Tuesday, April 25, 2006

Another rainy night………

Minggu kemarin gue terjebak hujan saat mau masuk jalan ke rumah dari pemberhentian metromini. Well, hujannya kelewat gede plus anginnya luar biasa kenceng. So, kagak ada keberanian dari dalam diri gue untuk nekat menerobos hujan, apalagi rumah mayan jauh dari jalan besar. Dengan terpaksa gue berteduh di emperan rumah orang. Beruntung kehujanannya ga di menteng atau pondok indah, susah disana cari emperan yg bisa dipake beteduh.

Sialnya, hujannya pake acara lama pula. Kalau dah begini biasanya gue lantas mencoba membunuh waktu dengan berbagai hal. Hal yang paling menarik saat tertahan dari jebakan hujan adalah memperhatikan hujan itu sendiri. Apa sih yang menarik dari hujan selain bagian dari siklus alam yang membantu memberikan keseimbangan pada kehidupan? Sebenarnya jawabannya relatif. Segala sesuatu menjadi menarik atau tidak menarik bergantung pada tingkat responsiblitas kita pada obyek yang ada. Pada dasarnya sebuah obyek bebas nilai. Dia menjadi memiliki nilai setelah persepsi dan imaginasi manusia berdasarkan konstruksi budaya yang ada memberikan penanfsiran secara subyektif. Demikian pula dengan hujan. Hujan dimaknai secara harfiah hanyalah gejala alam dari turunnya butir-butir air dari langit.

Tapi bagi gue yang terjebak dalam hujan lebat, hujan bukan hanya sebatas gejala alam berupa turunya air dari langit. Dia juga berarti sebuah penghambat yang memberikan sedikit bencana berupa tertahan dan terbuangnya waktu gue menunggunya reda. Hujan saat ini, yang lebat disertai angin kencang, membuat perasaan gue miris. Takut, kalo-kalo tempat berteduh gue rubuh, atau ada benda keras terbawa angin dan nabrak gue.

Tapi, manakala kita coba melihat hujan dengan cara yang lain, hujan bisa jadi juga sangat menarik. Banyak hal bisa dirasai dan resapi berhubungan dengan hujan. Bahkan dengan rasa, gue bisa menjadikan hujan sebagai sebuah media yang seolah tanpa batas. Mendengarkan derai hujan menghantam genteng saat malam tiba adalah sebuah kedamaian yang sampai setua ini masih sering gue rasai. Perpaduan rintik hujan dengan genteng menjadi pemberi nuansa musical yang sanggup memberikan ruang bagi gue untuk berkontemplasi. Ritme dentingan hujan pada titian atap menjadi komposisi musik yang sangat progressive, yang sanggup membuka ruang-ruang khayal, hingga memberi kesempatan bagi gue memikirkan segala hal, dalam bingkai yang konstruktif tentunya. Nuansa kelabu yang dibawa hujan pun saat-saat tertentu memberikan nuansa magis yang membuat perasaan menjadi lebih adem (tenang). Seperti yang saat itu gue rasakan, gue bisa mengademkan perasaan walau masih tertahan hujan yang ga juga berhenti. Demi yang namanya kompromi atas apa yang kita rasa dan lihat, dengan segala keterbatasan yang ada, gue berusaha mencintai hujan ini. Karena ga ada yang lain yang bisa dilakukannya selain berusaha menikmatinya dari sisi dimana dia bisa dinikmati.

Jadi sisi yang mana sebenarnya yang menarik dari hujan? Dari sisi yang mana saja sebenarnya wujud hujan sama saja. Yang kemudian membuatnya memiliki arti yang berlainan dan beragam adalah cara pandang kita berdasarkan subyektifitas serta imaginasi kita sendiri sesuai dengan kebutuhan kita. Karena pada dasarnya kitalah yang memiliki kekuasaan untuk menjadikan segala obyek di luar diri kita berwarna seperti apa.

Segala hal berkaitan dengan hidup bisa menjadi sangat membosankan pun sangat berwarna tergantung bagaimana secara personal kita bisa berkompromi dengan diri sendiri untuk mengartikannya sesuai kebutuhan. Segala sesuatu tidak memiliki arti apapun tanpa kita mau dan mampu memberikan penilaian berdasarkan kapasitas pribadi kita dalam merangkai abtstraksi.




No comments: