Wednesday, June 15, 2011

Kejujuran

Entah, apakah ini merupakan kultur warisan para leluhur, atau jebakan paradigma yang kemudian berkembang belakangan. Yang pasti, saat ini, sadar atau tidak, kita semua sudah terjebak dalam budaya yang penuh dengan kemunafikan. Kita memuja apa yang roang sebut kamulflase. Sesuatu yang nampaknya saja indah, padahal wujud aslinya tidak sesuai dengan penampilannya. Nah, belakangan orang lebih senang menilai orang lain dari apa yang napak dipermukaannya. Ketika SBY maju dalam pencalonan presiden, timnya tahu betul bahwa mayoritas warga negeri ini akan mudah dipikat oleh sosok dengan tampilan yang seolah-olah sempurna. Selain tentunya dengan iming-iming uang.

Iming-iming uang dan kamulflase sebenarnya sisi dua mata uang yang sama. Semuanya hanya mensyarakatkan ketertarikan atas apa yang nampak, tidak pernah mau peduli dengan rekam jejak seseorang pun amalannya selama ini. Orang akan dengan mudah menyebut orang yang baru datang, baik, hanya karena orang tersebut berpenampilan intelek, santun, plus royal. Tidak peduli bahwa orang tersebut adalah koruptor.

Kebanyakan orang tua akan menganggap anaknya suskes bila sanggup membeli rumah bagus dan mobil mewah, tidak penting darimana asalnya uang. Setiap kali menyebut sesorang berhasil, parameternya adalah harta benada yang nampak. Sementara bila orang tersebut berusaha menjalankan amalan yang benar, akan dicap kakehan polah (banyak tingkah), tapi ga punya uang, yo percuma. Jadi tidak ada ruang bagi kejujuran dan idealisme, bila itu tidak menghasilkan materi layaknya orang kaya yang lain.

Kejujuran sudah mati, seiring runtuhnya nilai-nilai kesederhanaan dan penghargaan terhadap integritas diri. Kejujuran tidak ada nilainya, karena dia tidak bisa diperjualbelikan. Kemunafikan menjadi pilihan sikap yang jamak dan sangat laku di masyarakat. Tidak peduli harus bersikap gimana, asal pekerjaan aman dan uang mengalir deras. Kondisi ini sudah mewabah layaknya penyakit menular. Sayangnya, wabah ini tidak dianggap sebagai penyakit. Wabah ini malah menggejala dan menjadi nilai-nilai yang diyakini dan dijalani.

Makanya tidak heran bila kemudian muncul istilah mencontek massal saat Ujian Akhir Nasional (UAN). Sebelum ibu Siami melaporkan praktek percontekan massal di sekolah anaknya, sesungguhnya di banyak sekolah sudah terjadi praktek yang demikian. Para guru senantiasa ingin dianggap berhasil dalam mendidik anaknya, tidak peduli bahwa keberhasilan hanya bisa ditopang dnegan kerja keras. Para orang tua pun demikian, mereka hanya ingin anaknya mendapat nilai bagus dan bisa diterima disekolah bagus, demi gengsi mereka dimata umum. Mereka lupa, bahwa sekolah bukan semata-mata mengejar nilai bagus dan kelulusan. Mereka lupa bahwa etos, etika, dan kejujuran, adalah variabel yang kelewat penting untuk diabaikan bagi anak yang masih dalam proses belajar. Para orang tua, sadar atau tidak, telah terjebak dalam skema budaya yang abai atas etika dan kejujuran.

Makanya jangan heran bila negeri ini masih terjebak dalam kesemrawutan politik. Karena perilaku politisinya bmiskin etika dan kejujuran apalagi kerja keras. Dari awal, masa dimana mereka menginjakan kakinya di jenjang pendidikan dasar, mereka sudah diajarkan bagaimana caranya mengabaikan etika, kejujuran, dan kerja keras, demi yang namanya nilai. Saat mereka tua, mereka juga akan berperilaku dilura batas etika, kejujuran, dan kerja keras, demi "keberhasilan".

Kejujuran sudah menjadi barang bekas yang kurang diminati banyak orang....



No comments: