Karena pekerjaan mulai agak longgar, minggu kemarin gue sempetkan diri mengunjungi mak gue di Klaten. Itung2 istirahat di kampung kecil jauh dari keramaian sekalian nemenin nyokap yang mang sendirian di rumah dari tahun 1990.
Padahal bulan ini sudah memasuki bulan ke -12, tapi hujan yang lebat semenjak sekali terjadi saat lebaran belum datang juga. Hingga sawah2 disekitar kampung gue dibiarkan bero (tidak ditanamin/diolah). Solanya mereka bingung, mau nanam padi, air belum cukup, mau ditanam palawija takut mendadak hujan, mati semua nanti tanaman.
Dalam kondisi tanah sedang dibiarkan terlantar sehabis ditanamin palawija (kacang tanah, jagung dan kedelai) dan belum digenangi air begini biasanya banyak jangkrik hidup disana. Jangkrik dengan suara kerikan yang khas dan berisik menajad pembawa nuansa tersendiri di sekitar rumah gue. Waktu gue masih kecil bila musim begini tiba, gue selalu mencari dan mengumpulkan jangkrik dalam jumlah yang banyak, hingga rumah gue setiap malam berisiknya luar biasa.
Sekarang anak2 yang masih demen mencari dan memelihara jangkrik juga masih banyak, salah satunya bernama Alek, tapi gue biasa manggilnya Plonco. Anaknya dah berumur 12 tahun, tapi masih kelas 4 SD. Dia punya masalah dengan pendidikan formal, tapi dia sangat terampil membantu bapaknya kerja di swah dan memelihara sapi. ” Aku ini memang guoblok kalau disuruh sekolah mbah,” begitu dia bilang setiap gue ledekin akibat seringnya dia tidak naik kelas. Dia manggil gue mbah, hanya karena bapaknya manggil gue oom. Sebenarnya tidak ada hubungan darah diantara kami. Hirarki yang menempatkan masing2 orang harus memanggil dengan embel2 om, mas atau pakde, di kampung gue selain karena hubungan darah juga terjadi karena warisan kultur feodal. Untuk menghormati orang yang secara hirarki dituakan atau disegani maka warga harus memberikan embel2 di depan nama saat memanggil yang lain.
Well, kita lupakan kefeodalan jawa tersebut, pas gue sampai di Klaten, gue melihat Plonco punya jangkrik yang lumayan banyak. Maka demi ingatan akan masa lalu serta untuk keperluan menakuti tikus, maka gue beli jangkrik Plonco. (konon kabarnya tikus kabur setiap denger suara jangkrik yang berisik).
” Satunya seribu Mbah,” katanya lantang
” Oke, 5 lima ribu ya,” kata gue langsung membayarnya lunas
Alhasil malam itu rumahnya gue riuh rendah oleh suara jangkrik. Mungkin karena suara tikus ketilep suara jangkrik atau memang bener2 tikus takut jangkrik, mendadak berisiknya tikus di atap rumah gue mendadak menghilang.
Besoknya pagi2 bener, Plonco dah nongkrong di depan rumah gue dengan wajah tidak biasanya.
”Ngapain Co, mau jual jangkrik lagi?”
“ Wah, aku rugi besar kemarin, Mbah”
” Lho, emangnya kenapa?”
” Jangkrik itu kalau sampai Jakarta kan bisa dijual sepuluh ribu satunya, harusnya aku jualnya ke sampean lima ribu satunya kemarin”
Oalah, itu rupanya. Bodoh sekolah, tapi kalau urusan duit ada saja otaknya. Lagian hari gini, siapa yang mau dagangan jangkrik, ampe jakarta pula. Plonco...Plonco....
Padahal bulan ini sudah memasuki bulan ke -12, tapi hujan yang lebat semenjak sekali terjadi saat lebaran belum datang juga. Hingga sawah2 disekitar kampung gue dibiarkan bero (tidak ditanamin/diolah). Solanya mereka bingung, mau nanam padi, air belum cukup, mau ditanam palawija takut mendadak hujan, mati semua nanti tanaman.
Dalam kondisi tanah sedang dibiarkan terlantar sehabis ditanamin palawija (kacang tanah, jagung dan kedelai) dan belum digenangi air begini biasanya banyak jangkrik hidup disana. Jangkrik dengan suara kerikan yang khas dan berisik menajad pembawa nuansa tersendiri di sekitar rumah gue. Waktu gue masih kecil bila musim begini tiba, gue selalu mencari dan mengumpulkan jangkrik dalam jumlah yang banyak, hingga rumah gue setiap malam berisiknya luar biasa.
Sekarang anak2 yang masih demen mencari dan memelihara jangkrik juga masih banyak, salah satunya bernama Alek, tapi gue biasa manggilnya Plonco. Anaknya dah berumur 12 tahun, tapi masih kelas 4 SD. Dia punya masalah dengan pendidikan formal, tapi dia sangat terampil membantu bapaknya kerja di swah dan memelihara sapi. ” Aku ini memang guoblok kalau disuruh sekolah mbah,” begitu dia bilang setiap gue ledekin akibat seringnya dia tidak naik kelas. Dia manggil gue mbah, hanya karena bapaknya manggil gue oom. Sebenarnya tidak ada hubungan darah diantara kami. Hirarki yang menempatkan masing2 orang harus memanggil dengan embel2 om, mas atau pakde, di kampung gue selain karena hubungan darah juga terjadi karena warisan kultur feodal. Untuk menghormati orang yang secara hirarki dituakan atau disegani maka warga harus memberikan embel2 di depan nama saat memanggil yang lain.
Well, kita lupakan kefeodalan jawa tersebut, pas gue sampai di Klaten, gue melihat Plonco punya jangkrik yang lumayan banyak. Maka demi ingatan akan masa lalu serta untuk keperluan menakuti tikus, maka gue beli jangkrik Plonco. (konon kabarnya tikus kabur setiap denger suara jangkrik yang berisik).
” Satunya seribu Mbah,” katanya lantang
” Oke, 5 lima ribu ya,” kata gue langsung membayarnya lunas
Alhasil malam itu rumahnya gue riuh rendah oleh suara jangkrik. Mungkin karena suara tikus ketilep suara jangkrik atau memang bener2 tikus takut jangkrik, mendadak berisiknya tikus di atap rumah gue mendadak menghilang.
Besoknya pagi2 bener, Plonco dah nongkrong di depan rumah gue dengan wajah tidak biasanya.
”Ngapain Co, mau jual jangkrik lagi?”
“ Wah, aku rugi besar kemarin, Mbah”
” Lho, emangnya kenapa?”
” Jangkrik itu kalau sampai Jakarta kan bisa dijual sepuluh ribu satunya, harusnya aku jualnya ke sampean lima ribu satunya kemarin”
Oalah, itu rupanya. Bodoh sekolah, tapi kalau urusan duit ada saja otaknya. Lagian hari gini, siapa yang mau dagangan jangkrik, ampe jakarta pula. Plonco...Plonco....
No comments:
Post a Comment