gue pernah merasa harus berkubang dengannya. Namun, seiring bertambahnya umur dan alam pikiran yang berdampak pada cara gue memandang realitas, Jakarta, dalam pandangan gue berubah menjadi sekedar wadah yang dihuni oleh orang-orang yang gue kenal serta tempat sumber penghidupan gue. Begitu gue menyadari orang-orang mulai terspesifikasikan oleh pekerjaan, persoalan hidup dan segala tetek bengek yang tidak perlu, Jakarta sudah tidak sanggup lagi mengikat perasaan gue. Apalagi tempat saat ini sudah bukan lagi penghalang bagi siapapun dan dimanapun dia berada berhubungan dengan siapa dan apa.
Jadilah gue layaknya pengembara yang merasa semua tempat adalah rumahnya. Gue merasa semua tempat menjadi sedemikian bersahabat pun terkadang sangat biasa. Sehingga belum ada yang secara permanen sanggup membutakan mata gue agar berhenti dan menetap.
Tampaknya gue memang masih harus berjalan menyelusuri sekian tempat sampai tubuh gagal mengakomodasikan keinginan jiwa untuk terus melangkah, alias mulai renta. Karena pada dasarnya gue adalah manusia pergi, bukan manusia pulang…
I guess I'll always be A soldier of fortune
Dialog Imaginer dengan Orang Vegetarian
“Karena segala yang berasal dari tumbuhan mengandung banyak hal yang menyehatkan,” Jawab gue asal.
“Lantas apa salahnya kita makan daging atau ikan?” tanya gue asal.
“Tapi, bukankah makluk hidup lain memang tercipta untuk kita kuasai dan nikmati?”
“Kata siapa?”
“Agama”
“Agama yang mana?”
“Memang ada berapa ratus agama yang diyakini mayoritas manusia?”
“Siapa yang menyebarkan agama?”
“Ya, nabi dan pemuka agama.”
“Manusia juga kan mereka?”
“Benar manusia, tapi mereka menyampaikan ajaran tidak dengan sembarangan, mereka bekerja dan berdahwah berdasarkan wahyu Tuhan.”
“Maaf sobat, mereka masih manusia, aku curiga mereka menggunakan logikanya sebagai manusia sehingga dengan dalih dogma agama mereka mencar pembenaran dalam setiap tindakannya guna melegalkan pembunuhan dan poengekploitasian secara berlenbihan terhadap sesama makluk hidup. Dengan dalih sebagai makluk yang paling sempurna manusia seolah mendapat justifikasi untuk melahap semua spesies lain tanpa pandang bulu. Logika yang sama dulu juga digunakan oleh bangsa kulit putih untuk memperbudak dan menjual belikan orang kulit hitam, membantai Indian, menjajah sertta memeras harta milik penduduk dunia ketiga. Menurut mereka, agama tidak secara tegas melarang tindakat itu, bahkan bukankah agama-agama yang kalian anut dulunya melegalkan perbudakan? Jadi berhati-hatilah menggunakan logika agama dalam kehidupan sosial.
Saturday, October 22, 2005
fiuh!..
sejarahnya, entah kenapa sekarang-sekarang ini jadi sulit hanya membuat sebuah blogger. Dan blogger ini kebetulan adalah usaha g yang kedua kalinya setelah yang pertama ternyata sama susah dan menyebalkannya. setiap kali memasukkan nama username, password, sampai judul blogger, blogger.com tetap saja menolak. dari kalimat dan tutur kata yang sopan sampai kata maki2an.
blogger ini pun lahir dengan cara yang sama. g hanya lega justru katrobanget yang disetujui blogger.com dan bukan kalimat sebelumnya yang ternyata lebih sadis maki-makiannya. Meski bernama katrobanget, isi blogger ini jauh dari kekatroan.
so, enjoy ur new blog..
Wednesday, October 19, 2005
impian semusim
Tapi tidak setiap musim petik mereka bisa dengan mudah menjalani kerjasma dengan perusahaan. Ada banyak raja kecil dan kepala suku bergentayangan di dalam pabrik. Raja-raja kecil yang seolah memegang nasib mereka dalam menentukan bisa atau tidaknya mereka kembali ke perusahaan pada musim petik berikutnya. Harus ada persembahan yang bisa mengamanklan jalannya nasib pada musim berikutnya. Diperlukan 2 kg gula putih, 1 pak teh dan sekaleng makanan ringan yang sama dengan harga satu minggu gaji, bila musim berikutnya masih ingin kembali ke perusahaan. Bila itu tidak disediakan, akan ada banyak perempuan lain yang sanggup menggantikan posisinya.
Tuesday, October 18, 2005
Most Favorite Song
sebuah rumah kau dan aku
dengan beranda terbuka
dan sungai kecil jernih
Mengalir sepanjang musim
sepanjang petakan kebun
Hari-hari rebah
matahari pagi petang
menuangkan cahayanya
Aku tengah membangun
sebuah rumah kau dan aku
jauh dari keluasan kota
seperti rindumu....
Judul : Untuk D
Lagu : Mukti
Lyric : Budi Godot
Pentas musik solidaritas untuk Masyarakat Ciubeureum
Unpar 1996
Monday, October 17, 2005
Screamer and Anger
The corporation claw
The rich control the government, the media the law
To make some kind of difference
Then everyone must know
Eradicate the fascists,
revolution will grow
The system we learn says we're equal under law
But the streets are reality,
the weak and poor will fall
Let's tip the power balance and tear down their crown
Educate the masses,
We'll burn the White House down........
(Speak, Queensryche, Operation Mindcrime, EMI Manhattan Record, 1988)
Inilah potret negeri ini. Potret negeri yang compang camping oleh karena kegagalan pengelolanya memperbaharui mekanisme hingga mampu bersaing dengan mekanisme pasar yang bergerak dalam dinamika pasar global. Kenaikan BBM jelas akan memukul fundamental perekonomian masyarakat. Semua aspek kehidupan terkait dengan suplai BBM. Bahkan perusahaan yang paling besar sekalipun akan terpukul oleh kenaikan BBM, apalgi yang ecek2. Yang pasti harga jual produk dalam negeri akan semakin tertinggal oleh produk luar yang terus-terang terkadang kualitasnya juga jauh lebih baik. Dimanapun juga logika yang paling bodoh sekalipun akan tahu, bahwa daya beli yang rendah dihantam dengan harga kebutuhan yang tinggi adalah hasilnya collaps. Uang Rp. 300.000,- per tiga bulan untuk satu keluarga cukup besar bagi masyarakat, dan juga sangat besar bila dikalskulasikan dengan sekian jumlah penduduk miskin. Akan tetapi jumlah tersebut akan hilang begitu saja bila dihadapkan pada kenyataan bahwa masyarakat mengalami kemerosotan daya beli terhadap semua kebutuhan pokok. Uang 300 rb hanya akan menjadi tai dalam hitungan waktu satu bulan, sementara setelah itu apakah kemudian masyarakat sanggup menggikuti melambungnya harga? Nothing. Yang dibutuhkan masyarakat adalah pendulum yang sanggup menggerakan roda perekonomian, sehingga kalau toh memaang harga BBM harus dinaikan mereka sudah punya antisipasi dengan membangun fundamentalk perekonomian yang konon dinamakan saya beli yang tinggi. Tapi mungkinkah daya beli masyarakat mengalami lonjakan vertikal di Indonesia? Kayaknya tidak. Jadi solusinya hanya pada bagaimana negara mengambil peran untuk menyelamatkan dana subsidi agar sangguip menanggulangi robohnya perekonomian negara.
Tapi, yang terjadi adalah kebingungan pengelola negara menghadapi menghadapi minimnya anggaran negara. Lantas semua dikembalikan pada masyarakat yang harsu menanggung ebban kekosongan dana tersebut. Padahal mengelola negara tidak jauh berbeda dengan mengelola perusahaan. Dibutuhkan kemampuan manajerial yang bagus agar perusahaan sanggup bersaing dan sanggup memperbaharui keuangannya agar tidak tertimpa kebangkrutan, bila perusahaan hanya mengandalkan modal dasar yang ada untuk semua hal, maka tidak akan lama perusahaan itu akan collapse.
Pemimpin negara dipilih berdasarkan asumsi mereka akan sanggup menyelesaikan persoalan krusial negara. Bukan malah menunjukan ketidakberdayaannya menghadapi masalah dengan retorika2 murahan yang tidak menyentuh pada esensi persoalan.
Bila pemimpin dalam mencari solusi atas persoalan negara kembali mengembalikan tanggungjawab pada rakyat yang memang paling tidak bisa menolak, apakah masih perlu mereka diberi mandat?
So, To make some kind of difference
Then everyone must know
Eradicate the fascists,
revolution will grow
Tuesday, October 11, 2005
Lakum Dinukum
"Kok tidak puasa sih, Mas, kenapa?"
"Biar bisa ciuman siang2." Jawab temen gue enteng dengan mimik jahil.
Sunday, October 09, 2005
What kind of beautiful?
Perdebatannya sih menurut gue basi banget, masih seputar yang kayak gimana sih yang cantik? Sambil menyelesaikan laporan, sekali2 gue nyeletuk nimbrung omongan anak2 yang agak kurang bermutu dan cenderung kayak debat kusir. Berhubung obrolan gak berhenti2, gue lantas seperti dingatkan oleh pendapat anak2 dari sebuah kepulauan nun jauh di Mentawai sana tentang apa dan bagaimana sih perempuan itu dikatakan cantik.
"Ale (panggilan untuk sesama), maeru tak (cantik tidak)?"
Tiba2 Meldi dan Musri dengan cekatan dan dengan bibi mecibir berkata "Tak (tidak)!"
"Tak Maeruk?" tanya gue setengah tidak percaya
Thursday, October 06, 2005
Friend from the past
Konon ada persoalan yg ruwet, hingga dia memutuskan meninggalkan bangku kuliah. Terakhir gue denger dia menjadi guru salah satu SMA di tulung agung. Berkat bantuan kakak sepupunya, gue mendapatkan lokasi rumahnya di kabupaten Tulung Agung. Begitu sampai di kota Tulung Agung hal pertama yg gue lakukan adalah mencari lokasi rumahnya. Gue membayangkan temen gue yg bertubuh kecil sebagai pak guru. Namun begitu ketemu orangnya, bayangan tentang pak guru buyar diganti dengan wajah laki-laki kurus dan agak lusuh. Lama dia menatap gue sambil berusaha mengingat2. Lantas di tersenyum ingat saat gue sebutkan namanya.
"Dari wajahnya aku ingat, tapi gak yakin. Sekarang kok badanya gede dan agak bersih." selorohnya.
Lantas gue dibawa masuk ke rumah sangat sederhana dengan sekat2 dari bambu, dia kenalkan kedua anaknya yg berumur 8 tahun dan 3 tahun, semuanya perempuan. Gue tertegun menatap sekeliling dengan perasaan tidak menentu. Gue semakin shock waktu dia menyebutkan bahwa untuk menghidupi anak dan istrinya dia bekerja sebagai tukang bangunan, sedang istrinya menjahit jahitan kodian. Gue kehilangan kata2, gue hanya bisa menatapnya dengan ekspresi yang enath seperti apa. Malamnya saat gue ke kota mencari hotel, gue terus terbayang2 temen gue ini. Apa yg bisa gue lakukan agar paling tidak dia mau menghargai kemanpuan otak yang pernah dia milikinya.
dari obrolan tadi gue mendapat lesan dia sudah jenuh jika diminta kembali memanfaatkan kecerdasannya untuk mencari makan. Dia pernah mencoba menjadi guru honorer di salah satu STM, hasilnya, dia digaji seribu perak per SKS. seminggu ngajar 4 SKS, gaji sebulan cuma Rp. 16.000,-. Ngasih les privat, hasilnya sama saja. KLerja di bangunan katanya malah bisa dapat Rp.30.000,-/hari. Apakah perputaran nasib yg tidak memihat, atau karena fighting spirit yg jelek yg membuat temen gue jadi seperti ini? Hati kecil gue berkata, nasib akan bergerak seiring dengan usaha maksimal anak manusia. Jadi, karena dia kurang gigih dalam melawan kemiskinanlah yg mmebuat dia seperti itu. Kemampuan dia ada, kesempatan dulu juga pernah ada. Tapi, gue tidak berhak menghakimi dia. Apapun yang dia alami tidak sepantasnya untuk dikomentari dg nada menghakimi. Gue malah salut, dia cukup nertanggungjawab dnegan hidupnya, pun jug pilihannya. Menjadi tukang bangunan bukanlah pekerjaan yg hina, walau memang diperlukan kekuatan dan ketahan fisik yang berlelbih untuk menjalaninya. Mudah2an pertuan gue sama dia bisa memberikan sesuatu yang berguna buat kami berdua.
Malamnya saat gue jalan2 menyususri kota Tulung Agung, gue tetep tidak bisa mengabus bayangan buram nasib temen gue.Pemandangan kota Tululung Agung yang sebenarnya cukup bagus dengan jalan2 yang bersih teratur tanpa pedagang kaki lima yg samnpai menjorok ke jalan, diapit pertokoan dan trotoar disepanjang sisi kanan kiri jalan serta pepohonan yang memanjakan pejalan kaki menjadi buram juga.
SMS
"Lagi Di Malang bu, Turut berduka cita."
"Thanks. Kapan ke Jakarta? Mampir ke rumah."
"Mungkin tahun depan br ke Jakarta. Ada tambahan kerjaan di Tulung Agung."
"Wah enak dong jalan2 mulu. Gue bosen nih, mau cari kerjaan yg bisa bikin gue sering jalan. susah mau emansipasi, lakinya bln siap"
"Hehehe...selalu ada harga yg hrs bibyr dr smua pilihan. Jln2 mulu kyk gue jg ga enak, tercerabut dr komunitas."
"Iya sih. Mungkin kalo anak gue dah gede, gue mau kerja yg bisa byk jalan2nya. Gue ga bisa nih berperan jadi istri dan menantu di bdg, kalo jadi ibu di jkt msh bisa."
"Hahaha...menghadapi orang tua dg perspektif berpikirnya sendiri hrs sabar dan besar toleransinya, walau kadang makan ati."
"Yap, betul, gue pikir semakin tua gue akan bisa gaul sama para ortu, ternyata tetep saja gak bisa."
Tuan R
"Sendirian, Pak?" Tanya gue basa-basi
"Iya, Mas."
"Anak dan istri kemana?"
Dia diam sejenak, lantas dengan snyum dipaksakan dia menjelaskan bahwa istrinya pulang ke rumah orang tua, anak2nya 3 orang dibawa serta.
"Saya lagi kena musibah, Mas." Maksud kedatangan gue ke bapak itu adalah mau mengontrak rumahnya yang katanya kosong. Ternyata kosongnya rumahnya karena istri dan anaknya pergi.
Awalnya perginya anak dan istri gue kira karena lagi berantem saja. Ternyata belakangan baru gue ketahui terrnyata mereka bercerai. Beberapa anak muda yg sering nongkrong di rumahnya lantas bercerita. Dulu, waktu Tuan R masih banyak proyek, dia sering pergi ke luar daerah untuk membereskan pekerjaan. Kadang2 3 bulan sekali dia baru pulang untuk nengok anak dan istrinya. tapi kalau kerjaan gak terlalu padat, sebulan sekali dia masih bisa pulang. Tapi, satu hal yang pasti, dia tidak pernah telat mengirimkan jumlah uang ang cukup buat anak2 dan istrinya. Tapi, entah mengapa kiriman Tuan R yang menurut hitungan warga sekitar cukup besar seolah setiap bulan lenyap begitu saja tanpa bekas.
Belakangan saat proyek lagi sepi dan Tuan R banyak di rumah, istrinya sering uring2an. Lantas terboingkarlah skandal perselingkuhan antara istrinya dengan kemenakan Tuan R yang berumur sama dengan sitrinya dan kebetulan dibiarkan tinggal satu rumah dengan mereka. Badai itu coba ditanggapi dengan sabar olah Tuan R, dia hanya meminta istrinya untuk melupakan aib dan minta maaf untuk kemudian kembali memulai hidup baru. Tapi anehnya justru istrinya dengan lantang mengajukan gugatan cerai. Dengan terpaksa Tuan R membiarkan istrinya pergi dari hidupnya dengan membawa serta anak2nya yang emmang lebih terbiasa tinggal dengan sang ibu.
