Thursday, October 27, 2005

Tentang Kebutaan

Perempuan itu datang bersama bayang senja. Laki-laki itu hadir dari balik awan. Secara mendalam, tidak ada yang menarik dari perempuan itu, selain tampilan fisik yang enak untuk dijadikan sebagai obyek indera penglihatan.

Namun, jika perempuan cantik adalah manekin yang berjalan dalam langkah-langkah artifisial, laki-laki adalah seongok daging yang seringkali tidak sanggup memahami esensi. Perpaduan yang sempurna, lambaian tubuh dalam gerak hampa makna dengan kekosongan pemahaman akan isi. Kekosongan dan kehampaan adalah analogi yang terbentuk oleh sekian prasyarat yang sama.

Meski demikian, mereka memiliki kisah cinta yang luar biasa. Bagai sepasang pengayun yang terus bergerak sepanjang musim. Setan pun bertempik menyambut kisah mereka. Seolah lukisan hidup hanya menghadirkan impian yang mereka punya.

Mungkin, cinta memang harus buta. Karena cinta yang melihat hanya akan terjebak pada terlalu banyak tuntutan dan prasyarat, hingga semuanya terhenti pada tingkat paradigma semata. Padahal paradigma seringkali hanyalah utopia para pemimpi. Sementara hidup adalah realitas yang terus berjalan dengan atau tanpa logika dari pergulatan paradigma yang berkembang.

No comments: