Thursday, October 27, 2005

Proses Belajar

Pada sebuah kampung kecil di bagian selatan Jawa Timur bagian barat, yang mayoritas penduduknya Islam abangan, baru saja dibangun sebuah masjid. Diperlukan kekerasan hati dan pengorbanan yang tidak sedikit dari orang-orang untuk bisa membangun masjid pada lingkungan masyarakat yang apatis.


Seperti kebanyakan masjid yang dibangun di pemukiman abangan, yang cenderung apatis terhadap agama apapun, awal-awal selalu kekurangan pengunjung. Orang lebih menyukai menjalani rutinitas hidup yang lain, daripada bergerak ke arah masjid yang seringkali memberikan gambaran seram tentang hidup hari ini, dan kelak bila sudah mati. Mereka seringkali terlalu takut terhadap bayangan yang dimunculkan oleh celoteh penghuni masjid yang melulu tentang hari penebusan. Biasanya mereka yang sudah memasuki usia senja yang lantas datang ke masjid, sebagai wujud dari kepasrahan orang-orang yang merasa hidupnya tidak akan lama lagi. Atau anak-anak, yang semangat keingintahuannya masih tinggi, serta belum tergerus oleh nilai-nila pemikiran yang cenderung hedon.


Sore itu, seorang kakek lanjut usia, berjalan gontai menuju masjid. Dia ingin memulai rutinitas keagamaan dengan belajar memahami ritual yang ada. Karena mungkin sudah terlalu tua, kakek itu kurang begitu bisa mengenali penanda arah. Alhasil dia sholat bukan menghadap kiblat, melainkan menghadap arah utara. Kurangajarnya, anak-anak kecil yang duduk di halaman masjid bukannya mengingatkan si kakek. Mereka malah cekikikan seolah mendapatkan hiburan gratis.


Begitu si kakek selesai sholat dan beregrak keluar masjid,anak-anak itu berteriak,” Mbah…Mbah…tadi sholatnya salah ngadep. Mustinya menghadap ke sana, bukan ke arah sana.” Kata salah seorang anak, sambil menunjuk ke arah kiblat sertaarah kakek tadi menghadap waktu sholat.


Tapi, kakek itu cuek saja, dia terus melanjutkan langkahnya keluar masjid sambil berujar,” Yo ben le, jenenge we lagi ajaran (Biarin lah, namanya juga orang baru belajar)”

No comments: