Perdebatannya sih menurut gue basi banget, masih seputar yang kayak gimana sih yang cantik? Sambil menyelesaikan laporan, sekali2 gue nyeletuk nimbrung omongan anak2 yang agak kurang bermutu dan cenderung kayak debat kusir. Berhubung obrolan gak berhenti2, gue lantas seperti dingatkan oleh pendapat anak2 dari sebuah kepulauan nun jauh di Mentawai sana tentang apa dan bagaimana sih perempuan itu dikatakan cantik.
Dulu, tahun 1996, gue pernah tinggal sekitar 4 bulan di Pulau Siberut, salah satu Pulau di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Gue tinggal di salah satu rumah milik KAntor Taman Nasional. Di komplek Taman Nasional Siberut ggue dan temen gue berteman baik dengan anak2 kecil asli mentawai yang rumahnya tidak jauh dari tempat tinggal kami. Mereka antara lain bernama, Meldi kelas 6 SD, Musri kelas 6 SD dan Erpin kelas 3 SD. Anak2 ini sering banget main ke rumah gue untuk sekedar nonton televisi, yang kebetulan masih menajdi barang mewah disana. Waktu itu kalau tidak salah kami sedang nonton salah satu sinetron yang bintangnya adalah Paramitha Rusady. Pas anak2 itu serius nonton, tiba2 gue bertanya pada mereka.
"Ale (panggilan untuk sesama), maeru tak (cantik tidak)?"
Tiba2 Meldi dan Musri dengan cekatan dan dengan bibi mecibir berkata "Tak (tidak)!"
"Tak Maeruk?" tanya gue setengah tidak percaya
"Iya," potong Meldi mewakili teman2nya,"Mereka itu tidak bisa mencari ikan, tidak bisa membuat sagu di hutan, dan tidak bisa pelihara ayam di hutan, bisanya hanya dandan dan habiskan uang. Itu tidak maeruk, Ale."
Ups, ternyata. Lantas gue teringat di dekat rumah tinggal kami ada seorang guru yang berasal dari Jogya, trapi sudah lama menetap di Siberut, namanya Daspon. Konon kabarnya anak Daspon ini cantik.
"Kalau anak Daspon, cantik tidak?" tanya gue lagi "Tak?" jawab anak2 itu tegas,"Dia sama saja tidak bisa cari ikan atau lokan di kali. Hanya bisa dandan saja."
"Lantas yang maeruk siapa dong?" tanya gue lagi "Ada ale, namanya Tuteng,"kata Mel;di dengan mimik serius,"dia putih, bisa cari ikan, bisa ternak ayam, juga bisa menyagu di hutan. Tapi, dia sudah besar, sebesar kamu, Ale." terang Meldi dengan mimik lucu.
Kalau ingat itu, gue hanya bisa mengulum senyum. Tapi paling tidak anak2 kepualuan itu cara memandangnya jauh lebih beradap daripada anak2 temen kerja gue ini. Anak2 Mentawai itu memandang sosok perempuan jauh lebih menyentuh sisi esensi. Melihat perempuan pada apa yang bisa diperankannya untuk kemduain dinilai cantik tidaknya. JAdi cantik menurut mereka adalah dilihat dari fungsi, bukan yang tampak doang.
Diam2 gue tersenyum, jangan2 gue juga melihat perempuan bukan pada fungsi dan peran, melainkan sama primitipnya dengan teman2 yang sekarang tinggal satu rumah kontrakan dengan gue di Tulung Agung ini?........
No comments:
Post a Comment