Wednesday, April 19, 2006

(Sebuah) Perjumpaan

Lantas kita bicara tentang hari kemarin
Saat mentari masih terlihat muda
Saat pilar-pilar baja menatap dengan pandang kaku
Saat sebuah hegemoni masih kita benci


Dengan amarah dan gelisah pernah kita tatap derap sepatu lars
Satu nilai menjadi amunisi yang menggugah hati
Ketiadaan tak membuat mati
Kekosongan tak membuat jeri
Kelaparan tak membuat bias hati


Kini kau bicara tentang; merah, kuning, hijau, warna negri
Tentang sebuah ruang yang teramat terang
Tentang peluang yang sedemikian matang
Tentang kehidupan yang sedemikian layak
Tentang keterasingan yang aku rasa


Mendadak kau berubah menjadi slogan
Melayang-layang bagai tanpa raga
Mewartakan cerita yang pernah kita tertawakan
Melemparkanku pada ketidakmengertian langkah
Mengaburkan pandangku


Kau bergerak bagai bayang pada kaca jendela
Meninggalkanku dalam keterlelapan imaginer
Waktu mungkin telah mengikis keterpaduan itu
Menjadikanku nanar menatap gerak bibirmu
Tiada lagi yang bisa mengendap dalam abstraksiku


Aku merindukan pembicaraan yang remeh temeh
Sebuah perbincangan tanpa pretensi, tanpa arti
Hanya sebuah obrolan warung kopi
Dari dua pribadi yang pernah membangun satu mimpi

No comments: