Thursday, April 20, 2006

Tentang seseorang

Dulu,

Saat matahari belum juga beranjak tinggi, dia membuat gue terbangun dari tidur lelab. Gurat wajah penuh persoalan terpajang lusuh dihadapan gue. Cerita basi tentang sulitnya hidup lantas tumpah ruah menjadi parody yang sedikit konyol. Tapi, dia temen gue (walaupun bukan satu komunitas). Sedikit apapun, dia pernah memberi warna pada hidup gue, walau tidak selalu berwarna cerah.

Dengan menekan rasa bosan dan ngantuk gue biarkan dia berceloteh tentang banyak hal sampai selesai. Mungkin dia sedang membutuhkan tempat untuk menumpahkan sekian beban persoalan hidup yang menurutnya berat. Tidak ada salahnya menyerahkan telinga menjadi tempat yang baik guna menampung sekian muntahan mereka yang membutuhkannya. Toh, dalam banyak kesempatakan gue juga pernah membuatnya repot.


Beberapa tahun kemudian,

Kami bertemu di bandara, cerita sukses menyelimuti hidupnya. Ada sedikit rasa senang mengaliri perasaan gue mendengar betapa hidupnya sudah berubah drastis semenjak orang tuanya mendapatkan keuntungan dari perubahan konstelasi politik dalam negeri. Tapi, keinginan gue untuk menunjukan sedikit ekspresi bahagia terpaksa batal manakala gue mendapati respon yang sangat tidak friendly darinya saat melihat gue. Gue yang secara impresif memandang dan menyambutnya setelah sekian tahun tidak bertemu terpaksa menahan diri dan malu mendapati sebuah pribadi yang dingin, kaku, dan angkuh. Tidak ada basa-basi yang pernah sedemikian hangat, yang ada adalah manifestasi dari seorang birokrat saat menghadapi kawan lama yang seolah datang minta sumbangan atau proyek. Perbincangan kaku berjalan datar. Sebuah rasa asing menyelimuti perasaan gue. Sebelum semuanya menjadi semakin asing, gue lemparkan kaki gue bergerak menjauh. Mudah-mudahan kami tidak perlu bertemu lagi di kemudian hari.

No comments: