Tuesday, April 18, 2006

Bukan kami punya

kalo ke kota esok pagi
sampaikan salam rinduku
katakan padanya
padi-padi telah kembang
ani-ani seluas padang
roda giling berputar-putar
siang malam
tapi bukan kami punya

kalo ke kota esok pagi
sampaikan salam rinduku
katakan padanya
tebu-tebu telah kembang
putih-puth se;uas padang
roda lori berputar-putar
siang malam
tapi bukan kami punya

(salam dari desa - leo kristi, album, nyanyian rakyat merdeka)


Saat gue berada di supermarket, terutama saat berada di counter buah pun sayuran, gue seringkali agak bingung. Kayaknya negeri ini memiliki penduduk mayoritas jadi petani, dan memiliki tanah yang sedemikian subur, tapi kenapa isi dari counter buah dan sayuran banyak yang berlabel luar negri? Why?


Menurut persepsi gue, yang bisa jadi salah, kayaknya semua terjadi oleh karena tewasnya produk dalam negeri serta mentalitas orang kaya kita yang menyukai perilaku yang artificial oleh karena terjangan budaya konsumerisme yg ga puguh. Dan muara utama dari persoalan sebenarnya berasal dari pengelola negeri ini yang tidak pernah berpihak pada mereka yang selama ini sebagai penghasil buah dan sayuran.

Ada sebuah komoditi pisang yang sangat terkenal dari new zealand, lupa namanya, ternyata varietas awalnya berasal dari indonesia, pisang ambon. Oleh para pakar di new Zealand dilakukan sekian upaya perkawinan silang hingga akhirnya muncul satu varietas dgn rasa yang jauh lebih enak lantas menjadi komoditi import favorite di negeri ini. Jambu air yang berasal dari ciamis, menjadi salah satu produk eksport unggulan dari Taiwan, hanya karena para ahli pertanian Taiwan melakukan perkawinan silang dengan sesama jambu yang mereka bawa juga dari negeri ini.

Pemerintah Thailand sedemikian protektif terhadap perkembangan pertanian dalam negerinya, semua produk yang menjual nuansa dan embel2 negerinya dikembangkan dengan bantuan dana dan para ahli yang mumpuni. Tidak heran kalau varietas unggulan dari Thailand, walau terkadang varietas tersebut awalnya berasal dari indonesia juga, merajai pangsa pasar buah-buahan.

Lantas bagaimana nasib varietas unggulan dari negeri kita sendiri? Jeblok dan memprihatinkan. Katiadaan subsidi maupun keberpihakan pada para petani mengakibatkan petani menggantungkan hidupnya pada pola-pola tradisional yang sebenenarnya sudah sangat jauh tertinggal. Walau kita punya institute pertanian bogor (IPB), tapi pada kita ga pernah memiliki tenaga ahli di bidang pertanian yang mumpuni dan memiliki visi yang jelas untuk memajukan pertanian dan petani di negeri ini. Lulusan IPB kebanyakan malah ngendon jadi pegawai bank.

Semua kembali pada realitas bahwa secara politis pemerintah yang berkuasa (semuanya) tidak pernah secara spesifik memihak pada kaum petani, yang sebenarnya adalah asset yang luar biasa besar. Pemerintah negeri ini terlalu sibuk dengan persoalan yang seolah-olah besar tapi tidak pernah mneyentuh esensi kehidupan rakyatnya sendiri. Sehingga jangan heran kalau tahun-tahun yang akan datang mungkin kita sama sekali tidak akan melihat produk pertanian dan perkebunan kita di pasar local, apalagi pasar bebas ga bisa ditahan lagi.

Mau apa lagi coba, bangsa ini lebih suka menjadi penikmat daripada pengelola. Semua asset berharga negeri ini menjadi barang yang memiliki nilai jual tinggi justru setelah dikelola orang asing. Makanya tidak heran, sampai negeri ini berumur setua ini, masih saja kita mempercayakan pengelolaan semua asset berharga, mulai dari tambang sampai produk unggulan pertanian dan perkebunan kepada orang asing. Kita dengan segala kepongahan kita menjadikan diri sebagai penikmat semata.

No comments: