Tuesday, April 18, 2006

Kisah sedi

Kisah ini terjadi di lampung, di daerah transmigran yang masing-masing orang memiliki lahan sangat luas. Di salah satu wilayah seperti yang gue sebutkan tadi, konon tinggalah satu orang petani yang mulai beranjak tua. Karena menyadari usianya dah semakin tua, serta fisiknya dah ga sekuat dulu lagi, dia berencana mewariskan tanahnya yang berhektar-hektar untuk dikelola anak laki satu-satunya.

Tapi, si anak secara tegas menampik warisan berupa tanah tersebut. Si anak ga mau petani. Dia lebih suka menjadi tukang ojek. Dia meminta ayahnya untuk menjual tanahnya saja dan membelikannya motor. Segala bujuk rayu orang tua itu tidak membuat si anak berubah pikiran. Akhirnya, demi si anak, orang tua tersebut menjual tanahnya kepada pengusaha dari Jakarta yang ingin membuka perkebunan kelapa sawit. Tanah yang lumayan luas lantas berpindah kepemilikan berubah menjadi motor dan sedikit uang.

Selanjutnya dengan stelan yang luar biasa gagah si anak saban pagi nongkrong di perenpatan jalan kota menawarkan ojeknya. Raut wajah puas dan bangga terpancar pada wajah si anak. Bagi si anak, menjadi tukang ojek lebih menjanjikan secara financial dan stile daripada jadi petani. Tukang ojek saban hari akan memegang duit, dan mengendarai motor akan tampak gagah diliat orang.

Si anak lupa bahwa dia telah kehilangan asset masa depan yang sangat berharga, dibandingkan hanya sebuah motor yang tidak memiliki umur sepanjang diri dan kebutuhan hidupnya kelak. Si anak juga ga tahu bahwa tanaman kelapa sawit menyerab unsur hara berlebih, sehingga tanah yang sudah ditanami kelapa sawit menjadi sangat tidak subur yang akan berdampak pada gersangnya daerahnya kelak.

No comments: