Setiap kali habis atau sedang berkunjung ke Klaten, gue senantiasa dihadapkan pada penglihatan kehidupan tetangga gue yang mayoritas bekerja sebagai buruh dan petani.
Sebuah ironi, negeri yang penduduk mayotitasnya adalah petani, hingga orang bilangya kita negara agraris, tapi idup mayoritas penduduknya jauh dibawah garis kemiskinan. Kalau negara lain mah, yang bekerja pada mayoritas pilihan pekerjaan yang ada di negaranya biasanya minimal idupnya berkecukupan. Contoh yang paling baru adalah vietnam, negara yang 30 tahun yang lalu maish porak-poranda oleh perang sudara dan hajaran bom amerika, sekarang sudah sanggup menciptakan kehidupan yang lumayan lebih baik buat penduduknya yang bekerja sebagai petani.
Saat ini petani di kampung gue terpaksa membiarkan tanahnya terbengkalai hanya karena minimnya suplai air. Mereka mau menanam padi gak ada air, mau kembali menamam palawija, takut mendadak ujan, hingga bikin semua tanaman bacek, alias modar. Problem ini kan sebenarnya sederhana. Masalahnya adalah tidak adanya saluran irigasi yang memadai hingga suplai air sering tidak terkendali. Saat kemarau habis, saat hujan banjir. Sebagai negara yang rakyatnya idup dengan mengandalkan tanah untuk penghidupannya, harusnya kebijakan untuk pemanfaatan tanah agar bisa maksimal menjadi prioritas, bukanya sok membangun sentra industri yang akhirnya keuntungannya hanya dimakan oleh segelintir orang.
Sebuah ironi, negeri yang penduduk mayotitasnya adalah petani, hingga orang bilangya kita negara agraris, tapi idup mayoritas penduduknya jauh dibawah garis kemiskinan. Kalau negara lain mah, yang bekerja pada mayoritas pilihan pekerjaan yang ada di negaranya biasanya minimal idupnya berkecukupan. Contoh yang paling baru adalah vietnam, negara yang 30 tahun yang lalu maish porak-poranda oleh perang sudara dan hajaran bom amerika, sekarang sudah sanggup menciptakan kehidupan yang lumayan lebih baik buat penduduknya yang bekerja sebagai petani.
Saat ini petani di kampung gue terpaksa membiarkan tanahnya terbengkalai hanya karena minimnya suplai air. Mereka mau menanam padi gak ada air, mau kembali menamam palawija, takut mendadak ujan, hingga bikin semua tanaman bacek, alias modar. Problem ini kan sebenarnya sederhana. Masalahnya adalah tidak adanya saluran irigasi yang memadai hingga suplai air sering tidak terkendali. Saat kemarau habis, saat hujan banjir. Sebagai negara yang rakyatnya idup dengan mengandalkan tanah untuk penghidupannya, harusnya kebijakan untuk pemanfaatan tanah agar bisa maksimal menjadi prioritas, bukanya sok membangun sentra industri yang akhirnya keuntungannya hanya dimakan oleh segelintir orang.
Hampir di sebagaian wilayah di jawa persoalan air menjadi momok utama bagi kehidupan petani. Padahal tanaman padi adalah tanaman yang sangat manja. Kurang air hasilnya gak bagus, kelebihan air sama saja.
So, hanya menyediakan kestabilan aliran irigasi yang sanggup menjamin warga bisa bercocok tanam aman saja gak sanggup, apalagi harus dibebani untuk menciptakan mekamisme pasar yang kondusif, bibit yang sanggup bertahan hidup oleh karena hama dan cuaca, serta memberikan jaminan bahwa bertani menjadi pilihan yang bisa menjamin masa depan.
Mayoritas warga di negeri ini jadi petani bukan atas dasarnya pilihan, tapi keterpaksaan. Tidak ada anak indonesia yang bercita2 jadi petani. Pasti mereka bercita2 jadi orang kaya. Karena petani tidak menjamin seseorang menjadi kaya, maka pilihan itu sejak sekian puluh tahun yang lalu sudah di delet. Sehingga jadi petani adalah pelarian dari semua pilihan 6yang telah gagal diambil. Parahnya lagi, kebanyakan warga di kampung gue jadi petani karena sayang kalau tanahnya tidak digarap. Kebetulan mereka mendapat warisan tanah yang tidak begitu luas (karena dah dibagi turun temurun) kalau gak digarap sayang, kalau digarap hasilnya juga gak cukup untuk bekal hidup keluarga. Contoh memelihara padi untuk sawah 1000 M2 kalau hasilnya pas bagus petani bisa menjula gabah ke tengkulan Rp. 1,4 juta. Umur padi dari membajak sampai panen kira 4 bulan. Biaya produksi rata2 untuk sawah 1000M2 habis kira2 Rp. 350 ribu, lain2 Rp. 50 ribu, so keuntungan di dapat kira2 Rp. 1 juta setiap panen buat tanah luas 1000 M2. Rp. 1 juta di bagi empat bulan, berarti setiap sebulan mereka hanya dapat keuntungan Rp 250 ribu. Sementara kalau mereka bekerja jadi kuli bangunan dapat gaji Rp. 20 ribu setiap hari, 25 hari kerja dalam sebulan, berarti sebulan mereka bisa bawa pulang uang Rp. 500 ribu. Jadi mayoritas warga memilih bekerja sebagai kuli bangunan, sedang sebagai petani hanya sambilan saja.
Jadi, memang absurd negeri ini. Penduduk yang jumlahnya mayoritas dibiarkan hidup dalam kesulitan dan kesulitan, bahkan kadang2 udah sulita lahan penghiduoannya direnggut secara paksa pula, oleh banyak alasan.
Dahlah....negeri ini memang negeri beling...
So, hanya menyediakan kestabilan aliran irigasi yang sanggup menjamin warga bisa bercocok tanam aman saja gak sanggup, apalagi harus dibebani untuk menciptakan mekamisme pasar yang kondusif, bibit yang sanggup bertahan hidup oleh karena hama dan cuaca, serta memberikan jaminan bahwa bertani menjadi pilihan yang bisa menjamin masa depan.
Mayoritas warga di negeri ini jadi petani bukan atas dasarnya pilihan, tapi keterpaksaan. Tidak ada anak indonesia yang bercita2 jadi petani. Pasti mereka bercita2 jadi orang kaya. Karena petani tidak menjamin seseorang menjadi kaya, maka pilihan itu sejak sekian puluh tahun yang lalu sudah di delet. Sehingga jadi petani adalah pelarian dari semua pilihan 6yang telah gagal diambil. Parahnya lagi, kebanyakan warga di kampung gue jadi petani karena sayang kalau tanahnya tidak digarap. Kebetulan mereka mendapat warisan tanah yang tidak begitu luas (karena dah dibagi turun temurun) kalau gak digarap sayang, kalau digarap hasilnya juga gak cukup untuk bekal hidup keluarga. Contoh memelihara padi untuk sawah 1000 M2 kalau hasilnya pas bagus petani bisa menjula gabah ke tengkulan Rp. 1,4 juta. Umur padi dari membajak sampai panen kira 4 bulan. Biaya produksi rata2 untuk sawah 1000M2 habis kira2 Rp. 350 ribu, lain2 Rp. 50 ribu, so keuntungan di dapat kira2 Rp. 1 juta setiap panen buat tanah luas 1000 M2. Rp. 1 juta di bagi empat bulan, berarti setiap sebulan mereka hanya dapat keuntungan Rp 250 ribu. Sementara kalau mereka bekerja jadi kuli bangunan dapat gaji Rp. 20 ribu setiap hari, 25 hari kerja dalam sebulan, berarti sebulan mereka bisa bawa pulang uang Rp. 500 ribu. Jadi mayoritas warga memilih bekerja sebagai kuli bangunan, sedang sebagai petani hanya sambilan saja.
Jadi, memang absurd negeri ini. Penduduk yang jumlahnya mayoritas dibiarkan hidup dalam kesulitan dan kesulitan, bahkan kadang2 udah sulita lahan penghiduoannya direnggut secara paksa pula, oleh banyak alasan.
Dahlah....negeri ini memang negeri beling...
No comments:
Post a Comment