...............
But I feel I'm growing older
And the songs that I have sung
Echo in the distance
Like the sound
Of a windmill goin' 'round
I guess I'll always be
A soldier of fortune
(Soldier of Fortune, Deep Purple, Stormbringer [1974])
Gue ada disini saat ini, di suatu tempat yang sebelumnya tidak pernah gue kenal sama sekali. Dan dalam hitungan waktu yang biasanya lama, gue harus berusaha menyukai tempat itu, karena disitulah penghidupan gue saat ini berlangsung. Hal tersebut berulang kali terus menerus dalam perjalanan hidup gue.
Gue sering , bahkan boleh dikatakan hampir setaip saat, berhadapan dengan orang-orang baru dan hal-hal baru berulang-ulang. Ada rasa ketercerabutan diri dari realitas ruang dan waktu. Seakan gue hidup dalam ruang hampa yang terus bergerak liar dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa interaksi yang mendalam dengan lingkungan sekitar. Gue merasa menjadi makluk yang tidak memiliki ikatan spesifik dengan satu wialayah/tempat. Hidup gue seolah mengalir seiring tuntutan hidup yang harus gue jalani dan tanggungjawabi, dimanapun gue harus berada. Sementara interaksi diluar itu nihil.
Marx pernah bertutur tentang alienasi, atau keteransingan orang atas perkerjaannya akibat adanya spesifikasi kerja yang tidak berdasar atas kecintaan dan interaksi orang atas jenis pekerjaan yang dia jalani. Orang lantas menjadi mesin hidup yang hanya ada oleh karena kebutuhan spek pekerjaan di suatu tempat. Eksistensi orang hilang. Mereka berubah hanya menjadi daftar hadir, struk gaji dan bagian dari komponen produksi.
Dalam diri gue ada ambiguitas dalam menghadapi hal itu. Perputaran waktu yang menuntun gue pada perjalanan mengarungi wilayah-wialayh baru membawa diri gue pada jenis petualangan asing yang menyenangkan. Tapi, bentuk pekerjaan yang senantiasa berulang, kendati kliennya terus berganti, terkadang membuat gue seolah bukan berinteraksi dengan klien yang berbentuk pribadi yang hidup. Gue terkadang merasa sibuk dengan diri sendiri, pun mekanisme yang terus berulang. Klien tidak lebih hanya berupa deretan nama-nama yang harus gue kalkulasi dalam hitungan nominal rupiah. Entah, apakah gue juga sudah teralienasi?
Well, yang pasti saat ini gue sudah merasa tercerabut dari komunitas (di Jakarta) yang terakhir kali gue bangun dan masuki sebagai bagian dari dalam dirinya dan belum kembali merasa mendapatkan komunitas baru yang sanggup membuat hati dan jiwa gue comfort. Semua masih berupa situasi yang menawarkan nuansa dalam bentukan yang seragam, biasa-biasa saja. Gue menjadi orang yang bukan berasal dari mana-mana. Seolah belum/tidak ada tempat yang sanggup menawarkan rasa ingin atau minimal menjadi temapt gue untuk sekedar merasa bisa pulang.
Mungkin karena gue selalu merasa sebagai manusia pergi, yang setiap kali mau melangkah ke suatu tempat secara psikologis selalu merasa akan pergi pada sesuatu, bukan sebaliknya. Hingga belum/tidak ada tempat yang sanggup mengikat rasa gue untuk kembali padanya. Hanya ada satu alasan seandainya gue sering mengunjungi satu tempat berulang-ulang dari dulu. Alasan tersebut bukan karena faktor tempat itu, melainkan penghuninya. Ada manusia yang sanggup memaksa gue untuk secara rutin mengunjungi tempat itu, yaitu Nyokap gue. Ya, setiap beberapa kali dalam setahun gue selalu mengunjungi satu kota kecil di Jawa Tengah (Klaten), karena alasan adanya orang tua di sana. Tanpa alasan itu kayaknya gue tidak terlalu tertarik dengan kota dan wilayah Klaten (kendati gue lahir dan besar disana).
Mungkin memang tidak akan ada tempat, sebagai sesuatu yang mandiri, yang akan sanggup memaksa gue membiarkan diri gue berkubang dan terikat di dalamnya. Kecuali tempat itu memiliki manusia-manusia yang bisa memberikan kenyamanan, keamanan, abstarksi dan sensasi. Tanpa itu, gue akan tetap menjadi manusia dengan ribuan tempat tinggal (nomad).
Sepuluh tahun yang lalu gue merasa Bandung adalah tempat yang akan menjadikan gue tumbuh dan berkembang menjadi tua. Namun seiring perginya orang-orang yang gue kenal dan pernah memberi warna dalam hidup gue, Bandung berubah menjadi terlalu sempit untuk ditinggali. Lantas gue melihat Padang, Jogja, Semarang serta terakhir Jakarta seolah menjadi tempat yang akan sanggup memberikan wadah buat gue diam dan menisbikan kemungkinan tinggal di tempat lain. Bahkan Jakarta lantas menjadi begitu gemerlab di mata gue, dibanding tempat-tempat lain. Hingga gue pernah merasa harus berkubang dengannya. Namun, seiring bertambahnya umur dan alam pikiran yang berdampak pada cara gue memandang realitas, Jakarta, dalam pandangan gue berubah menjadi sekedar wadah yang dihuni oleh orang-orang yang gue kenal serta tempat sumber penghidupan gue. Begitu gue menyadari orang-orang mulai terspesifikasikan oleh pekerjaan, persoalan hidup dan segala tetek bengek yang tidak perlu, Jakarta sudah tidak sanggup lagi mengikat perasaan gue. Apalagi tempat saat ini sudah bukan lagi penghalang bagi siapapun dan dimanapun dia berada berhubungan dengan siapa dan apa.
Jadilah gue layaknya pengembara yang merasa semua tempat adalah rumahnya. Gue merasa semua tempat menjadi sedemikian bersahabat pun terkadang sangat biasa. Sehingga belum ada yang secara permanen sanggup membutakan mata gue agar berhenti dan menetap.
Tampaknya gue memang masih harus berjalan menyelusuri sekian tempat sampai tubuh gagal mengakomodasikan keinginan jiwa untuk terus melangkah, alias mulai renta. Karena pada dasarnya gue adalah manusia pergi, bukan manusia pulang…
I guess I'll always be A soldier of fortune
No comments:
Post a Comment