Friday, April 28, 2006

Dia (burung hantu yg mulai jarang)

.................................
seperti angin hidupnya
melayang menggembara
bagaikan matahari
hidupnya penuh dengan luka.

(Dia, El Pamas, album Tatto
)

Kepada bintang-bintang dia bercerita tentang malam-malam panjang yang menyenangkan. Malam yang senantiasa memberinya damai, malam yang senantiasa memberinya semangat, malam yang senantiasa memberinya rasa aman. Dia mencintai malam, seperti bayi mencintai puting susu ibunya.

Dia membenci pagi. Karena pagi senantiasa memberikan isyarat yang yang menyakitkan baginya. Pagi akan segera menghadirkan terang yang menelanjangi segenap jiwa raganya. Dia membenci terang. Karena terang akan memberikan ruang kepada siapapun untuk meneliti anatomi tubuhnya. Terang memaksa dirinya tampil sesuai dengan kehendak umum. Terang, dengan campuran warna dan abstraksi keindahan yang dimunculkan banyak orang, memaksa dirinya menundukkan kepala. Karena warna-warna ceria sudah terlebih dahulu memenuhi ruang di atas kepalanya. Menengadah sama saja harus beradu pandang dengan pemilik terang. Padahal pemilik terang memiliki wajah dengan paduan warna indah. Sementara dia tidak memiliki keindahan menurut persepsi pemilik terang.

Dia menyukai kegelapan, walaupun dia bukanlah setan*. Karena gelap menurutnya adalah layar yang tidak pernah membedakan warna. Gelap tidak mengenal diskriminasi. Gelap hanya tahu bahwa ada bentukan yang hadir di suatu tempat, tanpa mengharapkannya untuk menunjukkan wajah dan warnanya. Kepada gelap dia serahkan setiap luka hatinya. Kepada gelap dia serahkan nasibnya. Kepada gelap dia belajar cara hidup yang benar. Kepada gelap dia senandungkan lagu-lagu pujian.

* AS Laksana, Perempaun yang Menunggu, dari Kumpulan Cerpen Bidadari Yang Mengembara, menulis bahwa setan menyukai tempat-tempat gelap.

No comments: