Wednesday, April 19, 2006

Refleksi Budaya

Kearifan lokal. Istilah itu seringkali kita baca dari ocehan dan hasil coretan pakar sosiolog maupun anthropolog saat berbicara tentang perbaikan kondisi social budaya setempat. Gue sendiri suka bingung dengan apa yang dinamakan kearifan local. Soalnya kalau kita bicara tentang budaya, kita tidak akan bisa melihat sesuatu yang berdiri sendiri, terlepas dari realitas dan dinamika kehidupan manusia lain daerah.

Manusia adalah makluk yang paling terbuka terhadap dinamika dan pengaruh dari sesamanya. Sebagai makluk social, manusia hidup berdasarkan adaptasi dan imitasi perilaku yang sebelumnya sudah ada. Manusia dalam menciptakan sekian fenomena bagi perkembangan kehidupan mereka senantiasa melibatkan sesamanya. Dalam perkembangan peradapan, pertemuan antar manusia dari sekian ras, terus-menerus menciptakan budaya dan akar budaya yang setiap waktu terus berkembang, seiring dengan tantangan hidup yang mereka hadapi.

Kalo kita bicara tentang kearifan local, seolah kita melihat sebuah kebijaksanaan yang maha agung dari kebudayaan masa lalu kita yang oleh karena terjangan hegemoni dominan dari bangsa lain lantas tereduksi dan bahkan tercemari. Kita lupa bahwa siklus kebudayaan akan selalu begitu, tercipta oleh karena kesepakatan social lantas tergantikan juga oleh kesepakatan social yang lain, tidak peduli apakah itu akibat terjangan hegemoni negatif pun positif dari manapun dia berasal. Sebuah bangsa diberi kemampuan untuk menerima atau melawan hegemoni sesuai dengan kebutuhan hidup mereka, bila mereka gagal melawan dan hanyut dalam terjangan hegemoni negatif tersebut, artinya bangsa itu gagal menciptakan kearifan untuk hidup mereka sendiri.

Yang ada sebenarnya adalah rapuhnya akar budaya sebuah bangsa oleh karena ketololannya sendiri, tidak pernah mau jujur mengakui bahwa budayanya tidak lebih baik dari kecenderungan milik banyak orang. Kita secara sadar membohongi diri sendiri dengan mengabaikan kenyataan sejarah bahwa bangsa ini memiliki akar buidaya yang rapuh dan menyedihkan. Jawa, mewarisi akar budaya dari kerajaan mataram yang kalah atas hegemoni internasional yang dibawa maskapai perdagangan (VOC) yang menguasai wilayah laut. Dibangunya mataram jauh dari pantai adalah awal daril hancurnya sebuah bangsa dan budaya menghadapi gempuran hegemoni bangsa lain yang lebih menguasai jalur-jalur logistik lautan. Melayu mewarisi akar budaya dari trah raja yg kalah dan memutuskan untuk menjadi penyair daripada perang melawan portugis.

Kita sering terlalu jauh membandingkan kondisi kekinian dengan kejayaan majapahit. Kita lupa, sekian generasi telah tumbuh dan berkembang semenjak runtuhnya majapahit sampai masuknya kompeni (jaman mataram) ke wilayah nusantara. Kita lupa bahwa kita tidak pernah kalah melawan VOC, karena memang bangsa ini secara substansial tidak pernah melakukan perlawanan. Mataram membiarkan pesisir utara jawa jatuh ke tangan VOC demi tetap lemahnya kekuatan politik yang ada di pesisir utara jawa agar tidak mengancam eksistensi mereka. Hanya sultan agung yg sadar bagaimana bahanya VOC kelak, tapi karena jalur logistik yan berujud bentangan laut sudah dikuasai VOC, sultan agungpun gagal mengalahkan VOC. Raja Melayu memilih memindahkan kerajaannya ke sebuah pulau kecil serta memilih menjadi penyair (bikin gurindam 12) daripada mendengarkan kata-kata Hang Tuah untuk melawan Portugis.

Apalagi yang bisa kita banggakan dengan istilah kearifan local? Selain kebudayaan yang tergerus oleh karena kekalahan bangsa ini atas serbuan hegemoni internasional yang sayangnya hanya dibawa oleh kaum pedagang, bukan serbuan kekuatan politik yang maha dahsyat? Sehingga secara kultural semakin meremukan akar budaya dari bangsa yang sebelumnya sudah kalah.


Kalau kita mau sedikit jujur dan mau melakukan refleksi atas kehancuran sekian generasi dari budaya leluhur kita, mungkin kita akan bisa mengurai sekian pilihan budaya yang lebih baik. Berdialog dengan sejarah untuk menemukan kembali tatanan kultural yang lebih baik harus dimulai dengan kerelaan menerima kenyataan atas realtas yang ada, seburuk apapun itu. Dari reflekis sejarah budaya yang ada proses pembelajaran akan memberikan pilihan yang relatif lebih baik…

No comments: