"Ayo, nyanyi lagi dong;" pinta gue pada anak kecil yang memegang gitar, yang sedari tadi menemani gue menunggu kereta di salah satu stasiun di Jawa Timur.
"Nyanyi lagu apa kak?"
"Lagu yang kita nyanyikan tadi, tentang burung kecil yang terbang pulang ke sarangnya."
"Oo…lagu tentang matahari yang tenggelam di telan malam ya?"
gue mengangguk, lantas dengan lincah dia memetik gitarnya, mencari nada yang pas dan dengan percaya diri mengeluarkan alunan suaranya yang luamyan enak di dengar.
Disaat senja mendatangi
Kulihat burung kecil terbang pulang ke sarangnya
Kulihat anak kecil bernyanyi
Lagukan tentang matahri yang tenggelam di telan malam
(Halusinasi, Mel Shandi, Mini Album, Loggiss Record, 1990)
lagu itu terhenti ditengah jalan, mendadak dari arah Surabaya datang kereta dengan suara beratnya memasuki stasiun. Dengan langkah ringan anak itu meninggalkan gue, untuk berebut dengan puluhan irang yang mau naik atauoun turun dari salah satu gerbong. Dia harus cepat mencapai salah satu gerbong, sebelum ada pihak lain yang mengkapling gerbong itu. Terlambat berarti rejeki akan jatuh ke tangan pihak yang lain. Siapa yang datang telat, harus mengalah menunggu kereta yang lain datang untuk kemudian kembali berebut cepat masuk gerbong.
Perlahan gue naik juga ke gerbong kereta sambil mengawasi lokomotif yang mendengus dan mengeluarkan asap. Sengaja gue pilih gerbong tempat anak kecil tadi naik. Gue menyukai gaya anak itu menyanyi dan memainkan gitar, jadi gue pingin melihat lagi bagaimana aksinya di atas gerbong. Namun sat gue sampai diatas, anak kecil itu tidak gue temukan. Sebagai gantinya tampak berdiri lunglai pemuda dengan rambut lusuh, raut wajah lelah, dan sinar mata sayu sedang membacakan sebuah puisi yang kurang jelas, selanjutnya menyorongkan topi pada semua penumpang meminta sedekah.
Gue celingukan menebarkan pandang ke ujung gerbong yang lain yang berdekatan dengan gerbong yang gue naiki, berharap menemukan kelebat bayang anak kecil tadi. Tapi tidak tampak juga, mungkin dia menyanyi di gerbong paling ujung, hibur gue pada diri sendiri. Namun gue tetap saja terus cekingukan mencoba mencari bayang anak tadi. Bahkan sampai saat kereta kembali bergerak meninggalkan stasiun gue tetap gagal menemukan sosok anak kecil tadi. Pada kerumunan orang di stasiun yang gue lihat dari balik kaca jendel kereta, tidak juga tampak batang hidungnya.
Setelah kereta melaju dengan cepat dan dentuman suaranya membuat telinga gue pekak, gue paksakan untuk duduk. Lamat-lamat dalam ingatan gue, gue berhalunisasi merdengar lagu lama seolah dinyanyikan anak itu.
Berdiri……
tegar menatap langit yang tenggelam
setiap hari kaki melangkah entah kemana
Jalanan…….
adalah rumahnya yang tak berdinding
bagai srigala saling menerkam berebut nasib
(Dia, El Pamas, Tatto, Loggis Record, 1992)
No comments:
Post a Comment