Monday, April 24, 2006

Misplaced Childhood

Tadi pagi secara ga sengaja gue ngeliat film kartun jungle box di lativi. Kalo ga salah film ini pernah ditayangkan 20 tahunan yang lalu, atau bahkan lebih deh. Mendadak gue keingetan masa beberapa tahun silam, saat masih berwujud anak kecil yg kurus dan hitam. Masa dimana keberagaman warna hidup pernah sedemikian menghiasi abstraksi gue.


Mengingat masa kecil mendadak gue jadi agak perihatin manakala melihat anak-anak di kampung gue di wilayah klaten sana. Wakgtu gue kecil, kami memiliki sekian macam bentuk permainan yang saban hari membuat kami, anak-anak, bisa berkumpul bersama dan menikmati masa-masa hidup yang lepas dari beban apapun. Semua hal dijalani hanya untuk memberikan keriangan semata. waktu seolah tanpa batas, permainan seolah mampu memberikan warna hidup yang sedemikian meneynangkan bagi kami. setiap hari kita selau ingin bertemu, bersama-sama menciptakan sesuatu yang mampu memberi rangsang bagi keriangan kami.


Namun saat ini semuanya sudah berubah drastis. Anak-anak jarang sekali terlihat berkumpul bersama untuk memainkan permainan kolektif diantara mereka. Anak-anak jaman sekarang lebih menyukai permaianan yang bersifat individual, miskin kompetisi dan interaksi. Setiap gue datang ke klaten, ga pernah lagi gue lihat anak-anak main; gobak sodor, petak umpet, kasti, bentengan, kelereng, atau bahkan main gambar. Anak-anak lebih suka menghabiskan waktunya didepan tv, atau kalaupun toh main, mereka lebih suka permainan yang sifatnya personal dan individual. Bentuk-bentuk permainan yang memberi nuansa dan merangsang; kreatifitas, kesetiakawanan, sekaligus kompetisi hampir tidak ada lagi. Yang tersisa dari jenis permainan yang ada tinggal sepak bola. Bentuk permainan yang lain menguap entah kemana?


Entahlah apakah kondisi ini merupakan sisi yang positip dari perkembangan peradapan, yang memberikan perubahan radikal pada perilaku anak-anak. Atau sisi yang memprihatinkan dari peradpan yang memberikan ekses negataif bagi perilaku anak-anak.


Yang pasti, anak-anak jaman sekarang memiliki kecerdasan yang cukup tingi (oleh karena ditunjang banyak fasilitas) tapi menurut gue kecerdesan emosional dan sisi humanismenya cenderung kurang. Anak-anak cenderung menjadi lebih individualis, dan agak-agak kurang kreatif, karena dunianya memang terdomestikan oleh berbagai fasilitas yang tidak merangsang interaksi antar sesama.


Kalau menurut pribadi gue, anak-anak sebenarnya akan lebih baik bila tumbuh dan berkembang dalam pola interaksi yang tinggi antar sesama mereka. Daripada hidup dalam naungan fasilitas yang beragam tapi terdomestikan oleh fasilitas yang ada. Pola interaksi antar sesama yang terjalin dengan baik dimasa pertumbuhan anak akan membawa dampak yang sedemikian fundamental bagi terbangunnya semangat; kesetiakawanan, kompetisi, kreatifitas dan sifat yang lebih humanis.

No comments: