Tuesday, April 18, 2006

Stigma

Seringkali kita menilai negatif sesorang hanya karena satu dan lain hal yang kurang berkenan pada kita. Lantas dengan pongahnya kita memberikan justifikasi yang seenak jidat, tanpa melihat secara mendalam pantas atau tidak kita memberikan justifikasi tersebut.

Manusia kadang-kadang lupa, bahwa subyektivitasnya, sadar atau tidak sadar, sudah membuang sesuatu yang mungkin saja sedikit berharga hanya karena arogansi dan emosi sesaat. Kita terkadang lupa bahwa segala kemungkinan bisa terjadi pada diri kita kelak di kemudian hari. Kita lupa bahwa hal yang sama sekali kita abaikan suatu ketika bisa mendadak menjadi sesuatu yang membantu hidup kita, oleh karena perputaran nasib tiba-tiba memberi pelajaran yang pahit buat kita. Kita lupa, semesta terkadang dengan caranya sendiri memberi kita pelajaran dan pamahaman akan hidup dengan memberikan tamparan agar kita becermin atas apa yang pernah kita jalani dan lakukan.

Kecenderungna kita manusia memang seringkali mudah ponggah dan lupa diri saat berada pada posisi yang stabil. Baru setelah sekian petaka atau pembelajaran dari semesta hadir, erangan, isakan, serta penyesalan bertubi-tubi tumpah ruah.

Mungkin kita memang secara kultural belum bisa menghapus kesan sebagai bangsa yang mudah amnesia. Mudah lupa atas apa yang terjadi di masa lalu. Kita mudah menghakimi orang dengan sekian ribu cercaan dan pembunuhan karakteristik secara tidak proporsional hanya karena orang tersebut berlaku salah atau tidak semestinya atas satu persoalan. Kita juga akan mudah menyayangi orang dengan masa lalu yang menakutkan hanya karena dia tiba-tiba dalam satu kesempatan memberikan senyuman yang berkenan dihati. Kita mudah tersentuh oleh hal-hal yang tampak dipermukaan lantas lupa pada proporsi yang semestinya.

No comments: