They answered my questions with questions
And set me to stand on the brink
Where the sun and the moon were as brothers
And all that was left was to think
They answered my questions with questions
And pointed me into the night
The power that bore me had left me alone
To figure out which way was right
(Question - Manfred Mann & The Earth Band)
hidup adalah sebuah pertanyaan panjang yang mengelantung di cakrawala, yang seringkali memaksa manusia mengerenyitkan jidat untuk mencari jawabnya. dan tidak akan pernah ada jawaban yang dengan seksama sanggup menjawab tanya yg ada, selain sebuah kompromi untuk memupus logika yang terus berkembang liar.
karena manusia kemudian mendapatkan apa yg dinamakan logika, atau pikiran, maka manusia dikutuk untuk menyadari keberadaannya di semesta ini (eksistensi). eksistensi mensyaratkan adanya pemahaman terhadap makna, entah itu makna idup hari ini, kemarin maupun besok. makna menjadi pertanyaan yang menurut gue paling fundamental. karena apa yg kita lihat, dengar, rasakan, pun jalani selalu memaksa kita untuk memaknainya atau paling tidak mempertanyakannya.
kebiasaan gue, yang mungkin sering menyebalkan banyak orang, adalah sering melontarkan pertanyaan tentang apapun. bagi gue, hal-hal yang kurang jelas harus dijelaskan dengan cara apapun. pertanyaan bukanlah sebuah penghakiman, pertanyaan adalah awal dari dialektika yang harus dibangun untuk mewujudkan sebuah komunikasi yang sehat. memang tidak semua pertanyaan yang gue lontarkan memiliki bobot dan kualitas yang memadai (maklum, gue toh tetep manusia yg kondisi psikologisnya sering up and down).
dialektika menurut gue sangat perlu bagi terciptanya kultur masyarakat yang lebih toleran dan terbuka. membiasakan diri melontarkan pertanyaan dan menjawabnya untuk sebuah proses menuju kesepemahaman menurut gue hal yang wajib dilalui bila kita ingin membangun tatatan yang lebih rasional. memang pertanyaan yang terlontar kadangkala terasa menyakitkan telinga pun menyebalkan hati, tapi sekeras apapun sebuah tanya, asal dilontarkan demi untuk sebuah jawaban yang membantu banyak pihak menemukan jawaban, masih wajar untuk dilontarkan.
cuma sayangnya, di negeri ini masih banyak person yang tidak siap menerima pun menjawab pertanyaan yang dilontarkan. dengan dalih terlalu mengada-ada atau apalah, pertanyaan sering dibuang seolah sampah yang ga berarti. padahal, tidak mungkin pertanyaan itu terlontar bila si pelontar tidak membutuhkan jawaban. demi yang namanya toleransi, terkadang gue bisa memaklumi bahwa tidak semua pihak siap menerima pertanyaan yang meungkin terlalu sensitif, tapi manakala gue berpikir tentang kemajuan alam pikiran, gue jadi agak prihatin dengan realitas bahwa orang tidak mau menjawab pertanyaan karena merasa pertanyaan yang dilontarkan tidak pada tempatnya atau kurang sopan. menurut gue, semestinya semua pertanyaan harusnya mendapatkan jawaban. kendati jawaban itu berupa hal yang paling remeh yang ada dalam pikiran anak manusia sekalipun. dengan demikian kita sudah membiasakan diri untuk berdialog dengan baik dan benar.
namun, bila ternyata gue pernah melontarkan tanya yang membuat merah telinga orang, membuat dongkol, sebal, dsb, dengan besar hati dan dengan sungguh-sungguh, gue pasti akan mengajukan permintaan maap...dan bila tetep ada yang dongkol, yah apa dikata, semua demi dialektika dan rasionalitas alam pikiran...
No comments:
Post a Comment