Wednesday, April 12, 2006

renungan (ii)

Revolusi. Dalam sejarah, kata ini pernah sedemikian populer, terutama setelah kita mendapat anugerah kemerdekaan dari kaum kapitalis negeri belanda. Revolusi seolah menjadi lagu wajib untuk menunjukan pada dunia bahwa kita sanggup berdiri sejajar dengan bangsa lain. Dengan revolusi, demikian kata sukarno, kita hancurkan kungkungan system dan budaya yang menghambat kemajuan bangsa. dengan revolusi mari kita menuju pada karakter bangsa yang baru yang lebih kuat, amerika kita setrika inggris kita linggis, ganyang kapitalis, demikian idiom2 yg berkembang waktu itu.

Tapi, revolusi yang terucap dan menurut beberapa orang dijalani, ternyata hanyalah slogan bagi arogansi dari sebuah bangsa yang baru saja bangun dari kehancuran budaya dan ingin dianggap bisa berdiri sejajar dengan bangsa lain. Sukarno mengartikan revolusi sebagai bagian dari perlawanan terhadap kapitalisme dan kolonialisme. Bangsa ini pura-pura meyakini bahwa kemerdekaan dari kaum kapitalis kolonial didapat dengan cara revolusi berdarah-darah, padahal kemerdekaan yang ada di dapat karena hadiah dari keadaan kalahnya jepang dari sekutu, dan belum kembalinya belanda, yang negaranya diporakporandakan jerman, ke Hindia Belanda. Orang lupa bahwa tidak ada revolusi sungguhan dalam proses perjuangan menggapai kemerdekaan selain hanya nasib baik. Banyak orang merasa sudah mencapai fase paling revolusioner dalam hidup, begitu negeri ini mendapat kedaulatan penuh. Orang melupakan revolusi kultural yang lebih menyentuh esensi budaya. Sehingga Revolusi pada waktu itu akhirnya hanya menjadi macan kertas dan mars lagu wajib bagi anak-anak sekolah yang menyanyikannya sambil mengantuk.

Dan kehancuran kultural yang parah tidak bisa dibangunkan oleh sebuah slogan, walau slogan itu memiliki esensi yang luar biasa mendalam. Realitas tetap membutuhkan hantaman yang menyentuh rasa dari apa yang dinamakan revolusi. Kalau kata Tan Malaka, revolusi yang dibutuhkan bangsa ini untuk bisa berdiri sejajar dengan bangsa lain pun untuk bisa bergerak maju ditengah dinamika kehidupan bernegara, adalah revolusi yang menyentuh akar budaya masyarakat. Bukan sebuah revolusi artifisial demi sebuah arogansi yang ternyata justru memenggal kepala banyak pihak. Kepala-kepala yang berisikan pemikiran revolusionerlah yang akhirnya harus tumbang oleh arogansi revolusi artificial Negara, termasuk Tan Malaka.


Revolusi, hal inilah yang gue butuhkan saat ini untuk lepas dari kungkungan sistematika hidup yang tercipta oleh karena lemahnya gue menghadapi terjangan realitas. Revolusi yang menyentuh esensi hidup gue yang carut marut. Tanpa revolusi yang nyata sampai menyentuh pada esensinya, gue tidak bisa bergerak maju dan melepaskan diri dari bayang-bayang masa yang perlahan tapi pasti menenggelamkan gue dalam nyata yang semakin kelabu.

No comments: