"Kamu tahu, mengapa kita manusia lebih baik makan segala sesuatu yang berasal dari tumbuhan?” tanyanya suatu ketika
“Karena segala yang berasal dari tumbuhan mengandung banyak hal yang menyehatkan,” Jawab gue asal.
“Itu alasan orang egois,” sergahnya,” kamu tahu mengapa rambutan ini kulitnya jadi merah merona saat buahnya masak? Tanyanya sambil berdiri memetik buah rambutan yang kebetulan dah masak, gue diam aja.
“Tumbuhan ini sengaja menciptakan campuran warna yang menarik pada kulit buahnya saat dia masak, hal itu dilakukan agar makluk hidup lain, termasuk manusia tertarik, "lanjutnya sambil membuka kulit rambutan," tumbuhan itu juga sengaja menciptakan zat perasa yang manis pada daging buahnya agar makluk lain mau mengkonsumsinya, tumbuhan itu berharap dengan ada pihak yang mengkonsumsi daging buahnya aakan tercipta persebaran biji buahnya yang merupakan awal kehidupan bagi keturunan selanjutnya.”
“Artinya, dengan mengkonsumsi buah kita telah membantu makluk lain melakukan proses regenerasi, dan kita tidak melakukan pemaksaan atau pembunuhan karena mereka dengan sukarela menyerahkan, bahkan meminta, apa yang memang harus dikonsumsi makluk lain dengan menciptakan warna dan rasa yang sangat menarik pada buahnya.”
“Lantas apa salahnya kita makan daging atau ikan?” tanya gue asal.
“Dengan makan daging atau ikan kalian telah melakukan pemerkosaan dan pembunuhan terhadap keseimbangan alam.”
“Perkosaan dan oembunuhan bagaimana?” sergah gue,” Lantas bagaimana dengan macan atau singa yang juga mengkonsumsi daging, apa mereka juga dikatakan sudah melakukan perkosaan dan pembunuhan?”
“Lain sobat, binatang makan karena desakan rasa lapar semata, selain itu secara naluri hanya memakan jenis makanan yang terbatas. Kita tidak akan melihat Singa makan nasi nasi atau rumput kering, dia melulu makan daging. Kita juga tidak akan melihat Singa membunuh banyak rusa untuk kemudian dagingnya disimpan di kulkas untuk dijadikan cemilan selagi bengong. Bandingkan dengan kalian manusia, berapa kali dalam sebulan kalian makan hanya sekedar untuk memenuhi rasa lapar, lantas berapa kali dalam seminggu kalian makan untuk memenuhi indera pengecap semata? Pasti rasa lapar hanya menjadi pendulum semu, sementara keinginan untuk memuaskan indera pengecap jauh lebih besar saban harinya. Atau berapa orang yang rela tidak mengekploitasi apa saja yang ada dimuka bumi demi kekenyangan perutnya? Sedikit kawan.”
“Tapi, bukankah makluk hidup lain memang tercipta untuk kita kuasai dan nikmati?”
“Kata siapa?”
“Agama”
“Agama yang mana?”
“Memang ada berapa ratus agama yang diyakini mayoritas manusia?”
“Siapa yang menyebarkan agama?”
“Ya, nabi dan pemuka agama.”
“Manusia juga kan mereka?”
“Benar manusia, tapi mereka menyampaikan ajaran tidak dengan sembarangan, mereka bekerja dan berdahwah berdasarkan wahyu Tuhan.”
“Maaf sobat, mereka masih manusia, aku curiga mereka menggunakan logikanya sebagai manusia sehingga dengan dalih dogma agama mereka mencar pembenaran dalam setiap tindakannya guna melegalkan pembunuhan dan poengekploitasian secara berlenbihan terhadap sesama makluk hidup. Dengan dalih sebagai makluk yang paling sempurna manusia seolah mendapat justifikasi untuk melahap semua spesies lain tanpa pandang bulu. Logika yang sama dulu juga digunakan oleh bangsa kulit putih untuk memperbudak dan menjual belikan orang kulit hitam, membantai Indian, menjajah sertta memeras harta milik penduduk dunia ketiga. Menurut mereka, agama tidak secara tegas melarang tindakat itu, bahkan bukankah agama-agama yang kalian anut dulunya melegalkan perbudakan? Jadi berhati-hatilah menggunakan logika agama dalam kehidupan sosial.
Selain itu, pernah tidak Tuhan secara langsung menurunkan wahyu-Nya kepada khalayak ramai, termasuk para binatang, bahwa manusia berhak membunuh dan memakan binatang sesuka hati mereka? Kalau pernah aku yakin, alam atau bumi akan menuntun binatang melakukan evolusi dan beradaptasi agar tampilannya menarik dan enak dinikmati langsung oleh manusia tanpa harus susah-suah memasaknya, dan evolusi binatang bisa membuat mereka tidak harus kehilangan nyawa dan kesempatan untuk meneruskan generasinya sehabis dikonsumsi manusia.
Hal yang harus kalian ketahui, bumi tempat tinggal kita ini bukanlah benda mati. Dia hidup, yang mencirikan sesuatu itu hidup adalah adanya gerak. Bumi senantiasa bergerak. Dia bergerak dengan berputar dalam porosnya. Sedetik saja bumi berhenti bergerak, dia akan meletus akibat tekanan dari dalam dirinya, dan bumi akan menjadi pecahan benda langit yang bertebaran bagai asteroid. Jadi bergeraknya bumi didasari atas kebutuhan untuk menetralisir tekanan maha dahsyat dari dalam tubuhnya. Karena bumi bergerak, maka terciptalah atmosfir yang kemuidan menciptakan kehidupan di atasnya. Atmosfir ada karena kebutuhan bumi untuk mencapai keseimbangan dari luar dirinya. Karena tekanan yang maha dahsyat dari dalam harus dimbangi dengan kontrol yang efisien dari luar. Jadi kehidupan ini ada karena kehendak bumi, atau alam, buah dari upayanya dalam mempertahankan kehidupan. Untuk itu bumi juga menciptakan mekanisme, atau tananan dalam dirinya yang harus dituruti oleh mereka yang hidup di atasnya. Itulah kemudian lahir aturan yang diberi nama hukum alam. Hukum alam tidak hadir dengan sendirinya, melainkan buah dari upaya bumi untuk terus menciptakan keseimbanagn dalam dirinya dengan harapan dia akan tetap hidup. Makluk hidup di bumi dituntun untuk menjalani hidupnya berdasarkan isnting naluriah. Insting itulah yang menjadi bagian utama dalam penjagaan keseimbangan alam. Karena dengan hanya mengikuti isting naluriah yang paling alamiah, maka keseimbangan alam yang ditata bumi tidak mengalami gangguan. Akan tetapi dalam perkembangannya, bumi mendapatkan penghuni baru yang bernama spesies manusia. Datangnya manusia yang kemudian menyadari eksistensinya sebagai makluk dengan menemukan logika berpikir serta kesadaran akan ruang dan waktu lantas menimbulkan potensi pada gangguan keseimbangan. Bumi hanya menuntun penghuninya bersadar isnting paling dasar dalam menjalani hidupnya masing-masing. Sementara makluk manusia dengan logika berpikir dan kesadaran akan ruang dan waktu sanggup mendobrak kungkungan insting yang paling naluriah. Kebutuhan bagi manusia kemudian menyeruak menyeberangi semua batasan alam. Bila di kemudian hari batasan alam yang diterjang sampai menyentuh sisi hidup yang paling mendasar dari bumi, aku khawatir bumi ini tidak akan bisa bertahan hidup ditengah desakan alami dari dalam maupun luar dirinya yang teramat dahsyat. Jika manusia gagal mempertahankan keseimbangan alam, dengan terus mengabaikan hukum alam, entah apa yang terjadi pada masa depan makluk yang kita diami yang bernama bumi ini?”
Wah, perdebatannya jadi membuat gue pusing, daripada migren kambuh, gue akhiri saja dialog hari ini.
No comments:
Post a Comment