Kata-kata ini sering sekali bertebaran tanpa makna di; koran, majalah, dan ocehan parau banyak orang di tv dan radio. Semua berlomba-lomba membuat paradigma tentang moralitas berdasar isi perut masing-masing. Banyak orang lantas merasa perlu untuk menjaga moralitas sesamanya dengan kesangaran dan tawar menawar harga yang menyebalkan.
Belakangan hari kita disibukan dengan perdebatan UU pornografi dan segala tetek bengek yang berurusan dengan syahwat. Seolah moralitas bangsa bisa diukur dengan tertib tidaknya kita dalam mengelola urusan syahwat. Bahkan pemda tangerang mengangkat dirinya sejajar dengan malaikat pencabut hak berekspesi seksi dan menggoda dari penduduknya. Seolah moralitas itu sesuatu yang linier, yang oleh karena berperilaku tidak sesuai dengan sepenggal paradigma moral salah satu pihak, lantas dicap bobrok dalam semua hal. Orang lupa bahwa koruptor juga bisa bernenampilan wise dan soleh dengan segala atribut agamis. Orang lupa bahwa pornographi, pelacuran dan kumpul kebo pun perjudian tidak akan membuat negara bangkrut. Orang pura-pura ga tahu bahwa korupsilah yang membuat sendi-sendi perekonomian negara koyak dan berantakan (yang ini contohnya sudah sangat transparan).
Kita terjebak pada paradigma moralitas yang tereduksi. Kita membuat stigma tentang moralitas banyak orang berdasarkan persepsi individu-individu atas nilai yang diyakininya paling sahih. Manusia sebagai makluk personal yang memiliki wilayah batin teramat luas diabaikan. Perilaku yang paling personal sekalipun harus tunduk pada kecenduran budaya dominan yang dipaksakan.
Kita lupa bahwa moralitas seharusnya diukur sampai sejauh mana perilaku seseorang telah melahirkan agresi yang menciptakan ketidakadilan bagi yang lainnya. Bukannya perilaku yg melahirkan keriangan yang menurut persepsi orang lain tidak memenuhi standar nilai yang diartikan sepihak. Orang lupa ada koridor hukum yang mengatur otonomi pribadi dari dan terhadap tingkah laku pribadi yang lainnya. Jadi semestinya tidak diperlukan standar moral umum atas tindakan-tidankan yang tidak bisa diukur teksesnya terhadap ketidakadilan orang lain.
No comments:
Post a Comment