Friday, April 28, 2006

Dia (burung hantu yg mulai jarang)

.................................
seperti angin hidupnya
melayang menggembara
bagaikan matahari
hidupnya penuh dengan luka.

(Dia, El Pamas, album Tatto
)

Kepada bintang-bintang dia bercerita tentang malam-malam panjang yang menyenangkan. Malam yang senantiasa memberinya damai, malam yang senantiasa memberinya semangat, malam yang senantiasa memberinya rasa aman. Dia mencintai malam, seperti bayi mencintai puting susu ibunya.

Dia membenci pagi. Karena pagi senantiasa memberikan isyarat yang yang menyakitkan baginya. Pagi akan segera menghadirkan terang yang menelanjangi segenap jiwa raganya. Dia membenci terang. Karena terang akan memberikan ruang kepada siapapun untuk meneliti anatomi tubuhnya. Terang memaksa dirinya tampil sesuai dengan kehendak umum. Terang, dengan campuran warna dan abstraksi keindahan yang dimunculkan banyak orang, memaksa dirinya menundukkan kepala. Karena warna-warna ceria sudah terlebih dahulu memenuhi ruang di atas kepalanya. Menengadah sama saja harus beradu pandang dengan pemilik terang. Padahal pemilik terang memiliki wajah dengan paduan warna indah. Sementara dia tidak memiliki keindahan menurut persepsi pemilik terang.

Dia menyukai kegelapan, walaupun dia bukanlah setan*. Karena gelap menurutnya adalah layar yang tidak pernah membedakan warna. Gelap tidak mengenal diskriminasi. Gelap hanya tahu bahwa ada bentukan yang hadir di suatu tempat, tanpa mengharapkannya untuk menunjukkan wajah dan warnanya. Kepada gelap dia serahkan setiap luka hatinya. Kepada gelap dia serahkan nasibnya. Kepada gelap dia belajar cara hidup yang benar. Kepada gelap dia senandungkan lagu-lagu pujian.

* AS Laksana, Perempaun yang Menunggu, dari Kumpulan Cerpen Bidadari Yang Mengembara, menulis bahwa setan menyukai tempat-tempat gelap.

Wednesday, April 26, 2006

Egaliter

So, so you think you can tell
Heaven from Hell,

blue skies from pain.
Can you tell a green field from a cold steel rail?
A smile from a veil?

Do you think you can tell?

And did they get you to trade your heroes for ghosts?
Hot ashes for trees?
Hot air for a cool breeze?
Cold comfort for change?
And did you exchange a walk on part in the war for a lead role in a cage?

How I wish, how I wish you were here.
We're just two lost souls swimming in a fish bowl, year after year,
Running over the same old ground.
What have we found? The same old fears.
Wish you were here

( Wish You Were Here - Pink Floyd, Album, Wish You Were Here, 1975)


Dulu, kami membangun kebersamaan dengan semangat yang egaliter. Keterbukaan menghiasi kebersamaan yang terjalin dari waktu ke waktu. Sedikit batasan yang sanggup membekukan suasana diantara semua yang berkumpul dalam wadah yang kita bangun. Tidak ada sekat dan image yang terpaksa harus dijaga saat berada di komunitas, temen, pun sahabat yang lain. Karena, apa dan siapapun yang berada dibelakang kami, juga dianggap bagian dari kami (kalau mereka ga keberatan seh). Mungkin banyak yang menganggap aneh inner circle kami yang kecil. Tapi, kami menganggap pandangan atau stigma orang lain sebagai sesuatu yang menyenangkan. Keanehan adalah kelebihan yang pantas disyukurin. Dalam dunia yang kecil, kami menjaga harmony. Semua merasa memiliki rumah dan tempat mencari kedamaian yang sama.


Sampai setua ini, semangat egaliter masih tercermin dari sebagain besar individu yang pernah menjalani kebersamaan, walaupun dunianya sudah berkembang menuju sembilan penjuru mata angin. Waktu-waktu tertentu, disaat nasib mempertemukan kita kembali, aura bebas nilai dan pretensi tetap menyala diantara semua yang ada. Tapi, waktu tidak bisa menahan pribadi-pribadi yang ada bergerak bebas mengikuti kebutuhan hidup dan aktualisasi diri. Semua tercerai-berai dalam belantara kehidupan, mengais kesempatan dan peluang demi yang namanya eksistensi pribadi.


Well, saat-saat tertentu gue merindukan ke-egaliteran yang pernah terbangun bersama, wish you were here guys....


Tuesday, April 25, 2006

Another rainy night………

Minggu kemarin gue terjebak hujan saat mau masuk jalan ke rumah dari pemberhentian metromini. Well, hujannya kelewat gede plus anginnya luar biasa kenceng. So, kagak ada keberanian dari dalam diri gue untuk nekat menerobos hujan, apalagi rumah mayan jauh dari jalan besar. Dengan terpaksa gue berteduh di emperan rumah orang. Beruntung kehujanannya ga di menteng atau pondok indah, susah disana cari emperan yg bisa dipake beteduh.

Sialnya, hujannya pake acara lama pula. Kalau dah begini biasanya gue lantas mencoba membunuh waktu dengan berbagai hal. Hal yang paling menarik saat tertahan dari jebakan hujan adalah memperhatikan hujan itu sendiri. Apa sih yang menarik dari hujan selain bagian dari siklus alam yang membantu memberikan keseimbangan pada kehidupan? Sebenarnya jawabannya relatif. Segala sesuatu menjadi menarik atau tidak menarik bergantung pada tingkat responsiblitas kita pada obyek yang ada. Pada dasarnya sebuah obyek bebas nilai. Dia menjadi memiliki nilai setelah persepsi dan imaginasi manusia berdasarkan konstruksi budaya yang ada memberikan penanfsiran secara subyektif. Demikian pula dengan hujan. Hujan dimaknai secara harfiah hanyalah gejala alam dari turunnya butir-butir air dari langit.

Tapi bagi gue yang terjebak dalam hujan lebat, hujan bukan hanya sebatas gejala alam berupa turunya air dari langit. Dia juga berarti sebuah penghambat yang memberikan sedikit bencana berupa tertahan dan terbuangnya waktu gue menunggunya reda. Hujan saat ini, yang lebat disertai angin kencang, membuat perasaan gue miris. Takut, kalo-kalo tempat berteduh gue rubuh, atau ada benda keras terbawa angin dan nabrak gue.

Tapi, manakala kita coba melihat hujan dengan cara yang lain, hujan bisa jadi juga sangat menarik. Banyak hal bisa dirasai dan resapi berhubungan dengan hujan. Bahkan dengan rasa, gue bisa menjadikan hujan sebagai sebuah media yang seolah tanpa batas. Mendengarkan derai hujan menghantam genteng saat malam tiba adalah sebuah kedamaian yang sampai setua ini masih sering gue rasai. Perpaduan rintik hujan dengan genteng menjadi pemberi nuansa musical yang sanggup memberikan ruang bagi gue untuk berkontemplasi. Ritme dentingan hujan pada titian atap menjadi komposisi musik yang sangat progressive, yang sanggup membuka ruang-ruang khayal, hingga memberi kesempatan bagi gue memikirkan segala hal, dalam bingkai yang konstruktif tentunya. Nuansa kelabu yang dibawa hujan pun saat-saat tertentu memberikan nuansa magis yang membuat perasaan menjadi lebih adem (tenang). Seperti yang saat itu gue rasakan, gue bisa mengademkan perasaan walau masih tertahan hujan yang ga juga berhenti. Demi yang namanya kompromi atas apa yang kita rasa dan lihat, dengan segala keterbatasan yang ada, gue berusaha mencintai hujan ini. Karena ga ada yang lain yang bisa dilakukannya selain berusaha menikmatinya dari sisi dimana dia bisa dinikmati.

Jadi sisi yang mana sebenarnya yang menarik dari hujan? Dari sisi yang mana saja sebenarnya wujud hujan sama saja. Yang kemudian membuatnya memiliki arti yang berlainan dan beragam adalah cara pandang kita berdasarkan subyektifitas serta imaginasi kita sendiri sesuai dengan kebutuhan kita. Karena pada dasarnya kitalah yang memiliki kekuasaan untuk menjadikan segala obyek di luar diri kita berwarna seperti apa.

Segala hal berkaitan dengan hidup bisa menjadi sangat membosankan pun sangat berwarna tergantung bagaimana secara personal kita bisa berkompromi dengan diri sendiri untuk mengartikannya sesuai kebutuhan. Segala sesuatu tidak memiliki arti apapun tanpa kita mau dan mampu memberikan penilaian berdasarkan kapasitas pribadi kita dalam merangkai abtstraksi.




Monday, April 24, 2006

Misplaced Childhood

Tadi pagi secara ga sengaja gue ngeliat film kartun jungle box di lativi. Kalo ga salah film ini pernah ditayangkan 20 tahunan yang lalu, atau bahkan lebih deh. Mendadak gue keingetan masa beberapa tahun silam, saat masih berwujud anak kecil yg kurus dan hitam. Masa dimana keberagaman warna hidup pernah sedemikian menghiasi abstraksi gue.


Mengingat masa kecil mendadak gue jadi agak perihatin manakala melihat anak-anak di kampung gue di wilayah klaten sana. Wakgtu gue kecil, kami memiliki sekian macam bentuk permainan yang saban hari membuat kami, anak-anak, bisa berkumpul bersama dan menikmati masa-masa hidup yang lepas dari beban apapun. Semua hal dijalani hanya untuk memberikan keriangan semata. waktu seolah tanpa batas, permainan seolah mampu memberikan warna hidup yang sedemikian meneynangkan bagi kami. setiap hari kita selau ingin bertemu, bersama-sama menciptakan sesuatu yang mampu memberi rangsang bagi keriangan kami.


Namun saat ini semuanya sudah berubah drastis. Anak-anak jarang sekali terlihat berkumpul bersama untuk memainkan permainan kolektif diantara mereka. Anak-anak jaman sekarang lebih menyukai permaianan yang bersifat individual, miskin kompetisi dan interaksi. Setiap gue datang ke klaten, ga pernah lagi gue lihat anak-anak main; gobak sodor, petak umpet, kasti, bentengan, kelereng, atau bahkan main gambar. Anak-anak lebih suka menghabiskan waktunya didepan tv, atau kalaupun toh main, mereka lebih suka permainan yang sifatnya personal dan individual. Bentuk-bentuk permainan yang memberi nuansa dan merangsang; kreatifitas, kesetiakawanan, sekaligus kompetisi hampir tidak ada lagi. Yang tersisa dari jenis permainan yang ada tinggal sepak bola. Bentuk permainan yang lain menguap entah kemana?


Entahlah apakah kondisi ini merupakan sisi yang positip dari perkembangan peradapan, yang memberikan perubahan radikal pada perilaku anak-anak. Atau sisi yang memprihatinkan dari peradpan yang memberikan ekses negataif bagi perilaku anak-anak.


Yang pasti, anak-anak jaman sekarang memiliki kecerdasan yang cukup tingi (oleh karena ditunjang banyak fasilitas) tapi menurut gue kecerdesan emosional dan sisi humanismenya cenderung kurang. Anak-anak cenderung menjadi lebih individualis, dan agak-agak kurang kreatif, karena dunianya memang terdomestikan oleh berbagai fasilitas yang tidak merangsang interaksi antar sesama.


Kalau menurut pribadi gue, anak-anak sebenarnya akan lebih baik bila tumbuh dan berkembang dalam pola interaksi yang tinggi antar sesama mereka. Daripada hidup dalam naungan fasilitas yang beragam tapi terdomestikan oleh fasilitas yang ada. Pola interaksi antar sesama yang terjalin dengan baik dimasa pertumbuhan anak akan membawa dampak yang sedemikian fundamental bagi terbangunnya semangat; kesetiakawanan, kompetisi, kreatifitas dan sifat yang lebih humanis.

Friday, April 21, 2006

Refleksi


berhenti sejenak di suatu ketika
menatap selintas jejak yang tertinggal

lukisan hidup tergolek diatas riak gelombang

lunglai tersandar di ujung malam


selalu

pagi memberi batas

atas usangnya sebuah impian

memaksa jiwa bergerak menyongsong fajar

menuju kegelisahan yang lain

Thursday, April 20, 2006

Tentang seseorang

Dulu,

Saat matahari belum juga beranjak tinggi, dia membuat gue terbangun dari tidur lelab. Gurat wajah penuh persoalan terpajang lusuh dihadapan gue. Cerita basi tentang sulitnya hidup lantas tumpah ruah menjadi parody yang sedikit konyol. Tapi, dia temen gue (walaupun bukan satu komunitas). Sedikit apapun, dia pernah memberi warna pada hidup gue, walau tidak selalu berwarna cerah.

Dengan menekan rasa bosan dan ngantuk gue biarkan dia berceloteh tentang banyak hal sampai selesai. Mungkin dia sedang membutuhkan tempat untuk menumpahkan sekian beban persoalan hidup yang menurutnya berat. Tidak ada salahnya menyerahkan telinga menjadi tempat yang baik guna menampung sekian muntahan mereka yang membutuhkannya. Toh, dalam banyak kesempatakan gue juga pernah membuatnya repot.


Beberapa tahun kemudian,

Kami bertemu di bandara, cerita sukses menyelimuti hidupnya. Ada sedikit rasa senang mengaliri perasaan gue mendengar betapa hidupnya sudah berubah drastis semenjak orang tuanya mendapatkan keuntungan dari perubahan konstelasi politik dalam negeri. Tapi, keinginan gue untuk menunjukan sedikit ekspresi bahagia terpaksa batal manakala gue mendapati respon yang sangat tidak friendly darinya saat melihat gue. Gue yang secara impresif memandang dan menyambutnya setelah sekian tahun tidak bertemu terpaksa menahan diri dan malu mendapati sebuah pribadi yang dingin, kaku, dan angkuh. Tidak ada basa-basi yang pernah sedemikian hangat, yang ada adalah manifestasi dari seorang birokrat saat menghadapi kawan lama yang seolah datang minta sumbangan atau proyek. Perbincangan kaku berjalan datar. Sebuah rasa asing menyelimuti perasaan gue. Sebelum semuanya menjadi semakin asing, gue lemparkan kaki gue bergerak menjauh. Mudah-mudahan kami tidak perlu bertemu lagi di kemudian hari.

Wednesday, April 19, 2006

Anak Negri

Kami adalah anak-anak yang buta akan pemahaman
Dalam darah kami hanya mengalir satu hasrat
menelan ragam rasa dalam tempik kelaparan

Kami adalah anak-anak yang miskin intuisi
Dalam jiwa kami hanya terbangun satu irama
Meraup semua keriangan tak peduli cara

Kami adalah anak-anak yang tidak faham membangun mimpi
dalam diri kami hanya ada lubang dahaga
yang senantiasa harus terpenuhi

Kami adalah anak-anak negeri
Pada kami tidak terbangun toleransi
Pada kami hanya ada genangan jiwa mati

(Sebuah) Perjumpaan

Lantas kita bicara tentang hari kemarin
Saat mentari masih terlihat muda
Saat pilar-pilar baja menatap dengan pandang kaku
Saat sebuah hegemoni masih kita benci


Dengan amarah dan gelisah pernah kita tatap derap sepatu lars
Satu nilai menjadi amunisi yang menggugah hati
Ketiadaan tak membuat mati
Kekosongan tak membuat jeri
Kelaparan tak membuat bias hati


Kini kau bicara tentang; merah, kuning, hijau, warna negri
Tentang sebuah ruang yang teramat terang
Tentang peluang yang sedemikian matang
Tentang kehidupan yang sedemikian layak
Tentang keterasingan yang aku rasa


Mendadak kau berubah menjadi slogan
Melayang-layang bagai tanpa raga
Mewartakan cerita yang pernah kita tertawakan
Melemparkanku pada ketidakmengertian langkah
Mengaburkan pandangku


Kau bergerak bagai bayang pada kaca jendela
Meninggalkanku dalam keterlelapan imaginer
Waktu mungkin telah mengikis keterpaduan itu
Menjadikanku nanar menatap gerak bibirmu
Tiada lagi yang bisa mengendap dalam abstraksiku


Aku merindukan pembicaraan yang remeh temeh
Sebuah perbincangan tanpa pretensi, tanpa arti
Hanya sebuah obrolan warung kopi
Dari dua pribadi yang pernah membangun satu mimpi

Refleksi Budaya

Kearifan lokal. Istilah itu seringkali kita baca dari ocehan dan hasil coretan pakar sosiolog maupun anthropolog saat berbicara tentang perbaikan kondisi social budaya setempat. Gue sendiri suka bingung dengan apa yang dinamakan kearifan local. Soalnya kalau kita bicara tentang budaya, kita tidak akan bisa melihat sesuatu yang berdiri sendiri, terlepas dari realitas dan dinamika kehidupan manusia lain daerah.

Manusia adalah makluk yang paling terbuka terhadap dinamika dan pengaruh dari sesamanya. Sebagai makluk social, manusia hidup berdasarkan adaptasi dan imitasi perilaku yang sebelumnya sudah ada. Manusia dalam menciptakan sekian fenomena bagi perkembangan kehidupan mereka senantiasa melibatkan sesamanya. Dalam perkembangan peradapan, pertemuan antar manusia dari sekian ras, terus-menerus menciptakan budaya dan akar budaya yang setiap waktu terus berkembang, seiring dengan tantangan hidup yang mereka hadapi.

Kalo kita bicara tentang kearifan local, seolah kita melihat sebuah kebijaksanaan yang maha agung dari kebudayaan masa lalu kita yang oleh karena terjangan hegemoni dominan dari bangsa lain lantas tereduksi dan bahkan tercemari. Kita lupa bahwa siklus kebudayaan akan selalu begitu, tercipta oleh karena kesepakatan social lantas tergantikan juga oleh kesepakatan social yang lain, tidak peduli apakah itu akibat terjangan hegemoni negatif pun positif dari manapun dia berasal. Sebuah bangsa diberi kemampuan untuk menerima atau melawan hegemoni sesuai dengan kebutuhan hidup mereka, bila mereka gagal melawan dan hanyut dalam terjangan hegemoni negatif tersebut, artinya bangsa itu gagal menciptakan kearifan untuk hidup mereka sendiri.

Yang ada sebenarnya adalah rapuhnya akar budaya sebuah bangsa oleh karena ketololannya sendiri, tidak pernah mau jujur mengakui bahwa budayanya tidak lebih baik dari kecenderungan milik banyak orang. Kita secara sadar membohongi diri sendiri dengan mengabaikan kenyataan sejarah bahwa bangsa ini memiliki akar buidaya yang rapuh dan menyedihkan. Jawa, mewarisi akar budaya dari kerajaan mataram yang kalah atas hegemoni internasional yang dibawa maskapai perdagangan (VOC) yang menguasai wilayah laut. Dibangunya mataram jauh dari pantai adalah awal daril hancurnya sebuah bangsa dan budaya menghadapi gempuran hegemoni bangsa lain yang lebih menguasai jalur-jalur logistik lautan. Melayu mewarisi akar budaya dari trah raja yg kalah dan memutuskan untuk menjadi penyair daripada perang melawan portugis.

Kita sering terlalu jauh membandingkan kondisi kekinian dengan kejayaan majapahit. Kita lupa, sekian generasi telah tumbuh dan berkembang semenjak runtuhnya majapahit sampai masuknya kompeni (jaman mataram) ke wilayah nusantara. Kita lupa bahwa kita tidak pernah kalah melawan VOC, karena memang bangsa ini secara substansial tidak pernah melakukan perlawanan. Mataram membiarkan pesisir utara jawa jatuh ke tangan VOC demi tetap lemahnya kekuatan politik yang ada di pesisir utara jawa agar tidak mengancam eksistensi mereka. Hanya sultan agung yg sadar bagaimana bahanya VOC kelak, tapi karena jalur logistik yan berujud bentangan laut sudah dikuasai VOC, sultan agungpun gagal mengalahkan VOC. Raja Melayu memilih memindahkan kerajaannya ke sebuah pulau kecil serta memilih menjadi penyair (bikin gurindam 12) daripada mendengarkan kata-kata Hang Tuah untuk melawan Portugis.

Apalagi yang bisa kita banggakan dengan istilah kearifan local? Selain kebudayaan yang tergerus oleh karena kekalahan bangsa ini atas serbuan hegemoni internasional yang sayangnya hanya dibawa oleh kaum pedagang, bukan serbuan kekuatan politik yang maha dahsyat? Sehingga secara kultural semakin meremukan akar budaya dari bangsa yang sebelumnya sudah kalah.


Kalau kita mau sedikit jujur dan mau melakukan refleksi atas kehancuran sekian generasi dari budaya leluhur kita, mungkin kita akan bisa mengurai sekian pilihan budaya yang lebih baik. Berdialog dengan sejarah untuk menemukan kembali tatanan kultural yang lebih baik harus dimulai dengan kerelaan menerima kenyataan atas realtas yang ada, seburuk apapun itu. Dari reflekis sejarah budaya yang ada proses pembelajaran akan memberikan pilihan yang relatif lebih baik…

Tuesday, April 18, 2006

Bukan kami punya

kalo ke kota esok pagi
sampaikan salam rinduku
katakan padanya
padi-padi telah kembang
ani-ani seluas padang
roda giling berputar-putar
siang malam
tapi bukan kami punya

kalo ke kota esok pagi
sampaikan salam rinduku
katakan padanya
tebu-tebu telah kembang
putih-puth se;uas padang
roda lori berputar-putar
siang malam
tapi bukan kami punya

(salam dari desa - leo kristi, album, nyanyian rakyat merdeka)


Saat gue berada di supermarket, terutama saat berada di counter buah pun sayuran, gue seringkali agak bingung. Kayaknya negeri ini memiliki penduduk mayoritas jadi petani, dan memiliki tanah yang sedemikian subur, tapi kenapa isi dari counter buah dan sayuran banyak yang berlabel luar negri? Why?


Menurut persepsi gue, yang bisa jadi salah, kayaknya semua terjadi oleh karena tewasnya produk dalam negeri serta mentalitas orang kaya kita yang menyukai perilaku yang artificial oleh karena terjangan budaya konsumerisme yg ga puguh. Dan muara utama dari persoalan sebenarnya berasal dari pengelola negeri ini yang tidak pernah berpihak pada mereka yang selama ini sebagai penghasil buah dan sayuran.

Ada sebuah komoditi pisang yang sangat terkenal dari new zealand, lupa namanya, ternyata varietas awalnya berasal dari indonesia, pisang ambon. Oleh para pakar di new Zealand dilakukan sekian upaya perkawinan silang hingga akhirnya muncul satu varietas dgn rasa yang jauh lebih enak lantas menjadi komoditi import favorite di negeri ini. Jambu air yang berasal dari ciamis, menjadi salah satu produk eksport unggulan dari Taiwan, hanya karena para ahli pertanian Taiwan melakukan perkawinan silang dengan sesama jambu yang mereka bawa juga dari negeri ini.

Pemerintah Thailand sedemikian protektif terhadap perkembangan pertanian dalam negerinya, semua produk yang menjual nuansa dan embel2 negerinya dikembangkan dengan bantuan dana dan para ahli yang mumpuni. Tidak heran kalau varietas unggulan dari Thailand, walau terkadang varietas tersebut awalnya berasal dari indonesia juga, merajai pangsa pasar buah-buahan.

Lantas bagaimana nasib varietas unggulan dari negeri kita sendiri? Jeblok dan memprihatinkan. Katiadaan subsidi maupun keberpihakan pada para petani mengakibatkan petani menggantungkan hidupnya pada pola-pola tradisional yang sebenenarnya sudah sangat jauh tertinggal. Walau kita punya institute pertanian bogor (IPB), tapi pada kita ga pernah memiliki tenaga ahli di bidang pertanian yang mumpuni dan memiliki visi yang jelas untuk memajukan pertanian dan petani di negeri ini. Lulusan IPB kebanyakan malah ngendon jadi pegawai bank.

Semua kembali pada realitas bahwa secara politis pemerintah yang berkuasa (semuanya) tidak pernah secara spesifik memihak pada kaum petani, yang sebenarnya adalah asset yang luar biasa besar. Pemerintah negeri ini terlalu sibuk dengan persoalan yang seolah-olah besar tapi tidak pernah mneyentuh esensi kehidupan rakyatnya sendiri. Sehingga jangan heran kalau tahun-tahun yang akan datang mungkin kita sama sekali tidak akan melihat produk pertanian dan perkebunan kita di pasar local, apalagi pasar bebas ga bisa ditahan lagi.

Mau apa lagi coba, bangsa ini lebih suka menjadi penikmat daripada pengelola. Semua asset berharga negeri ini menjadi barang yang memiliki nilai jual tinggi justru setelah dikelola orang asing. Makanya tidak heran, sampai negeri ini berumur setua ini, masih saja kita mempercayakan pengelolaan semua asset berharga, mulai dari tambang sampai produk unggulan pertanian dan perkebunan kepada orang asing. Kita dengan segala kepongahan kita menjadikan diri sebagai penikmat semata.

Moralitas

Kata-kata ini sering sekali bertebaran tanpa makna di; koran, majalah, dan ocehan parau banyak orang di tv dan radio. Semua berlomba-lomba membuat paradigma tentang moralitas berdasar isi perut masing-masing. Banyak orang lantas merasa perlu untuk menjaga moralitas sesamanya dengan kesangaran dan tawar menawar harga yang menyebalkan.


Belakangan hari kita disibukan dengan perdebatan UU pornografi dan segala tetek bengek yang berurusan dengan syahwat. Seolah moralitas bangsa bisa diukur dengan tertib tidaknya kita dalam mengelola urusan syahwat. Bahkan pemda tangerang mengangkat dirinya sejajar dengan malaikat pencabut hak berekspesi seksi dan menggoda dari penduduknya. Seolah moralitas itu sesuatu yang linier, yang oleh karena berperilaku tidak sesuai dengan sepenggal paradigma moral salah satu pihak, lantas dicap bobrok dalam semua hal. Orang lupa bahwa koruptor juga bisa bernenampilan wise dan soleh dengan segala atribut agamis. Orang lupa bahwa pornographi, pelacuran dan kumpul kebo pun perjudian tidak akan membuat negara bangkrut. Orang pura-pura ga tahu bahwa korupsilah yang membuat sendi-sendi perekonomian negara koyak dan berantakan (yang ini contohnya sudah sangat transparan).


Kita terjebak pada paradigma moralitas yang tereduksi. Kita membuat stigma tentang moralitas banyak orang berdasarkan persepsi individu-individu atas nilai yang diyakininya paling sahih. Manusia sebagai makluk personal yang memiliki wilayah batin teramat luas diabaikan. Perilaku yang paling personal sekalipun harus tunduk pada kecenduran budaya dominan yang dipaksakan.


Kita lupa bahwa moralitas seharusnya diukur sampai sejauh mana perilaku seseorang telah melahirkan agresi yang menciptakan ketidakadilan bagi yang lainnya. Bukannya perilaku yg melahirkan keriangan yang menurut persepsi orang lain tidak memenuhi standar nilai yang diartikan sepihak. Orang lupa ada koridor hukum yang mengatur otonomi pribadi dari dan terhadap tingkah laku pribadi yang lainnya. Jadi semestinya tidak diperlukan standar moral umum atas tindakan-tidankan yang tidak bisa diukur teksesnya terhadap ketidakadilan orang lain.


Stigma

Seringkali kita menilai negatif sesorang hanya karena satu dan lain hal yang kurang berkenan pada kita. Lantas dengan pongahnya kita memberikan justifikasi yang seenak jidat, tanpa melihat secara mendalam pantas atau tidak kita memberikan justifikasi tersebut.

Manusia kadang-kadang lupa, bahwa subyektivitasnya, sadar atau tidak sadar, sudah membuang sesuatu yang mungkin saja sedikit berharga hanya karena arogansi dan emosi sesaat. Kita terkadang lupa bahwa segala kemungkinan bisa terjadi pada diri kita kelak di kemudian hari. Kita lupa bahwa hal yang sama sekali kita abaikan suatu ketika bisa mendadak menjadi sesuatu yang membantu hidup kita, oleh karena perputaran nasib tiba-tiba memberi pelajaran yang pahit buat kita. Kita lupa, semesta terkadang dengan caranya sendiri memberi kita pelajaran dan pamahaman akan hidup dengan memberikan tamparan agar kita becermin atas apa yang pernah kita jalani dan lakukan.

Kecenderungna kita manusia memang seringkali mudah ponggah dan lupa diri saat berada pada posisi yang stabil. Baru setelah sekian petaka atau pembelajaran dari semesta hadir, erangan, isakan, serta penyesalan bertubi-tubi tumpah ruah.

Mungkin kita memang secara kultural belum bisa menghapus kesan sebagai bangsa yang mudah amnesia. Mudah lupa atas apa yang terjadi di masa lalu. Kita mudah menghakimi orang dengan sekian ribu cercaan dan pembunuhan karakteristik secara tidak proporsional hanya karena orang tersebut berlaku salah atau tidak semestinya atas satu persoalan. Kita juga akan mudah menyayangi orang dengan masa lalu yang menakutkan hanya karena dia tiba-tiba dalam satu kesempatan memberikan senyuman yang berkenan dihati. Kita mudah tersentuh oleh hal-hal yang tampak dipermukaan lantas lupa pada proporsi yang semestinya.

Kisah sedi

Kisah ini terjadi di lampung, di daerah transmigran yang masing-masing orang memiliki lahan sangat luas. Di salah satu wilayah seperti yang gue sebutkan tadi, konon tinggalah satu orang petani yang mulai beranjak tua. Karena menyadari usianya dah semakin tua, serta fisiknya dah ga sekuat dulu lagi, dia berencana mewariskan tanahnya yang berhektar-hektar untuk dikelola anak laki satu-satunya.

Tapi, si anak secara tegas menampik warisan berupa tanah tersebut. Si anak ga mau petani. Dia lebih suka menjadi tukang ojek. Dia meminta ayahnya untuk menjual tanahnya saja dan membelikannya motor. Segala bujuk rayu orang tua itu tidak membuat si anak berubah pikiran. Akhirnya, demi si anak, orang tua tersebut menjual tanahnya kepada pengusaha dari Jakarta yang ingin membuka perkebunan kelapa sawit. Tanah yang lumayan luas lantas berpindah kepemilikan berubah menjadi motor dan sedikit uang.

Selanjutnya dengan stelan yang luar biasa gagah si anak saban pagi nongkrong di perenpatan jalan kota menawarkan ojeknya. Raut wajah puas dan bangga terpancar pada wajah si anak. Bagi si anak, menjadi tukang ojek lebih menjanjikan secara financial dan stile daripada jadi petani. Tukang ojek saban hari akan memegang duit, dan mengendarai motor akan tampak gagah diliat orang.

Si anak lupa bahwa dia telah kehilangan asset masa depan yang sangat berharga, dibandingkan hanya sebuah motor yang tidak memiliki umur sepanjang diri dan kebutuhan hidupnya kelak. Si anak juga ga tahu bahwa tanaman kelapa sawit menyerab unsur hara berlebih, sehingga tanah yang sudah ditanami kelapa sawit menjadi sangat tidak subur yang akan berdampak pada gersangnya daerahnya kelak.

Monday, April 17, 2006

Dialektika

..............................................
They answered my questions with questions
And set me to stand on the brink
Where the sun and the moon were as brothers
And all that was left was to think

They answered my questions with questions
And pointed me into the night
The power that bore me had left me alone
To figure out which way was right

(Question - Manfred Mann & The Earth Band)


hidup adalah sebuah pertanyaan panjang yang mengelantung di cakrawala, yang seringkali memaksa manusia mengerenyitkan jidat untuk mencari jawabnya. dan tidak akan pernah ada jawaban yang dengan seksama sanggup menjawab tanya yg ada, selain sebuah kompromi untuk memupus logika yang terus berkembang liar.

karena manusia kemudian mendapatkan apa yg dinamakan logika, atau pikiran, maka manusia dikutuk untuk menyadari keberadaannya di semesta ini (eksistensi). eksistensi mensyaratkan adanya pemahaman terhadap makna, entah itu makna idup hari ini, kemarin maupun besok. makna menjadi pertanyaan yang menurut gue paling fundamental. karena apa yg kita lihat, dengar, rasakan, pun jalani selalu memaksa kita untuk memaknainya atau paling tidak mempertanyakannya.

kebiasaan gue, yang mungkin sering menyebalkan banyak orang, adalah sering melontarkan pertanyaan tentang apapun. bagi gue, hal-hal yang kurang jelas harus dijelaskan dengan cara apapun. pertanyaan bukanlah sebuah penghakiman, pertanyaan adalah awal dari dialektika yang harus dibangun untuk mewujudkan sebuah komunikasi yang sehat. memang tidak semua pertanyaan yang gue lontarkan memiliki bobot dan kualitas yang memadai (maklum, gue toh tetep manusia yg kondisi psikologisnya sering up and down).

dialektika menurut gue sangat perlu bagi terciptanya kultur masyarakat yang lebih toleran dan terbuka. membiasakan diri melontarkan pertanyaan dan menjawabnya untuk sebuah proses menuju kesepemahaman menurut gue hal yang wajib dilalui bila kita ingin membangun tatatan yang lebih rasional. memang pertanyaan yang terlontar kadangkala terasa menyakitkan telinga pun menyebalkan hati, tapi sekeras apapun sebuah tanya, asal dilontarkan demi untuk sebuah jawaban yang membantu banyak pihak menemukan jawaban, masih wajar untuk dilontarkan.

cuma sayangnya, di negeri ini masih banyak person yang tidak siap menerima pun menjawab pertanyaan yang dilontarkan. dengan dalih terlalu mengada-ada atau apalah, pertanyaan sering dibuang seolah sampah yang ga berarti. padahal, tidak mungkin pertanyaan itu terlontar bila si pelontar tidak membutuhkan jawaban. demi yang namanya toleransi, terkadang gue bisa memaklumi bahwa tidak semua pihak siap menerima pertanyaan yang meungkin terlalu sensitif, tapi manakala gue berpikir tentang kemajuan alam pikiran, gue jadi agak prihatin dengan realitas bahwa orang tidak mau menjawab pertanyaan karena merasa pertanyaan yang dilontarkan tidak pada tempatnya atau kurang sopan. menurut gue, semestinya semua pertanyaan harusnya mendapatkan jawaban. kendati jawaban itu berupa hal yang paling remeh yang ada dalam pikiran anak manusia sekalipun. dengan demikian kita sudah membiasakan diri untuk berdialog dengan baik dan benar.

namun, bila ternyata gue pernah melontarkan tanya yang membuat merah telinga orang, membuat dongkol, sebal, dsb, dengan besar hati dan dengan sungguh-sungguh, gue pasti akan mengajukan permintaan maap...dan bila tetep ada yang dongkol, yah apa dikata, semua demi dialektika dan rasionalitas alam pikiran...

Sunday, April 16, 2006

Bandung lagi...

dua minggu yang lalu gue terdampar di bandung saat banyak orang sedang menikmati apa yang dinamakan long wiken. minggu ini, sekali lagi, gue terdampar di kota yang sama, walau dengan partner yang berbeda, saat orang juga masih menikmati apa yang dinamakan long wiken.


kalo dua minggu yg lalu gue menikmati bandung di bagian utara, yang memang super padat saat liburan, minggu ini gue dibawa ama temen gue menyambangi kehidupan malam di kota dan seputar braga, juga rumah strawberry yang di cihideung atas tea.


well, beberapa tahun yang lalu gue ama anak2 (cowok) suka iseng keluyuran di kota untuk sekedar haha hihi...liat seperti apa sih gemerlap dan liarnya kehidupan malam kota bandung. banyak sih perempuan dengan segala macam tingkah dan penampilan, ngepos di pinggir jalan menunggu para penyewa alat-alat perkawinan. tapi, manakala wiken minggu ini gue kembali menjelajahi ruas-ruas jalan yang konon tempat orang-orang mengangkut para pemilik alat-alat perkawinan, astaga, sudah banyak sekali yang berubah. sekarang semua begitu terbuka, mereka yang berprofesi sebagai pihak yang menyewakan alat-alat perkawinan bertebaran di jalanan, banyak pisan. anak-anak yang umurannya paling belum juga menginjak 20 tahun begitu atraktif menawarkan dirinya pun menghadang mobil yang lewat di sekitar mereka. tempat mangkal mereka bukan hanya pada satu ruas jalan (jalan kecil) antara asia afrika - jalan ABC, tapi sampai yang menuju ke arah braga, bahkan di depan hotel kedaton, banyak berkumpul ABG dengan perilaku yang sama, atraktif dan vulgar dalam menawarkan alat-alat perkawinan.


mungkin bandung emang sudah banyak mengalami perubahan seiring dengan perkembangan masyarakatnya secara kultural. tidak ada lagi yang perlu disembunyikan dari sekian hal yang dulunya hanya bisa kita baca da liat pada liputan-liputan ekslusif wartawan..

Wednesday, April 12, 2006

renungan (ii)

Revolusi. Dalam sejarah, kata ini pernah sedemikian populer, terutama setelah kita mendapat anugerah kemerdekaan dari kaum kapitalis negeri belanda. Revolusi seolah menjadi lagu wajib untuk menunjukan pada dunia bahwa kita sanggup berdiri sejajar dengan bangsa lain. Dengan revolusi, demikian kata sukarno, kita hancurkan kungkungan system dan budaya yang menghambat kemajuan bangsa. dengan revolusi mari kita menuju pada karakter bangsa yang baru yang lebih kuat, amerika kita setrika inggris kita linggis, ganyang kapitalis, demikian idiom2 yg berkembang waktu itu.

Tapi, revolusi yang terucap dan menurut beberapa orang dijalani, ternyata hanyalah slogan bagi arogansi dari sebuah bangsa yang baru saja bangun dari kehancuran budaya dan ingin dianggap bisa berdiri sejajar dengan bangsa lain. Sukarno mengartikan revolusi sebagai bagian dari perlawanan terhadap kapitalisme dan kolonialisme. Bangsa ini pura-pura meyakini bahwa kemerdekaan dari kaum kapitalis kolonial didapat dengan cara revolusi berdarah-darah, padahal kemerdekaan yang ada di dapat karena hadiah dari keadaan kalahnya jepang dari sekutu, dan belum kembalinya belanda, yang negaranya diporakporandakan jerman, ke Hindia Belanda. Orang lupa bahwa tidak ada revolusi sungguhan dalam proses perjuangan menggapai kemerdekaan selain hanya nasib baik. Banyak orang merasa sudah mencapai fase paling revolusioner dalam hidup, begitu negeri ini mendapat kedaulatan penuh. Orang melupakan revolusi kultural yang lebih menyentuh esensi budaya. Sehingga Revolusi pada waktu itu akhirnya hanya menjadi macan kertas dan mars lagu wajib bagi anak-anak sekolah yang menyanyikannya sambil mengantuk.

Dan kehancuran kultural yang parah tidak bisa dibangunkan oleh sebuah slogan, walau slogan itu memiliki esensi yang luar biasa mendalam. Realitas tetap membutuhkan hantaman yang menyentuh rasa dari apa yang dinamakan revolusi. Kalau kata Tan Malaka, revolusi yang dibutuhkan bangsa ini untuk bisa berdiri sejajar dengan bangsa lain pun untuk bisa bergerak maju ditengah dinamika kehidupan bernegara, adalah revolusi yang menyentuh akar budaya masyarakat. Bukan sebuah revolusi artifisial demi sebuah arogansi yang ternyata justru memenggal kepala banyak pihak. Kepala-kepala yang berisikan pemikiran revolusionerlah yang akhirnya harus tumbang oleh arogansi revolusi artificial Negara, termasuk Tan Malaka.


Revolusi, hal inilah yang gue butuhkan saat ini untuk lepas dari kungkungan sistematika hidup yang tercipta oleh karena lemahnya gue menghadapi terjangan realitas. Revolusi yang menyentuh esensi hidup gue yang carut marut. Tanpa revolusi yang nyata sampai menyentuh pada esensinya, gue tidak bisa bergerak maju dan melepaskan diri dari bayang-bayang masa yang perlahan tapi pasti menenggelamkan gue dalam nyata yang semakin kelabu.

Tuesday, April 11, 2006

strugle

Gue seringkali mencoba sangat toleran, terutama terhadap orang yang memang pantas untuk gue kasih toleransi (sodara, orang yang berbuat baik, dan temen-temen deket). Kepada mereka ini gue memiliki lautan luas yang bernama toleransi.

Masalahnya, gue juga adalah orang yang bisa berubah menjadi sangat cepat mengabaikan banyak pihak saat gue ngrasa ga mendapat penghargaan yang pantas. Dan hal itu terjadi bukan hanya sekali dua kali dalam idup gue, banyak kali!!!

Dalam hidup gue berkembang rumus yang teramat sederhana, gue akan menghargai orang yang pantas gue hargai, namun gue akan lebih menghargai mereka yang juga menghargai gue. Seberapa pun pantasnya orang itu untuk dihargai, begitu menempatkan gue dalam kondisi yang seolah tak berharga, maka dengan serta merta gue akan mengabaikannya. Walaupun gue akan kembali memberikan harga yang layak, saat orang yang pernah gue abaikan kembali menempatkan gue pada porsi yang layak juga, karena gue bukanlah orang yang mudah mendendam.

Dan tadi, telepon dari seorang temen, yang mungkin masih mencoba meraba-raba kayak apa sih perilaku dan karakter gue, membuat gue ingat akan hal-hal semacam abai-mengabaikan ini. Ya maaf deh, kalo gue ternyata tidak se-strugle yang orang kira pun kadang gue yakini. Karena perlu waktu dan persepsi yang pasti untuk memaksa gue melakukan hal-hal yang seringkali mengabaikan rumus dalam idup...

Snorkling

Akhirnya gue dapet kesempatan buat bersnorkling ria di pulau seribu. well, biar gue ga bisa berenang, tapi gue menyukai memandang bentangan luas hamparan air yg seolah tanpa ujung.

Laut, selain gunung dan hutan tentunya, adalah tempat sang sanggup meredakan sekian gejolak rasa akibat tindihan persoalan idup yang datang dan pergi saban hari. Makanya ketika sebuah ajakan, yg sebenarnya dah lama dinanti, datang, tanpa berpikir dua kali gue menggiyakan, bahkan lantas gue berusaha meracuni temen yg ga bisa berenang juga buat ikutan nyebur ke laut.

Sepuluh tahun yang lalu gue pernah menetap dalam hitungan waktu yang cukup lama di tepi lautan, saat terjebak pada proyek di Kepulauan Mentawai. Tapi, waktu itu ga pernah sekalipun gue menyeburkan diri ke laut. Setiap hari gue memang menjelajahi laut, tapi selalu menggunakan boat.


Dan ternyata snorkling cukup menyenangkan. Memberi perbendaharaan cara yang berbeda bagi gue untuk menikmati satu sisi semesta yang tergambar pada pergerakan biota laut. Walau awalnya gue harus berjumpalitan ga karuan karena gagal melakukan upaya pengambilan nafas dengan menggunakan peralatan snorkling, tapi setelah sekian kali mencoba akhirnya kenyamanan bersnorkling ria sanggup menghilangkan rasa capek dan sengatan matahari. Mungkin yang agak mengganggu adalah terjangan ubur-ubur yang bikin sekujur badan gatal-gatal. Tapi, ubur-ubur pun gak akan sanggup menghalangi keinginan untuk bersnorkling ria di kemudian hari.

Dan bepergian ke tempat favorit bareng banyak orang yang memiliki hobby serupa memberikan sensasi tersendiri dibanding pergi sendirian atau hanya dengan sekian gelintir temen. Paling tidak keriangan bisa kita bagi dengan banyak pihak, pun banyak sudut pandang.

So, where and when next trip guys??...

Thursday, April 06, 2006

Elegan

Kemarin ada demo buruh yg lumayan besar di depan istana wapres. Demo menolak revisi UU tenaga kerja No. 30/2003 digelar sampai sore hari dan memacetkan jalur utama ibukota. Kebetulan hari itu gue ada pertemuan ama temen-temen MPS di sarinah, jadi gue bisa melihat betapa lengangya jalan thamrin saat bubaran kantor, hal yang jarang terjadi.

Sebagai orang yg faham dengan kondisi perburuhan dalam negeri, gue ikut bersimpati dengan apa yang dilakukan oleh kaum buruh dengan demonya sore kemarin. Bagaimanapun juga di negeri ini buruh, selain petani, dan kaum miskin lainnya, menjadi salah satu kelas sosial dalam masyarakat yang nasibnya jarang sekali mendapat perlindungan dari pemerintah yang berkuasa.
Tapi, manakala gue langsung melihat apa yang ditinggalkan oleh mereka yang demo di sepanjang jalan thamrin, gue jadi ngelus dada. Mengapa pula orang-orang yg demo itu harus mecahin pot-pot di pinggir jalan thamrin, mecahin lampu-pampu dan menghancurkan beberapa atap halte bus, bahkan kabarnya juga merusak bussway. Sesuatu yang mustinya bisa mengundang sinmpati banyak orang jadi berubah menjadi bumerang. Simpati yang mustinya mengalir untuk mereka berubah menjadi cibir dan penyelasan.

Kalau kita membandingkan dengan apa yang terjadi di Thailand yang dalam bulan-bulan terakhir juga sedang dilanda demo besar-besaran dari warganya yg menuntut PM thaksin mundur, harus kita akui kita jauh sekali tertinggal dalam hal keberadaban. Begitu thaksin menyatakan mundur, dan demo dianggap selesai, para demonstran melepaskan spanduk dan membersihkan poster-poster yang sebelumnya mereka tempelkan di banyak tempat, mereka juga menyapu segala kotoran yang disebabkan oleh kegiatan demo mereka sebelumnya, kemudian dana operasional yang tersisa juga mereka sumbangkan kepada para bhiksu. Tidak ada anarkisme yang bisa membuat orang ketakutan.

Mungkin hal tersebut menjadi pekerjaan rumah buat temen-temen yang sering melakukan kegiatan perngorganisasian kaum buruh, maupun kelas sosial lain yang masih terpinggrikan, untuk melakukan pencerahan alam pikiran agar dalam setiap tindakan politik dalam menyampaikan aspirasi, mereka bisa lebih elegan.

Dengan cara yang lumayan simpatik seperti itu tidak heran bila demo yang dilakukan pihak oposisi di Thailand dengan serta merta mendapat simpati dan dukungan dari banyak pihak. Kapan orang-orang di negeri ini bisa belajar berperilaku yang sedikit biadap, syukur2 bisa elegan ya?

Wednesday, April 05, 2006

same old song...

tahun-tahun berlalu
tidak juga membinasakan
masih tersisa nuansa
pada kepak sayap kaku

mata hati menatap pudarnya
bintang-bintang dihempas waktu
langkah kaki menapaki
lapuknya jalanan berbatu

namun, ujung dari lingkaran
kembali pada sebuah lagu
yang masih terus mengalun
sepanjang waktu....

jakarta 2006

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucap
diserap akar pohon bunga itu

1989 Sapardi Djoko Damono


PADA SUATU HARI NANTI

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun of sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari

1991 Sapardi Djoko Damono

Monday, April 03, 2006

Blackened

Trapped by this madness
In search of something lost to me
Life has no meaning
In a place that has no heart to bleed
Through walls of glass i stare
With a silence written in my eyes
No love or laughter
Stranger is the passion of the wise

Stand up and fight
Won't someone listen to me now
Stand up and fight
There's is only one me in my mind
I can't find a way out
No one sees what i see
This maze is a white line

In search of sanity
In search of sanity
In search of sanity

Lies taint the mirror
No image of the truth to see
Time lost forever
To the wastelands of insanity
Deep Down inside i pray
For the peace and freedom of my past
Is there no way out
Hope light and reason fading fast

(In search of Sanity - Onslaught, album In Search of Sanity, 1989)



hari ini, seperti juga beberapa hari yg pernah gue lalui, mendadak sebagaian dari semangat idup raib. kejenuhan menerjang, membuat segala sesuatu menjadi buram dan ga menyenangkan. seolah gue terjebak dalam sebuah lingkaran yang menjemukan. hal yg paling gue benci dalam hidup, kejenuhannn......

losing it

..............
Don't know what you got till it's gone
Don't know what it is I did so wrong
Now I know what I got
It's just this song
And it ain't easy to get back
Takes so long
..................

(Don't Know What You Got (Till its Gone) - Cinderella, album Long Cold Winter, 1990)

banyak hal, atau sesuatu, pun seseorang, yang saban hari dan saban waktu berada di lingkungan sekitar kita seringkali mendadak memiliki arti yang luar biasa dalam justru saat dimana dia sudah hilang dari tatapan mata kita, dan gak mungkin lagi kita miliki pun nikmati.


dan kehilangan, bagaimanapun bentuk, rupa, warna dan rasa, tetep saja meninggalkan codetan luka yang lumayan gak enak diingat.

Eksis?

Last night you said I was cold, untouchable
A lonely piece of action from another town
I just want to be free, I'm happy to be lonely
Can't you stay away?
Just leave me alone with my thoughts
Just a runaway.... just a runaway,
I'm saving myself

(Blind Curve - Marillion, album Missplace Childhood, 1986)

aku akan senantiasa ada saat kau pikir aku memang ada*, dan aku akan menjadi tidak ada saat kau pikir aku memang tidak ada. karena kita adalah makluk berpikir, maka segala sesuatu hanya akan esksis saat alam pikiran kita memang membuatnya eksis.
* aku berpikir maka aku ada (jean paul satre)

about the future

Cause we all live in Future World
A world that's full of love
Our future life will be glorious
Come with me - Future World

(future world - helloween, album keeper of seven keys part i, 1987)

kata-kata diatas hanyalah ungkapan keriangan kaum utopis yg sering melupakan bagaimana sebenarnya realitas idup itu. masa depan sebenarnya adalah bayang-bayang hitam yang buram. bagai sekelebat gerak ditengah kabut pada pagi buta.....

confuse.....

susahnya jadi makluk berpikir...........