Jadilah Tuan R, lonelly hanya ditemani anak2 muda tetangganya. "Kalau saya gak sabar dan tawakhal sudah stroke saya, Mas." Katanya ke gue suatu ketika. "Ini mungkin cobaan hidup yang harus saya hadapi dan selesaikan. Walaupun saya sebenarnya masih ingin menjalani kebersamaan dengan istri dan anak2 saya, tapi saya serahkan semuanya pada istri saya, terserah apa maunya. Biarlah dia yang menentukan apa maunya. Kalau tiba2 dia memutuskan kembali ke saya demi anak2 ya alhamdullilah. Kalau dia dibutakan oleh banyak hal yang menurutnya lebih menyenangkan hidup berpisah, yah apa boleh buat. Kita hanya bisa menjalaninya kan, Mas?"
"Benar, Pak," Jawab gue belagak tau," Pasrah mungkin memang lebih baik dalam menjalani segala hal Pak. Masih beruntung kikta yang di pilih untuk menghadapi masalah Pak. artinya kita dipercaya untuk menyelesaikan hal2 yang belum tentu sanggup diselesaikan oleh orang lain," tambah gue sok tau banget....
Tipikal
"Ke Cuiri bepara, Pak?"
"Ya monggo terserah, Mas."
"Sepuluh ribu ya?"
"Tambahin dua ribu lah."
"Pagi2, saya baru keluar rumah, belum sarapan lagi, eh, saya dapat penumpah seorang berseragam tentara. Dia minta saya anter dari luar kota kemari. Pas sudah sampai dia bilang bayarnya nanti kalau sudah gajian, padahal orang tersebut seminggu yang lalu juga masih ngutang trayek yang sama."
"Lah, mengapa Bapak mau ngantar, kalau tahu dia masih ngutang trayek yang sama minggu kemarin?"
Gue terdiam bingung mau ngomong apa.
"Padahal sudah balok kuning tiga lho, Mas. Kan seharusnya sudah lumayan pangkatnya, ya?" "Wah saya kurang paham soal kepangkatan dalam tentara, Pak."
"Katanya dia mau bayar pas tanggal muda. Sekarang tanggal berapa sih, Mas?"
"Tanggal 28, bentar lagi, Pak. Yah, hitung2 nabung."
"Ya, kalau dia ingat, Mas."
Lantas kami terdiam. Dalam diam gue jadi teringat mars untuk tentara yang sering dinyanyikan anak2 mahasiswa, pun saat gue masih jadi mahasiswa dulu.
....naik bis kota tak pernah bayar apalagi makan di warung tegal.......... Bukan bermaksud men-generalisir, tapi apa yang terjadi diatas memang tipikal hampir di semua tempat di Indonesia.
Monday, September 12, 2005
Pink Floyd

setelah roger waters keluar, orang menyangsikan pink floyd bakal bisa eksis. memang hanya dua album selama satu dekade yang bisa mereka kleuarkan, yaitu album a mommentary lapse of reason (1987), dan the division of bell (1993) (pada dua album tersebut dan seterusnya richard wright kembali ikut bergabung). selebihnya mereka hanya merilis album the best, kompilasi, dan live konser. namun konser2 pink floyd tetap luar biasa semarak dan dihadiri oleh ribuan penggemarnya. pink floyd selalu mengemas konsernya dengan tatanan panggung yang megah dan lightning yang luar biasa. kemegahan panggungdan tata lampu pink floyd saat konser sampai saat ini belum ada yang menandinginya. namun, semenjak tahun 2000, pink floyd vakum. tahun 2001, roger waters sempat mengajak syd barret (yang sudah kembali hidup normal di sebuah wilayah di inggris dan membiayai hidupnya dari royaltynya lagu2nya semasa masih pink floyd) manggung dengan membawakan lagu2 pink floyd. orang berharap floyd akan muncul lagi dalam formasi lengkap. namun upaya reuni masih gagal, karena permusuhan antara roger waters dan david gilmour belum bisa diselesaikan. david gilmour masih enggan bergabung bersama roger waters menghidupkan kembali pink floyd. padahal nick mason dan richard wright sudah mengisyaratkan kesediaanya menerima ajakan roger waters untuk menghidupkan pink floyd kembali. banyak orang, salah satunya gue, senantiasa berharap pink floyd kumpul lagi dan ciptakan maha karya baru. karena kami rindu karya2 musik yang berkualitas. Album2 Pink Floyd