Thursday, October 06, 2005

Tuan R

Laki2 itu kira2 berumur 50 tahun. Dengan wajah ramah dia menerima gue di rumahnya. Rumah itu bagus, tapi sepi dan perabotnya gak ada.
"Sendirian, Pak?" Tanya gue basa-basi
"Iya, Mas."
"Anak dan istri kemana?"
Dia diam sejenak, lantas dengan snyum dipaksakan dia menjelaskan bahwa istrinya pulang ke rumah orang tua, anak2nya 3 orang dibawa serta.
"Saya lagi kena musibah, Mas." Maksud kedatangan gue ke bapak itu adalah mau mengontrak rumahnya yang katanya kosong. Ternyata kosongnya rumahnya karena istri dan anaknya pergi.
Awalnya perginya anak dan istri gue kira karena lagi berantem saja. Ternyata belakangan baru gue ketahui terrnyata mereka bercerai. Beberapa anak muda yg sering nongkrong di rumahnya lantas bercerita. Dulu, waktu Tuan R masih banyak proyek, dia sering pergi ke luar daerah untuk membereskan pekerjaan. Kadang2 3 bulan sekali dia baru pulang untuk nengok anak dan istrinya. tapi kalau kerjaan gak terlalu padat, sebulan sekali dia masih bisa pulang. Tapi, satu hal yang pasti, dia tidak pernah telat mengirimkan jumlah uang ang cukup buat anak2 dan istrinya. Tapi, entah mengapa kiriman Tuan R yang menurut hitungan warga sekitar cukup besar seolah setiap bulan lenyap begitu saja tanpa bekas.
Belakangan saat proyek lagi sepi dan Tuan R banyak di rumah, istrinya sering uring2an. Lantas terboingkarlah skandal perselingkuhan antara istrinya dengan kemenakan Tuan R yang berumur sama dengan sitrinya dan kebetulan dibiarkan tinggal satu rumah dengan mereka. Badai itu coba ditanggapi dengan sabar olah Tuan R, dia hanya meminta istrinya untuk melupakan aib dan minta maaf untuk kemudian kembali memulai hidup baru. Tapi anehnya justru istrinya dengan lantang mengajukan gugatan cerai. Dengan terpaksa Tuan R membiarkan istrinya pergi dari hidupnya dengan membawa serta anak2nya yang emmang lebih terbiasa tinggal dengan sang ibu.
Jadilah Tuan R, lonelly hanya ditemani anak2 muda tetangganya. "Kalau saya gak sabar dan tawakhal sudah stroke saya, Mas." Katanya ke gue suatu ketika. "Ini mungkin cobaan hidup yang harus saya hadapi dan selesaikan. Walaupun saya sebenarnya masih ingin menjalani kebersamaan dengan istri dan anak2 saya, tapi saya serahkan semuanya pada istri saya, terserah apa maunya. Biarlah dia yang menentukan apa maunya. Kalau tiba2 dia memutuskan kembali ke saya demi anak2 ya alhamdullilah. Kalau dia dibutakan oleh banyak hal yang menurutnya lebih menyenangkan hidup berpisah, yah apa boleh buat. Kita hanya bisa menjalaninya kan, Mas?"
"Benar, Pak," Jawab gue belagak tau," Pasrah mungkin memang lebih baik dalam menjalani segala hal Pak. Masih beruntung kikta yang di pilih untuk menghadapi masalah Pak. artinya kita dipercaya untuk menyelesaikan hal2 yang belum tentu sanggup diselesaikan oleh orang lain," tambah gue sok tau banget....

No comments: