Tuesday, January 31, 2006

Hipokrit

Beberapa hari ini kerjaan kami memaksa kami harus berkeliling ke beberapa lurah dan camat di Tulungagung untuk sekedar memenuhi tuntutan administrasi pengurusan IMB dan segala tetek bengengknya. seperti biasa, birokrasi seperti ini akan selalu makan biasa yang luar biasa besar. Gue yang suka kesel harus melakukan tawar menawar harga sebuah tanda tangan minta tolong temen2 gue yang berangkat.

Yang terkadang bikin jengkel dalam urusan seperti ini adalah cara orang2 itu memintanya duit terkadang mengada-ada. Sebagai contoh, pada salah satu kecamatan kami berhadapan dengan salah satu staff camat (kata temen gue, camatnya beberapa kali ga berani nemuin). nah, entah karena terlalu bernafsu cari duit, dia memaksa temen gue harus bolak-balik, katanya berkasnya gak lengkap. padahal dinas perijinan kabupaten dan ngasih tau bahwa berkas yang musti kami siapkan sudah cukup. gue tahu, orang2 ini cuma mau minta duit, makanya gue suruh temen gue nanya to the point aja berapa biaya yang dia minta. tapi, dasar anggota masyarakat yang sudah larut dalam budaya muna, orang itu ngomong bahwa semuanya bukan karena uang, tapi kelengkapan administrasi yang lebih penting daripada duit. dan karena malas berdebat dengan penguasa2 kecil yg selalu berkelit dalam bahasa otonomi yg menyebalkan itu gue minta temen gue memenuhi berkas yang diminta. nah setelah berkas lengkap, baru dia ngomong soal duit. dan sudah ngrepotin, dia minta dutinya kelewat banyak lagi.

daripada berkepanjangan urusannya gue temuin orang tersebut di kantor kecamatan bersamaan dengan saat pelaksanaan pembagian BLT tahap II. kami berdebat agak panjang. gue terangkan bahwa biaya administrasi untuk pemerintah kabupaten tidak semahal yang dia minta, tapi dia tetep bertahan dengan permintaannya. setelah kami ancam pengurusan perijinan akan kami serahkan semua administrasinya pada dinas perijinan kabupaten walau kami harus tambah biaya (cuma gak akan sebesar biaya kalau harus memenuhi tuntutan dia) dia mulai menurunkan permintaannya. jadilah kami tawar menawar kayak mau beli sayur seiket. sampai akhirnya ketemu harga, bayar dan ttd selesai. selesai dapat duit, dia ngoceh ngalor ngidul soal ketertiban birokrasi dan bagaimana meningkatkan layanan buat masyarakat. telinga gue lama2 panas, dan tanpa mengiraukan sungkan, gue pamit dengan alasan masih banyak yang harus dikerjakan.

dan sesampainya kami di kantor perijinan kabupaten berkas banyak yang dibuang, karena memang tidak diperlukan.

sebenarnya hampir semua birokrat di daerah minta duit setiap kali kita minta tanda tangan, entah untuk keperluan apa. tapi, biasanya mereka gak pakai acara membebani kami dengan tetek bengek berkas yang akhirnya juga kami buang. sebenarnya mulut2 birokrat di daerah, yang selama ini kami temui, sudah sangat terlatih saat harus negoisasi soal duit untuk sebuah tanda tangan. hanya sedikit yang bertingkah kayak staf camat tadi. hanya saja, satu hal yang sama dari para birokrat ini, bahwa mereka selalu merasa atau menempatkan dirinya sebagai bagian dari sistem yang siap membantu siapa saja demi lancarnya proses birokrasi di negeri ini, sehingga urusan apa saja katanya menjadi mudah. memang semuanya akan lancar kalau fulus yang tersedia ada. nah bila ternyata yang minta tanda tangan adalah orang2 yang duitnya cekak gimana? kayak orang2 daerah yang seringkali harus mengurus segala tetek bengek kebutuhannya, seperti persertifikatan tanah, administrasi untuk TKI, dll. padahal untuk pengurusan sertifikat tanah warga, yang masyoritas masih berupa petok c, maupun pengurusan administrasi TKI yang mau pergi ke luar negeri (tulungagung salah satu pengeksport TKI yang lumayan besar) mereka semua butuh ttd lurah dan camat. urusan TKI dan pengurusan sertifikat identik dengan duit. jangan heran kalau kemudian banyak TKI yg belum sempet berangkat ke luar negeri dah harus ninggalin utang bejibun, serta tanah2 di daerah gak diurus sertifikat kepemilikannya, orang dah ngrasa aman dengan petok c (walau secara hukum sebenarnya lemah), karena takut keilangan kelewat banyak duit.

1 comment:

Neko said...

kalo kerja dan harus berhubungan sama pemerintahan, memang ujung2nya kepentok masalah duit. skarang aja temen g juga ngalamin, tapi karena perusahannya "bandel", akhirnya jalur birokrat2 menyebalkan (g mau nulis keparat gak enak ya, hihi)yang nodong minta duit gak diladenin. akhirnya perush temen g itu terpaksa melalui jalur prosedural yang benar. dan hasilnya? urusannya jadi laaaammmaaaaa dan paaaanjaaaang...
jadi saran g geng, buruan de loe tuntasin proyek XL elo, dan cepet kabur dari sana. g aja denger or baca cerita elo cape' ati, gmana elo...