Kemarin ada demo buruh yg lumayan besar di depan istana wapres. Demo menolak revisi UU tenaga kerja No. 30/2003 digelar sampai sore hari dan memacetkan jalur utama ibukota. Kebetulan hari itu gue ada pertemuan ama temen-temen MPS di sarinah, jadi gue bisa melihat betapa lengangya jalan thamrin saat bubaran kantor, hal yang jarang terjadi.
Sebagai orang yg faham dengan kondisi perburuhan dalam negeri, gue ikut bersimpati dengan apa yang dilakukan oleh kaum buruh dengan demonya sore kemarin. Bagaimanapun juga di negeri ini buruh, selain petani, dan kaum miskin lainnya, menjadi salah satu kelas sosial dalam masyarakat yang nasibnya jarang sekali mendapat perlindungan dari pemerintah yang berkuasa.
Tapi, manakala gue langsung melihat apa yang ditinggalkan oleh mereka yang demo di sepanjang jalan thamrin, gue jadi ngelus dada. Mengapa pula orang-orang yg demo itu harus mecahin pot-pot di pinggir jalan thamrin, mecahin lampu-pampu dan menghancurkan beberapa atap halte bus, bahkan kabarnya juga merusak bussway. Sesuatu yang mustinya bisa mengundang sinmpati banyak orang jadi berubah menjadi bumerang. Simpati yang mustinya mengalir untuk mereka berubah menjadi cibir dan penyelasan.
Kalau kita membandingkan dengan apa yang terjadi di Thailand yang dalam bulan-bulan terakhir juga sedang dilanda demo besar-besaran dari warganya yg menuntut PM thaksin mundur, harus kita akui kita jauh sekali tertinggal dalam hal keberadaban. Begitu thaksin menyatakan mundur, dan demo dianggap selesai, para demonstran melepaskan spanduk dan membersihkan poster-poster yang sebelumnya mereka tempelkan di banyak tempat, mereka juga menyapu segala kotoran yang disebabkan oleh kegiatan demo mereka sebelumnya, kemudian dana operasional yang tersisa juga mereka sumbangkan kepada para bhiksu. Tidak ada anarkisme yang bisa membuat orang ketakutan.
Mungkin hal tersebut menjadi pekerjaan rumah buat temen-temen yang sering melakukan kegiatan perngorganisasian kaum buruh, maupun kelas sosial lain yang masih terpinggrikan, untuk melakukan pencerahan alam pikiran agar dalam setiap tindakan politik dalam menyampaikan aspirasi, mereka bisa lebih elegan.
Dengan cara yang lumayan simpatik seperti itu tidak heran bila demo yang dilakukan pihak oposisi di Thailand dengan serta merta mendapat simpati dan dukungan dari banyak pihak. Kapan orang-orang di negeri ini bisa belajar berperilaku yang sedikit biadap, syukur2 bisa elegan ya?
No comments:
Post a Comment